
(Author's Point of View)
"Cie...cie...cie...." sorak sorai tamu undangan terdengar saat Billy mencium dahi Qia.
"So sweet-nya!" ucap para tamu wanita.
Ah! Kak Billy, ini so sweet banget! Pokoknya, aku nggak boleh plin-plan lagi. Memang Kak Billy yang terbaik untukku. Aku harus memperkuat pendirianku mulai sekarang, gumam Qia.
Narendra, kurasa sekarang kamu sudah tak bisa berkutik lagi. Jangan cari masalah lagi! gumam Billy. Dia menatap ke arah Qia. Yaya, kuharap mulai sekarang kamu bisa mengendalikan diri dan memperkuat pendirianmu untuk melupakan Narendra. Aku sudah bersikap lembut dan sabar selama ini. Semoga saja kamu bisa peka. Jangan sampai aku harus bertindak keras padamu, Yaya, gumam Billy.
Kak Billy, aku jadi pengen ngasih kado juga deh... eh atau lebih tepatnya ucapan maaf, gumam Qia.
"Yaya!" ucap Billy spontan. Dia terkejut karena Qia tiba-tiba meraih microphone yang ada di tangan kanannya.
Kamu mau apa, sih? gumam Billy.
"Saya juga mau ngasih lagu eh, maksudku kado spesial untuk Hubby-ku Tercinta," ucap Qia dengan riang.
Yaya, kamu mau apa sih sebenarnya? Kok, aku jadi dag dig dug, ya, gumam Billy.
__ADS_1
Qia berjalan ke arah para pemain band. Dia berdiskusi dengan para pemain band itu sejenak.
Beb, kok kamu jadi gini, sih? Apa kamu udah benar-benar cinta sama Pak Billy? Kamu kok malah mau kasih lagu spesial, sih? gumam Naren. Dia melihat dari belakang kerumunan.
Semoga kamu dan Pak Billy langgeng ya, Qia. Gue doain gini biar Naren sadar dan nggak ngeduain gue lagi di hatinya, gumam Vita.
"Sekarang!" Qia memberi aba-aba pada para pemain band itu. Dia memegang microphone di tangan kanannya. Qia menghadap ke arah Billy.
Kak Billy, aku mau nyanyiin lagu Yang Selalu Ada. Ini ciptaan band indir di kampus. Lagu ini mewakili perasaanku yang terdalam untukmu, gumam Qia.
Suara denting piano yang lembut mulai terdengar. Suasana resepsi menjadi syahdu. Semua mata para tamu undangan mengarah pada Billy dan Qia. Suara indah mulai terdengar dari bibir Qia. Suaranya lembut dan merdu membuat siapa pun turut larut dalam pesan yang seolah ingin disampaikannya lewat lagu ini.
Kak Billy, maafkan Qia. Qia sering membuatmu sakit hati, membuat hatimu kecewa bahkan sering ragu terhadap dirimu, gumam Qia sambil menyanyi.
Yaya, apa berarti aku sudah memiliki tempat di hatimu? gumam Billy. Dia mematung saat Qia menyentuh pipinya. Yaya, kamu bikin aku jadi tambah dag dig dug, tahu! guman Billy.
Kak Billy, sekarang Qia sadar jika dirimu memang yang terbaik. Kamu pasangan yang paling baik untukku. Kamu mau menerimaku dengan segala kenakalan dan kesalahanku. Kamu benar-benar sudah menerima diriku apa adanya. Bahkan, saat aku salah pun kau tetap menerimaku, gumam Qia sambil bernyanyi.
"Yaya," ucap Billy.
__ADS_1
Tikus Kecil, kenapa sih, kamu jadi bikin aku pengen nangis. Aku jadi terharu saat kamu menyanyikan lagu ini, gumam Billy. Dia memegang telapak tangan kiri Qia yang masih menempel di pipi kirinya.
Lagu itu memasuki bagian reff. Suasana syahdu semakin terasa. Suara Qia yang lembut dipadukan dengan alunan piano dengan tempo yang makin cepat membuat orang yang mendengar lagu ini semakin terbuai dan makin larut dalam nyanyian Qia.
Kak Billy, jika dirimu diibaratkan batu mulia. Kamulah batu yang paling berharga. Kamu memiliki sinar yang bisa menuntunku di kegelapan kehidupan. Kak Billy, jika dirimu diibaratkan bintang di langit malam yang gelap. Kamulah bintang yang memiliki sinar paling terang bagiku. Kak Billy, jika di masa depan ada jutaan cinta yang mungkin datang kepadaku. Sekarang, aku yakin bahwa hanya dirimu yang akan kupilih. Kak Billy, terima kasih karena kamu selalu ada untukku di setiap langkahku. Kamu selalu ada bahkan saat aku sedang terpuruk sekalipun. Kak Billy, hanya dirimu yang pasti dan selalu ada untuk diriku. Sekali lagi maafkan Qia karena sudah pernah membuatmu sakit hati, membuat hatimu kecewa dan bahkan sering kali meragukan dirimu sebagai pasanganku. Maafkan Qia ya, Kak Billy. Kamu memang pasangan yang paling baik untuk diriku yang lemah ini, gumam Qia sambil terus menyanyi. Kak Billy, memang kamulah orang yang paling memahamiku, gumam Qia.
Tepat saat lagu itu berakhir, Qia mencium bibir Billy. Mata semua tamu undangan seolah tak berkedip melihat pemandangan itu.
Yaya, apa yang kamu lakukan? gumam Billy.
Kak Billy, ini kado spesial dariku untukmu, hehehe, gumam Qia.
Beb, apa yang kamu lakukan? Kamu mencium Pak Billy? Apa aku sudah tak ada artinya lagi untukmu? gumam Naren.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍