Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 72 - Ikan....


__ADS_3

Astaga, apa yang dilakukan Balok Es tadi pagi! 😨 Dia memajang foto itu untuk wallpaper di laptopnya saat mengajar. Aku tak percaya jika dia akan melakukan hal ini. Aku terus memikirkan hal ini sepanjang hari. Itu sama saja dengan mengklaimku di hadapan publik.


Jujur, aku sangat terkejut, rasanya aku ingin segera pulang begitu kelas berakhir. Untung saja, kelas di hari itu cuma kelas itu saja jadi aku sudah bisa pulang saat siang hari.


Aku tak bisa fokus saat menyetir. Pikiranku terus melayang memikirkan wallpaper saat di kelas tadi. Saat tiba di rumah, aku justru gabut. Sekarang, aku harus ngapain? 😧


Hari masih siang, mau tidur siang aku merasa tak mengantuk, mau nonton drama korea baru nggak mood. Balok Es belum pulang, dia tidak pulang bersamaku. Apa aku hangout aja ya bareng temen, Wati mungkin?


Nggak! Nggak! Nggak! Aku ingin menghindari pertanyaan seputar wallpaper tadi. Saat memasuki rumah, mataku melirik ke sudut taman yang belum pernah kujejaki. Ada sebuah gazebo dari kayu dengan kolam ikan di bagian samping kiri. Di sekeliling gazebo itu ada berbagai macam jenis bunga warna-warni. Kurebahkan diriku di gazebo kayu itu.


"Enak juga rebahan di sini!" ucapku sambil menatap ke berbagai sudut gazebo.


Atap gazebo ini juga dari kayu. Kayu yang dicat warna coklat tua. Di pojok gazebo ada sekotak wadah plastik bening bertuliskan 'Makanan Ikan'. Makanan Ikan? Kubuka kotak plastik bening itu, ada butiran-butiran berwarna merah dan hijau. Ini adalah makanan ikan hias yang biasa dijual di toko. Kulihat ke arah kolam ikan itu. Kolam ikan itu diberi pelapis berupa keramik warna biru muda. Airnya bening meski bercampur dengan tumbuhan teratai yang memenuhi kolam itu.


"Wuih! Ini ikan mahal!" ucapku takjub.


Di kolam ikan itu ada ikan koi dan ikan koki. Ikan koi itu kebayakan berwarna putih bercampur merah dan merah bercampur putih. Sementara untuk ikan koki sebagian besar berwarna merah cerah. Ikan-ikan itu nampak berenang dengan riang dan tenang di kolam itu.


"Nih, makan siang untukmu, Ikan Sayang!" panggilku sambil menaburkan makanan ikan ke dalam kolam. Ikan-ikan itu dengan lahap menyantap pakan itu.


"Ikan, menurut kalian Kak Billy itu kayak apa sih?" tanyaku. Aku mulai berbicara pada ikan itu. Kukeluarkan segala hal yang kupikirkan. "Kalian kan udah di sini lebih lama dari aku gitu, menurut kalian Kak Billy itu orangnya kayak apa sih? Dia suka jahil nggak sama kalian? Kak Billy itu suka jahil kalo sama aku. Dia itu kayak balok es. Dia itu dingin dan beku banget. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, dia itu jarang bisa senyum apalagi ketawa. Sikapnya itu lho, Ikan, bikin aku bingung, tahu! Dia itu bersikap dingin banget ke aku kalo bicara suka pake kode-kode gitu bahkan mungkin kodenya lebih sulit dipahami daripada mata kuliah Matematika Bisnis. Eh, makanan kalian udah habis, ya? Nih,tambah!" kutaburkan lagi pakan ikan ke kan itu.


"Curhatnya sampe mana ya tadi...." aku mencoba mengingat-ingat. "Oh ya, sampai kode-kode rumit dari Si Balok Es. Ehm...aku tuh sebenarnya masih canggung gitu. Dia lebih tua dari aku, dia juga dosenku. Kalo mau ngajak bercanda wajahnya kan dingin dan datar kayak es. Dia itu kalo nggak kepaksa atau aku nggak mulai dulu nggak bakal agresif. Ikan, tahu nggak? Aku tuh, penasaran. Balok Es punya mantan nggak, ya? Nenek Sihir dia kan bisa jadi banyak banget. Dia kan orangnya tajir, duitnya bahkan mungkin satu truk lebih. Dia tuh nggak pernah cerita tentang masa lalunya ke aku, tahu! Aku mau tanya juga canggung, nih! Pikiranku tuh udah penuh sama sikapnya tadi. Dia tuh majang foto waktu pemotretan kemarin. Dia nggak bilang- bilang, tahu-tahu udah majang aja waktu kelas tadi. Aku kan jadi canggung dan kaget gitu, Ikan. Dia sama aja mengklaim kepemilikannya padaku dengan cara itu. Ikan, menurutmu dia sengaja ya ngelakuin itu buat ngomporin mantanku, Si Naren? Kalo menurutku sih, iya. Dia kayak ngumumin gitu kalo bentar lagi aku dan dia bakalan married, padahal kan udah nikah, hahaha. Ikan, aku tuh penasaran Balok Es punya mantan nggak, sih? Terus, kenapa kok dia nggak langsung nikah gitu waktu umur 20-an. Sssttt!!! Tapi, jangan bilang-bilang ya, Ikan! Jangan bilang ke Kak Billy kalo di otakku panggilan buat dia itu bukan Hubby tapi Balok Es...." kutaburkan lagi pakan ikan itu ke kolam.


"Nih, kukasih makan lagi, tapi diam, ya! Jangan bilang curhatanku tadi ke Balok Es!" ucapku. Tangan kananku memegang kotak plastik itu, tangan kiri menabur pakan ke dalam kolam ikan. Ikan-ikan itu sangat lahap ketika memakannya. Tiba-tiba kurasakan cengkeraman di pinggangku.

__ADS_1


"Balok Es sudah tahu semuanya!" terdengar bisikan di telingaku.


"Eh!" sontak aku kaget. Wadah pakan ikan itu miring sehingga isinya tumpah ke kolam.


"Jangan ceroboh, Tikus Kecil!" tangan kiri Balok Es menyangga wadah pakan ikan itu sehingga tidak tumpah.


Duh, Balok Es kapan kamu pulang? Apa dia denger semua yang kukatakan tadi? 😨 Aku tak berani menatap ke arahnya.


"Kenapa malu?" ucap Balok Es. Pinggangku kembali dicengkeram oleh tangan kiri Balok Es. "Nggak mau lanjut curhat sama ikan? Hah?" Balok Es mencium pipi kananku. "Sana, curhat! Saya dengerin!" ucapnya lagi.


Pak, gimana mau curhat kalo orangnya yang digosipin jelas-jelas ada di sini! 😧


"Kak Billy, sejak kapan pulang? Udah makan siang? Kalo belum Qia temenin, yuk!" kualihkan topik pembicaraan.


"Ehm, kayaknya tadi ada yang manggil saya Balok Es deh!" ucap Si Balok Es.


"Ehm, lucu ya, ada orang curhatnya ke ikan. Ada pertanyaan malah tanya ke ikan. Ck! Ck! Ck! Lucu, ya!" ucap Balok Es.


"Ehm...Kak...itu...." ucapku terbata-bata.


Aku harus bilang apa nih! 😣 Balok Es dengar semua curhatanku! 😭


"Saya nggak punya mantan," celetuk Si Balok Es.


Aku tertegun, dia menjawab pertanyaanku tadi, ya? 😮

__ADS_1


"Mantan nggak punya tapi nenek sihir banyak!" mulutku langsung kubekap.


Aku bicara apa, sih? 😭 Balok Es menatap tajam ke arahku.


"Kenal beberapa wanita bukan berarti punya hubungan, tahu! Kalau saya bilang tidak punya ya berarti nggak punya beneran. Kenapa baru menikah di umur 30-an? Karena sibuk kuliah dan mengejar karir. Apa wallpaper tadi itu sengaja? Iya, sengaja biar Narendra nggak ganggu Tikus Kecilku lagi!" ucap Balok Es, kepalanya menyandar dengan manja di bahu kananku. Balok Es, kau menjawab semua pertanyaanku? 😮


"Sudah selesai belum curhatnya?" ucap Balok Es. "Kalo udah, sana siap-siap!" perintahnya.


"Siap-siap? Buat apa?" tanyaku bingung.


"Ke luar kota, hunting foto buat resepsi!" Balok Es melepaskan pelukannya.


"Foto buat resepsi? Kan udah!" sahutku.


"Cuma indoor saja tidak menarik, saya maunya juga outdoor! Cepat sana, siap-siap!" perintah Balok Es. "Kenapa kok bengong? Oh, saya paham!" Balok Es menarik daguku.


Pak, Bapak kok langsung serang aja, sih! 😨 Kecupan lembut diarahkan tepat ke bibirku. Pak, Bapak sekarang ketagihan ya buat kasih kiss ke Qia? Kecupan itu berakhir.


"Kenapa masih bengong? Sana, pergi siap-siap! Kalo nggak saya tinggal!" ucap Balok Es sambil berlaku pergi. Ih, Bapak, kok gitu sih! Habis hangat terus dingin lagi! 😓


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2