
"Kamu mau apa sih sebenarnya?" tanya Balok Es. HUH! Dasar nggak peka! 😑
"Ehm...nggak papa...." sahutku lirih.
TOK! TOK! TOK! Terdengar suara ketukan pintu kamar.
"Maaf, Tuan Muda, Nona, makan malam sudah siap. Tuan Muda dan Nona sudah ditunggu di ruang makan," terdengar suara seorang wanita. Kurasa wanita ini adalah salah satu pelayan di rumah ini.
"Iya, sampaikan bahwa kami segera ke sana!" teriak Balok Es. "Sudah, ayo sudahi mandi ini! Kita sudah ditunggu," Balok Es melepas cengkeraman di pinggangku.
"Sana! Kamu duluan keluarnya!" ucapku sambil menutup mata dengan kedua tanganku. Aku benar-benar masih merasa geli jika dia dalam kondisi seperti ini.
"Ck! Dasar lebay!" celetuk Balok Es. "Padahal kamu sebenarnya senang melihat saya dalam kondisi seperti ini! Pura-pura malu tapi sebenarnya mau!" bisik Balok Es di telingaku.
Ihih! 😣 Apaan sih! 😳 Aku kan benar-benar masih merasa geli. Kurasa Balok Es sudah mulai bergerak keluar dari dalam bathtub. Ehm, pasti roti sobek di perutnya kelihatan nih! Aku memgintip sedikit.
"Kalo mau liat, liat saja, Yaya! Tak usah mengintip!" celetuk Balok Es. Sial! Aku ketangkap basah! 😨
"Siapa yang mengintip! Qia nggak mengintip kok!" aku berusaha membela diri.
Mataku kututup lagi dengan kedua tanganku. Balok Es benar-benar sudah keluar dari dalam kamar mandi. Itu nampak dari pintu kamar mandi yang terdengar menutup kembali. Ini waktu yang tepat untuk keluar dari bathtub dan memakai bathrobe (baju handuk). Kakiku sudah berdiri agar bisa melangkah keluar.
"AAA!" teriakku.
Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Nampak Balok Es yang sudah memakai kaos merah dan celana hitam. Dia membuka pintu itu.
"Kamu mau apa kemari?!" teriakku panik secara reflek kubenamkan kembali diriku ke dalam bathtub.
"Cepat keluar! Kita sudah ditunggu!" perintah Balok Es.
"Nggak mau! Kalo Kak Billy nggak keluar dari kamar mandi, Qia nggak mau keluar dari bathtub!" teriakku.
"Merepotkan!" keluh Balok Es. "Nih, kamu pakai bajunya di dalam kamar mandi saja!" Balok Es mengambilkan pakaian untukku. "Cepat pakai, Tikus Kecil!" perintah Balok Es sambil menutup pintu itu lagi.
Aku pun segera keluar dari bathtub lalu mengeringkan tubuhku. Kupakai pakaian yang dibawakan oleh Balok Es. Pakaian itu berupa kaos lengan panjang warna pink dan celana panjang warna putih. Saat aku keluar dari kamar mandi, Balok Es nampak masih duduk di tepi ranjang.
"Cepat sisir rambutmu, kita sudah ditunggu, Yaya!" perintahnya lagi.
"Iya, iya," aku segera menyisir rambutku. "Sudah, Kak!" ucapku sambil menguncir rambutku.
"Nih, pakaikan!" Balok Es menyuruhku membantunya memakai penyangga lengan itu lagi. Ternyata sembuhnya lama, ya, aku jadi merasa bersalah lagi. "Tangan saya sebentar lagi sembuh! Jangan tunjukkan wajah sedihmu, Yaya," tangan kirinya membelai rambutku. "Ini makan malam pertama kita dengan kakek. Jadi, jangan buat kakek sedih karena melihat raut wajahmu yang masih memendam rasa bersalah. Saya adalah suamimu, Yaya. Melindungimu adalah kewajiban bagi saya," Balok Es menatapku dengan lembut.
Pak, kalo Bapak kayak gini hati Qia jadi merasa hangat 😍.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita turun!" Balok Es menggandeng tanganku. Aku pun menggangguk.
Tunggu, ini makan malam pertama dengan kakek. Kakek pasti bertanya-tanya tentang hubunganku dan Balok Es. Aku harus menunjukkan jika hubungan kami benar-benar dekat. Aku juga tak boleh memberi kakek kesempatan untuk bertanya tentang momongan. Tidak, boleh! Tidak, boleh! 😤
"Billy, Qia!" panggil Kakek Adi saat aku dan Balok Es sudah sampai di depan meja makan.
Kakek Adi duduk di seberang sana bersama Bunda Belvana dan Ayah Andy. Nampak berbagai hidangan lezat sudah tersaji. Aku dan Balok Es sudah duduk di kursi sisi seberang meja itu.
"Billy, Qia," panggil Bunda Belvana. "Ayo, coba masakannya! Bunda sendiri yang memasaknya!" Bunda Belvana menyajikan makanan ke atas piringku dan Balok Es.
"Ehm," celetuk Kakek Adi.
Gawat! Jangan sampe Kakek Adi membahas tentang keturunan. Dia pasti akan menanyakan apa aku sudah hamil atau belum! 😨
"Kak Billy, sini Yaya suapin!" aku segera meraih sendok lalu menyuapi Balok Es.
"Ehm," sahut Balok Es singkat. Dia mulai menerima suapanku.
Aku terus menyuapi Si Balok Es. Mata ketiga orang di seberang sana kurasa terfokus ke arahku. Aku tak peduli yang penting jangan sampai kakek membahas soal momongan.
"Billy, Qia," panggil Kakek Adi.
"Iya, Opa," sahut Balok Es.
Gawat! Pasti kakek akan menanyakan soal momongan nih! 😨
Kuarahkan fokusku untuk menyeka mulut Si Balok Es dengan tisu makan. Aku sengaja memilih lauk ayam semur sehingga ada alasan untuk melakukan adegan ini.
"Billy, Qia," panggil Kakek Adi lagi. Gawat! Kakek Adi masih tidak menyerah. "Apakah Qia...." ucap Kakek Adi. Dia pasti ingin menanyakan tentang kehamilanku.
"Duh!" ucapku spontan sambil memegangi perutku.
Aku harus segera pergi dari sini! 😣
"Ada apa, Yaya?" Balok Es nampak panik.
Pak, jangan bertanya ya. Qia nggak papa, cuma mau menghindar aja dari pertanyaan kakek.
"Maaf, Qia kebelet ke kamar mandi!" sahutku sambil berlari keluar dari ruang makan.
Tunggu, kamar mandinya dimana, ya? Ah, sudahlah! Kembali ke kamar lagi saja. Aku pun berlari menuju kamar di lantai atas itu. Sesampainya di kamar, aku segera masuk ke kamar mandi. Kududukkan diriku di atas kloset. Aku nggak papa sih, cuma pura-pura aja. Lebih baik aku nggak usah keluar kamar lagi deh. Biarin aja nggak makan malam, daripada kakek tanya macam-macam.
"Akhirnya bisa bebas!" ucapku saat keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"QIA!" terdengar suara dingin mengagetkanku.
Duh, kok Balok Es ada di sini, sih! 😣 Aku hanya mematung dengan kaku. Duh, gimana ya, kok aku jadi takut gini. Balok Es marah nggak, ya? 😢
"Kamu kenapa?" Balok Es menyentuh dahiku. "Kamu cuma pura-pura, ya?" dia menatapku tajam.
Deg! Jantungku serasa berhenti. Aku harus gimana, nih!
"Qia takut!" aku langsung memeluk Si Balok Es. "Qia takut, Kak Billy! Qia takut kalo kakek nanyain soal momongan lagi. Qia nggak tahu harus jawab apa...kita kan...ehm...belum pernah ngelakuin hal itu...." aku mengatakan isi hatiku.
"Jadi karena itu," tangan kiri Balok Es membelai kepalaku. Aku pun menggangguk-angguk. "Kamu tak perlu takut, Yaya. Kita sudah memutuskan hal ini berdua. Jika kakek menanyakan hal itu, saya pasti akan membantumu untuk menjawabnya. Kamu tak perlu khawatir, ya," Balok Es menatapku dengan lembut. "Ayo, kita kembali!"
"Ehm," sahutku. Aku menurut begitu saja. Ruang makan itu kembali terlihat. Aku dan Balok Es sudah duduk kembali ke kursi yang sama seperti tadi.
"Ada apa?" tanya Kakek Adi. "Qia kenapa, Billy?"
"Qia hanya sedikit sakit perut," sahut Balok Es. "Ayo makan, Yaya!" Balok Es menyuapiku dengan tangan kirinya. Aku pun menerima suapan itu dengan lahap.
"Billy, Qia," panggil Kakek Adi.
Duh, kakek pasti mau nanyain soal momongan nih.
"Iya, Kakek," sahut Balok Es. Dia menghentikan sejenak suapannya padaku.
"Apa sudah ada kabar baik?" tanya Kakek Adi.
"Kabar baik apa, Ayah?" tanya Ayah Andy.
"Maksudku apakah Qia sudah hamil. Hanya itu saja yang ingin kutanyakan," sahut Kakek Adi. "Billy, bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda jika Qia hamil?" tanya Kakek Adi lagi.
"Belum, Ayah," celetuk Bunda Belvana. "Menantuku belum hamil. Tidak perlu buru-buru, biarkan Qia menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Ibu dari cucu-cucuku harus berpendidikan tinggi. Dia juga harus sudah siap secara mental. Biarlah Billy dan Qia menikmati masa-masa berdua dulu, Ayah. Aku yakin Billy, putraku, masih ingin memonopoli Qia hanya untuk dirinya sendiri," Bunda Belvana menatap ke arah kami. Ini di luar dugaanku, Bunda Belvana ternyata punya pemikiran seperti itu. Aku sedikit lega karena hal ini. "Sudah, Billy, Qia. Lanjutkan saja makan kalian," perintah Bunda Belvana.
"Tapi...." Kakek Adi hendak berbicara lagi.
"Ayah, bukankah sekarang saatnya Ayah minum obat? Biarkan Belvana mengantar Ayah ke kamar, ya," celetuk Ayah Adi.
Syukurlah, nampaknya Ayah Adi juga mendukung pendapat Bunda Belvana.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍