Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 97 - Pelajaran....


__ADS_3

"Panti Asuhan XXX?" ucap Qia spontan. "Mau apa kita kemari?" tanya Qia.


"Kau akan tahu nanti, Yaya," sahut Billy. Dia menggandeng tangan Qia masuk ke dalam.


Astaga, dia ngajak aku ke sini buat apa, sih? Jangan-jangan mau adopsi anak! Tapi, kok nggak bilang aku dulu, sih! gumam Qia.


"Selamat datang, Tuan Rexford, Nyonya Rexford!" sapa seorang wanita. Wanita itu memakai seragam warna biru muda. Ada tulisan 'pengurus' di seragamnya.


"Nyonya Rexford?" Qia tertegun. "Maksudnya aku?" sahut Qia sambil menunjuk ke arah wajahnya.


"Tentu saja kau, Yaya. Kau istriku. Apa kau lupa dengan hal itu?" bisik Billy.


"Eh, ya...." ucap Qia.


Kan jarang bahkan mungkin belum pernah ada yang manggil aku kayak gitu, gumam Qia.


"Mari silahkan!" ucap wanita itu. Dia mempersilahkan Billy dan Qia masuk ke dalam ruang tamu.


Nampak ruang tamu dengan cat dinding warna putih. Sofa di ruangan itu berwarna krem. Billy segera duduk di sofa itu. Qia pun mengikutinya.


"Begini Bu Ani, kedatangan saya dan istri kemari untuk berkunjung dan ingin memberikan sedikit bantuan bagi panti ini...." ucap Billy.


"Mohon maaf, Tuan. Sumbangan rutin bulanan untuk panti ini sudah Anda transfer...." ucap Bu Ani.


"Itu sudah seharusnya saya lakukan sebagai donatur tetap bagi adik-adik di sini," Billy mengeluarkan segepok uang dari dalam tas selempangnya. Ehm...ini saya ingin menambah uang jajan untuk adik-adik panti sebagai wujud rasa syukur karena resepsi pernikahan saya bisa berjalan lancar," ucap Billy sambil menyerahkan uang itu kepada Bu Ani.

__ADS_1


Astaga, uangnya banyak sekali. Satu ikat itu tulisan nominalnya sepuluh juta. Yang diserahkan ada 10 ikat. Berati jumlahnya....hah...seratus juta?! gumam Qia.


"Terima kasih, Tuan. Saya doakan semoga Tuan dan keluarga sehat selalu. Diberi umur panjang dan rejeki yang makin berlimpah. Semoga pernikahan Tuan langgeng terus. Semoga segera diberi momongan," ucap Bu Ani.


"Amin...." ucap Billy. "Oh ya, Bu, saya ingin mengajak istri saya menemui adik-adik di sini. Apakah boleh?" tanya Billy.


"Boleh, Pak. Boleh. Bu Ika!" panggil Bu Ani. Seorang wanita masuk ke dalam ruangan.


"Iya, Bu?" tanya wanita itu.


"Tolong temani Tuan dan Nyonya Rexford berkeliling," perintah Bu Ani.


"Baik, Bu. Mari Tuan, Nyonya," ucap Bu Ika. Billy pun segera berdiri.


"Ayo, Yaya!" Billy menggandeng tangan Qia. Keduanya keluar dari ruangan itu.


"Ada apa?" tanya Billy.


"Ehm...menyumbangnya banyak sekali...." bisik Qia.


"Yaya, keluargaku dianugerahi harta yang lebih dari cukup. Harta hanyalah sebuah titipan, Yaya. Sudah seharusnya aku memberikan sebagian hartaku kepada yang lebih membutuhkan. Lagipula, resepsi kita juga sudah berjalan dengan lancar. Tak ada salahnya mengungkapkan rasa syukur dengan cara berbagi," bisik Billy sambil tersenyum.


"Kak Billy, kau tak takut uangmu habis?" tanya Qia. Billy menahan tawa.


"Yaya, jangan khawatir. Jatah bulananmu aman kok," sahut Billy.

__ADS_1


Ditemani Bu Ika, Billy dan Qia berjalan mengelilingi panti itu. Nampak sebuah halaman yang luas di bagian tengah bangunan itu. Bangunan panti itu dibangun mengelilingi halaman yang luas itu. Terlihat anak-anak berbagai usia. Mereka nampak asyik bermain bersama di halaman yang luas itu.


"Ini adik-adik penghuni panti kami, Tuan, Nyonya. Adik-adik ini usianya beragam mulai dari anak yang sudah masuk TK hingga remaja," ucap Bu Ika. "Anak-anak!" panggil Bu Ani. Anak-anak itu menoleh. "Tuan dan Nyonya Rexford datang berkunjung. Ayo, salaman dulu!" ucap Bu Ika. Anak-anak itu mendekat ke arah Billy dan Qia.


"Bagikan ini!" Billy menyerahkan segepok uang dari dalam tasnya. Uang itu berupa uang kertas warna biru. Anak-anak itu mulai mencium tangan Billy. Billy tak lupa membagi-bagikan selembar kertas warna biru pada setiap anak dari dalam tasnya.


"Terima kasih, Pak! Terima kasih!" ucap anak-anak itu. Mereka nampak tersenyum ceria. Raut bahagia terpancar dari wajahnya.


"Bu!" panggil seorang anak. Dia menatap ke arah Qia. Tangan kanannya sudah mengarah ke arah depan.


"Oh, ya!" Qia segera mengulurkan tangan kanannya. Anak kecil itu segera mencium tangannya. Qia segera memberikan uang seperti yang dilakukan Billy. Anak-anak lain berbaris untuk mencium tangannya.


"Terima kasih, Bu. Makasih!" ucap anak-anak itu. Raut wajah bahagia tergambar dari wajah mereka.


Kenapa ya hatiku merasa bahagia saat melihat anak-anak itu tersenyum ceria. Aku jadi ikut merasakan kebahagiaan. Hatiku merasa hangat. Kak Billy, hari ini kau mengajarkanku untuk tak lupa bersyukur dan berbagi. Aku akan mengingat pelajaran ini seterusnya, gumam Qia.


Anak-anak itu selesai bersalaman dengan Billy dan Qia.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2