Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 51 - Bukti?


__ADS_3

"Bapak! Bapak ngapain di sini?" teriakku. Nampak Balok Es tidur sambil memeluk tubuhku seperti guling. Mngapa kejahilannya tak berhenti sih 😢.


"Tidur denganmu," sahutnya singkat. Dia berbaring di sebelah kananku. Dia memakai piyama lengan panjang berwarna biru muda. "HOAHM!" Balok Es menguap lebar. Tangan kirinya mencengkeram tubuhku dengan kuat.


"Ba...pak!" protesku. Kakinya menindih kakiku. Kurasa dia benar-benar mengganggapku guling.


"Ck! Kenapa kamu protes? Bukanlah kemarin kamu bilang pengen ditemani tidur?" Balok Es menatapku. "Saya sudah menemanimu lho, sekarang. Jadi, jadilah guling yang baik, ya!" Balok Es mencium dahiku.


"Tapi, Pak...." protesku lagi.


Balok Es mencengkeram daguku dengan kuat. Pak, Bapak agresif banget sih sekarang. Bibir mungilku tak berdaya di dalam serangan kecupan maut Si Balok Es.


"Kamu terlalu berisik," Balok Es melepas cengkeram daguku. Jantungku tetap saja masih berdebar kencang. "Sudah, sekarang tidur!" perintah Si Balok Es.


Dia menarik selimut sehingga menyelimuti tubuh kami berdua. Tangan kiri Balok Es kembali mencengkeram tubuhku dengan kuat. Wajahku sejajar dengan wajah Si Balok Es. Mata elangnya sudah terpejam. Kutatap wajah itu, embusan napasnya terasa mengenai wajahku. Wajah ini memiliki pesona tersendiri, sekarang wajah ini nampak tenang tapi tetap terkesan misterius.


Tangan kiriku mulai bergerak perlahan. Aku tak tahu kekuatan apa yang menggerakkannya. Aku masih tak percaya ini bisa terjadi dalam hidupku. Dosenku bisa menjadi suamiku. Ini seperti kisah novel atau film yang menjadi kenyataan. Siapa sangka Si T-Rex ini yang sekarang justru menemaniku saat aku sedang butuh sandaran seperti saat ini.


Tangan kiriku masih tertahan di udara saat hendak menyentuh pipi kirinya. Jujur, berbagai pertanyaan masih bergelayut di pikiranku. Sebenarnya, apa posisiku di dalam hati Balok Es. Dia bilang aku istrinya, tapi...itu kan status. Aku ehm, tetap saja butuh pernyataan resmi yang jelas, tegas tanpa kalimat bermakna ganda tentang posisiku di hati Balok Es.


Pak, apa seperti ini ya yang Bapak rasakan selama ini. Ehm, mungkin bisa dibilang perasaan Bapak, saya gantung. Secara status Qia milik Bapak, tapi Qia tetap saja nakal atau lebih tepatnya nakal keterlaluan dengan bermain api di depan muka Bapak.

__ADS_1


Pak, apa selama ini Qia kurang peka ya pada Bapak? Apa mungkin kejahilan Bapak itu cuma untuk menarik perhatian Qia saja? Ehm, apa Bapak sebenarnya sudah ehm, mulai suka sama Qia? Meski Qia nakal, tapi Bapak selalu ada buat Qia. Melindungi waktu hampir celaka saat di rumah sakit, melindungi ketika kunjungan ilmiah, membela ketika Tante Mia menghina Qia, dan sekarang, sebagai tempat sandaran Qia saat Qia terpuruk. Pak, apa Bapak beneran suka sama Qia? Atau, Bapak mau balas dendam sama Qia?


Semua pertanyaan masih ada di kepala Qia, Pak. Gimana caranya sih biar Bapak bilang terus terang? Nggak usah pake kode atau kalimat bermakna ganda gitu. Balok Es seandainya kau bisa membaca pikiranku. Pasti aku takkan kesulitan mengatakan kalimat yang berputar-putar di kepalaku saat ini.


"Pak Billy...." panggilku sambil memegangi pipi Si Balok Es. Kurasa dia benar-benar sudah tertidur pulas. "Pak Billy, suka nggak sama Qia?" ucapku. Entah mengapa aku tak bisa menahan lagi kalimat yang mungkin merangkum seluruh pertanyaan di kepalaku. "Qia takut. Pak Billy itu dosen Qia. Ehm, canggung aja gitu kalo mau panggil nama. Apalagi kamu itu galak, dingin kayak es batu, suka jahil dan...tatapanmu itu ngeri. Apalagi kalo marah, udah persis banget kaya T-Rex. Ehm, bisa nggak sih hubungan kita jadi lebih murni gitu. Qia itu butuh kejelasan, Pak Billy. Qia tahu, Qia salah di masa lalu tapi... Qia beneran mau berubah sekarang. Pak Billy, kamu bilang tak membenci Qia, tapi, kamu juga nggak bilang suka. Jangan-jangan kamu cuma mau balas dendam ke Qia. Qia minta maaf jika sebelumnya salah. Qia masih gimana, ya...kamu tahu kan pertemuan kita dadakan. Ehm, bahkan pernikahan juga amat dadakan. Perasaan Qia bukan air yang bisa dengan mudah dipindah dari satu gelas ke gelas lain. Qia harap kamu paham...ehm...Qia kenal sama Naren duluan. Qia tahu nikah itu bukan mainan, tapi mau gimana lagi Qia butuh waktu buat mengenal Pak Billy. Raga Qia memang lebih mudah menerima kehadiran Pak Billy tapi ehm, hati Qia butuh waktu. Benar-benar butuh waktu menerima Pak Billy sebagai suami untuk Qia. Qia sebenarnya malu dan merasa bersalah. Qia malu karena sekarang bersandar pada Pak Billy, padahal kamu udah Qia duakan. Qia juga merasa bersalah karena hal itu. Kamu itu ehm...sebenarnya...." rasa bersalah di masa lalu membuatku tak bisa menahan air mataku. "Kamu itu terlalu baik untuk Qia. Jika bisa itu rasanya Qia pengen minta maaf terus ke Pak Billy," kuhapus air mataku. "Pak Billy, kamu sebenarnya cinta nggak sih sama Qia? Qia butuh bukti...."


"Bukti seperti apa?" terdengar suara dari mulut Si Balok Es. Mulutnya benar-benar bergerak meski matanya masih terpejam. Sial! Dia ternyata belum tidur tadi! 😭


Apa yang harus kulakukan? Sudahlah, pura-pura tidur saja. Aku segera membalik badanku untuk membelakangi Si Balok Es. Kupeluk guling dengan sangat kuat. Kusembunyikan wajahku di balik guling itu.


Apa dia mendengar semua perkataanku? Apa dia mendengar perkataanku dengan jelas seluruhnya? Astaga, mau ditaruh mana mukaku jika dia mendengarnya. Sudahlah, aku pura-pura tidur saja. Pokoknya jangan sampai Balok Es menyadari perkataanku tadi. Dia harus berpikir jika itu hanya mimpi.


Gawat! Gawat! Aku harus terlihat tidur sealami mungkin. Aku memejamkan mataku serapat mungkin. Kurasakan guling itu sudah terangkat dari wajahku.


"Sudah tidur ternyata, mungkin tadi cuma mimpi saja. Mana mungkin Tikus Kecil memanggilku dengan nama. Dia pasti memanggil Bapak atau mungkin T-Rex," terdengar suara Balok Es.


Kurasakan guling itu kembali di letakkan di sampingku. Aku merasakan tangan kiri Balok Es memcengkeram pinggangku dari arah belakang. Kepalanya kurasakan tepat ada di belakang kepalaku. Embusan napasnya terasa di kulit leherku.


"Aku bingung padahal sentuhannya begitu nyata tadi. Ck! Tak mungkin Tikus Kecil berkata seperti itu. Bukti ya? Aku perlu membuktikan dengan cara apa. Jika dia butuh penjelasan mungkin semuanya bisa dirangkum dalam satu kalimat," kurasakan Balok Es mencium pipi kananku. "I L Y 1 Billion!" ucapnya di telingaku. "Billy berkata kepada Qia : I L Y 1 Billion!"


Mataku kembali terbuka. I L Y 1 Billion? Apa maksudnya I Love You 1 Milyar? Dia menyatakan cintanya kepadaku sebesar itu. Apa dia menyatakan perasaannya padaku? Aku pun segera membalik badanku. Balok Es nampak sudah tertidur pulas.

__ADS_1


"Ba...pak...." panggilku. "Ba...pak...." kuguncang-guncang badannya.


Dia sudah tertidur pulas. Aku pun iseng memencet-mencet hidungnya dengan jari telunjukku. Dia tetap tak terbangun. Aku pun iseng menarik hidungnya. Ck! Dia tetap tak bangun kurasa dia sudah tertidur pulas.


Jangan-jangan dia cuma pura-pura tidur. Ada satu cara memastikannya, hihihi! Senjata ini pasti ampuh! Aku berbaring sealami mungkin menghadap ke arah Si Balok Es. Mataku sudah kupejamkan, sedikit kubuka.


"Satu...dua...tiga..." kuhitung dengan lirih. "TIKUS!" teriakku kencang.


Aku segera menutup mataku dan memposisikan raut wajahku sealami mungkin. Aku menunggu beberapa saat dengan mata terpejam sempurna. Kok nggak ada gerakan apa pun ya? Kubuka sedikit mataku, Balok Es nampak masih tertidur pulas. Ck! Dia benar-benar sudah tertidur pulas rupanya. Aku pun kembali tidur. Kupeluk tubuh Si Balok Es dengan erat.


"Pak Billy, makasih ya penjelasannya tadi," bisikku lirih. Balok Es, apa ini bisa disebut sebagai awal lembaran baru hubungan kita?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2