
DUT!!! Astaga, mengapa harus sekarang? Aku kentut dengan suara yang sangat nyaring. Pertanyaan itu membuyarkan fokusku untuk menahan kentut. Semua mata nampak tertuju padaku. Aku ingin menghilang ke dalam tanah saja. Bisa kurasakan aura membunuh dari tatapan mata Si Balok Es. Ampun, Pak, saya beneran tidak sengaja tadi. Suasana masih saja hening.
"Duh, Qia...." terdengar suara Mama. "Mama ingat kamu kan baru masuk angin makanya kentut terus, hehehe. Maaf ya, Jeng."
"Hahaha...." terdengar suara tawa dari Tuan Adi Hutama. "Dia mirip mendiang nenekmu, Billy. Suka kentut jika masuk angin. Kuharap itu tidak memgecewakanmu tadi malam...." Kakek menatap Si Balok Es. "Kalian sudah melakukannya tadi malam?"
Astaga, apa tak ada hal lain lagi yang bisa dibahas. Mengapa harus menanyakan hal ini? Terlalu memalukan.
"Kakek, tak perlu khawatir..." Balok Es itu merangkul pinggangku dengan mesra. "Kami sudah tidur bersama tadi malam. Iya kan, Yaya Tercinta?" dia menatapku.
"Iya, T-Rex-ku Sayang," aku berpura-pura manja.
"T-Rex? Sepertinya Billy sangat galak tadi malam, Jeng. Wkwkwk." Nyonya Belvana tertawa . Jujur, saja pipiku memerah mendengar pembahasan ini. Tak bisa kubayangkan jika hal ini benar-benar terjadi.
"Aku tak akan setega itu pada Yaya, Ma. Tapi dia terus memelukku tadi malam hingga pagi. Iya kan, Sayang?" Balok Es ini tersenyum bangga. Aku hanya menggangguk mengiyakan. Terus memelukmu? Jika bukan karena aku takut pada petir dan kecoa itu takkan terjadi. Dasar Balok Es pembual! "Aku membuatnya Terlalu Cinta Rexford jadi dia memanggilku T-Rex sekarang. Aku juga menjadi sayang padanya, jadi kupanggil dia Yaya." Balok Es ini memandangku dengan pandangan mesra yang palsu.
"Oh ya, Jeng. Qia adalah mahasiswanya Billy berarti Qia punya banyak teman. Jadi, bagaimana saat resepsi kita undang juga seluruh teman Qia?" Nyonya Belvana melirik Mama.
Ucapan itu seperti petir yang menyambar telingaku. Apa yang harus kulakukan saat teman-temanku mengetahui hal ini? Terutana, bagaimana aku harus menghadapi Naren?
"Tak perlu, Bun," sahut Balok Es. "Aku tak suka pesta yang terlalu ramai. Undang saja kerabat dekat kita."
"Tapi, Billy...." Nyonya Belvana nampak tak setuju. "Kamu ini anak Bunda satu-satunya. Pernikahanmu harus megah, meriah dan mewah."
"Turuti permintaanku atau aku hengkang dari perusahaan!" ancam Si Balok Es. Tunggu, hengkang dari perusahaan? Apa maksudnya? Nyonya Belvana terlihat panik. Ia nampak menghela napas.
__ADS_1
"Turuti saja apa keinginan Billy!" ucap Tuan Hutama. "Resepsi akan dibuat sesuai keinginanmu dan Qia. Papa dan Bunda takkan terlalu banyak ikut campur."
"Hem...." sahut Si Balok Es. "Aku harus menyiapkan bahan mengajar untuk besok. Kami berdua pamit, Kakek," Balok Es itu berpamitan sambil menggandeng tanganku. Aku mulai merasa ada yang aneh dengan keluarga Tuan Hutama. Kurasa hubungan diantara mereka tidak terlalu dekat.
"Billy!" terdengar suara Mama. Balok Es ini berhenti, ia melirik Mama. "Emm...karena pernikahan ini dadakan. Qia belum mempersiapkan apa pun...bisakah kamu mengantar Qia pulang ke rumah?"
Mama memang hebat, ia bisa tahu isi pikiranku. Ya, aku ingin pulang. Aku rindu rumahku.
"Tentu, Tante," sahut Balok Es itu ringan. Aku seakan ingin melompat karena kegirangan. "Saya akan menginap dan menemani Qia...." Balok Es itu tersenyum sinis ke arahku. Apa dia akan menginap di rumahku? Oh,tidak!
Perjalanan menuju rumahku terasa sangat panjang. Balok Es itu diam saja, dia tak mengajakku berbicara. Matanya terus menatap ke arah luar jendela seperti ada beban yang mengganggunya.
"Kita sudah sampai, Tuan, Nona," ucap Pak Sopir.
Aku segera meloncat keluar dari mobil. Terlihat rumah mungil putih tingkat dua dengan atap hitam. Rumah yang kurindukan. Terasnya memang tak begitu luas tapi cukup untuk memarkirkan sebuah mobil.
"Duh, Non. Non akhirnya pulang," ia menatap ke arah belakangku. Nampak Si Balok Es berdiri dengan angkuh, ia nampak mengamati rumahku. "Tuan...." panggil Bi Inem.
"Panggil saja saya Mas Billy, Bi," ia menyalami tangan Bi Inem. "Saya suaminya Qia. Oh ya, tolong bantu Qia memberesi pakaian dan barang-barangnya." Bi Inem mematung mendengar hal itu, sepertinya dia terkejut. Jangankan Bi Inem, aku pun terkejut mendengar perkataan Si Balok Es.
"Tapi, Pak...." kuberanikan diri melawannya kali ini. "Saya...."
"Kamu ingin orang tua kita berpikir bahwa lita bertengkar? Kamu ingin orang tuamu memecat ayah Naren?!" ancam Si Balok Es itu. Aku tak bisa melawan jika dia sudah menggunakan Naren sebagai ancaman.
"Ayo, Bi. Bantu aku mengemasi barang-barangku," aku kembali menahan tangis. Bahkan untuk tinggal pun aku tak punya pilihan. Kuberjalan menuju kamarku di lantai dua. Kamar mungil bernuansa ungu lavender. Di salah satu dinding nampak fotoku dengan Naren saat kami masih SMA. Air mataku pecah saat itu juga.
__ADS_1
"Yang sabar, ya, Non," Bi Inem memelukku. "Ini sudah takdir. Non Qia udah gede, udah tahu mana yang benar dan salah. Bibi harap Non bisa menerima kenyataan." tangan lembut Bi Inem mengelus-elus kepalaku. Aku tahu apa maksud Bi Inem, dia menyuruhku untuk mengakhiri hubungan dengan Naren.
Tidak,aku tak bisa melakukannya. Aku harus melawan Balok Es itu akan membuat Tuan Adi Hutama memihakku. Akan kubuat Kakek menyayangiku sehingga dia bisa menjadi batu loncatanku untuk lepas dari Balok Es ini. Aku akan mengatakan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Kuhapus air mataku. Segera kukemas pakaianku ke dalam koper dan barang-barangku ke dalam kardus. Tak terasa hari sudah gelap, badanku rasanya capek.
"Non, mandi saja. Saya akan menyiapkan makan malam untuk Non," aku hanya menurut. Segera kumandi dengan cepat lalu mengganti pakaianku dengan baby doll warna biru muda. Ini akan jadi malam terakhirku tidur di kamar ini. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang sambil memeluk boneka kelinciku.
"Apa yang sudah kau lakukan, Tikus Kecil?" terdengar suara dingin. Ketika aku berbalik, sosok dingin itu sudah berdiri dengan angkuh di gawang pintu. Ia berdiri menyandar sambil meyilangkan kedua tangannya di dada. "Kau membuang-buang waktu!" ia mendekatiku. Pakaiannya sudah berubah menjadi hoodie warna army dengan dalaman berupa piyama warna hijau muda. Apakah dia pulang tadi?
"Bapak yang menyuruh saya berkemas! Saya sudah melakukannya dengan benar! Barang saya banyak, Pak!" aku tak mau kalah.
"Siapa yang menyuruhmu pindah kamar?" ia tersenyum sinis. "Saya menyuruhmu berkemas pakaian bukan pindah kamar, Tikus Kecil. Kau pikir kamu akan pindah ke rumah saya?" ia tersenyum semakin sinis dan mengejek. Jadi, aku tak pindah kamar atau rumah. Jadi maksudnya aku hanya harus berkemas baju saja? "Apa kau ingin tinggal terus di rumah saya?" ia mendekatiku, mendekatkan wajahnya ke arahku. "Jangan berharap bahwa saya benar-benar menyukaimu, Tikus Kecil!"
"HUH!" aku memalingkan muka. "Siapa juga yang ingin tinggal dengan Bapak? Saya hanya beres-beres kamar saya. Bapak, kira saya suka sama Bapak?" aku berdiri dan berkacak pinggang. "Itu takkan pernah terjadi! Saya takkan pernah jatuh cinta dengan Balok Es Galak seperti Bapak!" teriakku keras. Tangan kananku menunjuk ke arah wajah Si Balok Es.
"Berani ya kamu! Kamu berani memanggil saya Balok Es Galak sekarang? HAH?!" ia berkacak pinggang, mata elangnya mengeluarkan aura kemurkaan. "Kamu....." tiba-tiba.....
"CIT! CIT! CIT! CIT!" terdengar suara sesuatu. Ada seekor tikus hitam yang menyelonong masuk menuju kamarku. Tikus itu berlari sangat cepat dari pintu kamar.
"AAAA!!!!" terdengar teriakan memengkakkan telinga. "TIKUS!!!" BRUK!!! Balok Es itu memelukku. Kami berdua jatuh ke ranjang kecil di belakangku. "Usir! Usir!" teriaknya ketakutan. Apa dia takut tikus?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍