Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 63 - Kencan....


__ADS_3

Kencan! Kencan! Kata-kata itu terus tergiang di kepalaku. Mungkin ini pertama kalinya Balok Es benar-benar murni mengajakku kencan. Biasanya jika pergi dengannya pasti tidak murni kencan, ada acara lain dulu baru pergi bersama. Kok, aku merasa hatiku jadi hangat, ya.


Aku pun segera pulang menuju ke rumah Balok Es. Untung saja, kuliah hari ini cuma satu mata kuliah. Jadi, tepat tengah hari aku bisa pulang. Aku tak bertemu dengannya di kampus hari ini. Ehm, mungkin saja dia sibuk mengurus urusan kantor.


Kencan ini harus kupersiapkan dengan baik. Pokoknya ini harus jadi kencan yang berkesan. Sebaiknya aku ke salon dulu deh. Kubuka internet, kucari rekomendasi salon yang mahal dan paling bagus. Setelah ketemu satu salon, aku segera menyetir mobilku menuju salon itu dengan petunjuk GPS. Salonnya ramai sekali.


"Selamat datang, Kak," sapa resepsionis dengan ramah. "Ada yang bisa kami bantu?"


"Ehm, saya mau paket perawatan komplit untuk dari ujung rambut sampai kaki. Dari lulur, facial, menicure, pedicure, creambath. Pokoknya yang lengkap dan yang paling bagus!" ucapku berapi-api.


"Baik, Kak. Silahkan ke kamar ganti dulu," aku pun dibawa menuju ke ruang ganti.


Kuganti pakaianku dengan baju mirip kemben dan jubah handuk yang disediakan oleh salon ini. Aku pun memulai prosesi lulur. Bahan-bahan lulurnya kurasa alami. Aku terbaring tertelungkup. Pegawai salon wanita sibuk mengoleskan lulur pada punggungku. Rasanya rileks dan menyenangkan. DRT! DRT! DRT! Smartphone-ku berdering, ada panggilan masuk dari sepupuku, Stevia.


"Halo, Ya. Loe yakin batal nonton? Ini pemutaran film perdananya lho. Ada acara apa sih?" tanya Stevia.


"Iya, batal aja. Aku diajak dinner sama suamiku," ucapku. Kata-kata suamiku membuatku geli.


"Oh, begitu. Loe udah perawatan belum? Cepetan cari salon! Loe harus tampil maksimal, Ya!" sahut Stevia.


"Iya, ini gue udah di salon. Gue baru luluran nih!" balasku.


"Ya udah, nggak papa deh nontonnya ditunda. Jangan lupa facial biar wajah loe jadi glowing!"


"Iya, gue nggak bakal lupa," balasku.


Proses luluran pun selesai. Rambutku kini sedang di creambath bersamaan dengan proses menicure dan pedicure.


"Mbak, kuteksnya yang transparan aja, ya!" ucapku pada pegawai salon yang melakukan proses menicure dan pedicure.


Aku tak mau kuteksku terlalu cetar, Balok Es pasti tak suka. Sekarang wajahku mulai menjalani facial. Rasanya segar dan kulit wajahku terasa semakin kencang. Proses di salon berlangsung hingga sore hari.


Sesampainya di rumah aku segera menyiapkan air untuk mandi dan berendam. Biar wangi kutambahkan sabun aroma mawar sebanyak mungkin ke dalam bathtub. Pokoknya aku harus tampil maksimal dan mendekati sempurna.

__ADS_1


Aku pakai baju apa, ya? Karena dinner-nya di mall akhirnya kupilih midi dress warna softpink. Tampil feminim tapi tetep casual. Rambutku kuberi hiasan jepit rambut warna serupa.


Hari hampir senja. Aku harus segera menyelesaikan make up-ku. Kupilih style make up flawless. Kupilih tas jinjing warna hitam. Agar matching dengan dress-ku, kupakai ikat pinggang warna hitam. Aku siap untuk pergi.


Kutunggu Balok Es di teras rumah paling depan. Hari nampak sudah gelap, malam sudah datang. Bintang-bintang mulai terlihat. Kok Balok Es belum datang sih? Kubuka smartphone-ku, tak ada pesan masuk darinya. Aku coba meneleponnya, tidak bisa dihubungi. Ah, mungkin dia sedang kena macet saat di jalan.


Aku pun menunggu kembali, kulihat jam di tanganku. Malam semakin larut. Kenapa dia tak kunjung menjemputku sih? CTAR! CTAR! Terdengar suara petir. Hujan deras disertai angin kencang terjadi.


"Non, ayo masuk ini sudah jam 9 malam lho," ucap Bibi Ava. "Di sini dingin, Non," Bibi Ava membawakan sebuah sweater untukku.


"Tidak, Bi. Aku mau menunggu sampai Pak Rexford pulang," sahutku. "Dia janji mau mengajakku pergi."


"Ya, sudah, Non. Bibi masuk dulu, ya. Kalo Non Qia butuh apa-apa panggil aja," ucap Bibi Ava. Aku pun menggangguk.


Kulihat kembali layar smartphone-ku, yang sejak tadi tergeletak di atas meja teras ini. Tak ada pesan dari Si Balok Es, justru ada pesan masuk dari sepupuku, Stevia. Pesan itu dikirim sekitar satu jam yang lalu. Pesan chat itu berbunyi : ' Ya, aku udah pulang nih ke rumahku. Loe jangan marah ya, tadi gue ke mall nemenin temen beli make up. Terus gue nongkrong bentar di cafe di mall itu. Gue cuma mau konfirmasi dulu. Ini Billy, suami kamu bukan?'


Stevia mengirimkan beberapa gambar. Aku pun men-download gambar itu. Jantungku seakan berhenti. Nampak di gambar itu Si Balok Es sedang duduk berduaan dengan Bu Vanya. Keduanya duduk bersebelahan sambil menatap layar laptop. Posisi keduanya sangat berdekatan. Stevia memotret foto itu dari arah samping.


"Non!" panggil Bibi Ava. "Non, ada apa Non? Non, mau kemana?" Bibi Ava mendekatiku


"Minggir, Bi!" ucapku kasar. Aku mengepak bajuku ke dalam sebuah tas ransel. Kuganti pakaianku dengan pakaian yang kubawa dari rumah orang tuaku. "Aku mau pergi!" ucapku sambil mengusap air mataku. "Majikanmu keterlaluan! Dia membuatku menunggu berjam-jam tanpa kabar tapi dia sendiri sedang selingkuh dengan wanita lain!"


"Non, mohon tenang, Non," Bibi Ava menyentuh pundakku. "Ini pasti cuma salah paham."


"Tak ada yang salah paham! Jelas-jelas dia selingkuh! Minggir, Bi! Jangan halangi aku!" teriakku kencang.


Aku berlari keluar dari dalam kamar. Kakiku melanglah menuruni tangga dengan cepat.


"Non, tunggu! Non, jangan pergi, Non!" teriak Bibi Ava.


Aku tak menghiraukan panggilan itu. Kupesan taksi online. Balok Es, kau sudah membuatku benar-benar kecewa 😢. Aku berlari menuju pintu gerbang depan rumah ini sambil mengembangkan payung. Cuacanya memang masih hujan deras tapi aku tak peduli.


Kuterobos hujan itu. Untung saja, mertuaku masih menjaga Kakek di rumah sakit. Untungnya lagi Mama dan Papaku juga sedang pergi keluar kota. Jadi, takkan ada yang memarahiku jika aku pergi saat ini. Aku harus pergi dari sini! Aku ingin menenangkan pikiranku terlebih dahulu.

__ADS_1


"Halangi Non Qia pergi!" teriak Bibi Ava. Para petugas keamanan menghalangi langkahku.


"MINGGIR!" teriakku kencang. "MINGGIR!" para pengawal berseragam hitam itu tetap berdiri di hadapanku seperti pagar.


"Maaf, Non. Kami tak bisa membiarkan Non Qia pergi!" Bibi Ava berdiri tepat di depan mataku.


"AAAAA!!!!" teriakku kencang. "AWAS! ADA ULAR! ADA ULAR!" teriakku sambil menunjuk ke arah bawah, dekat kaki Bibi Ava.


"MANA? MANA?" teriak Bibi Ava juga para pengawal itu.


Aku segera berlari lalu memanjat pagar hitam yang tinggi itu. Tepat di depan jalan ada taksi online yang kupesan. Segera kumasuk ke dalam taksi itu.


"Cepat berangkat!" teriakku kencang.


Mobil ini segera melaju. Balok Es, aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Mobil itu sampai di alamat yang dituju. Aku pun segera menggedor-gedor gerbang rumah itu.


"STEV! BUKA DONG! STEV!" teriakku kencang sambil menelepon ke Stevia, sepupuku.


Ya, aku pergi ke rumah Stevia, sepupuku. Rumah ini adalah rumah yang sudah diwariskan pada Stevia dari kedua orang tuanya. Dia tinggal di rumah ini sendirian, katanya sih agar dia mandiri.


"QIA!" terdengar teriakan dari dalam rumah. Pintu gerbang depan rumah itu akhirnya terbuka.


"Stev!" aku tak bisa menahan air mataku lagi. Rasa kecewa di dalam hatiku masih amat terasa sesak.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2