
"Kau yakin mau pulang? Baiklah, jika itu permintaanmu. Kurasa kau sudah rindu pada rumah. Padahal aku ingin membawamu melihat salju. Tapi ya sudah tak apa-apa jika kau ingin pulang," ucap Billy.
"Salju? Tidak-tidak! Ayo, kita lanjutkan honeymoon lagi!" sahut Qia.
****
"Hubby," panggil Qia. "Apa sudah sampai?" tanya Qia sambil berjalan dengan hati-hati. Tangan kirinya mencoba menggapai-gapai ke arah depan. "Kapan aku boleh membuka penutup mata ini?"
"Sabar, sebentar lagi!" sahut Billy. Dia menggandeng tangan kanan Qia dengan erat. Billy berjalan tepat di samping Qia.
"Lama banget! Mataku sudah ditutup sejak dari bandara. Kamu bawa aku kemana, sih? Kamu nge-prank aku, ya? Jangan-jangan aku mau ditinggal sendirian...." protes Qia.
"Sebentar lagi," ucap Billy. Dia menuntun Qia melangkah dengan hati-hati. "Sudah sampai," ucap Billy sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Ih, kok kakiku ngerasa dingin, ya. Apa ini sudah sampai di daerah yang ada saljunya?" tanya Qia. Pertanyaan Qia tak mendapat tanggapan jawaban. "Hubby," panggil Qia. "Lho, kok nggak nyahut sih dipanggil!" ucap Qia sambil membuka kain penutup mata itu. "WOW!!! INDAHNYA!!!" teriak Qia.
Nampak pemandangan hamparan salju yang memutih. Salju itu putih bersih. Dari kejauhan nampak pohon-pohon cemara tinggi menjulang. Pohon-pohon itu nampak tertutup salju.
"Ini ya yang namanya salju sungguhan?" Qia berjongkok. Kedua tangannya yang dilapisi sarung tangan mengambil segumpal salju itu. "Rasanya dingin. Seperti menggenggam es serut saja. Kalo dijilat seperti apa ya rasanya?" Qia menjulurkan lidahnya. Lidah itu mencapai gumpalan salju di tangannya. "Rasanya tawar tapi dingin kayak es serut!"
"YAYA!!!" terdengar suara panggilan yang familiar di telinganya.
"Iya," Qia mengarahkan kepalanya menuju sumber suara itu. PLOK!!! Wajahnya langsung terkena lemparan bola salju. "IHIH! KAU MENYEBALKAN!!!" protes Qia sebal. Kedua tangannya sibuk membersihkan butiran-butiran salju itu.
"HAHAHA!!!!" Billy tertawa terbahak-bahak. "Ayo balas aku!" tantang Billy.
"Ini rasakan! Rasakan!" teriak Qia kesal. Kedua tangannya sibuk melempar gumpalan-gumpalan salju ke arah Billy. Dia masih bertahan dengan posisi jongkok.
__ADS_1
"Tidak kena! Tidak kena! Hahaha!" ejek Billy. PLOK!!! Billy kembali melempar bola salju ke arah Qia. Lagi-lagi bola salju itu dengan mudah mengenai wajah Qia.
"Ih! Nyebelin!!!" teriak Qia kesal. Ia segera bangkit dan berlari ke arah Billy. "Rasakan ini! Rasakan!" teriak Qia sambil terus berusaha melempar bola salju ke arah Billy.
"Nggak kena! Nggak kena! Hahaha!" teriak Billy sambil berlari menghindar. BRUK!!! Terdengar suara benda jatuh. Nampak Qia jatuh tak sadarkan diri di atas salju. "YAYA!!!" teriak Billy. Dia segera berlari menghampiri Qia. "Ya...." panggil Billy. PLOK!!! Segumpal bola saljy yang besar mengenai wajah Billy.
"KENA!!! HAHAHA!!!" teriak Qia kencang. "Hihihi, seri 1 - 1," ucapnya gembira.
"Dasar menyebalkan!" teriak Billy.
"Hahaha! Ayo kejar aku! Kejar! Hahaha!" teriak Qia sambil bangkit. Dia segera berlari sekuat tenaga menjauhi Billy. Setelah cukup lama berlari akhirnya Qia berhenti.
"Kena kau!" teriak Billy. Kedua tangannya memegang pinggang Qia.
"Hubby, aku capek! Rasanya dingin!" ucap Qia.
Nampak sebuah tempat istirahat. Tempat itu berupa sebuah api unggu yang dilindungi pembatas berbentuk kotak. Di sekeliling api unggun itu terdapat semacam bangku untuk duduk.
"Nah, ayo duduk di sini sebentar!" Billy duduk di bangku itu. Kedua tangan dan kedua kakinya diarahkan ke arah api unggun itu. Qia pun melakukan hal yang sama. "Ck! Padahal bangkunya luas!" keluh Billy saat Qia memaksa duduk sangat dekat dengannya.
"Aku kan butuh kehangatan!" ucap Qia sambil memeluk pinggang Billy dengan erat.
"Dasar manja!" sahut Billy sambil membalas pelukan itu. Qia menyandar dengan manja di bahu Billy.
"Hubby, makasih ya udah ngajak aku ke sini. Akhirnya impianku terwujud. Aku senang banget bisa liat salju," Qia mencium pipi Billy. Tangan Billy memegang dagu Qia. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir mungil Qia.
"Begitu cara berterimakasih yang benar, Yaya," bisik Billy.
__ADS_1
"Aku akan mengingatnya," sahut Qia. "Hubby, ini dimana? Apa kita masih di Eropa?" tanya Qia. "Sepanjang perjalanan setelah turun dari pesawat kan mataku ditutup. Aku jadi tak tahu dimana ini."
"Bukan Eropa, ini di Asia. Kita sedang ada di Jepang, Yaya," balas Billy.
"Jepang? Wah, asyik. Eh, tapi dimana ini? Di daerah mana?" tanya Qia.
"Daerah Hokkaido," sahut Billy. "Sudah, ayo kita masuk ke penginapan," ajak Billy sambil menggenggam tangan Qia.
Aku tak sabar untuk berpetualang di sini, hihihi, gumam Qia.
________________________________________
Selamat hari raya Idul Fitri 😊
Mohon maaf lahir dan batin 😊
________________________________________
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍