
Nampak Qia sedang duduk di atas ranjang. Kepalanya dibalut perban. Tangan kanannya nampak dibalut gips.
"Yaya!" teriak Billy. Dia langsung berlari ke arah Qia. Billy langsung memeluk Qia dengan erat.
Aku senang kamu selamat, Yaya, gumam Billy.
"Astaga! Hubby, kamu basah kuyup!" ujar Qia. Dia merapikan rambut Billy yang nampak berantakan.
Astaga! Aku lupa jika aku sedang basah kuyup, gumam Billy sambil melepaskan pelukannya.
"Syukurlah kau selamat!" ucap Billy. Dia menggenggam tangan kiri Qia dengan erat.
"Aku baik-baik saja, Hubby. Jangan khawatir." Qia menatap ke arah Billy. Tangan kiri Qia menyentuh wajah Billy yang masih basah kuyup akibat air hujan. "Kamu basah kuyup! Maaf, sudah membuatmu khawatir. Eh, mata kenapa? Kok merah? Kamu habis menangis?" tanya Qia.
Matanya sembap. Apakah dia menangis? Dia menangis karena aku? Dia sungguh bisa menangis? gumam Qia. Tangan Qia melepas kacamata Billy. Matanya menatap tajam ke arah wajah Billy.
"Matamu benar-benar sembap!" Qia menyentuh kelopak mata Billy. "Kenapa kamu menangis?"
"Memangnya salah jika aku menangis? Aku suamimu! Tentu, aku khawatir padamu! Apalagi tadi perawat membuatku pergi ke kamar jenazah. Aku pikir kau benar-benar sudah tiada." Billy mengeluarkan isi hatinya.
"Maaf sudah membuatmu khawatir, Hubby. Aku baik-baik saja. Jangan bersedih lagi, ya!" Qia menyentuh pipi kiri Billy dengan tangan kirinya. Billy memegang tangan mungil itu.
"Aku benar-benar khawatir padamu, Yaya!" ujar Billy.
"Bang Billy!" terdengar suara panggilan seseorang. Billy menoleh ke arah suara itu. "Bang, bajumu basah kuyup. Nih, ganti dulu pake bajuku. Aku tadi bawa dari rumah, buat jaga-jaga kalo harus nemenin Qia di rumah sakit." Chandra nampak menyerahkan kaos lengan pendek warna merah serta celana jeans. "Semoga aja ukurannya muat, hehehe," celetuk Chandra.
"Terima kasih, Chan," sahut Billy. Dia menerima seperangkat pakaian itu.
"Sana, ganti dulu pakaianmu, Hubby. Aku nggak bakal hilang kemana-mana kok," ujar Qia.
__ADS_1
"Ehm, baiklah." Billy segera masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan perawatan itu. Tak berselang lama, Billy sudah berganti dengan pakaian kering. Billy langsung memeluk Qia dengan erat.
"Hubby!" celetuk Qia saat Billy memeluknya dari sebelah kiri.
"Sst! Diam! Biarkan aku memelukmu sebentar. Kau membuatku benar-benar ketakutan, Yaya!" ujar Billy. Kepala Billy menyandar di bahu kiri Qia. Semua mata di ruangan itu tertuju ke arah Billy dan Qia.
Hubby, kau benar-benar khawatir padaku, ya. Kau bahkan tak malu-malu menunjukkan perhatianmu padaku. Aku juga takut jika tadi tak bisa bertemu denganmu lagi, Hubby, gumam Qia.
Aku takut, Yaya. Takut, benar-benar ketakutan. Aku takut jika tak bisa lagi menyentuhmu, mendengar suaramu, melihatmu dan yang paling kutakutkan jika tak bisa lagi bertemu denganmu selamanya. Kau dan aku baru saja bisa membangun hubungan yang cukup dekat. Aku tak mau jika hal itu hilang dalam sekejap. Aku tak keberatan jika kau bersikap konyol dan kekanak-kanakan. Asal satu yang kuminta, jangan pergi tinggalkan aku, gumam Billy.
"Hubby, aku baik-baik saja," bisik Qia. Dia membelai rambut Billy yang masih basah kuyup. Qia juga memberi kecupan lembut di dahi Billy.
Adek, kurasa kau sudah mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintaimu. Kurasa aku bisa tenang sekarang. Bang Billy, aku yakin sekarang jika kau benar-benar menyayangi adikku, gumam Chandra.
"Bagaimana bisa kau jadi seperti ini?" tanya Billy. Dia melepas pelukannya tetapi tangannya memegang erat tangan kiri Qia.
"Kejadiannya begitu cepat. Aku tak begitu ingat. Tiba-tiba saja saat melewati jalan tol untuk pulang ke rumah, mobil di depan berhenti mendadak. Lalu, dari arah belakang mobil yang kutumpangi ditabrak dari belakang. Ehm, mungkin ini tabrakan beruntun. Setelah terjadi tabrakan dari arah belakang, tiba-tiba semuanya jadi gelap. Aku tak begitu ingat, tahu-tahu ketika bangun, aku sudah ada di rumah sakit. Oh ya, bagaimana keadaan Pak Sopir? Apa dia ...."
"Apa dijahit?!" teriak Billy. "Berapa jahitan? Yaya, apa rasanya sakit? Apa kau merasa pusing?" tanya Billy dengan panik.
"Jangan khawatir, Hubby. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir," hibur Qia.
"Jangan bohong! Rasanya pasti sakit! Jika sakit bilang saja!" desak Billy.
"Mohon maaf!" tiba-tiba seorang perawat masuk ke ruang perawatan Qia. "Maaf mengganggu. Hari sudah larut, Nyonya, Tuan. Mohon maaf, berdasarkan peraturan kami, seorang pasien hanya boleh ditemani maksimal dua orang saja."
"Oh ya, baik. Kami akan segera pulang," sahut Nyonya Lia. Perawat itu segera keluar dari ruang oerawatan itu. "Jadi, siapa yang akan menemani Qia?" tanya Nyonya Lia.
"Biarkan aku dan Bang Billy saja, Ma. Mama dan Tante Belvana pulang dan istirahat saja. Benar kan, Bang?" tanya Chandra. Dia menatap ke arah Billy.
__ADS_1
"Ehm, iya," sahut Billy.
"Ya sudah, Mama dan Jeng Belvana pulang dulu. Kalau ada apa-apa segera telepon ya, Chan," ujar Nyonya Lia.
"Dek, kamu sebaiknya istirahat sekarang. Kamu perlu memulihkan tubuhmu. Sudah, sekarang tidurlah," perintah Chandra.
"Iya, Yaya. Tidurlah. Kau perlu memulihkan tubuhmu." Billy menyelimuti tubuh Qia. Qia pun menurut. Dia segera membaringkan badannya kembali.
"Hubby," panggil Qia. Dia menatap ke arah Billy.
"Ada apa? Apa ada yang terasa sakit? Perlu kupanggilkan dokter?" tanya Billy.
"Bukan itu, ehm ... aku nggak bisa bobok. Masih terbayang kecelakaan tadi. Aku pengen bobok sambil dielus-elus. Nyanyiin aku lagu Nina Bobo atau semacamnya!" pinta Qia dengan manja.
"Baiklah, asalkan pejamkan matamu terlebih dahulu," Billy mulai membelai pipi Qia dengan lembut. Dia mulai menyanyikan lagu Nina Bobo seperti yang diminta Qia.
Aku tak keberatan kau meminta hal seperti ini, Yaya. Asalkan kau tetap ada di sisiku, gumam Billy.
________________________________________
Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍
Mohon maaf selama kurang lebih dua bulan ke depan novel ini hanya akan update setiap hari Minggu 😊
Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁
Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊
Mohon doanya juga semoga bulan ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak bayak revisi 😊
__ADS_1
Thank you 😍