
Aku berjalan dengan rasa takut yang menggelayut. Biasanya kampus adalah tempat yang fun dan bersahabat bagiku. Tapi, sekarang aku merasa rasanya ingin kabur saya dari sini! 😣 Tapi, mau bagaimana lagi aku harus tetap kuliah 😳. Langkahku sudah menuntunku sampai ke kelas yang ada di jadwal kuliahku.
GAWAT! 😣 Dari kejauhan nampak Naren sedang menyandar di tembok. Jangan sampai dia melihatku! Jangan sampai dia melihatku! Tolong, tolong! 😣. Aku segera masuk ke kelas tanpa menghiraukannya.
"Qia!" terdengar suara memanggilku.
Aku sudah sampai di dalam kelas. Aku harus duduk dimana ya? Jauhi, Naren! Jauhi, Naren! Kulihat seluruh tempat duduk.
"Wati!" ucapku dengan penuh semangat. "Aku duduk sini, ya!" untung saja masih ada bangku yang kosong di depan dekat Wati. Kursi di sampingku sudah terisi oleh temanku yang lain.
"Kamu nggak mau duduk dekat Naren?" tanya Wati.
"Ehm...." aku hanya diam saja.
"Kalian baru bertengkar, ya? Ada masalah apa?" tanya Wati lagi. Tolong, Wat! Jangan tanya itu lagi.
"QIA!" terdengar teriakan seseorang. Dia berdiri tepat di hadapanku. "Kita harus bicara!" ucapnya sambil berkacak pinggang.
Astaga! Apa yang harus kulakukan sekarang? 😣
"Selamat pagi semua!" terdengar suara seseorang masuk ke pintu. Ini pertama kalinya aku senang melihat Bu Vanya. Dia masuk tepat saat aku sedang butuh waktu untuk memghindari Naren.
"Pagi, Bu!" sahut Naren sambil berlalu pergi mencari tempat duduk.
Aku tak peduli Naren duduk dimana. Yang jelas, aku bisa menghindarinya paling tidak untuk saat ini. Aku tetap tak bisa menfokuskan pikiranku pada mata kuliah ini. Waktu rasanya berjalan amat lambat. Pikiranku cuma satu, bagaimana cara menghindari Naren nanti.
"Kuliah hari ini sampai di sini saja!" ucap Bu Vanya.
Akhirnya, kuliah ini selesai juga. Aduh, gimana ya caranya menghindari Naren.
"Wat, kamu lapar nggak?" tanyaku pada Wati.
"Aku...." Wati terlihat ragu menjawab.
Aku langsung menarik tangannya lalu keluar dari kelas sebelum teman-teman yang lain keluar terlebih dahulu.
"Ayo, temani aku makan. Aku traktir, deh!" ucapku sambil terus memggandeng tangan Wati.
"Ya udah, deh! Ayok!" Wati nampak bersemangat.
Aku melangkah di lorong kampus sambil terus menggandeng tangan Wati. Sedikit lagi sampai di pimtu keluar gedung kuliah ini.
"Kita perlu bicara!" tiba-tiba seseorang muncul dari pintu keluar itu. Astaga, kapan Naren sampai ke sini?
"Wat...." aku hendak menoleh ke arah Wati.
"Ehm....aku ke kamar mandi dulu, Ya!" sahut Wati sambil melepaskan gandenganku.
"Wat, tunggu! Aku ikut!" kakiku berbalik untuk mengejar Wati.
"Aku mau bicara sama kamu!" terdengar teriakan. Langkahku tertahan, tanganku dicengkeram.
"Lepasin! Kamu mau ngapain? Kita udah putus!" teriakku.
Untung saja, lorong ini sepi jadi tak memancing perhatian.
__ADS_1
"Aku bisa jelasin, Ya!" teriak Naren.
"Lepaskan aku, Ren!" teriakku sambil berusaha menghempas tangan Naren. Sial, tanganku tetap saja dicengkeram dengan kuat. "Aduh!" Naren mendorongku dengan kasar ke arah tembok. Dia menahan bahuku dengan kedua tangannya. "LEPASKAN AKU!" aku berusaha mendorong tubuh Naren.
"DENGAR DULU PENJELASANKU!" teriaknya.
Suara itu mengejutkanku, aku merasa takut. Amat takut. Selama ini dia tak pernah marah padaku hingga berteriak seperti ini. Suara itu seakan menyentak, merobek luka di hatiku yang sudah dijahit oleh Si Balok Es. Sekarang luka itu kembali menganga. Aku menangis saat teringat luka itu lagi.
"Kamu mau jelasin apa?" ucapku sambil menangis. Aku menatap Naren.
"Ya...." Naren menatapku. Dia terlihat menyesal. "Aku nggak bermaksud bentak kamu...." kedua tangan Naren berhenti mencengkeram bahuku. Dia hendak menyentuh wajahku.
"Jangan sentuh aku, Ren!" kuhempas tangannya. Tubuhku merosot ke bawah, aku berjongkok sambil menyandar ke dinding. "Tolong, jangan ganggu aku lagi!"
"Ya!" Naren mencoba memegang tanganku. Kuhempas tangan Naren.
"Jangan sentuh aku!" teriakku sambil tertunduk.
"Aku bisa jelasin...."
"Jelasin apa?!" aku berteriak kepada Naren. "Jelasin kalo kamu udah menikah, HAH?!" aku menatap Naren.
"Bukan, Ya! Bukan!" Naren berjongkok di depanku.
"Terus apa? Nggak mungkin orang bisa foto kayak gitu sembarangan,Ren!" teriakku. "Kamu pasti udah nikah, kan?" aku menunjuk ke arahnya sambil menangis. "Cepat! Jawab!" aku ingin tahu dari mulutnya langsung.
"Belum, Ya. Belum!" Naren memegang bahuku. "Aku cuma setia sama kamu aja! Aku belum menikah! Aku minta maaf kalo ini bikin kamu salah paham. Ya, apa kamu nggak percaya sama aku? Kita udah pacaran lama, Ya. Aku tetap ngejar kamu, meski kamu nggak balas chat aku. Meski kamu jalan sama cowok lain. Aku nggak marah, aku sabar jelasin kesalahpahaman ini. Coba kamu pikir, kalo cowok lain pasti udah marah. Tapi, aku sabar buat ngejar kamu. Aku tetap berusaha jelasin ke kamu. Itu karena aku sayang sama kamu. Tolong jelasin penjelasan aku. Itu cuma kesalahpahaman aja!"
"Salah paham gimana?" aku menatap Naren. "Aku nggak bodoh, Ren! Itu jelas-jelas foto pernikahan kamu kan?"
"Bukan, Ya! Bukan! Itu cuma foto waktu aku jadi model. Kamu tahu kan sekarang ada model buat iklan jasa Make Up Artist (MUA)!" aku memikirkan ucapan Naren.
"Nah, aku jadi salah satu modelnya....." sambung Naren.
"BOHONG!" teriakku. "Kamu bohong! Apa buktinya?" dia pasti tak punya bukti.
"Ini buktinya!" Naren menunjukkan sebuah akun sosial media.
Nampak foto waktu itu dipajang di akun itu. Akun itu merupakan akun jasa MUA. Jadi, waktu itu hanya salah paham saja? Tunggu, masih ada yang janggal.
"Terus, kenapa nama kontak di HP kamu di chat itu tulisannya Sayang? Nggak mungkin, kalo temen kamu kasih nama kontaknya kayak gitu!"
"Temenku yang model itu emang jahil. Dia suka ganti-ganti nama kontak sembarangan. Waktu itu HP aku emang lagi dipegang buat ngedit foto. Kumohon, percaya sama aku! Please, kasih aku kesempatan!" ucap Naren sambil duduk bersimpuh sambil menatapku. Kedua tangannya memegang tanganku.
Semua sudah jelas bahwa ini kesalahpahaman semata. Ternyata foto itu hanya foto saat Naren jadi model MUA. Mengapa hatiku mengiyakan penjelasan Naren, ya? Bapak, maafkan Qia. Qia harus mengingkari janji waktu itu.
"Ya sudah, aku percaya padamu," sahutku lirih.
"Terima kasih, Beb. Makasih!" Naren terlihat senang.
"Ayo, sekarang kutraktir! Anggap saja permintaan maaf dariku!" ucap Naren sambul berdiri dan menggandeng tanganku. Aku pun menggandeng tangan Naren. Ck! Seharusnya waktu itu aku nggak lari. Betapa pendeknya pikiranku. "Kamu mau makan dimana?"
"Makan di restoran sana aja yuk!" sahutku sambil menunjuk restoran ayam geprek di seberang jalan dekat kampus.
"Boleh, ayok!" jawab Naren sambil menggandengku menuju ke sana. Dia menggenggam erat tanganku.
__ADS_1
Tunggu, mengapa hatiku mengatakan jika ini salah? Mengapa hatiku merasa bersalah? Mengapa jantungku terasa berdetak kencang. Apa yang terjadi padaku? Sudahlah, mungkin hanya faktor kelelahan saja. Setelah menyeberang, kami sampai di restoran itu. Aku dan Naren duduk di lantai satu restoran. Kami duduk di kursi yang dapat melihat ke arah luar.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya Mbak Pelayan.
"Aku mau ayam geprek sama es buah!" sahutku sambil menatap Naren. "Tapi ayamnya dobel empat!" ucapku. Hihihi, ini hukuman buat Naren.
"Saya juga, Mbak. Sama aja!" ucap Naren.
Tak berapa lama kemudian pesanan kami datang. Astaga, empat ayam geprek jadi satu itu ternyata banyak. Kalau begitu tanpa nasi pun sudah kenyang.
"Oh ya, Beb," tanya Naren.
"Ada apa?" kutatap dia.
"Yang waktu itu foto sama kamu di sosial media itu siapa?" tanya Naren.
Astaga, bagaimana aku harus menjelaskannya.
"Ehm....dia...." jawabku ragu. BYUR!!! Belum sempat aku menjawab tiba-tiba saja wajahku terkena siraman es buah.
"DASAR PELAKOR!" terdengar teriakan memaki.
Astaga, siapa wanita ini? Di hadapanku sudah ada wanita yang ada di foto itu.
"APA YANG KAMU LAKUKAN DI SINI?" terdengar suara Naren. Dia berdiri sambil memegang tangan wanita itu.
"Naren...." aku terkejut dan rasanya ingin menangis. "Dia siapa?" tanyaku.
"AKU TUNANGANNYA, NAREN!" teriak wanita itu lagi.
"Tu...na...ngan...." ucapku terbata-bata.
Aku tak percaya ini. Naren benar sudah membohongiku. Naren, teganya dirimu.
"DASAR PEMBOHONG!" teriakku ke arah Naren. "DASAR PENIPU!" teriakku lagi, aku bangkit untuk berdiri. "DASAR....." aku hendak memaki Naren lagi. BYUR! Mukaku terkena siraman es buah lagi.
"TUTUP MULUTMU! DASAR PELAKOR!" teriak wanita itu lagi.
Aku bukan pelakor. Aku bukan pelakor. Air mataku tak bisa kutahan lagi. Naren, teganya diri membohongiku.
"NAREN! AKU BENCI KAMU!" teriakku sambil berlalu pergi.
"QIA! TUNGGU!" terdengar teriakan Naren. Aku tak menghiraukannya.
Ini hal paling menyakitkan dan memalukan dalam hidupku. Aku bukan pelakor. Aku bukan pelakor. Aku berlari menuju parkiran kampus. Pandangan orang-orang tak kuhiraukan. Aku masuk ke dalam mobilku.
"Ba...pak...tolong Qia...." ucapku lalu mengirim Voice Note itu.
Mungkin ini hukuman dan peringatan untukku agar benar-benar menjauhi masa laluku lagi. Mungkin ini adalah teguran keras untukku untuk tak bermain api lagi di belakang Balok Es. Hatiku sakit, benar-benar sakit. Aku hanya mampu menumpahkannya lewat tangisan. Naren teganya dirimu. Teganya kau membohongiku. Naren, kamu penipu 😭.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍