
"Qi...ya!" terdengar suara terkejut.
Astaga, mengapa dia bisa ada di sini?! Bagaimana aku harus menjelaskan pemandangan ini? 😣 Tubuh itu masih mematung di dekat pintu. Waktu sekan berhenti berputar. Mataku tentu saja memandang ke wajahnya yang kaku terkejut. Rasanya aku tak bisa bergerak, terus terjebak dalam pemandangan aneh ini. Begitu pun sosok yang ada di pintu. Dia tak bergerak satu inchi pun sedari tadi.
"Jeng!" terdengar suara lain mendekat. "Ada apa...."
Astaga, mengapa aku harus terjebak di pemandangan aneh ini saat ini. Belum juga sosok yang satu pergi, datang lagi sosok yang lain. Tepat di depan pintu, terjebak di sana. Apa ini pemandangan yang sangat aneh, ya? Tak bisakah kalian pergi saja?
"Ma...ma...." panggilku lirih memecah keheningan aneh ini.
Pintu itu langsung tertutup begitu saja. Tanpa pesan tanpa basa-basi. Tunggu, mengapa Mama ada di sini? Aku tak menghubunginya sama sekali! Apa Balok.Es yang memintanya kemari. Tunggu, aku masih terjebak di pemandangan aneh itu.
"BAPAK MENYEBALKAN!!!!" teriakku kencang sambil berguling ke samping kiri. "BAPAK....EMM...." aku ingin memaki Balok Es lagi tapi dia sudah membekap mulutku dengan tangan kirinya.
"Diam, Tikus Kecil!" ia menatapku tajam dengan mata elangnya. "Apa yang kau lakukan? Kau mengadu pada ibumu?" tanyanya heran.
Mengadu? Untuk apa aku mengadu? Orangtuaku yang mengirimku terjebak dalam hubungan ini. Mengapa aku harus repot-repot membuang tenagaku untuk mengadu ke mereka? Aku menggeleng.
"Lalu kenapa ibumu ada di sini?" tanya Balok Es lirih.
"Saya tak tahu, Pak," sahutku lirih. "Saya kira Bapak yang manggil Mama saya kemari," aku bangkit untuk duduk.
Balok Es juga melakukan hal yang sama. Saat kesadaranku kembali pulih. Mataku langsung kututup kembali. Aku kembali ingat jika Balok Es masih belum memakai kaos.
"Bapak cepat pakai baju!" teriakku sambil menutup mataku rapat-rapat dengan kedua tanganku.
"Kalau begitu cepat bantu saya!" ia menarik tangan kananku.
Terpaksa kubuka mataku. Ehm, biasanya aku selalu suka melihat roti sobek di komik, film atau drama korea. Ehm, mengapa sekarang aku merasa deg-degan, ya? Padahal kan ini pemandangan bagus untuk mataku. PLAK! Kutampar pipi kananku. Apa yang kupikirkan! Pemandangan bagus? Kurasa aku sudah tak waras lagi.
"Kau ini kenapa, Tikus Kecil?" Balok Es tersenyum licik. "Apa kau tak rela jika aku memakai kaos? Kau ingin melihatku seperti ini terus, Sayang?" bisiknya di telingaku.
Sialan! Balok Es, tak bisakah kau tak menggodaku sekarang. Aku hanya tertunduk sambil terdiam.
"Aku tahu pesonaku tak bisa membuatmu berpaling kan, Tikus Kecil," goda Balok Es lagi.
Balok Es Sialan! Tak bisalah mulutmu diam! Sebaiknya segera kupakaikan kaos ini padanya. Ehm, tapi bagaimana cara memakaikannya? Kaos merah itu sudah ada kupegang dengan kedua tanganku. Aku terdiam sambil memegangi kaos itu. Sudah pakaikan secara asal saja! Anggap saja ini pembalasan pada Balok Es...hihihi! Pikiran evil terseting di otakku.
"Diam, Pak!" perintahku.
Kubuka lubang bawah kaos itu lalu langsung kumasukkan ke arah kepala Si Balok Es. Otomatis kepalanya tertutup sepenuhnya. Dengan asal kutarik tangan kiri Si Balok Es untuk kumasukkan ke dalam lubang lengan sebelah kiri. Uh! Mengapa susah sekali! Dasar Balok Es! Mengapa tanganmu harus panjang sih! Bikin susah tahu! Tangan kiri itu kutarik-tarik berulang kali. Tetap saja tangan itu tak mau masuk ke lubang lengan kaos sebelah kiri itu. Hanya macet tertekuk membentuk sudut 45 derajat.
"Hey, pelan-pelan! Ini tangan manusia bukan boneka!" protes Si Balok Es.
"Diam, Pak! Ini hampir bisa!" kupaksa menarik tangan kiri itu masuk ke lubang lengan kiri. Seluruh tenagaku kukerahkan untuk proses ini. REK!!! Terdengar suara benda robek. Astaga! Kaosnya justru robek! Jahitan pada sisi sebelah kiri terputus. Kenapa jadi seperti ini?! 😣
__ADS_1
"Apa tadi yang robek?!" tanya Balok Es. Dia tak melihatnya karena mukanya masih tertutup kaos. Duh! Gimana nih! Aku harus jawab apa?
"Ehm...Pak...ehm...kaosnya robek...." sahutku lirih.
"ASTAGA!" teriak Balok Es seakan bisa meruntuhkan dinding rumah. "KOK BISA?!" teriaknya lagi. Aku hanya tertunduk terdiam. Aku malu bercampur takut. Mengapa kelihatannya aku sangat bodoh,ya. Ehm, memakaikan kaos saja tak bisa.
"Ampun, Pak! Ampun!" aku memohon pengampunan.
"Ya, sudah," Balok Es menghela napas. "Lepaskan kaos ini dulu!" perintahnya.
Aku pun melepaskannya. Mata elang Balok Es menatapku. Aku takut. Apa dia akan memarahiku.
"Sudahlah, ambil kaos lagi di lemari. Ambil yang modelnya kancing depan full," aku pun melakukan perintahnya.
Kuambil satu kaos lengan pendek warna hijau tozka dengan kancing warna putih. Tunggu! Jika dia memiliki kaos dengan kancing depan seluruhnya mengapa harus menyuruhku memakaikan kaos yang menyusahkan itu? Balok Es, kau menjahiliku ya.
"Ayo, cepat pakaikan ke tubuh saya!" perintahnya.
Aku lelah bertindak bodoh jadi segera kupakaikan kaos itu. Kubuka kancingnya lalu kuarahkan tangan kiri dan tangan kanan Si Balok Es ke dalam lubang lengan kaos itu. Nah, sudah selesai! Ehm, Balok Es terlihat muda, ya. Kupandangi dirinya sejenak. Dia nampak muda dan tak terlihat seperti om-om. Manis juga, hehehe. Ada apa dengan diriku ini! Apa aku sudah tak waras?! PLAK! Kutampar pipi kananku lagi.
"Kau kenapa? Kau terpesona lagi padaku?"
"Ehm," sahutku. Gawat! Mengapa mulutku kaku.
"Saya mau ambil penyangga lengan, Pak!" kualihkan pembicaraan. Segera kuambil kain penyangga lengan kuikatkan ke leher Si Balok Es lalu kumasukkan tangan kanan itu ke penyangga itu. "Sudah, Pak!" jawabku.
"Rambutku masih basah! Cepat keringkan dan sisir!" perintah Balok Es.
"Iya, Pak," sahutku lirih.
Aku merasa seperti melayani majikan saja. Kuambil hairdryer hitam dam sisir. Angin mulai bertuip dari hairdryer itu mengenai rambut Si Balok Es. Jantung! Tak bisakah kau berdetak secara normal saja. Ini hanya mengeringkan dan menyisir rambut! Apa kau tak bisa berdetak biasa saja! Ehm, aku masih polos sekali ya berarti. Padahal aku sudah cukup lama memiliki pacar tapi mengapa saat berdekatan dengan pria seintens ini malah jadi salah tingkah. Ehm, mengapa aku merasa takut untuk menyisir rambut Si Balok Es?
"Sudah, sekarang sisir rambut saya!" perintah Si Balok Es.
"Pak, takut!" keluhku tak sadar. Astaga, mengapa aku berkata seperti itu!
"Saya takkan menggigitmu. Sudah, sisir saja. Anggap saja menyisir boneka," perintah Si Balok Es.
Aku pun mulai menyisir rambut Si Balok Es. Rambutnya ternyata lembut dan wangi. Aromanya enak juga, hehehe. Aku suka wanginya.
"Apa yang kau lakukan?" terdengar suara Balok Es. Astaga!Mengapa aku memeluk leher Si Balok Es! 😣 Segera kulepas pelukan itu.
"Saya mandi dulu, Pak!" sahutku.
Aku segera berlari ke kamarku. Segera kubenamkan diriku ke dalam bathtub. Apa aku benar-bebar terpesona pada Balok Es? Tapi, dia memang tampan, sih. Apa otakku sudah tak waras?!
__ADS_1
Saat aku keluar dari kamar mandi, nampak Balok Es sudah di kamarku. Untung saja aku sudah berpakaian lengkap saat di kamar mandi.
"Ada apa, Pak?" ucapku to the point.
"Ibumu dan bundaku ada di bawah, di ruang tamu sejak tadi. Kurasa ibumu kemari karena khawatir pada keadaanmu. Mungkin saja pembantu di rumah Bunda yang melaporkan insiden kecil ini. Jadi, Bunda khawatir dan memanggil ibumu kemari," Balok Es memandangiku.
Duh, jika Mama di sini aku tak bisa bebas melakukan apa pun.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita-kita harus berpura-pura akting!" ucap Balok Es.
Ehm, mengapa aku menemukan kelicikan di mata elangnya ya.
"Akting seperti apa?" aku harus hati-hati. Balok Es ini serigala berbulu domba. Aku tak boleh terpancing.
"Kau akan tahu nanti," Balok Es berlalu pergi begitu saja. Aku pun mengikutinya dari belakang. Di ruang tamu nampak Mama dan Nyonya Belvana.
"Bunda, Mama," sapa Balok Es sambil menyalami dengan tangan kirinya. Aku pun mengikuti melakukan hal itu. Saat aku dan Si Balok Es duduk di sofa, kedua wanita ini berbisik-bisik. Entah apa yang keduanya bicarakan. Mama, kau tak berpikir yang aneh-aneh kan?
"Billy," panggil Nyonya Belvana.
"Iya, Bunda," sahut Si Balok Es. Astaga, kau ini kenapa? Balok Es melingkarkan tangan kirinya ke pinggangku. "Bunda tak perlu khawatir, Billy baik-baik saja. Ini hanya kecelakaan kecil saja. Iya kan, Yaya?" Balok Es menatapku.
MUACH! Astaga, apa yang kau lakukan? Mengapa kau mencium dahiku di depan Mama dan Nyonya Belvana. Apa ini akting yang dia maksud? Sekarang kepalanya menyandar manja di bahuku.
"Bunda dapat laporan dari pegawai di rumah. Katanya kamu dan Qia kecelakaan. Bunda khawatir, makanya Bunda panggil Jeng Lia ke sini. Buat jenguk Qia,"
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Mama. "Tanganmu sampai cedera Billy. Katanya kau seperti itu karena melindungi Qia, ya?" tanya Mama lagi. Harus kutunjukkan jika aku baik-baik saja agar Mama dan Nyonya Belvana segera pergi.
"Iya, Mama. T-Rex Tersayangku jadi terluka karena melindungiku," ucapku dengan nada manja. "Terima kasih ya, Sayang!" ucapku keras. Mungkin ini ide yang gila. MUACH! Kucium pipi kanan Si Balok Es.
"Sama-sama, Yaya Tercinta!" sahut Balok Es. Aku bisa melihat tatapan licik di matanya. Balok Es kau menyebalkan. Jadi, ini akting yang kau maksud?
"Aku lega, Jeng," ucap Mama. "Syukurlah Qia baik-baik saja. Apa sebaiknya aku pulang saja sekarang? Aku takut mengganggu."
"Jangan, Jeng. Ini masih pagi. Menginaplah di sini!" Nyonya Belvana menahan Mama. "Billy, bolehkan Jeng Lia menginap di sini?" tanya Nyonya Belvana. Balok Es hanya mengganguk. Nampak senyum licik di bibirnya. Sampai kapan aku harus berakting seperti ini? Balok Es, kau benar-benar menyebalkan! 😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍