Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 39 - Rasanya Sakit


__ADS_3

Aku, Vita dan Rino pun turun dari mobil. Saat kulihat kantor ini. DEG! Jantungku seakan berhenti. Nampak tulisan raksasa 'Alpha Ava Jaya Tech Company'.


Astaga, apa pembicara yang dimaksud adalah Si Balok Es? Mengapa dunia sesempit butiran pasir sih? 😣 Mengapa aku tak bisa lepas dari bayang-bayang Balok Es sebentar saja? 😢 Bagaimana jika aku nanti bertemu Balok Es saat ini? 😣


Jantungku berdetak kencang. Rasanya aku ingin lari saja dari sini. Apa para karyawan akan mengenaliku? Aku kan pernah kemari satu kali.


"Ayo kita masuk!" ucap Vita. Dia menggandeng tanganku.


"Selamat datang di Alpha Ava Jaya Tech Company. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Resepsionis itu ramah.


Kumohon, semoga mbak ini tidak mengenaliku. Aku sedikit bersembunyi di belakang badan Rino yang besar.


"Begini, Kak. Kami dari Panitia Seminar Nasional Hima Akuntansi Universitas XXX. Kami berencana ingin mengundang Tuan Rexford sebagai pembicara. Ehm, kira-kira prosedurnya bagaimana ya, Kak?" tanya Rino.


"Oh, begitu Kak. Silahkan tunggu terlebih dahulu. Karena ini tidak berkaitan dengan kepentingan perusahaan maka akan saya hubungkan kepada sekretaris pribadi Tuan Rexford. Mohon ditunggu ya," ucap Resepsionis itu.


Sekretaris pribadi? Berarti itu Sekretaris June. Astaga, apa yang akan terjadi?


"Ya udah, kita tunggu sambil duduk di sofa itu aja!" Vita mengajak duduk di sofa merah di lobi ini.


"Gimana? Kok nggak masuk?" terdengar suara Naren.


"Kita disuruh nunggu sama Mbak Resepsionis," sahut Vita.


"Oh gitu," Naren duduk disampingku. "Kamu kenapa, Ya? Kamu sakit?" tanya Naren. Dia menatap sambil memegang tanganku. "Astaga, tanganmu dingin banget, Beb! Nggak usah grogi. Kita kerjanya bareng-bareng kok. Aku tahu ini pertama kalinya kamu jadi humas. Udah, nggak usah grogi dan panik. Santuy aja!" Naren tersenyum.


Bukan itu yang kukhawatirkan, Ren. Jika aku tahu pembicaranya Si Balok Es maka lebih baik aku tak ikut jadi panitia.


"Kita nunggu siapa sih? Humas perusahaan ini?"


"Bukan, kita nunggu sekretaris pribadi Tuan Rexford," sahut Rino.


"Kira-kira besok Nyonya Kalya diajak nggak ya sama Tuan Rexford? Semisal permohonan kita disetujui gitu," celetuk Vita. DEG! Nyonya Kalya itu kan aku.


"Lho, kenapa malah jadi bahas Nyonya Kalya sih? Kita itu kan mau ngundang Tuan Rexford!" sahut Rino.


"Nyonya Kalya itu istri Tuan Rexford yang menginspirasi bagi gue. Dia itu keren soalnya bisa nahan Tuan Rexford biar setia sama dia. Dia kan istri sah, gue yakin pasti Tuan Rexford berhenti jadi playboy karena takut sama Nyonya Kalya, wkwkwk," Vita tertawa. Astaga, bukan aku yang menakut-nakutinya yang ada aku yang ditindas oleh Si Balok Es.

__ADS_1


"Hush!" celetuk Naren. "Jangan ngomongin orang sembarangan! Nanti kalau ada yang salah paham bahaya tahu!"


"Iya deh, iya. Sorry," sahut Vita. Resepsionis wanita itu menghampiri kami.


"Maaf, Kak. Sekretaris pribadi Tuan Rexford juga sedang sibuk. Beliau juga belum bisa ditemui sekarang. Beliau tadi berpesan agar surat permohonannya diterima terlebih dahulu saja. Suratnya bisa diberikan kepada saya terlebih dahulu agar nanti bisa saya sampaikan pada beliau." jawab Resepsionis itu ramah.


"Ini Kak, suratnya!" kukeluarkan surat terbungkus amplop itu dari tas gendongku. Surat itu sudah ada di tangan Mbak Resepsionis.


"Saya terima ya suratnya. Apakah ada kontak person yang bisa dihubungi? Untuk konfirmasi?" tanya Resepsionis itu lagi. Kami berempat saling berpandangan.


"Kontak person saya saja!" Naren membuka smartphone-nya lalu menulis di selembar kertas binder. "Ini nomer telepon saya!" Naren menyerahkan kertas itu.


"Terima kasih. Pihak kami akan segera mengkonfirmasi. Mohon menunggu beberapa hari," Resepsionis itu kembali ke tempat semula.


"Udah yuk, kita balik ke kampus!" ajak Vita.


"Bentar, aku mau numpang ke toilet dulu. Udah kebelet banget nih!" celetuk Naren.


"Gue ikut, Ren!" sahut Rino.


"Aku titip smartphone-ku ya, Beb!" Naren menyerahkan smartphone-nya padaku.


Nampak foto Naren memakai jas warna putih dengan seorang wanita memakai kebaya pengantin warna putih. Naren nampak merangkul erat pinggang wanita itu. Naren, apa ini? Kuberanikan diri menolak panggilan itu. Smartphone itu tak terkunci. Pada aplikasi chat itu nampak nama kontak 'Sayang ❤' ada di baris paling atas. Saat kubuka isi chat-nya, napasku sungguh terasa sesak. Ada begitu banyak foto pengantin di pelaminan. Semuanya foto Naren dengan wanita itu. Di chat terakhir ada pesan berbunyi : 'Sayang, ini foto pemotretan terakhir kita 😚...' . BRUG! Smartphone itu jatuh.


"Qia, ada apa?" tanya Vita.


Jantungku serasa sangat sesak. Hatiku rasanya sakit. Naren, teganya kau melakukan ini! Kau selingkuh di belakangku? 😢 Bahkan sudah menikah? Dasar Pengkhianat! 😢 Air mataku tak bisa lagi kutahan. Dasar Pengkhianat! Aku benci padamu! 😢


"Qia! Tunggu! Qia!" terdengar teriakan Vita.


Aku tak peduli, kulangkahkan kakiku berlari keluar dari lobi itu. Aku tak tahu kemana kakiku membawaku pergi. Naren, kau jahat! 😢 Kau jahat! 😢 Aku benci padamu! 😢 Aku terus berlari sambil menangis tak tentu arah. PIM! PIM! PIM! Terdengar suara klakson.


"AAAA!!!" teriakku. Tiba-tiba saja ada mobil hitam melaju kencang ke arahku. CIT!!! Mobil itu mengerem mendadak. BRUK!!! Tubuhku terjatuh beberapa mili dari bemper mobil itu. Mobil hitam ini nyaris menabrakku.


"Kalau jalan lihat-lihat!" penumpang mobil nampak keluar. Aku hendak berdiri tapi kakiku terasa sakit. Pengemudi mobil itu ternyata orang-orang berpakaian seragam serba hitam. Mereka semua laki-laki berbadan kekar. Mereka mengerumuniku.


"Dasar ceroboh! Kamu pikir ini jalan milik nenek moyangmu apa?!" teriak seorang lelaki.

__ADS_1


"Apa matamu buta? HAH?!" teriak lelaki yang lain.


"Ada apa ini?" terdengar suara menuju kemari.


"Boss!" ucap para lelaki ini dengan patuh sambil menunduk.


Kurasa aku hampir tertabrak mobil seorang pengusaha yang berkunjung ke kantor ini. Orang-orang yang memarahiku pasti pengawal pengusaha itu. Pria-pria ini masih mengerumuniku, aku belum bisa melihat wajah atasan mereka.


"Ada apa?" terdengar suara.


"Ini, Pak. Ada perempuan ceroboh menyeberang sembarangan. Dia muncul tiba-tiba saya tak melihatnya sebelumnya," jawab seorang pria.


"Ya sudah, yang penting tak ada korban jiwa. Ini juga salah saya karena memerintahkan berjalan terlalu ngebut. Biar saya lihat perempuan itu," kerumuman pengawal itu nampak memberi jalan pada atasan mereka.


"Tikus Kecil!" nampak panggilan yang familiar. Kulihat ke arah suara itu.


"Bapak...." panggilku sambil menangis.


"Astaga, apa yang terjadi denganmu?" dia mendekatiku. "Mengapa kau menangis?" tatapannya berubah murka dalam sekejap. "Siapa yang berani menyakiti wanita ini?" suara dingin nan mengerikan keluar dari mulutnya. "Jawab cepat!" teriaknya.


Tidak! Dia pasti mengira para pengawal ini yang membuatku menangis.


"BUKAN MEREKA, PAK!" teriakku kencang. Balok Es ini berpaling ke arahku. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya memeluk Balok Es itu sambil menangis.


Rasanya sakit dan menyesakkan. Apa ini rasanya dikhianati? Apa ini rasanya diselingkuhi? Apa ini perasaan yang sering dirasakan Balok Es saat melihatku bersama Naren? 😢


Bapak, sekarang saya paham bagaimana perasaan Bapak. Jika memang Bapak punya rasa memiliki terhadap saya pasti rasanya seperti ini. Rasanya sakit seperti terkena ribuan duri di dalam dada. Rasa itu bercampur dengan rasa sedih dan cemburu. Rasanya sakit sekali 😢.


Pak, apakah ini hukuman? Apa Qia sedang terkena hukuman karena bermain api di depan muka Bapak? 😢


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2