Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 71 - Move On?


__ADS_3

(Narendra Varrel Wijaya's Point of View)


Aku tak percaya ini, Qia menjalin hubungan dengan Pak Billy? Bukankah Pak Billy bilang jika dia sudah punya istri? Tapi, jika aku mengatakan hal ini di hadapan publik siapa yang akan percaya. Aku tak punya bukti apa pun.


Kulihat akun sosial media Qia, semua fotoku saat bersamanya sudah dihapus. Qia, bagaimana aku harus menghadapimu sekarang? Aku minta maaf karena tak menceritakan kejadian yang sebenarnya padamu. Iya, Qia, cewek yang pernah berfoto bersamaku adalah tunanganku, namanya Mira.


Mira adalah anak dari teman Papa-ku. Aku tak punya pilihan lain Qia, aku harus menuruti hal ini. Kondisi finansial keluargaku sedang sulit, ayah Mira sudah banyak membantu keluargaku. Aku tak bisa menolak saat permintaan pertunangan itu terjadi. Tapi, Qia percaalah padaku, hatiku masih benar-bebar setia untukmu. Aku belum akan menikahi Mira jika aku belum lulus kuliah. Qia, masih ada waktu untuk mengubah semuanya.


Kuhela napasku, kulihat foto di sosial media itu. Ada sebuah foto yang diunggah dengan caption bersama sebuah akun @jantung_hatinya_qia. Kubuka akun @jantung_hatinya_qia. Isinya hanya foto seorang pria yang sedang berada di gym. Tak ada foto wajah yang nampak. Ini pasti akun Pak Billy. Tapi, kenapa secepat itu? Sejak kapan Qia dan Pak Billy dekat? Apa sejak Qia diselamatkan oleh Pak Billy ketika kunjungan ilmiah itu? Semua pertanyaan masih berseliweran di kepalaku. Kusandarkan kepalaku di dinding lorong kelas ini.


"Iya, Wat, drama korea itu seru banget! Aku udah nonton sampai episode terbaru!" terdengar suara yang amat sangat familiar di telingaku.


Kulihat ke arah suara itu. Nampak seorang gadis yang selama empat tahun ini sudah mengisi hatiku. Dia sudah menemaniku menjalani hari-hariku.


Sejak peristiwa foto yang ketahuan itu, aku sangat kesulitan menghubungi Qia. Dia tak pernah membalas chat-ku atau DM lewat media sosial. Nampak Qia terlihat ceria. Beb, apa kamu benar-benar udah move on?


"Qia....Wati...." panggilku.


Kuberanikan diri memanggil saat keduanya tepat berjalan di depanku. Keduanya berhenti. Qia langsung membuang muka saat itu juga. Sementara Wati terlihat canggung dan hanya terdiam.


"Qia...." panggilku lagi. Aku memberanikan diri mendekat dan memanggilnya lagi.


"Selamat pagi....." terdengar suara sapaan.


Astaga, itu Pak Billy! Aku lupa jika saat ini adalah kelas mata kuliah Pak Billy. Pak Billy menyapa dengan wajah dingin dan datar.


"Ayo, masuk!" ucap Pak Billy.


Pak Billy fokus menatap ke arah pintu ruang kelas. Qia nampak sedikit tersenyum sambil menatap ke arah Pak Billy. Qia, kamu benar-benar sudah move on dan melupakanku? Tangan kanan Pak Billy nampak masih terpasang gips. Pak Billy nampak kesulitan membuka kunci pintu ruang kelas.

__ADS_1


"Sini Kak eh....Pak, saya bantu," terdengar suara Qia. Dia membantu Pak Billy membuka kunci pintu ruang kelas.


Beb, kamu memanggil Pak Billy dengan sebutan Kak? Kalian sudah sedekat itu? Meski pun lirih, tapi telingaku mendengar jelas jika Qia memanggil Pak Billy dengan sebutan Kak.


"Ehm, terima kasih," sahut Pak Billy singkat dan dengan nada dingin.


Beb, kok kamu bisa sih suka dan dekat sama orang yang dingin dengan ekspresi wajah datar seperti Pak Billy? Tapi, jujur aku syok, Beb, waktu aku liat kamu sama Pak Billy makan bareng di restoran dekat kampus. Pak Billy sikapnya berubah drastis. Dia bisa dibilang agresif ketika berhadapan denganmu. Rasanya waktu itu aku ingin mendatangimu dan memisahkan kalian. Tapi apa dayaku, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan.


Ruang kelas itu pun terbuka, Pak Billy masuk terlebih dahulu. Beliau lalu duduk di meja dosen. Terlihat Qia bersama Wati duduk di kursi detetan paling depan. Deretan itu cukup dekat dengan meja dosen. Aku memilih duduk di deretan nomer dua, di belakang Qia dan Wati. Beb, kamu benar-benar sudah tak mengganggapku ada di dalam hatimu, ya?


Beb, kamu kok daritadi menatap terus sih ke arah Pak Billy? Hatiku rasanya marah bercampur rasa sakit. Tapi apa dayaku, aku tetap tak bisa apa-apa. Pak Billy saat ini adalah dosen mata kuliah ini dan aku adalah mahasiswanya. Tak mungkin aku bertindak saat di kelas seperti saat ini.


Roda kehidupan yang berputar itu benar adanya. Beb, kamu ingat nggak? dulu kita pernah terlambat di kelas Pak Billy. Waktu itu hubungan kita masih sangat dekat dan baik-baik saja. Kita bahkan tak masalah dan happy aja waktu nggak boleh masuk di kelas Pak Billy. Beb, dulu kamu kurasa sangat membenci kelas Pak Billy. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Di kelas yang sama saat ini, kita justru terpisah seolah ada di ujung dunia yang berbeda. Kamu yang tadinya tak suka kelas mata kuliah ini, sekarang justru terlihat betah dan bahagia ada di kelas ini.


"SETYOWATI!" terdengar suara keras dari arah depan. Suara itu membuyarkan lamunanku. Ternyata Pak Billy sedang melakukan presensi.


"QIANDRA...." Pak Billy memanggil nama Qia.


"Hadir, Pak!" sahut Qia. Dia terlihat tersenyum bahagia saat mengacungkan tangannya ketika Pak Billy memanggil namanya. Beb, kamu beneran udah move on dan melupakanku, ya? 😢


"NARENDRA VARREL WIJAYA!" terdengar namaku disebut.


"Hadir, Pak...." sahutku lirih. Pak Billy lalu melanjutkan proses presensi hingga selesai.


"Semuanya nampak hadir. Baiklah, hari ini kita akan melanjutkan membahas materi bab selanjutnya," Pak Billy menyambungkan kabel proyektor ke laptopnya. Beliau lalu menekan tombol on pada remot proyektor.


Jantungku berasa seperti terkena pukulan, terasa sesak seketika. Aku tak percaya pada penglihatanku. Wallpaper pada layar laptop Pak Billy membuat riuh seisi kelas. Terdapat gambar seorang pria dan wanita yang sedang berpose saling berpelukan. Si pria memeluk si wanita dari arah belakang. Pria itu memakai jas warna kuning keemasan sedangkan si wanita mengenakan gaun warna kuning keemasan. Sangat jelas di gambar itu bahwa si pria itu adalah Pak Billy dan si wanita adalah Qia. Ya, wanita itu adalah Qia.


Aku menatap ke arah Qia. Dia nampak tertunduk, kurasa dia terkejut atau malu mungkin. Foto di wallpaper itu seperti sebuah foto prewedding. Beb, kamu sudah mau menikah dengan Pak Billy? Secepat itukah kamu melupakanku? Beb, kamu tidak ingat semua kenangan yang kita lalu selama empat tahun ini? 😢

__ADS_1


"Narendra! NARENDRA!" terdengar suara dingin dan menakutkan memanggilku.


Suara itu membuyarkan lamunanku. Saat aku sadar, seluruh pandangan seisi kelas tertuju ke arahku. Apa yang terjadi? Kok, semuanya jadi menatapku sih? 😨


"NARENDRA!" terdengar suara memanggilku. Ternyata, suara dingin dan mengerikan itu datang dari Pak Billy.


"I...ya, Pak...." sahutku lirih.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, hah?" tanya Pak Billy.


Duh, aku harus jawab apa ya? 😨 Aku kan nggak mungkin bilang kalo aku sedang memikirkan hubunganku dan Qia.


"Jangan bengong! Saya tak suka jika saat saya menjelaskan di depan tapi tidak dihargai. Paham?!" ucap Pak Billy.


"Pa...ham...,Pak," sahutku lirih.


Beb, kok kamu bisa sih suka sama orang pemarah kayak Pak Billy? Aku lebih baik dari Pak Billy, Beb. Aku selalu bersikap lembut dan tak pernah kasar padamu selama empat tahun ini.


Saat Pak Billy menegurku, aku bisa melihat kamu memandangku meski cuma sekilas. Beb, aku yakin masih ada tempat untukku di hatimu. Beb, aku akan memperjuangkanmu hingga akhir hayatku! 😐


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2