Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 127 - Jangan Lari!


__ADS_3

"Musuh? Musuh keluargamu?" Qia menatap Billy dengan penuh tanya. "Keluargamu punya musuh? Siapa?"


"Yaya, kau tahu kan keluargaku memiliki bisnis yang cukup besar. Menjalankan bisnis tidak semulus yang dibayangkan. Ada pihak-pihak yang merupakan saingan bisnis keluargaku yang iri dengan usaha yang dijalankan oleh keluargaku sehingga berusaha mengganggu bahkan menghancurkan bisnis keluargaku dengan beragam cara."


"Hubby, kau terlalu berlebihan. Kecelakaan yang menimpaku adalah kecelakaan biasa saja. Itu sudah berlalu. Jangan khawatir. Aku sudah baik-baik saja sekarang." Qia tersenyum ke arah Billy.


"Tapi ...." Billy hendak berbicara kembali. Ucapan Billy terhenti. Qia dengan cepat mengarahkan kecupan ringan ke bibirnya.


"Terima kasih sudah merawatku, Hubby." Tangan kiri Qia membelai pipi kanan Billy.


"Cepatlah sembuh. Jadilah penurut dan rajinlah minum obatmu," sahut Billy.


"Ehm." Qia mengganggukkan kepalanya. "Hubby, besok aku mau ke kampus. Aku mau mengurus Kartu Rencana Studi dan konsultasi dengan dosen PA-ku (Pembina Akademik)...."


"Tak boleh. Kau harus istirahat satu bulan penuh. Jika perlu semester ini cuti dulu saja!" Billy menatap ke arah Qia.


"Hah? Cuti?" Qia tertegun. "Itu terlalu berlebihan. Aku masih bisa ikut kuliah. Lukaku tak terlalu parah. Hanya tangan kananku saja yang mengalami cedera. Aku tak mau ketinggalan teman-temanku." protes Qia.


"Penyembuhanmu bisa semakin parah jika kau ikut kuliah. Jangan bandel dan menurutlah!"

__ADS_1


"Tapi waktu kau cedera kemarin kau tetap bekerja. Jika kau boleh kenapa aku tidak, Hubby? Itu tak adil!" protes Qia lagi.


"Itu karena cederaku tak separah cederamu, Yaya. Sudah, pokoknya kau harus istirahat!"


"Huh!" Qia membuang muka. Wajahnya cemberut. Dia segera bangkit dari posisi tidur. Tangan kirinya menarik selimut tebal. Kakinya melangkah menuju sofa warna pink yang ada di sudut kamar.


"Hey, kau mau apa?" ucap Billy. Qia tak menyahut, dia segera membaringkan tubuhnya di sofa itu. Posisi tidurnya membelakangi Billy. Qia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut itu.


Kalo dia tak mengizinkanku tak apa. Aku bisa kok ke kampus sendirian. Lagipula uang kuliahku semester enam juga sudah dibayar. Kan tak lucu! Sudah bayar tapi tiba-tiba cuti! Sudahlah, malam ini aku tidur di sofa saja! gumam Qia.


Dia tetap saja kekanak-kanakan saat merajuk. Tapi, tak masalah. Aku bersyukur dia tak luka parah saat kecelakaan itu, gumam Billy. Dia segera bangkit dan melangkah menuju ke sofa itu. Billy mengamati sejenak.


"KECOAK!" teriak Billy.


"Ah! MANA! MANA!" teriak Qia. Dia langsung kekuar dari dalam selimut. Tubuhnya reflek langsung memeluk Billy.


"Akhirnya kau tak merajuk lagi!" bisik Billy.


Tak merajuk lagi? Jadi dia menjahiliku? Tak ada kecoa? gumam Qia.

__ADS_1


"Kau menyebalkan! Aku sedang sakit! Kau malah jahil padaku!"


"Aku harus bagaimana agar kau tak cuek lagi, Yaya. Kau tak bisa merajuk dan lari terus-menerus seperti tadi jika ada ketidaksepahaman diantara kita. Kau harus membiasakan diri untuk membicarakannya denganku. Jika kau ada masalah atau kau tak setuju dengan pendapatku. Masalah takka selesai jika kau merajuk dan lari!" Billy menatap Qia.


"Jika aku bicara apa kau bisa mengubah pikiranmu? Kau kan keras seperti balok es." Qia membekap mulutnya.


Kenapa aku jadi mengatakan julukan yang kuberikan kepadanya, sih? Duh, semoga ini tak memantik api, gumam Qia.


Billy menghela napas,"Jika kau bicara baik-baik aku bisa saja mencair menjadi es krim!" sahut Billy.


"Kalo begitu izinkan aku masuk kuliah semester ini. Aku tak mau ketinggalan dengan teman-temanku. Ini kuliah teori terakhir, Hubby. Kau mau aku lulusnya telat? Aku tak mau menunda setengah tahun. Itu akan menambah waktu di usiaku untuk kuliah. Ehm, maaf sudah menyebutmu balok es tadi." Qia tak berani menatap Billy.


"Aku khawatir dengan kondisimu. Kuliah butuh mobilitas yang tinggi. Kau yakin tak apa-apa?" Billy membelai kepala Qia.


"Tak apa-apa. Sungguh! Aku yakin." Qia tersenyum ke arah Billy.


"Baiklah, tapi kau harus janji jangan memaksakan diri. Jika kau merasa tubuhmu tak kuat, izin saja."


"Iya, aku janji, Hubby."

__ADS_1


"Baiklah, sekarang tidurlah!" Billy menyelimuti tubuh keduanya. Tubuh Qia dipeluk dengan erat. "Mulai sekarang ingat, biasakan membicarakan apa pun padaku. Jika kau ada masalah atau tak sependapat denganku. Kau dan aku sudah terikat satu sama lain. Kita terikat untuk waktu yang lama yaitu seumur hidup. Di masa depan akan banyak badai yang mungkin kita hadapi, Yaya. Ingat itu!" Billy menasehati Qia. Nasehat itu dijawab dengan anggukan pelan.


__ADS_2