Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 7 - Rumah?


__ADS_3

"AWAS!!!" tubuhku terasa jatuh ke lantai. Napasku terengah-engah karena ketakutan. Jantungku berdebar semakin kencang. Begitu kesadaranku kembali, ternyata aku sudah ada yang dipelukan Balok Es ini. Dia yang sudah menyelamatkanku? Mataku bertatapan dengan mata elangnya. Kacamatanya terlihat retak karena terbentur ke lantai. Aku tak merasakan sakit di kepalaku, ternyata kepalaku bersandar di lengannya.


"Kamu nggak papa?" tanya Balok Es ini membuat buyar lamunanku.


"Eng...nggak, Pak," jawabku lirih, Balok Es itu membantuku berdiri.


"Kepalamu nggak luka kan?" ia menyibak poniku. Ternyata Balok Es ini juga bisa bersikap lembut ya. Entah mengapa sentuhannya terasa hangat. Wajahnya yang sedingin es terlihat sangat berbeda.


"Pak, Bapak berdarah!" teriakku panik. Nampak darah merah mengalir dari dahi kiri Si Balok Es. Kuseka darah merah itu dengan tanganku.


"Saya baik-baik saja!" ia menghempaskan tanganku. Luka di dahi itu ditutupi dengan tangannya. "Ehm...." Balok Es itu tiba-tiba hendak terhuyung jatuh.


"Pak, Bapak...." aku menahan tubuhnya.


"Kepala saya pusing!" keluhnya. Kupapah dia menuju ruang pengobatan di rumah sakit itu. Kuceritakan apa yang terjadi pada dokter dan perawat yang berjaga di sana. Kurasa perawat itu langsung menghubungi pengelola rumah sakit. Beberapa saat kemudian Mama dan Nyonya Belvana datang.


"Ya ampun, Billy, Qia!" teriak Mama. "Apa yang terjadi?" tanya Mama.


"Hanya peristiwa kecelakaan kecil, Tante," Balok Es itu menjawab sambil berbaring. "Tadi Qia tersesat, baru ketemu di lorong rumah sakit yang sudah nggak terpakai. Tiba-tiba ada plafon dari atas runtuh dan hampir menimpa kami berdua." Balok Es itu menatapku. Kurasa dia sengaja menyembunyikan peristiwa pertemuanku dengan Naren serta pertengkaran kami.


"Ya ampun, Billy! Kamu kenapa?" Nyonya Belvana nampak khawatir dengan kondisi Si Balok Es. "Astaga, Billy. Kepalamu sampai di perban. Dok, anak saya kondisinya gimana? Cepat, Dok kalo perlu lakukan ronsen! Gimana kalo anak saya gegar otak nanti?"

__ADS_1


"Mohon tenang, Nyonya, tolong tenang," seorang pria berjas hitam datang. Kurasa dia pengelola rumah sakit. Ada tulisan 'Manager' di tanda pengenalnya.


"Kalian harus tanggungjawab!" teriak Nyonya Belvana. "Anak dan menantu saya mengalami kecelakaan di rumah sakit! Gimana, sih! Plafon rumah sakit mewah kok bisa jebol?!" ia terus memarahi Manajer itu.


"Sudah, Ma. Sudah," Balok Es itu melerai pertengkaran itu. "Malu kalo di dengar sama pasien lain. Aku sama Qia nggak papa, ini cuma luka kecil. Aku nggak cedera, Ma. Cuma butuh istirahat aja," Balok Es itu bangkit dan berdiri.


"Ya sudah, kamu pulang saja ke rumah, ya. Qia, tolong temani Billy, ya!" Nyonya Belvana menatapku. Aku hanya menggangguk.


Nyonya Belvana kurasa sangat memanjakan dan terlalu menyayangi Balok Es ini. Saat menuju parkiran saja, Balok Es ini dipaksa menaiki kursi roda. Pengobatan luka di dahinya juga berlebihan, kepala Balok Es itu terlilit perban yang tebal. Saat di dalam mobil, aku duduk di deret kedua bersama Si Balok Es. Kami duduk saling berjauhan menyisakan ruang yang luas di bagian tengah. Sepanjang perjalanan sunyi, tanpa percakapan.


"WOW!!!" mulutku ternganga, mobil ini memasuki sebuah halaman rumah yang terbilang sangat mewah. Nampak halaman rumput hijau yang luas, di tengah halaman ada sebuah air mancur tingkat tujuh yang besar. Jalan masuk dari pintu gerbang mengelilingi taman ini.


"Kita sudah sampai, Tuan, Nona," ucap Pak Sopir.


"Rumah kita ada di belakang!" suara Si Balok Es menjadi sedingin es seperti biasanya. Kata-kata 'rumah kita' membuatku geli. Apa aku harus tinggal di sini? Aku belum ingin pindah, semua ini dadakan, aku belum siap.


Mataku tetap saja jelalatan menatapi keindahan rumah ini. Kami berjalan melewati taman di samping rumah. Di taman itu terdapat gazebo yang berada di samping kolam penuh ikan. Aku tak bisa terlalu melihat taman itu, tapi kurasa di sana ada banyak bunga. Saat sampai di belakang rumah, ternyata ada kolam renang yang besar dan luas.


"WOW!!!" astaga di belakang rumah itu ada rumah besar juga. Hanya tingkat dua tapi tak kalah mewah dan megah dari rumah bagian depan. Ada empat pilar menyangga atap utama. Rumah ini bercat kuning keju pudar dengan pinggiran pada setiap sudut dan hiasan ornamen dicat warna emas. Lantainya berupa marmer putih. Saat kumasuk ke dalam rumah itu, nampak ruang tamu yang besar dengan kursi coklat megah dan meja kayu jati. Tangga kokoh nan megah terletak di tengah ruangan. Lantai dua nampak dari ruang tamu ini.


"Pasti mahal!" aku tak tahu benda-benda mewah, tetapi kurasa lampu gantung kristal tingkat tujuh yang ada di tengah ruang tamu itu pasti harganya jutaan.

__ADS_1


"Kamar Tuan Muda ada di lantai dua, Nona," aku dikejutkan dengan kehadiran empat orang perempuan paruh baya. Mereka memakai seragam pelayan warna hitam dengan celemek hitam berenda putih. Mereka menunduk sambil tersenyum padaku.


Aku bergegas naik ke lantai dua. Kamar Balok Es itu yang mana? Terdapat deretan ruangan dengan pintu coklat megah nan kokoh. Aku berpikir sejenak, biasanya kalo rumah mewah itu, kamar utama ada di bagian tengah. Kubuka pintu di ruangan tengah lantai dua itu...


"Pak...." panggilku lirih, kumasuki kamar itu. Kamar bernuansa interior putih dengan dinding warna abu-abu. "AAAA!!!" teriakku. Di dalam kamar itu ada Si Balok Es. Dia bertelenjang dada dan hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya


"JANGAN TERIAK!!!" ia mendekatiku dan membekap mulutku. "Diam dan jangan teriak!" aku menggangguk. Dia berbalik membelakangiku dan mengambil pakaiannya lalu masuk kembali ke sebuah ruangan. Kurasa itu adalah sebuah kamar mandi. Tak beberapa lama kemudian dia keluar dengan piyama berwarna putih keperakan. Aku tak berani kemana pun, hanya berdiri di dekat lampu tidur.


"Kamu bisa mandi dan tidur di kamar lain!" Balok Es itu berdiri di depanku sambil menyilangkan kedua tangannya. "Saya sudah menepati janji saya untuk tidak mengatakan tentang pernikahan kita. Saya ingin balas jasa dari kamu!" ia menunjuk ke arahku.


"Balas jasa? Apa, Pak?" kuberanikan diri menatap mata elangnya.


"Saya ingin kamu bersikap baik saat di depan keluarga saya, terutama Kakek saya. Beraktinglah seakan-akan hubungan kita baik-baik saja dan kamu setuju dengan pernikahan ini. Kamu juga harus berakting seolah-olah..." kudengarkan pidato Si Balok Es sambil menunduk. Tiba-tiba kurasakan sesuatu bergerak-gerak di kakiku.


"AAAA!!!! KECOA!!!" aku langsung berteriak. BRUK!!! Reflek, tubuhku memeluk Balok Es itu. Kami berdua terjatuh ke tempat tidur. Sekali lagi, mata mungilku bertatapan dengan mata elangnya yang tak terhalang lensa tebal itu. Waktu seakan berhenti saat kutatap dirinya. Mengapa jantungku berdetak semakin kencang saat menatapnya?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2