
"Cepet banget! Padahal aku masih pengen jalan-jalan," keluh Qia. Dia bersandar di bahu Billy dengan manja. Billy sedang sibuk membaca sebuah buku.
"Kita udah jalan-jalan seminggu lebih, Yaya. Apa kamu nggak capek? Kan kamu butuh waktu juga buat persiapan semester genap," sahut Billy.
"Nggak, aku nggak capek kok. Kan senang-senang. Kenapa sih libur semester ganjil ke semester genap cuma sebentar!" keluh Qia.
"Hey, libur dua minggu itu udah lama, Yaya. Oh ya, cepet isi KRS (Kartu Rencana Studi)-mu. Mumpung masih ada waktu!" perintah Billy.
"Ih, kan besok masih bisa, Hubby. Aku masih pengen rebahan pagi ini. Kan baru sampai di rumah tadi malam," ucap Qia. Dia enggan beranjak dari atas sofa. "Ih, geli!" keluh Qia saat Billy menusuk pinggangnya dengan jari telunjuknya.
"Cepat isi! Jangan malas!" protes Billy.
"Iya, iya," sahut Qia. Dia mengambil smartphone-nya. Halaman website Sistem Informasi Akademik (SIA) dibukanya.
Tiap ganti semester harus mengisi KRS buat milih mata kuliah apa aja yang mau diambil. Aku nggak mau buka website ini. Takut liat nilaiku semester 5 kemarin. Sengaja kubuka dari HP aja, biar dia nggak ikut komen kalo ada nilaiku yang jelek. Semester 6 ini pokoknya kalo ada mata kuliah yang diampu sama dia, aku mau ganti kelas lain aja. Hiks, tapi sedih juga. Ini semester terakhir yang bisa kumpul bareng teman di kelas, gumam Qia.
"Ck! Kok bukanya lewat HP sih! Lewat laptop kan lebih jelas!" celetuk Billy. Dia menatap ke arah Qia.
"Malas ambil laptop, hehehe," ucap Qia.
Ih, tapi aku penasaran nilaiku berapa ya UAS kemarin. Kalo info di grup chat kelas sih, nilainya udah keluar semua, berarti nilai akhirnya udab bisa diliat. Coba ah buka KHS (Kartu Hasil Studi), gumam Qia. Dia membuka menu KHS. Wah, nilaiku lumayanlah, banyak yang dapat A-. Hah! B-? Gila! Dia tega banget ngasih nilai ke istri sendiri B-. Sumpah, nilai mata kuliah yang dia ampu bikin IPK-ku langsung turun, gumam Qia. Dia menatap tajam ke arah Billy.
"Hasil sesuai perjuangan. Kalau kamu ada yang nggak puas nilainya, bisa ngulang semester depan," ucap Billy santai.
Sudahlah, setidaknya nggak ada yang dapat nilai C. Kalo nilaiku C harus ngulang, gumam Qia.
"Oh ya, IPK-mu gimana? Turun apa naik? Coba sini kuliat!" ucap Billy.
"Ehm, udah terlanjur buka halaman KRS, hehehe," celetuk Qia.
"Ya sudah, manfaatkan kesempatan dengan baik. Kalo perlu maksimalkan jatah SKS (Sistem Kredit Semester)-mu semester ini," ucap Billy.
__ADS_1
"Iya, iya, ini aku baru milih kelas. Pokoknya kalo ada kelas yang dosennya kamu, aku nggak mau ambil. Kejam sih kasih nilainya!" keluh Qia tanpa sadar.
"Apa kamu bilang? Aku kejam?" Billy menatap tajam Qia. Qia langsung menutup mulutnya.
Duh,salah ngomong, nih! Gawat! Gawat! gumam Qia.
"Ehm, Hubby...." Qia tertunduk. "Ih, geli ah! Geli! Stop!" teriak Qia saat Billy menggelitiki tubuhnya. Qia jatuh terbaring di atas sofa.
"Aku menilai secara adil sesuai kemampuan. Sudah, ayo pergi!" Billy meletakkan buku yamg dibacanya.
Sudah ah, aku menurut aja. Udah syukur dia nggak marah tadi. Eh, iya simpan dulu KRS-nya. Terus log out dari website SIA, gumam Qia. Dia berjalan mengikuti Billy.
***
"Kukira kamu ngajak keluar rumah buat kencan eh ternyata ngajak ke toko alat tulis," Qia dengan malas mendorong troli di hadapannya.
"Emangnya kamu kuliah nggak butuh nulis apa? Sudah, cepet pilih alat tulis!" perintah Billy.
"Tanggung ah, udah sampe di sini juga. Nih, beli binder! Kamu harus rajin nyatet biar nilaimu nggak jelek!" Billy mengambilkan beberapa bungkus kertas binder polos. "Kalo nyatat pake pulpen warna-warni biar catatannya rapi dan enak dibaca!" Billy meletakkan beberapa pulpen berbagai warna ke dalam troli. "Materi kuliah juga jangan berantakan! Kalo dikasih materi di- print, terus disimpen di map!" beberapa map plastik juga dimasukkan ke dalam troli.
"Hubby, kok kamu perhatian banget sih sama perkembangan kuliahku?" tanya Qia.
"Aku selalu memperhatikan setiap detail di hidupku, Yaya. Semua harus rapi dan terstruktur. Kamu sekarang bagian dari hidupku. Jadi, kamu juga harus detail dan terstruktur!" ucap Billy.
"Kalo soal anak gimana?" celetuk Qia. Billy nampak tertegun sejenak. Dia menatap ke arah Qia.
"Kenapa kamu tiba-tiba bahas anak?" tanya Billy.
"Ehm, nggak cuma pengen nanya aja," celetuk Qia.
"Kalo soal itu kapan pun diberi aku akan menerimanya. Siapa tahu setelah liburan ini keinginanmu terwujud, Yaya. Jika kamu bertanya pasti kamu menginginkannya kan?" goda Billy.
__ADS_1
"Ih, apaan, sih! Kan aku cuma nanya aja," celetuk Qia. "Udah, ah aku mau liat-liat novel!" celetuk Qia. Dia nampak melihat-lihat novel. "Yang ini kayaknya bagus!" Qia mengambil sebuah buku bersampul warna pink.
"Wah, sepertinya kamu beneran kebelet pengen punya anak, nih!" celetuk Billy.
"Apaan sih! Aku kan cuma liat-liat novel!" balas Qia.
"Yakin itu novel? Padahal itu buku tentang parenting," celetuk Billy. Qia memandang sampul buku yang dipegangnya.
Lho, kok jadi buku tentang parenting, sih! Kok bisa salah ambil. Duh, aku jadi malu, gumam Qia.
"Kalo kamu pengen beneran, berarti kita harus kerja keras, nih!" bisik Billy.
"Apaan sih! Udah ah belanjanya!" ucap Qia. Pipinya nampak bersemu merah.
"Hahaha!" Billy tertawa. Dia mengikuti Qia menuju ke arah kasir. Qia membuka smartphone-nya.
"Halo, Kak Chan. Iya, nanti aku mampir ke rumah kok. Iya, iya, hehehe. Bye!" ucap Qia ceria. "Hubby, nanti main ke rumah ya! Aku mau ngasih oleh-oleh buat keluargaku," pinta Qia.
"Ehm...." sahut Billy singkat.
Nampaknya aku harus berhadapan lagi dengan Si Chandra. Dia dulu tak setuju dan menentang hubungan ini. Chandra, akan kutunjukkan jika adikmu sudah menyerahkan hatinya padaku atas kemauannya sendiri, gumam Billy.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍