
Kurasakan mobil ini terus melaju melewati jalanan tol. Masih belum sampai juga, ya? Kubuka mataku sedikit, ternyata mobil ini memang masih melaju. Kok, kayaknya jauh banget ya tempat hunting fotonya. Udah jalan dari tadi siang tapi belum sampai-sampai. Untung besok weekend, jadi kuliah libur. Jalanan lurus nan mulus kayak gini itu bikin mengantuk.
"HOAHM!" aku kembali menguap. Tanganku kembali meraih orang di sampingku yang kujadikan guling. Badannya hangat, enak buat dipeluk.
"Kamu nggak bosan dari tadi nempel terus kayak koala di pohon eucalyptus!" celetuk orang ini.
"Ehm," aku tak menjawab hanya memeluknya semakin erat. Untung saja kursi di deretan nomor dua mobil ini tidak terpisah. Jadi, enak buatku untuk memeluk Si Balok Es.
"Lucu, ya. Kamu bilang saya balok es, tapi sekarang malah nempel terus. Mana ada es yang tahan untuk dipeluk dalam waktu lama!" celetuk Balok Es lagi.
"Kak Billy kan juga gulingnya Qia. Jadi, Qia tahanlah buat meluk lama-lama," sahutku tanpa membuka mata. Kurasakan tangan bergerak di rambutku, sepertinya tangan itu hendak merapikan poniku.
"Kamu makin sulit didebat saja!" celetuk Balok Es lagi.
Balok Es, yang sulit didebat itu kamu, tahu! 😑 Kurasakan mobil terasa miring ke arah kanan.
"Eh!" mataku terbelalak seketika.
Ketika kubuka mataku, Balok Es sudah terbaring di atas kursi. Tubuhku jatuh di atasnya. Kok jadi gini sih? Balok Es, kau sengaja ya melakukan ini? 😑 Kulirik ke arah kaca jendela mobil. Nampak pemandangan jalan berkelok-kelok. Kurasa ini sudah mulai memasuki wilayah pegunungan.
"Kamu mau melakukan apa, Yaya?" ucap Balok Es.
Kurasakan Pak Sopir dan Sekretaris June bersikap salah tingkah akibat hal ini. Balok Es, kamu mau main apa sih sebenarnya? Yang menjatuhkan diri itu kamu sendiri, tahu! Kau membuatku dalam kondisi yang aneh. Sudahlah, karena dia sudah memprovokasiku maka kulayani saja.
"Qia pengen bobok berbaring, Kak!" ucapku sambil membalik badanku untuk menidih badan Balok Es.
"Hey, apa yang kamu lakukan, Tikus Kecil!" teriak Balok Es saat tubuhku tepat menimpa tubuhnya. "Tangan saya masih sakit!" teriaknya lagi.
Hihihi, siapa suruh jahil sama Qia! 😆
"ADUH!!!" teriakku tiba-tiba saja mobil terhuyung ke sebelah kanan lagi. Kepalaku sontak terbentur pintu mobil bagian dalam.
"Sakit!" kepalaku terasa berdenyut. Balok Es dengan santai bangun begitu saja.
"Makanya, jangan jahil!" ia membelai kepalaku.
Dasar Balok Es menyebalkan! 😢 Ini semua karena ulahmu, tahu! Tapi, kok yang kena malah aku, sih! 😭
"Kak, kita mau kemana, sih?" tanyaku lirih. Aku sudah ada di dekapan tangan kiri Balok Es.
"Hunting foto sekalian liburan keluarga!" Balok Es masih mengelus-elus kepalaku.
__ADS_1
"Liburan keluarga? Tapi, kita kan cuma berdua," sahutku.
"Ada orang tua saya dan juga kakek. Kakek baru saja diijinkan pulang dari rumah sakit. Jadi, kedua orang tua saya memutuskan untuk mengajaknya pergi berlibur sejenak."
"Sudah sampai, Tuan, Nona," ucap Sekretaris June.
Pintu mobil nampak sudah dibukakan dari luar. Balok Es turun terlebih dahulu. Aku mengucek-ucek mataku agar kesadaranku pulih sepenuhnya.
"Ayo, cepat turun, Tikus Kecil!" ucap Balok Es dengan ketus.
Huh! Nanti kalo ketemu tikus asli baru tahu rasa! 😑
Hawa sejuk langsung terasa ketika kulangkahkan kakiku keluar dari mobil. Ketika aku turun dari mobil, di hadapanku nampak sebuah rumah besar tingkat dua. Rumah itu bercat kuning cerah dengan atap berwarna coklat kayu. Ada sebuah teras yang terbuat dari kayu di depan rumah itu. Pintu, gawang pintu dan gawang jendela semuanya berwarna coklat tua mengkilap. Saat aku berbalik ke arah belakang ternyata di seberang rumah ini ada kebun teh yang menghampar luas.
"WOW!" ucapku. Aku terpesona dengan keindahan hamparan kebun teh itu.
"Qia sudah tiba?" terdengar suara wanita dari arah belakang.
"Tante Belvana!" saat aku berbalik nampak Nyonya Belvana, Tuan Andy Hutama dan Tuan Adi Hutama. Tuan Adi Hutama nampak duduk di atas kursi roda.
"Aduh, Sayang. Kok kamu masih manggil tante sih?" Nyonya Belvana mendekatiku. "Panggil Bunda aja atau Mama juga boleh," ucap Nyonya Belvana.
"Iya, benar itu, Qia," sahut Tuan Adi Hutama. "Kamu seharusnya memanggil Belvana dengan sebutan Mama, panggil saja Andy dengan sebutan ayah dan panggil saja aku kakek, Nak."
"Sepertinya tepat, jika kita berlibur bersama setelah Ayah pulang dari rumah sakit. Kamu bisa mengenal lebih dekat, aku, Belvana dan ayahku, Qia," sahut Tuan Andy Hutama.
Ehm, atau mungkin sekarang aku harus menyebutnya Ayah Andy.
"Billy jadi dilupakan!" terdengar suara protes Balok Es. Dia nampak cemberut.
Hahaha! 😂 Balok Es, kau bisa juga ya cemburu pada hal kecil seperti ini. Mungkin karena anak tunggal, jadi dia tidak suka jika perhatian untuknya teralihkan.
"Bunda tidak melupakanmu, Billy," Nyoya Belvana atau mungkin lebih tepat kusebut Bunda Belvana mendekat ke arah Balok Es. Balok Es tetap saja cemberut.
"Bunda melupakan Billy karena sudah punya menantu. Billy sampai tidak disapa!" celetuk Balok Es.
Balok Es, kau teryata punya sisi yang masih kekanak-kanakan juga, ya! 😂
"Sudah, Billy istirahatlah dulu di kamarmu bersama Qia. Kalian pasti lelah sudah menempuh perjalanan sejak siang hingga sore seperti ini," ucap Tuan Adi Hutama atau mungkin bisa kupanggil Kakek Adi.
Balok Es mengajakku masuk ke dalam rumah. Wow! Nuansa rumah ini kuning cerah dan kecoklatan. Furniturnya sebagian besar dari kayu yang divernis sehingga berwarna coklat tua. Dindingnya berwarna kuning keju cerah. Lantainya kurasa dari batu marmer putih.
__ADS_1
"Ayo, masuk kemari!" Balok Es menggandeng tanganku masuk ke sebuah ruangan.
Ternyata ruangan ini adalah sebuah lift. Lift itu bernuansa perak. Dindingnya dilapisi kaca. Lantainya dilapisi logam perak. Lift ini mulai naik ke atas.
"Sudah sampai," celetuk Balok Es. Dia menuntunku masuk ke sebuah kamar.
WOW! Mewahnya! Kamar ini bernuansa putih nan elegan. Perabotannya bernuansa coklat muda. Ada sebuah pintu kaca besar di salah satu sisi kamar itu. Pemandangan pegunungan yang asri nan hijau nampak dari sini.
Pintu itu bisa terbuka dengan digeser. Pintu ini membatasi kamar dengan sebuah balkon. Balkon itu cukup luas, terdapat sebuah meja dan dua buah kursi santai berwarna abu-abu. Kursi panjang yang terbuat dari rotan. Kurasa kursi ini untuk bersantai sambil menikmati pemandangan ini. Kududukkan diriku di kursi itu.
Pemandangan langit senja yang indah nampak dari sini. Matahari hampir kembali ke peraduannya di sisi barat. Dia nampak seolah-olah ingin bersembunyi di balik pegunungan. Aura oranye lembut memenuhi angkasa. Sungguh indah. Aku sedang terlena menikmati keindahan senja ini sambil rebahan santai di kursi rotan ini. Kenyamananku tiba-tiba terusik.
"Ihih!" teriakku karena sebal. "Bapak!" teriakku spontan. Balok Es tiba-tiba memaksa duduk di kursi rotan yang sama denganku. Dia langsung saja menindih tubuhku dari arah samping kiri begitu saja.
"Panggil Bapak lagi jatah uang jajanmu bulan depan dipotong 100%!" ancamnya.
Jahat! 😢 Aku kan nggak sengaja salah sebut tadi. Dasar Balok Es menyebalkan! 😑
"Kak Billy, jangan marah," aku jadi terpaksa memeluk tubuh Balok Es.
"Minta maafmu tak tulus!" Balok Es membuang muka.
Huh! Dasar menyebalkan! 😑 Aku punya suatu ide cemerlang! 😆 Kukeluarkan mainan tikus karet yang kubeli online waktu itu. Aku sengaja menyimpannya di tas selempangku bersama dengan smartphone-ku.
Saat ini Balok Es sedang menatap ke arah lain. Tanganku dengan hati-hati mengeluarkan mainan tikus karet berwarna hitam itu. Kepalaku sengaja kuangkat, agar reaksi ketakutan Balok Es bisa kulihat dengan jelas.
Kuletakkan mainan tikus karet itu di bahu Balok Es.
"TIKUS! TIKUS!" teriakku kencang.
"MANA! MANA!" teriak Balok Es panik.
"AH!" teriakku.
BRUK!!! Gerakan tubuh Balok Es membuatku terdorong jatuh dari kursi. Sakit! 😭 Kenapa yang apes malah aku, sih? 😭
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍