Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 38 - Sesempit Butiran Pasir


__ADS_3

Kata-kata itu seperti petir di telingaku. Universitas XXX? Itu adalah kampusku. Astaga, itu sama saja mengumumkan hubunganku dan Si Balok Es secara terbuka. Aku harus bagaimana? 😣


Kurasa hubunganku dengan Si Balok Es akan segera diketahui publik. Hubunganku dan Naren seakan sudah diujung tanduk. Lelaki mana yang mau berpacaran dengan wanita yang sudah menikah? Jika dia tahu hal ini dia pasti akan memutuskanku detik itu juga. Aku tak berani protes atau berkata apa pun. Aku sudah pasrah dengan keputusan yang ada di depan mata. Hatiku masih sakit akibat gosip murahan dari Tante Mia.


"Billy tidak setuju, Bunda!" terdengar suara Si Balok Es. Ia menatap Nyonya Belvana dengan tatapan dingin.


"Billy!" Nyonya Belvana kembali menatap tajam. "Apa maksudmu? Ini demi kebaikanmu dan Qia! Juga demi nama baik dua keluarga kita, Nak! Mengapa kamu menolak?" ucap Nyonya Belvana.


Hatiku sedikit hangat, kurasa Balok Es bisa paham jalan pikiran dan kekhawatiranku. Kurasa dia pasti menolak resepsi ini diadakan. Bu Vanya pasti akan tahu tentang hubungan kami. Jika itu diadakan di Auditorium Universitas XXX. Kutatap Balok Es dengan tatapan senang penuh harap. Bibirku sedikit tersenyum sebagai tanda terima kasih padanya.


"Siapa bilang Billy menolak, Bunda?" Balok Es melirikku dengan tatapan licik. "Resepsi tentu harus diadakan. Apalagi Yaya Tercinta sudah menjadi korban gosip murahan. Tentu resepsi itu harus diadakan!" Balok Es menatap tajam ke arahku. "Iya, kan, Yaya. Kau ingin resepsi itu diadakan bukan?" mata Mama dan Nyonya Belvana menatap ke arahku.


"Ehm...i...ya, T-Rex Tersayang,"jawabku lirih.


"Bunda, Bunda Lia, Billy dan Yaya ingin mengadakan resepsi ini secepatnya. Kami bahkan tak sabar segera ingin bulan madu," kata-kata Balok Es membuatku gemas. Ingin rasnya kusumpal mulut besarnya itu. Bulan madu? Aku tak menginginkan itu! Apa yang sebenarnya kau pikirkan Balok Es Gila!


"Tapi...mau bagaimana lagi Bunda...." Balok Es mengeluarkan kata-kata dengan nada memelas. "Tangan Billy belum pulih sepenuhnya. Bagaimana Billy bisa menjadi pangeran yang bisa memuaskan Yaya nanti saat resepsi? Juga...apa kata para undangan jika melihat tangan Billy seperti ini? Mereka pasti akan lebih fokus ke tangan Billy daripada memperhatikan kemegahan resepsi yang akan Bunda gelar. Pasti akan ada banyak pertanyaan beredar tentang kondisi tangan Billy," Balok Es mengeluarkan nada memelas.


Pak, Anda ternyata sangat cerdik! Jika menolak secara langsung pasti para orang tua akan curiga tapi jika menolak halus seperti ini pasti para orang tua akan memakluminya. Nyonya Belvana nampak berpikir.


"Ya sudah, kita gelar resepsinya saat tanganmu sembuh, Billy,"Nyonya Belvana menghela napas. "Bunda sudah lelah dan ingin istirahat. Ayo, Jeng Lia. Jeng menginap saja di rumah depan, ya!" Nyonya Belvana menggandeng tangan Mama. "Aku tahu Jeng sangat rindu pada Qia. Tapi, Jeng, tahu kan kalau pengantin baru itu sedang manis-manisnya masa pernikahan. Jangan sampai orang tua seperti kita mengganggu acara main-main putra-putri kita, Jeng. Siapa tahu, sebentar lagi kita bisa dipanggil Oma, hahaha!" ucap Jeng Belvana sambil berlalu pergi.


Astaga, mengapa Nyonya Belvana bisa berpikir seperti itu saat ini? 😣 Mengapa para orang tua tidak mengerti kondisiku; sih? 😢 Aku baru saja terkena gosip murahan. Mengapa mereka tak memikirkan perasaanku? 😢 Mengapa mereka hanya memikirkan soal nama baik keluarga dan keturunan saja! 😢 Aku ini dianggap apa? 😢 Aku juga manusia yang bisa sakit hati jika kena gosip murahan seperti itu! 😢


"Tikus Kecil...." terdengar panggilan lirih. "Kau baik-baik saja...." tanya Balok Es lembut sambil membelai dahiku. Kurasa bendungan air mata itu tak bisa lagi kutahan.


"Ba...pak...." panggilku lirih.


Hanya menangis dan menangis yang ada di pikiranku. Aku tak lagi tahan pada beban hidupku terutama karena gosip murahan itu. Aku langsung menghambur ke dekapan Si Balok Es dan menangis sekuatnya. Kutumpahkan segala keluh kesah yang tak bisa kuucapkan lewat kata-kata melalui tangisku. Aku tak peduli jika bendungan air mata itu jebol. Masa bodoh! Aku sudah lelah sok kuat.


"Qia, lelah, Pak! Qia, capek!" aku memgeluh pada Si Balok Es. "Qia masih suci!"


"Iya, iya, saya tahu itu," Balok Es membelai kepalaku dengan lembut. "Menangislah jika kamu ingin menangis," Balok Es memelukku dalam dekapannya. "Saya takkan marah jika kamu menangis. Saya akan menemanimu di sini, Qia," Balok Es terus mengelus-elus kepalaku. "Maaf, sudah menempatkanmu pada kondisi ini, kamu pasti lelah, ya," ucapnya lirih.


Pak, Bapak mengerti kondisiku? Qia lelah, Pak. Qia capek menjalani semua ini, Pak. Belaian lembut Balok Es membuatku tenang. Rasanya aku ingin tertidur.

__ADS_1


Kubuka mataku perlahan-lahan. Astaga! Apa aku sungguh-sungguh tertidur tadi malam? Saat kesadaranku pulih sepenuhnya ternyata aku sungguh-sungguh tertidur. Aku tertidur di sofa ruang tamu. Kepalaku ternyata menyandar di pangkuan Balok Es. Balok Es belum terbangun, dia masih tertidur pulas. Dia ternyata bisa mengerti kondisiku. Aku tak menyangka hal itu sebelumnya. Aku belum mengucapkan terima kasih padanya karena telah melindungiku kemarin dan menolak resepsi itu secara halus. Kurasa tak ada salahnya bersikap baik padanya. Itu akan membuat hidupku di sini lebih mudah. Hari ini hari kerja, pasti Balok Es akan berangkat ke kampus. Lebih baik kueksekusi ideku untuk berterima kasih padanya.


"Apa yang kau lakukan di sini, Tikus Kecil?" terdengar suara. Balok Es nampak sudah keluar dari kamar mandi. Dia sudah memakai celana panjang warna hitam.


"Bapak!" aku tersenyum. Ini salah satu bentuk rasa terima kasihku padanya. "Bapak mau pakai baju yang mana?" tanyaku sambil membuka lemari berisi kemeja itu. "Bapak mau ke kampus kan?"


"Saya mau pergi ke kantor," ia membuka satu lemari lagi warna biru dongker. Lemari itu berisi banyak setelan jas. "Hari ini saya tak pergi ke kampus tapi ke kantor."


"Oh begitu," pertanyaan muncul di kepalaku. "Pak, kenapa sih Bapak penampilannya beda banget? Di kampus Bapak pakaiannya jadul banget tapi kalau mau ke kantor jadi CEO pakai jas. Bapak kelihatan beda banget, Pak. Seperti dua orang dalam satu tubuh!"


"Dosen adalah rasa syukur saya kepada Sang Pencipta. Saya sudah diberi banyak kemudahan dalam hidup sehingga rasanya saya perlu beryukur dengan mengabdikan diri sebagai pengajar. Mengapa penampilan saya berbeda? Itu memang saya sengaja. Saya ingin dikenal mahasiswa sebagai Pak Billy saja, pengajar mereka. Bukan dikenal sebagai Tuan Rexford, Sang CEO. Saya ingin pengabdian saya sebagai dosen tidak terganggu oleh paparazi yang bertebaran di mana-mana. Hanya itu alasannya," dia menatapku dengan santai. Oh jadi begitu, tak kusangka Balok Es memiliki hati semulia ini.


"Bapak, mau pakai jas warna hitam kan? Sini, saya bantu!" kuambil jas warna hitam dengan setelah kemeja warna putih.


Kurasa aku sudah tak merasa geli lagi melihat Balok Es bertelanjang dada seperti ini. Ehm, apa dulu aku terlalu overthinking ya sehingga tingkahku konyol dan bodoh. Kupakaikan kemeja itu dengan cepat. Sekarang tinggal mengancingkan bagian depannya saja.


"Apa kepalamu terbentur saat mandi pagi ini?" dia menatapku dengan tatapan heran. "Tak biasanya kau peka seperti ini. Biasanya harus saya perintah dulu, baru peka!"


"Ehm, saya hanya membalas kebaikan dengan kebaikan saja," kubantu dia memakai setelan jas itu. "Bapak mau pakai dasi warna apa?" di lemari itu juga ada banyak koleksi dasi.


"Merah!" sahut Balok Es. Kuambil dasi warna merah. "Memangnya kau bisa memakaikan dasi? Paling nanti kau kesulitan!" ejek Si Balok Es.


"Oh, apa kau ingin merayu saya? Kau benar-benar tergila-gila pada saya sekarang, Tikus Kecil?" ia menatapku tajam. Aku tak mempedulikannya kubantu dia memakai penyangga lengan itu.


"Bapak jangan salah paham! Saya melakukan ini sebagai bentuk terima kasih karena Bapak sudah melindungi saya kemarin dari gosip murahan dan melindungi saya dengan menolak resepsi itu," sahutku sambil mengambil sesuatu yang kusiapkan saat Balok Es mandi tadi. "Ini, Pak. Bekal makan siang untuk Bapak!" kuserahkan bekal yang kumasak sendiri itu. Kumasukkan ke dalam tas jinjing. Bekal itu kugantungkan ke tangan kiri Balok Es untuk dia genggam. "Terima kasih karena sudah menolak resepsi itu sehingga ehm...hubungan saya selamat...." ucapku sambil menunduk.


"Siapa bilang saya menolaknya, Tikus Kecil?" bisik Balok Es di telingaku. "Ingat, ini! Perang ini baru saja dimulai! Satu langkah mundur bukan berarti saya mengaku kalah!" bisik Balok Es lagi. Perang? Perang apa yang dia maksud?


"Apa maksud Bapak?" aku menatapnya.


"Tuan," terdengar suara membuka pintu. Ternyata itu Sekretaris June. "Maaf, saatnya berangkat ke kantor, Tuan."


"Ehm," jawab Balok Es. Dia berpaling pergi begitu saja meninggalkanku yang masih penuh tanya.


***

__ADS_1


Aku pergi ke kampus seperti biasanya. Pikiranku tak fokus seharian ini. Aku masih saja memikirkan kata-kata Si Balok Es. Perang apa yang dia maksud? Apa dia ingin berperang denganku? Tapi, apa tujuannya jika dia ingin berperang denganku? Bukankah dia sendiri yang bilang jika harus berakting mesra saat di rumah. Jika dia mengajak berperang bukankah itu hal yang aneh. Atau...tak mungkin! Tidak mungkin dia ingin berperang dengan Naren. Itu tidak mungkin! Bukankah dia sendiri yang bilang jika dia tak menyukaiku? Dia selalu memanggilku Tikus Kecil dan menjahiliku di saat ada kesempatan. Aku terus melamun memikirkan berbagai kemungkinan.


"Kamu sakit, Ya?" ucapan itu membuyarkan lamunanku.


"Ehm, nggak kok," sahutku. "Aku cuma ngantuk aja kok, Vit, hehehe."


"Aku kira kamu sakit, kalau sakit kan seharusnya Naren udah tahu dari tadi. Iya kan Ren?!" teriak Vita. Naren tak menyahut, kurasa dia sedang fokus menyetir mobil sambil melihat ke layar GPS.


"Jangan ganggu, Naren," ucap Rino. "Dia baru fokus menyetir! Bahaya tahu! Mobil ini itu baru jalan cepat banget! Kalian jangan berisik, deh! Kita harus sampai ke kantor pembicara secepatnya siang ini sebelum kantor tutup. Kita harus menyampaikan surat permohonan pembicara itu secepatnya," kurasa Rino marah.


Saat ini aku sedang menjadi panitia Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Semnas Hima Aksi). Aku memang tak ikut hima tapi aku ikut dalam kepanitiaan acara hima. Ini cara yang kupilih untuk mengabdi pada program studiku. Alasan lainnya tentu saja karena Naren juga ikut di dalamnya. Naren dan aku sama-sama terpilih menjadi anggota Sie Hubungan Masyarakat (Sie Humas). Rino menjadi anggota Sie Acara. Oh ya, karena pembicara ini sangat penting maka ketua acara ini juga ikut. Nama ketuanya Vita, konon sih dia adalah incaran Rino. Jadi, bisa dibilang Rino ikut kepanitiaan ini untuk PDKT dengan Vita.


"Huh!" dengus Vita. "Gitu aja marah! Kamu nggak asik, Rin!" keluh Vita.


Rino, Rino, jika kamu ingin mendekati Vita, maka jangan tunjukkan sifat pemarah. Vita malah jadi benci sama kamu, tahu! Aku gemas melihat tingkah keduanya.


Ehm, siapa ya pembicara yang ingin diundang? Jujur, aku tak begitu menyimak grup chatting panitia seminar karena malas buka chat-nya yang tumpah-tumpah. Siapa pun itu kurasa dia orang yang penting dan menginspirasi.


"Kita udah sampe, nih!" ucap Naren. Mobil ini nampak berhenti. "Kalian turun dulu aja di lobi sini. Aku nanti nyusul. Biar aku cari tempat parkir dulu!"


Aku, Vita dan Rino pun turun dari mobil. Saat kulihat kantor ini. DEG! Jantungku seakan berhenti. Nampak tulisan raksasa 'Alpha Ava Jaya' Tech Company.


Astaga, apa pembicara yang dimaksud adalah Si Balok Es? Mengapa dunia sesempit butiran pasir sih? 😣 Mengapa aku tak bisa lepas dari bayang-bayang Balok Es sebentar saja? 😢 Bagaimana jika aku nanti bertemu Balok Es saat ini? 😣


_______________________________________


Terima kasih sudah membaca dan memberikan vote dan like pada karya saya 😄


Maaf jika dalam karya ini masih banyak kekurangan dan kesalahan 😢


Maaf belum bisa memenuhi permintaan crazy up dan update setiap hari 😢


Jangan lupa berikan pesan dan kesan di kolom komentar terhadap cerita ini 😄 sebagai masukan bagi author agar dapat membuat cerita yang lebih baik lagi di tahun depan 😍


Terus dukung dan kunjungi karya author ya 😄

__ADS_1


Jangan lupa berikan vote 😄


Selamat menyambut tahun baru 2020 😍


__ADS_2