Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 104 - Parfum....


__ADS_3

"Masih belum bangun juga rupanya," ucap Billy sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya dibalut baju handuk warna putih. Koper besar berwarna hitam, dia buka olehnya. Billy mulai berdandan. Celana jeans dan kemeja warna merah dipilihnya untuk dikenakan hari ini.


"Dia masih belum bangun juga?" ucap Billy sambil menyisir rambutnya. Tak lupa dia mengoleskan pomade ke rambutnya. "Baiklah, tunggu sebentar lagi!" Billy mengambil parfum dari dalam koper lalu menyemprotkannya ke tubuhnya. Aroma segar nan harum tercium di kamar itu.


Apa tadi malam aku terlalu keras padanya, ya? gumam Billy. Dia duduk di tepi ranjang. Nampak Qia masih tertidur pulas sambil memeluk guling. Tubuhnya sebagian besar tertutup selimut. Hanya terlihat wajahnya yang sedikit menyembul keluar.


"Yaya!" panggil Billy. Dia menepuk-nepuk pipi Qia dengan lembut. "Yaya!" panggil Billy lagi. "Ayo bangun! Bangun! Ini sudah pagi!" ucap Billy sambil terus menepuk-nepuk pipi Qia.


"Ehm...." terdengar suara. Mata mungil itu mulai terbuka. Mata itu menatap ke arah Billy.


Ternyata yang kupeluk guling. Dia sudah bangun, ya? Ah! Aku masih ngantuk! gumam Qia. Dia melemparkan guling itu ke arah belakang. Kedua tangannya dengan kuat menarik Billy.


"EH!" ucap Billy kaget. Dia jatuh ke dalam pelukan Qia. "Yaya!" panggil Billy.


"Aku masih ngantuk!" ucap Qia sambil memeluk Billy dengan erat.


"Ya...ehm...." mulut Billy dibungkam dengan ciuman dari Qia. Qia kembali menutup matanya lagi.


Astaga, dia semakin agresif dan berani sekarang, gumam Billy.


"Ayo bangun!" ucap Billy.


"Ehm...." Qia justru mempererat pelukannya.


"Ayo bangun, Yaya!" ucap Billy lagi. "Ini sudah pagi! Apa kau tak ingin ke Menara Eiffel?" bujuk Billy.


"Ehm...aku masih ngantuk! Aku nggak ada jadwal kuliah!" sahut Qia.


Dia ngelindur, ya? Ya sudah, biarlah dia tidur dulu. Aku akan menunggunya, lagipula tujuan kemari kan untuk berlibur, gumam Billy. Dia pasrah berbaring sambil di peluk oleh Qia. Lama-lama memgantuk juga, gumam Billy. Matanya mulai terpejam.


"Ihih!" ucap Qia tiba-tiba. Suara itu mengagetkan Billy.


"Yaya," panggil Billy. "Kau sudah bangun?" ucap Billy. PLAK!!! Satu tamparan dari telapak tangan Qia mengenai wajah Billy. Meski tak terasa sakit tapi tetap saja hal itu membuat kaget.


"YAYA!!!" teriak Billy dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Jangan galak-galak...." ucap Qia. "Aku kan...is...tri...mu...ehm...." ucap Qia lagi. Matanya masih terpejam.


"Dia bisa ya ngelindur sampe seperti ini?" ucap Billy.


Hihihi, sesekali jahil boleh kan? Kapan lagi bisa jahil tanpa dimarahi. Dia kayaknya juga mau tidur lagi, gumam Qia.


"Ehm...." ucap Qia. PLAK!!! Tangan kanannya mengenai wajah Billy lagi.


"Aduh!!!" ucap Billy. "Dia mimpi apa, sih?"


"Jangan dingin! Aku tuh butuh disayang-sayang, tahu! Jangan jadi balok es yang nyebelin...Illy....."ucap Qia. Matanya masih saja terpejam.


"Dia sepertinya mimpi meluapkan perasaan kecewanya padaku," ucap Billy. "Baiklah, aku akan berusaha untuk lebih lunak padamu, Yaya," ucap Billy sambil mencium dahi Qia. "Tapi...jika kau tak lagi jahil seperti ini!" bisik Billy ke telinga Qia.


"Geli! Geli! Geli!" teriak Qia saat Billy menggelitiki tubuhnya. "Ampun! Ampun!" ucap Qia.


"Rasakan! Ini akibatnya berani memukul pipiku, Yaya!!" sahut Billy sambil terus menggelitiki tubuh Qia.


"Ampun! Eh!" saat Qia sadar ternyata dia sudah ada di gendongan Billy.


"Aku bisa mandi sendiri! Turunkan aku!" protes Qia.


Ih, dasar modus! Eh, tapi parfumnya wangi banget. Tumben pake parfum wangi begini. Hihihi, aku suka aroma parfumnya, gumam Qia. Dia hanya pasrah di dalam gendongan Billy.


***


"Kamu nggak bosen daritadi nempel terus kayak gini?" ucap Billy sambil terus menatap ke arah depan. Sesekali matanya menatap ke arah Qia. Qia bergelayut manja di lengan kanan Billy. Kedua tangan Qia memegang erat lengan itu. Kepalanya juga menyandar dengan manja.


"Ehm...." sahut Qia sambil sedikit menggeleng.


Aku nempel terus biar nggak tersesat. Jalanan di sini rame banget. Banyak banget orang yang datang ke sini. Kukira bakalan ke Menara Eiffel ternyata bukan. Tapi, nggak papa deh, kayaknya ke Menara Eiffel lebih bagus pas sore deh, biar bisa liat suasana malamnya juga, guman Qia. Dia menatap ke arah Billy sejenak. Aku masih nggak percaya bisa nempel kayak gini sama dia. Padahal dulu hubungan kita kayak kucing dan tikus. Meski dingin tapi dia nggak protes kalo aku bersikap manja kayak gini. Tapi, jujur, aku suka bau parfum yang wangi itu. Jadi pengen nempel terus-terusan. Ini cuma perasaanku atau memang dia sengaja ya, pake parfum kayak gitu? Biar aku nempel terus-terusan. Ih, mungkin kebetulan aja. Tapi...ini kan baru honeymoon, bisa aja dia sengaja dandan agak beda gitu biar aku seneng dan nempel terus. Ah, nggak usah dipikirin deh! gumam Qia.


Nggak sia-sia beli parfum mahal ini. Sepertinya ini senjata ampuh jika aku ingin memikat Yaya agar bertekuk lutut. Aku lebih suka jika dia anteng seperti ini. Tidak menduakanku dengan benda kotak bernama smartphone itu, gumam Billy.


"Wah, sudah sampe, ya!" celetuk Qia.

__ADS_1


Mata Qia menatap ke arah suatu bangunan yang melintang di tengah jalan. Bangunan itu berbentuk seperti gapura yang gesar. Dari kejauhan warnanya nampak kuning kecoklatan. Bangunan itu berdiri dengan megah dan kokoh. Sebuah lubang tepat di atas jalan berada di bagian tengah bangunan itu. Ornamen-ornamen dan patung-patung megah menghiasi bangunan itu.


"Wah, ini ya yang namanya argh de trompet!" ucap Qia.


"Hahaha!" Billy tak bisa menahan tawanya. "Hahaha..."


"Kenapa? Apa yang kau kau tertawakan?" tanya Qia bingung.


"Yaya...." panggil Billy sambil berusaha menahan tawanya. "Namanya Arc de Triomphe. Triomphe...bukan terompet...hahaha...." Billy akan melangkah kembali, tapi langkahnya tertahan oleh tarikan di lengan kanannya. "Ada apa?" tanyanya sambil menatap Qia.


"Ayo main aplikasi Tok-Tok!" ucap Qia. Dia mengeluarkan smartphone dari tas selempangnya. Pegangan pada lengan Billy sudah dia lepaskan. "Pegangin!" ucap Qia sambil menyerahkan smartphone itu pada Billy.


Nampak di layar smartphone itu sudah terbuka aplikasi Tok-Tok. Dari layar itu nampak Qia sedang melompat-lompat hingga kakinya tertekuk ke arah belakang. Lompatan itu dilakukan berulang kali.


"Kamu ngapain, Yaya? Ngapain lompat-lompat kayak gitu?" tanya Billy heran.


"Aku mau bikin video baru booming. Yang video terbang-terbang gitu! Pegang yang benar, Hub....Eh!" tangan Qia langsung ditarik oleh Billy. Kamera depan smartphone itu diaktifkan. Aplikasi Tok-Tok masih terbuka. "Ehm...." ucap Qia saat Billy mencium bibirnya sebanyak dua kali.


"Nah, ini baru konten yang bagus!" ucap Billy sambil menyerahkan smartphone itu ke tangan Qia. Nampak hasil video di aplikasi itu. Terlihat Bilky yang seolah-olah mencium Qia berulang kali.


Astaga, kok aku jadi geli sendiri ya liat video ini, gumam Qia.


"Ayo, jalan!" ucap Billy sambil menarik tangan Qia.


Sepertinya aku menang banyak sejak tadi malam, gumam Billy.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊

__ADS_1


Thank you 😍


Maaf ya reader, beberapa hari author tidak update 😢


__ADS_2