Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 111 -Password


__ADS_3

"Kamu nggak bakal hilang,Yaya," sahut Billy sambil menggenggam erat pinggang Qia.


Keduanya berjalan lebih dekat ke arah Menara Eiffel itu. Cuaca sedang bersahabat saat Billy dan Qia berkunjung kembali ke sini. Keduanya semakin dekat dengan Menara Eiffel.


"Astaga! Ternyata Menara Eiffel itu besar ya! Eh maksudku sangat-sangat besar!" celetuk Qia sambil memandang takjub ke arah Menara Eiffel yang ada di depan matanya. Nampak empat kaki Menara Eiffel yang ukurannya sangat besar. Kaki itu terbuat dari jalinan besi yang dirakit menjadi satu. "Aku merasa seperti seorang kurcaci saja!" celetuk Qia lagi. "Eh!" Billy menarik tangan kanan Qia.


"Ayo ambil foto dulu!" ucap Billy. Dia mengeluarkan smartphone-nya. Layar kamera depan smartphone itu menyala. Billy langsung memencet tombol sehingga foto dirinya dan Qia langsung terabadikan.


"Ih, kok wajahku aneh, sih!" keluh Qia. Nampak wajah Qia menjadi terlihat aneh. Pipinya melebar dan bertambah chubby sedangkan dahinya justru menyusut. Bibirnya juga menjadi sangat lebar dan tebal. "Hapus!" protes Qia sambil berusaha meraih smartphone Billy.


"No!" ucap Billy. Tangan kanannya menjauhkan smartphone itu dari jangkauan Qia.


"Hapus! Hapus fotonya! Aku nggak suka!" protes Qia. Dia terus berusaha meraih smartphone itu. Kakinya nampak berjinjit setinggi mungkin. Sayangnya tubuh Billy jauh lebih tinggi sehingga semakin menyulitkan Qia. "Hapus! Hapus!" ucap Qia sambil terus berusaha meraih smartphone dari tangan Billy.


"Ayo raih jika kamu bisa, hahaha!" goda Billy. Dia justru semakin menaikkan tangannya ke arah atas. Qia semakin kesulitan meraihnya.


"Sini! Ah, kamu jahil!" ucap Qia. Dia sampai melompat-lompat untuk meraih smartphone itu. "Ah! Terserahlah! Aku capek!" ucap Qia ketus. Napasnya nampak terengah-engah karena melompat-lompat.


"Jangan marah, Yaya. Aku cuma bercanda," ucap Billy.


"Huh!" Qia membuang pandangannya. Mukanya nampak cemberut. Pandangannya nampak menangkap sesuatu yang menarik. "Komidi putar?" ucapnya. Nampak sebuah komidi putar di area itu. "Hubby," panggil Qia. "Ayo naik itu!" ucap Qia sambil menarik tangan kiri Billy.


"Marahmu receh sekali, Yaya," celetuk Billy. Dia mengikuti langkah Qia menuju ke arah wahana komidi putar itu.


"Ayo naik ini, Hubby! Ayo naik!" pinta Qia sambil menarik-narik tangan Billy.


"Iya, iya, sabar," sahut Billy. Dia menuju ke arah loket tiket wahana itu. Tangannya sudah menggenggam dua buah tiket.


"Ayo!" teriak Qia sambil menarik tangan Billy.


"Ck! Kau seperti anak-anak saja, Yaya," keluh Billy.


"Aku kan memang masih kecil. Tubuhku kan belum setinggi kamu yang sudah besar, Hubby. Wkwkwk...." balas Qia. Dia segera melangkah ke arah tempat duduk berbentuk kuda putih. Kuda putih itu dilengkapi dengan pelana. "Sini, Hubby!" panggil Qia sambil menunjuk kuda putih lain di sebelahnya. Billy pun duduk di atas kuda putih itu.


"Ck! Jika bukan karena...." celetuk Billy. Cahaya flash tiba-tiba menerpa wajahnya. "Yaya, kamu ngapain, sih?!"


"Hihihi, aku baru ngambil foto kamu. Ah, kamu imut banget, tahu! Hihihi. Pak dosen yang sok cool kalo di kelas naik komidi putar, hahaha!" ejek Qia.


"Sini! Hapus! Hapus!" teriak Billy sambil berusaha merebut smartphone dari tangan Qia.

__ADS_1


"No! No! No!" tolak Qia. Dia memasukkan smartphone itu ke dalam saku jaketnya. Wahana komidi putar itu mulai bergerak.


"Huh!" Billy nampak kesal. Wajahnya cemberut. Dia membuang muka dan tak menatap Qia.


"Ah! Sakit!" teriak Qia.


"Mana yang sakit?" ucap Billy dengan panik. Dia langsung menatap ke arah Qia. "Huh! Kau membohongiku lagi!"


"Yaya minta maaf, Hubby," Qia menarik tanhan kanan Billy dan mencium tangan itu.


"Ehm...anggap saja kita impas," sahut Billy. "Sudahlah, nikmati saja naik wahana ini. Eh, kau kenapa? Duduk sana di kudamu!" teriak Billy saat Qia turun dari tempat duduknya.


"Aku takut nanti kalo jatuh. Memelukmu kan yang paling aman. Iya kan, Sayang?" ucap Qia dengan manja.


"Dasar manja," ucap Billy sambil memegang pinggang Qia. "Kau sendiri yang minta naik ini, tapi malah sekarang ketakutan."


"Aku tak takut, aku kan hanya ingin memelukmu saja, Hubby," sahut Qia. "Ih, sakit! Jangan tarik hidungku!" protes Qia saat Billy menarik ujung hidungnya.


"Hukuman karena sudah membawa-bawa pekerjaanku saat kita sedang honeymoon!" sahut Billy.


"Iya, iya, maaf, Hubby, Sayangku, Cintaku. Suamiku yang paling kusayangi," ucap Qia sambil tersenyum lebar. "Ih, sakit! Jangan tarik-tarik hidungku lagi!" protes Qia.


"Password? Aku sudah menyebutkannya tadi!" protes Qia.


"Password-nya salah. Aku sudah pernah mengatakannya hari ini!"


"Ih, curang! Kapan kamu mengatakannya? Aku tak pernah mendengar kita punya kesepakatan ini!" protes Qia.


"Stt! Ingat aturan ini, ya! Pasal 1 Billy selalu benar! Pasal 2 jika Billy salah kembali ke pasal 1!" sahut Billy.


Ih, sejak kapan dia jadi ribet begini. Tapi lucu juga sih. Sepertinya dia sudah 'mencair' cukup banyak. Bukan lagi balok es yang kaku. Password apa sih yang dia maksud? Oh, mungkin kalimat tadi. Kuharap aku nggak salah sebut, gumam Qia.


"Ehm...aku tahu password-nya. Dengarkan baik-baik karena cuma bakal kusebutin satu kali aja!" ucap Qia.


"Iya, satu kali saja cukup. Ayo, coba sebutkan," Billy menatap ke arah Qia.


"Brilliant Rexford Hutama," panggil Qia. "Je t'aime, Te amo, Aishiteru, Saranghae," bisik Qia.


"I L Y too, Yaya," bisik Billy sambil mencium dahi Qia.

__ADS_1


Ih, dari kemarin main kiss terus. Tapi nggak papalah. Kapan lagi bisa begini, hihihi, gumam Qia.


"Hubby, setelah ini kita pulang, ya?" tanya Qia.


"Memangnya kenapa?" tanya Billy.


"Jika pulang lewat selatan saja, ya, Hubby," ucap Qia.


"Hah? Kenapa harus lewat selatan?" tanya Billy.


"Karena perasaanku padamu sudah tak bisa lagi di-utara-kan," bisik Qia.


"Kau semakin pandai menggombal, Yaya," celetuk Billy.


"Hihihi, bukankah itu akibat ajaranmu, Hubby," balas Qia.


"Sudah, ayo turun," Billy menggandeng tangan Qia untuk turun dari wahana itu. Keduanya kembali berjalan di atas trotoar lagi.


"Hubby, setelah ini kita benar-benar pulang, ya? Pulang ke rumah maksudku," tanya Qia.


"Kau yakin mau pulang? Baiklah, jika itu permintaanmu. Kurasa kau sudah rindu pada rumah. Padahal aku ingin membawamu melihat salju. Tapi, ya sudah tak apa-apa jika kau ingin pulang," ucap Billy.


"Salju? Tidak-tidak! Ayo, kita lanjutkan honeymoon lagi!" sahut Qia.


Maaf ya menunggu lama (bahkan mungkin sangat lama 😅)


Author butuh waktu untuk menyusun kerangka cerita untuk episode-episode selanjutnya 😊


________________________________________


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2