
Aku menghela napas lega. Tunggu, membantu mandi. Itu berarti aku akan berada di dalam kamar mandi bersama Si Balok Es? Balok Es, kau benar-benar licik! 😣
Balok Es ingin aku melepas pakaiannya? Mengapa aku deg-degan, ya? Mataku ini masih polos! Apa yang ada di kepalamu, Balok Es!
"Mengapa mukamu mulai memerah?" tanya Balok Es. "Aku sudah bilang kan jangan berpikir yang aneh-aneh atau...." ia mendekatkan kepalanya ke telingaku. "Atau, kau ingin aku melakukan hal itu sekarang, Tikus Kecil?" bisiknya.
Sial! Kurasa dia sengaja menggodaku. Membayangkan hal itu terjadi rasanya geli. Kurasa mataku terpejam karena menahan bayangan-bayangan aneh di kepalaku.
"Aku tak keberatan jika kau menginginkannya...." bisik Balok Es lagi.
Telinga dan pipiku semakin berkedut geli. Sial! Mengapa tubuhku seakan kaku begini. Mau bagaimana lagi aku masih polos! Belum mau mendengar apalagi melakukan hal-hal seperti itu.
"Hey, hey!" teriakan Balok Es membuatku terbangun dari alam khayalku. "Aku hanya bercanda, Tikus Kecil! Kau memang benar-benar penakut!" Balok Es tersenyum mengejek. "Sudah, cepat bantu lepas celana dan pakaianku!" perintahnya.
"I...ya, Pak...." jawabku lirih.
Aku belum pernah membantu melepas pakaian seorang lelaki. Ini pertama kalinya. Aku merasa deg-degan, jantungku rasanya berdetak kencang. Dengan perlahan kulepas kancing atas kerah itu. Aku yang memang terlalu polos atau bagaimana sih. Mengapa begini saja aku deg-degan seakan nyaris pingsan. Aku tak berani menatap wajah Balok Es. Kancing-kancing kemeja biru muda itu mulai kulepas perlahan. Jantungku masih berdetak kencang. Hembusan napas Balok Es terasa di kepalaku. Apa mungkin ini karena efek aku dan dirinya yang belum kenal dalam jangka waktu yang lama? Kancing bagian depan itu sudah lepas sepenuhnya.
WOW! Tubuhnya boleh juga! Ini pertama kalinya aku melihat sixpack atau roti sobek sejelas ini. Baru pertama kalinya aku melihat roti sobek secera langsung seperti ini. Ehm, biasanya aku hanya melihatnya di komik, film atau drama korea.
"Apa yang lakukan?" ucap Balok Es. Astaga, apa yang kulakukan! Tanpa sadar tangan kananku sudah menempel di perut sixpack Si Balok Es.
"Ehm...." sial, aku harus menjawab apa?! Aku malu!
"Kau tak berpikir tertarik pada tubuhku kan, Tikus Kecil?" bisik Balok Es di telingaku. "Aku tahu jika aku membuatmu terpesona! Kau tak perlu malu mengakuinya!" bisiknya lagi.
Sial! Kali ini aku tak tahu harus membalas apa.
"Hanya melepas pakaian saja lama sekali!" Balok Es melanjutkan melepas kemeja itu. Satu sisi kemeja sudah lepas dari lengan kirinya. Kurang satu sisi lagi yang sulit dilepas akibat tersangkut gips di tangan kanannya. "Ayo, bantu aku, Tikus Kecil!" perintahnya. Aku bergerak ke arah belakang.
Mata mungilku tak bisa berpaling dari kulit punggungnya yang mulut dan tegap seperti porselen. Apa badan artis-artis korea itu seperti ini ya? Khayalanku melayang membayangkan biasku (bias \= idola) di boyband korea. Pasti menyenangkan bisa memeluk idolaku yang tampan itu. "Kau ini kenapa, Tikus Kecil?!" suara dingin itu membuyarkan lamunanku.
ASTAGA! Saat aku tersadar aku sudah memeluk punggung Si Balok Es dengan erat. Qia, kau ini kenapa sih?! Segera kulepas pelukan itu.
"Kau sangat ingin memelukku? Tak kusangka aku semenarik itu bagimu, Tikus Kecil! Akuilah jika aku ini pria yang mempesona!" bisik Balok Es di telingaku lagi. Rasa malu ini membuatku tak berani membalasnya. "Sudah, bantu aku melepas bajuku!" perintahnya lagi. Aku hanya menggangguk.
Kali ini jangan sampai kehilangan fokusmu, Qia! Kau sudah mempermalukan dirimu tadi! Kupegang kemeja itu pada bagian lengan sebelah kanan. Dengan hati-hati, kubantu memgeluarkan tangan kanan Si Balok Es. Akhirnya kemeja itu lepas. Lebih baik aku tak memandang tubuh Si Balok Es, jangan sampai khayalan gilaku membuatku malu.
"Kau ini kenapa?" tanya Balok Es ketika aku menjauh.
__ADS_1
"Ehm, tidak, Pak. Tidak apa-apa," sahutku singkat sambil menjauh.
"Cepat, bantu saya melepas celana ini!" perintah Si Balok Es.
Jantungku semakin berdetak lencang. Melepas celana? Yang benar saja! Pikiranku mulai terbang melayang kemana-mana.
"Ayo, cepat sini!" Balok Es melambaikan tangan kirinya. Dia sudah duduk di tepi ranjang. Aku mendekat dengan perlahan. Mataku terus menunduk ke arah bawah. Kurasa aku benar-benar masih sangat polos.
"Resleting celana ini sulit dilepas! Saya tak bisa melepasnya hanya dengan satu tangan. Ayo cepat bantu aku, Tikus Kecil!" perintah Si Balok Es.
Jantungku masih berdetak kencang. Mulutku seakan membisu,tak berani membantah atau berdebat dengan Si Balok Es. Aku pun berjongkok di depan Balok Es. Kedua tanganku mulai memegang bagian depan celana itu. Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku membantu seorang pria membuka resleting celananya.
Mataku reflek terpejam setelah tangan berhasil membuka kancing celana itu. Tangan kananku sudah memegang resleting itu, tangan kiriku memegang bagian atas celana kain coklat itu. RET!!! Bersamaan dengan bunyi itu mataku kututup serapat mungkin. Bahkan kurasa aku sengaja membuang muka. Saat tangan kananku merasa bahwa resleting sudah mencapai batas bawah maka aku segera berpaling sambil menutup mataku denhan kedua tanganku.
"Sudah, Pak!" teriakku kencang. Astaga, sifat polosku membuatku bertingkah konyol dan bahkan mungkin bodoh.
"Ehm, saya bilang bantu melepas celana, bukan cuma menarik resleting!" Ayo, kemari! Pekerjaanmu belum selesai!" perintah Si Balok Es.
"Bapak!" teriakku kencang. "Saya masih polos! Berhenti menjahili saya!" teriakku sambil berjongkok membelakangi Si Balok Es. Mataku masih kututup dengan kedua tanganku.
"Siapa yang menjahilimu? Kau saja yang terlalu pengecut, Tikus Kecil! Dasar penakut!" ejek Balok Es. "Hanya membantu melepas celana saja kau ketakutan seperti melihat hantu! Nyalimu ciut!" ejekan itu membakar telingaku.
"Cepat, lepas! Kau sudah membuang banyak waktuku!" dengus Balok Es.
Aku mulai memegangi bagian atas celana itu. Balok Es berdiri di hadapanku. Perlahan-lahan kutarik celana itu ke bawah. SRAK!!! Reflek kupejamkan mataku sambil menarik celana itu ke bawah dengan cepat sekali. BRUK!!! Kurasa celana ini sudah sampai ke lantai.
"SUDAH PAK!!!!" teriakku kencang sambil menutup kedua mataku rapat-rapat. "CEPAT PERGI! SANA!" teriakku mengusir Si Balok Es. Mataku masih kututup rapat-rapat.
"Padahal aku masih memakai dalaman celana kolor pendek! Ckckck! Pikiranmu terlalu jauh terbang melayang, Tikus Kecil!"ucap Balok Es.
Terdengar langkah Balok Es menuju kamar mandi. Kubuka mataku kembali, dia sudah pergi. Jantungku berdebar kencang, kuhela napasku dalam-dalam. Sifat polosku ini membuatku terlihat bodoh di hadapan Balok Es. Tapi mau bagaimana lagi! Aku memang masih polos! 😣
"Tikus Kecil, kemari!" terdengar panggilan Balok Es. "Bantu, aku mandi! Cepat kemari!" teriak Balok Es.
Astaga, jadi ini belum berakhir? Mama, Qia ingin pulang! 😢 Aku masuk ke kamar mandi itu perlahan. Mataku tak terbuka seluruhnya. Aku hanya membuka sedikit saja mataku. Nampak Balok Es sudah ada di dalam bathtub yang penuh busa. Tangan kanannya terangkat ke atas.
"Apa yang kau lihat? Cepat bantu saya mandi!" perintah Si Balok Es. "Ini, bantu saya mencuci rambut!" ia melemparkan botol shampo berwarna hitam ke arahku. Aku hanya mendekat perlahan ke dekat kepala Balok Es.
"Pak, ehm, Bapak kan punya banyak pembantu....ehm...mengapa tak...ehm...menyuruh mereka...ehm saja?"
__ADS_1
"Kau pikir badanku ini bisa dilihat siapa saja? Jangan bicara macam-macam! Cepat cuci rambutku!" teriak Si Balok Es.
Aku hanya menuruti perintahnya. Kuambil shower lalu membasahi rambutnya. Nampak mata Balok Es terpejam. Setelah rambut itu basah, kutuangkan shampo ke tangan kananku dan kuoleskan ke kepala Balok Es ini. Aku seperti pelayan yang melayani tuannya. Shampo itu sudah berbusa saat kuremas-remas rambut Si Balok Es. Sebenarnya aku bisa saja kabur sejak tadi, tapi rasa bersalahku membuatku mengurungkan niatku.
"Biarkan sebentar, sekarang kau bisa membantu menggosok badan saya! Cepat lakukan!" perintah Si Balok Es.
WHAT?! Menggosok? Itu artinya aku akan bersentuhan langsung dengan badannya. Apa hukumannya tak bisa diganti saja.
"Cepat lakukan!" Balok Es menarik tanganku. Kumasukkan tanganku ke dalam busa di bathtub itu. Aku tak berani memandang ke arah bathtub. Tanganku dengan perlahan-lahan memdekat ke arah dada Si Balok Es. Rasanya aku seperti akan menyentuh hantu saja. PLUK!!! Kurasa Balok Es mencengkeram telapak tanganku dan menempelkannya di dadanya.
"Aku ini manusia, bukan hantu atau binatang buas! Kau tak perlu takut! Cepat gosok!" ia melepaskan cengkeraman tangannya. Badannya terasa hangat tapi tetap saja bagi tanganku badan itu terasa menggelikan. Aku tak pernah menyentuh pria seperti ini sebelumnya. Apalagi saat mereka sedang mandi. Rasanya tanganku kaku untuk bergerak. Rasa geli itu tak bisa lagi kutahan.
"AAAA! TAK MAU!" teriakku spontan sambil mengibas-ngibaskan tanganku. "GELI! GELI! AKU TAK MAU! TAKUT! GELI!" entah apa yang merasuki jiwaku hingga tak waras dan berteriak-teriak seperti itu. Aku panik mungkin sampai terlihat bodoh. Kurasa aku berteriak-teriak sambil melakukan lompatan-lompatan konyol.
"HAHAHA!!!!" terdengar suara tawa terbahak-bahak. "Dasar penakut!" ejek Si Balok Es. "Ya, sudah cepat bilas rambut saya!" Balok Es menyerahkan shower ke arahku dengan tangan kirinya. Secepat kilat kubasuh rambut itu sampai busanya bersih tak bersisa.
"SUDAH SELESAI, PAK!!!" teriaku kencang. Aku langsung lari terbirit-birit keluar dari kamar mandi. Jiwa polosku benar-benar membuatku terlihat bodoh hari ini.
"Kau ini benar-benar masih polos, ya!" terdengar suara keluar dari kamar mandi. Aku langsung berjongkok membelakangi kamar mandi sambil menutup mata dengan kedua tanganku. "Hey, aku sudah memakai celana pendek! Hentikan sikap konyolmu itu!" aku mengintip sedikit ke arah suara itu. Benar, Balok Es sudah memakai celana kolor pendek warna biru tua. Rambutnya nampak masih basah.
"Bantu aku memakai kaos!" perintahnya lagi. "Ini bantu aku memakainya!" ia mengambil sebuah kaos merah lengan pendek.
Kuterima kaos itu. Saat aku ingin memakaikannya. Bagaimana cara memakainya? Balok Es jauh lebih tinggi dariku.
"Saya akan duduk di sini!" ia duduk di tepi ujung ranjang. Aku sudah berdiri di depan Balok Es. Ehm, tetap saja aku deg-degan saat ini. Kurasa kepalaku terus tertunduk. "KECOAK!!!" terdengar teriakan.
"AAA!!!" teriakan itu membuatku kaget dan takut. BRUK!!! Reflek aku melompat ke arah Si Balok Es. Tubuhku sekarang berada di atas tubuh Si Balok Es. Kami berdua terbaring di ranjang.
"Aku tak tahu jika kau sangat ingin memelukku, Tikus Kecil!" ejek Si Balok Es. Balok Es, kau benar-benar menyebalkan. Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka.
"Qi...ya!" terdengar suara terkejut. Astaga, mengapa dia bisa ada di sini?! Bagaimana aku harus menjelaskan pemandangan ini? 😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍