Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Season 2 Episode 2. Deep Talk Ala Yaya?


__ADS_3

"Akhirnya sampai rumahmu lagi, sini. Ayo tidur," panggil Billy lembut. Qia ragu-ragu melangkah menuju tempat tidur itu. Bibir Qia yang menyudut kedepan itu tanda tak beres. Sinyal itu ditangkap oleh Billy.


"Ada apa? Aku ada salah apa, Yaya?" tanya Billy.


"Nggak ... Nggak papa. Qia belum ngantuk aja," Qia duduk di sofa sambil memainkan handphone-nya.


"Pasal 1. Yaya adalah cewek. Pasal 2. Cewek selalu benar. Pasal 3. Jika Qia salah kembali ke pasal 2. Pasal 4. Jika Qia bilang nggak papa berarti ada yang salah," Billy mencoba mendekati.


"Apa sih, udah aku bilang kan nggak papa!" Qia merasa tersentil.


"Oh ya, aku sudah membuat 4 pasal yang kuidentifikasikan berdasarkan sifatmu, lho. Kamu kenapa? Wajahmu nggak normal begitu, pasti ada sesuatu. Kamu cemburu sama temenku tadi?" Billy to the point.


"Ehm ... Nggak kok. Ngapain juga cemburu," sahut Qia cuek.


"Pasal 5. jika Qia marah nggak jelas mungkin tamu bulanan mau datang," sentil Billy lagi.


"Apain sih, daritadi nyindir terus. Aku kan belum ngantuk. Kalau mau tidur ya, tidur aja ...." Qia semakin cemberut.


"Nggak enak tidur sendiri. Nanti kalo kamu hilang diculik gimana?" Billy nekat. Dia menyandarkan kepalanya di pangkuan Qia.


"Bapak makin usil aja!" protes Qia.


"Manggil Bapak lagi. Semakin kamu sewot itu semakin lucu. Kayak main game. Sampai mana wajah kecil ini bisa meledak!" Billy menarik pipi Qia.


"Mas, salah apa Adek Sayang?" Mata Qia melotot.


"Kok kamu makin gombal sih. Salah makan ya? Jangan gombal terus ah!" Qia menarik kedua pipi Billy karena gemas.


"Aku cuma ngikutin panggilan tokoh di komik yang sering kamu baca itu, lho. Panggilannya Dek dan Mas."


"Aku insecure ... " Mulut Qia mulai terbuka. "Tante tadi keren. Cantik, putih, mulus. Pintar, mandiri dan wanita karier. Impianku banget. Tipe Mas juga nggak sih?" Tanya Qia. "Kok aku manggil Bapak 'Mas' sih?"


"Hahaha," Billy hanya tertawa. "Istri kecilku bisa insecure juga rupanya ya. Kukira kamu belum memikirkan hal-hal seperti itu." Billy menepuk-nepuk pipi kiri Qia dengan lembut.

__ADS_1


"Istri kecil?" Kedua alis Qis mengernyit. "Aku tuh udah besar. Bukan anak kecil. Mas ah, gombal terus daritadi!" Protes Qia.


"Iya, iya, Sayang. Jangan merajuk terus. Kamu kan masih muda. Masih tahap S1, kalo ingin berkarier jadi dosen bisa kok. Tapi S1-nya lulus dulu ya. Kalo mau insecure, kan kamu masih tunas. Jika diibaratkan pohon. Aku nggak masalah, kalo Yaya pengen sekolah lagi. Yang penting jangan jauh-jauh ya."


"Mas, pernah suka sama dia nggak?" Qia bertanya lirih.


"Yang kupikirkan dulu cuma kuliah dan mengurus bisnis keluarga. Mana sempat mikir urusan cinta," Billy memainkan handphone milik Qia. "Komik favoritmu update, ada drama korea baru juga. Pantas merajuk waktu disuruh tidur."


"Kok Mas setuju sih ... Ih daritadi jadi manggil Mas kan. Bapak kok setuju sih nikah sama Qia? Kan cari yang lebih baik buat Bapak gampang." tanya Qia.


"Ck! Apa gunanya kamu tanya kayak gitu saat kita udah menikah? Jangan panggil Bapak. Kamu mau nggak dapat uang saku?!" Ancam Billy.


"Ya, nggak papa kan tanya. Itu kan hak Qia."


"Yang dipilihkan oleh orang tua Mas pasti yang terbaik. Nikah kan juga mengikat dua keluarga. Nggak cuma dua orang aja. Bibit,bebet dan bobot juga perlu. Orang tuaku sudah effort dalam membesarkanku. Sama saja berkhianat dan durhaka jika tidak menuruti mereka. Apalagi aku anak tunggal. Satu-satunya generasi pewaris selanjutnya. Kamu jangan insecure," sahut Billy.


"Kenapa Hubby, Masku Tercintah, nggak milih wanita dewasa aja? Kan gampang cari yang spek kayak gitu. Circle-mu kan luas, Mas Sayang," gombal Qia.


"Sudah dibilang karena belum kepikiran juga. Kamu kan juga wanita dewasa. Bukan anak di bawah umur. Jangan bahas hal yang nggak penting. Buang-buang energi," sahut Billy.


"Oh, kamu merajuk dan nggak mau tidur karena pengen deep talk?" Billy menyimpulkan.


"Terserahlah mau sebut apa. Aku insecure dan khawatir," Qia mengungkapkan isi pikirannya.


"Aku tidak begitu khawatir. Aku percaya sama Yaya. Pasti nggak akan macam-macam. Semua orang tahu kamu istriku. Ada banyak mata dan sanksi sosial yang menanti jika kamu nakal. Yaya pasti juga ingin melanjutkan hidup dan tak terkungkung masa lalu kan? Pasti tahu bagaimana menentukan sikap," sahut Billy santai.


"Aku overthinking. Besok bakal 45 hari ketemu mantan terus. Satu rumah malahan. Ada mantan tapi nggak ada kamu. Masak kita LDR?"


"Tekonologi udah canggih, Yaya. Kamu bisa video call aku 24 jam. Nanti beli paket data paling bagus," Billy mulai membaca komik favorit Qia.


"Ih, Hubby, Phubbing, nggak seru!" protes Qia.


"Hah? Phubbing apaan?" Billy nampak bingung.

__ADS_1


"Phubbing itu mabuk gawai alias cuek sama orang gara-gara handphone! Qia tuh update ya. Meski nggak baca buku tapi update ilmu juga kok."


"Iya, iya, Mas yang salah Adek Sayang," Billy meletakkan handphone Qia dan menatap Qia kembali sambil berbaring. "Dah, aku siap mendengarkan lagi."


"Ih, Hubby, nggak seru. Aku tuh galau gara-gara KKN. Harus gimana? Qia kan belum pernah jauh dari rumah selama itu."


"Jangan khawatir. Kamu juga sudah jauh dari orang tuamu kan sejak menikah. Anggap saja pindah rumah sebentar. Kalau ada kesulitan, ada Mas yang siap bantu."


"Qia perlu menyiapkan apa, Hubby buat KKN? Aku bingung mulai darimana," keluh Qia.


"Yang pertama disiapkab ya duit, Yaya," sahut Billy jahil. Wajah Qia langsung makin cemberut. "Tuh kan level cemberutmu naik. Makin lucu deh. Yang pertama disiapkan memang dana untuk program kerja pribadimu atau kelompok. KKN kan bentuk pengabdian ke masyarakat. Jadi, buat program yang berguna tapi juga jangan muluk-muluk seperti mau mengaspal jalan."


"Qia bikin program gerakan gemar menabung aja kali ya. Kayak kakak tingkat. Bikin celengan buat bocil-bocil di sana," Qia membelai rambut Billy.


"Proker mainstream anak akuntansi tapi tak papa jika itu yang kau inginkan. Semampunya saja yang penting selesai. Tanganmu hangat, lama-lama Mas tidur ini," Billy usil.


"Ya udah, Qia juga mau bobok!" Billy ditinggal begitu saja di sofa. Qia sudah menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Dia tidur membelakangi Billy.


"Tanganmu kayaknya udah sembuh, ya. Bisa usil seperti ini," Billy pindah berbaring di dekat Qia.


"Dosen Pembinamu saat KKN siapa?" tanya Billy.


"Pak Endra, memang Hubby kenal? Nggak kenal kan pasti?" Qia berbalik menghadap Billy.


"Kenal dong, kalau kamu nakal biar dikasih nilai C," bisik Billy.


"Ih, Hubby Nakal!" protes Qia.


...----------------...


Mampir juga ke karyaku lainnya:


➡️ Istri CEO Muda

__ADS_1


Dijamin nggak kalah seru 🤣


__ADS_2