
"Rexford Sayang!" terdengar panggilan mesra dari seorang wanita. Itu bukan wanita yang pernah kujahili saat di kantin. Sebenarnya, berapa jumlah Nenek Sihir yang kamu miliki Balok Es Gila!
Wanita itu memakai gaun biru panjang semata kaki tetapi ada potongan belahan pada kaki di sebelah kanan samping. Gaun itu juga dari bahan satin, modelnya tanpa lengan. Astaga, potongan kerahnya terbuka sekali, belahan di bagian dada terlihat jelas. Balok Es, kau bermaksud memamerkan koleksi Nenek Sihirmu lagi? Refleks, kulepas genggaman tanganku dari tangan Si Balok Es.
"Sayang!" panggil Nenek Sihir Biru berambut panjang itu. Ia masih saja mendekat ke arah Balok Es. "Aku merindukanmu!" ia merangkul leher Si Balok Es. Mata Balok Es melirikku sejenak. Aura kelicikan terpancar di matanya.
"Saphira, apa kabarmu?" Balok Es itu meladeni cipika-cipiki Nenek Sihir Biru itu.
"Rexford Sayang, aku datang ke pesta ini sendirian. Apakah kamu bisa menemaniku?" tanya Nenek Sihir Biru itu. Ia meringkuk manja lengan kanan Si Balok Es. Pak, jika Anda mau pamer koleksi Nenek Sihir tak usah di depan mata saya! Bapak tak kapok apa?
"T-Rex Jahat!" teriakku kencang, mungkin semua orang dengar. "Permisi!" kelepaskan rangkulan manja Nenek Sihir Biru itu. "T-Rex Jelek ini sudah ku-booking untuk menemaniku seharian full!" kulirik ke arah Si Balok Es. Karena kau sudah membawaku kemari, kau juga harus terus menemaniku, Pak. "HUH!" kukibaskan rambutku. "Ayo masuk T-Rex Jelek!" nampak orang-orang yang berbaris masuk ke dalam gedung berbisik-bisik. Ekspresi Si Balok Es tidak terbaca. Kau pikir aku tak bisa berbuat nekat? Jangan pamer koleksi Nenek Sihirmu saat bersamaku, Balok Es Gila!
"Siapa kau? Berani mengatakan Tuan Rexford yang terhormat sebagai T-Rex Jelek?!" Nenek Sihir Biru itu nampak kesal kuganggu.
"Nona!" ucapku sambil mengibaskan rambut. "Aku ini Si Cantik!" ucapku sambil menyipitkan mata. "Ingat namaku, Kalya! Sekretaris June!" panggilku manja. Orang ini setia ada di samping Si Balok Es. HUH! Sekalian saja kugunakan dia!
"I...i...ya, Nona?" ia nampak ragu.
"Bagaimana cara mengeja nama Si Cantik ini?" kulirik Sekretaris June sambil menyipitkan mata.
"Ehm mengeja?" tanyanya bingung.
"Iya, ejakan nama Si Cantik ini!" kukibaskan tanganku. Mungkin ini hal tergila yang pernah kulakukan, kuperlihatkan cincin kawinku dengan Si Balok Es pada Nenek Sihir Biru itu. "Mengapa kau belum mengejanya!" ucapku kesal. "Kau berani membangkang perintah Nyonya Rexford, HUH?!" kupamerkan cincin itu.
"HAH?!" orang-orang nampak berbisik-bisik. "HAH?! Nyonya Rexford? Kapan Tuan Rexford menikah?"
"I...i...ya, Nona," Sekretaris June terlihat melirik ke arah Si Balok Es. Balok Es terlihat datar saja.
"Kau panggil aku apa? Apa kau mau kehilangan pekerjaanmu? HAH?!" aku pura-pura sok galak. Meski Si Balok Es marah nanti, aku tak peduli.
"Ehm...iya, Nyonya Rexford. Nama Nyonya sangat bagus, ejaannya seperti ini K-A-L-Y-A, Kalya."
"Bagus, Sekretaris June. Kau memang pandai," pujiku. "Ayo masuk T-Rex Tersayang!" rangkulku manja. Setelah pulang dari sini kurasa aku harus nencuci tanganku dengan sabun anti bakteri berulang kali.
"Tentu, Yaya Tercinta," balas Si Balok Es. Kami pun masuk ke gedung itu.
Nampak tamu undangan berjejer di red carpet. Mereka antri untuk menyalami pengantin di pelaminan. WOW! Dekorasi resepsi ini sangat megah, meriah dan mewah. Nampak hiasan bunga-bunga menguasi pinggiran red carpet dari pintu masuk menuju pelaminan hingga ke pintu keluar. Bunga-bunga itu kebanyakan berwarna putih. Pesta ini kurasa bertema white party. Nuansanya dominan putih. Jas dan gaun yang dikenakan keluarga kedua mempelai pengantin berwarna putih.
Mataku melihat ke langit-langit, nampak kristal-kristal kaca yang berbentuk bola-bola kecil yang dirangkai saling berhubungan menjuntai ke bawah. Jumlahnya mungkin ada ribuan rangkaian. Kristal-kristal itu indah seperti bintang yang saling berkelap-kelip. Mataku jelalatan ke segala arah. Jadi seperti ini ya penikahan orang-orang high class itu.
Di samping kanan pelaminan ada live music orkestra kecil yang melantunkan lagu-lagu pop romantis. Terhidang berbagai macam makanan dan minuman yang nampak lezat, mewah dan pastinya mahal. Aku sudah membayangkan jika makanan itu masuk ke perutku ini, pasti menyenangkan. Yang paling aku kagumi adalah ada air mancur bundar tingkat lima di tengah-tengah area pesta. Air mancur itu menambah indah dan syahdu suasana pesta ini. Tiba-tiba...
__ADS_1
"Aduh!!!" sial high heels merah setinggi 5 cm ini membuatku tersandung. Kurasakan ada tangan hangat menangkapku.
"Hati-hati, Tikus Kecil. Aku tahu pesonaku membuatmu takjub tapi jangan mempermalukanku," bisiknya di telingaku.
Pesona? Takjub? HUH! Yang ada saya ingin lari dari kamu, Balok Es Gila! Hey, tunggu. Aku melihat sesuatu di saku luar jas Balok Es ini. Mumgkin ini gila tapi lebih baik kuambil saja agar Balok Es itu tak bisa mengancamku lagi. Kurasa dia tak menyadarinya saat tabung kecoa itu kuambil perlahan dan kusimpan di kantong gaunku.
"Terima kasih sudah datang, Tuan Rexford," pria berjas putih yang nampaknya menantu mempelai menyalami Balok Es duluan. Aku hanya mengikutinya.
"Selamat, Bro," ucap Balok Es pada mempelai laki-laki. Dia sudah agak botak, mungkin mirip om-om gitu. Badannya juga sudah agak tambun dan perutnya buncit.
"Thanks, Bro!" balas sang mempelai. "Wuih, datang sama siapa, Bro?"
"Dia Tikus Kecil yang kunikahi beberapa waktu lalu. Maklum, kakekku ingin segera menimang cicit," ucap Si Balok Es.
Menimang cicit? HUH! Akan kutendang kau duluan, Balok Es Gila! Jika kau berani memaksaku melakukannya! Aku turut menyalami mempelai pria dan wanita. Mempelai wanita terlihat masih muda, mungkin tak beda jauh denganku. Dia nampak tak bahagia di balik riasan dan gaun indahnya itu. Mbak, kita senasib, aku juga terikat karena suatu perjodohan. Setelah menyalami mempelai, kami berfoto dengan mempelai itu. Balok Es ini nampaknya memiliki pengaruh yang kuat, mempelai nampak berterima kasih berulang kali atas kedatangannya.
Instingku langsung menuntunku pada harta karun di pesta ini. Makanan! I'm coming! Aku langsung hanyut dalam euforia kenikmatan makanan itu. Lupakan tentang Balok Es Gila, menikmati makanan jauh lebih penting saat ini. Berbagai makanan eastern dan western kurasakan. Mungkin inilah anugerah dibalik musibah dijahili oleh Si Balok Es. Makanan itu terada lezat sampai....
"Rexford Sayang!" terdengar suara Nenek Sihir Biru itu lagi. Saat kutengok dia sedang menggoda Si Balok Es itu lagi. Kau ingin berperang denganku Nenek Sihir Gila? Takkan kuampuni kau, karena sudah muncul dihadapanku lagi! Nenek Sihir Biru itu dan Si Balok Es ada di dekat air mancur di tengah ruangan.
"Maaf, Saphira, aku harus segera pulang," Balok Es mencoba menjauh.
"Ayolah, Sayang. Kau pasti merindukanku kan? Ayo, kita pergi main dulu. Atau, setidaknya suapi aku sebentar dalam pesta ini,." ia dengan percaya diri merangkul lengan kanan Si Balok Es.
Kuberanikan diri mengeluarkan hewan itu dari dalam kandangnya. Diam-diam kulempar hewan itu ke arah Si Nenek Sihir Biru itu. Aku sedikit menjauh menuju gerombolan para wanita di dekat air mancur lalu....
"AWAS!!! ADA KECOA!!!" teriakku kencang di balik kerumunan.
"Kecoak?!" Dimana-dimana?" para wanita itu panik.
"Itu di gaun biru wanita itu!" teriak salah seorang wanita.
"AAAA!!! KECOAK!!!" teriak Nenek Sihir saat menyadarinya. "PERGI!! PERGI!!" ia mengibas-kibaskan gaunnya. Kulepaskan satu lagi. PLOK!
Hewan itu menempel tepat di wajah wanita itu.
"AH!!! KECOAK!!!" ia panik. Aku berusaha menahan tawaku. "TOLONG!TOLONG!" teriakknya panik. GUBRAK!!! BYUR!! Ia tersandung dan terjatuh ke dalam air mancur itu. Gaun birunya basah kuyup, riasan menor di wajahnya luntur.
"HAHAHA!!!" terdengar suara orang tertawa. Aku juga tak bisa menahan tawa terbahak-bahak.
"Nyonya, mari kita pulang," Sekretaris June menghampiriku. Aku terus tertawa terbahak-bahak hingga di dalam mobil.
__ADS_1
"Itu ulahmu kan, Tikus Kecil," ucap Balok Es dingin.
"Ulah apa, Pak?" aku menghindari menatapnya. "Saya tidak tahu. Nenek Sihir Bapak kali yang mandinya nggak bersih makanya dipakai buat sarang kecoa!"
"Kamu cemburu, Tikus Kecil?"
"Cemburu? Memang Bapak siapa?"
"Saya adalah suamimu, Tikus Kecil!" ia menarik wajahku dan memegangnya tepat di dagu.
"Oh ya, apa buktinya? Bapak punya bukti?" aku yakin dia tak membawa surat nikah sekarang.
"Cincin ini!" ia menunjukkan cincin putih di tangannya.
"Cincin kan bisa dibeli dimana saja, Pak!"
"Kamu ingin saya membuktikannya? Kamu ingin saya mengklaim hak saya sekarang?"ia nampak kesal.
"Memang Bapak berani? HAH?!" kutantang dia. Aku yakin dia tak berani. Kecoa itu kan sudah kusingkirkan.
"June, berhenti di hotel depan sekarang juga!"
"Ba...ba...ik...Tu...an!" nampak mobil benar-benar berhenti.
"Suruh para penjaga mengosongkan hotel, kosongkan hotel ini! Cepat!"
"Baik, Tuan!" Sekretaris June nampak ketakutan. WHAT?! Apa yang terjadi? Mengapa situasinya jadi seperti ini sekarang?
"PAK!!! LEPASKAN!!!"aku meronta-ronta. Balok Es ini menggendongku secara paksa keluar dari mobil. "PAK!!! LEPASKAN!!!"
"DIAM!!!" teriaknya. Aura Balok Es ini sungguh menakutkan. Aku terus berusaha melawan agar lepas dari cengkeraman gendongannya. Astaga, tepat di depan mataku adalah pintu kamar hotel yang telah terbuka.
BRUK!!! Tubuhku dibanting di ranjang itu. Balok Es menatapku dengan mengerikan. Tubuhku kaku, Sepertinya aku masuk ke perangkapku sendiri kali ini. Apa aku benar-benar kalah dari Si Balok Es kali ini?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍