Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 26 - Sentuhan Itu....


__ADS_3

Aku senang beberapa hari ini, Balok Es tak pulang ke rumah. Kurasa dia sibuk dengan urusan kantor. Aku jadi merasa seperti seorang putri yang berkuasa penuh di rumah ini, wkwkwk. Besok adalah hari Sabtu. Waktunya kunjungan ilmiah, entah karena dia berubah pikiran atau karena terdorong usaha gilaku waktu itu, aku sudah tak peduli. Aku sudah tak sabar untuk pergi. Naren, ayo kita ukir banyak kenangan besok. Balok Es tak pulang ke rumah, aku bisa sedikit menenangkan hatiku akibat kenekatan cap ciuman waktu itu. Saat ini aku sedang membuat kue kering khusus untuk bekal kunjungan ilmiah ini. Naren pasti suka.


"Kukira Tikus Kecil hanya bisa makan saja!" terdengar suara dingin dari arah pintu dapur. Astaga, itu Si Balok Es. Kapan dia pulang? Dia sudah memakai setelan piyama biru muda. "Apa yang kau masak malam-malam begini, Tikus Kecil? Apa makanan yang dimasak koki tak membuatmu puas?" ia mendekat ke arahku.


"Saya memasak bekal untuk kunjungan ilmiah besok," aku mengabaikannya lalu mengeluarkan kue dari dalam oven. Nampak kue kering yang berwarna kuning keemasan. Balok Es nampak melihatnya. "Kue ini dibuat dengan bahan-bahan instan, bukan dari bahan organik, Pak!" ucapku setengah berteriak.


"Kau kira saya tertarik mencicipinya? Jangan terlalu percaya diri, Tikus Kecil!" ia membuang muka lalu duduk di sofa. Dapur rumah ini berbatasan langsung dengan ruang menonton TV.


"Ya sudah, saya juga memasaknya khusus untuk Naren kok, Pak!" balasku. Aku tak mau kalah dari Si Balok Es. "Sayang, Bapak tak bisa ikut kunjungan ilmiah besok."


"Siapa yang bilang kamu bisa pergi besok?!" ucap Balok Es datar. "Saya ingin menagih janjimu waktu itu. Besok kamu harus menemani saya sebagai Kalya lagi! Ingat, kau janji akan memberikan waktu satu hari penuh untuk menurut pada tuanmu ini, Tikus Kecil. Kau janji saya boleh menentukan kapan pun itu," Balok Es tersenyum licik sambil melirikku. Dasar Balok Es licik! Mengapa dia menagih janjinya saat aku akan pergi kunjungan ilmiah? Sial! Apa aku harus menjadi tak waras dan merayunya lagi?


"Saya tak mau!" tolakku keras.


"Kamu mau hewan manis ini saya masukkan ke dalam Cici Tercintamu ini?" Balok Es nampak menggenggam tabung berisi kecoa. Sial, sejak kapan Cici, bonekaku tercinta, ada di situ! Aku tak bisa tidur nyenyak tanpa Cici. Dia sudah menemaniku sejak balita. Jika ada kecoa di dalam Cici...aku tak bisa membayangkan bagaimana aku harus mengusirnya.


"T-Rex Tersayang!"panggilku sambil mendekatinya. Aku mungkin sudah gila. "Jangan begitu, Yaya hanya bercanda," aku harus membujuk Balok Es ini agar tak merusak Ciciku yang berharga. "Tolonglah, T-Rex Tersayang, pertimbangkan lagi," ucapku sambil memijat kakinya. Aku sudah duduk di sofa yang sama dengannya. "Tolong pertimbangkan waktu menagih janji itu, T-Rex Tersayang. Yaya pasti akan memenuhinya". Aku tak takut pada ancaman apa pun tapi ini ancaman kecoa, hewan yang paling kubenci dan kutakuti. Terpaksa aku harus menjilat Balok Es ini. Apalagi Ciciku yang berharga ada di genggamannya.


"Ehm, kau ingin aku mempertimbangkan waktuku menagih janji, Tikus Kecil?" tanya Balok Es. Aku menggangguk-angguk. "Baiklah, aku takkan memagih janjiku besok. Kau bisa ikut kunjungan ilmiah. Tapi, aku ingin tambahan keuntungan dari kompromi ini," ucapnya sambil menjadikan Cici bantal untuk berbaring di sofa. Tabung kecoa itu masih dipegangnya.


"Apa yang T-Rex Tersayang inginkan?" aku bertanya sambil tersenyum. Setelah ini selesai aku harus berkumur dengan obat kumur sebanyak mungkin.

__ADS_1


"Aku ingin waktu kau menurut padaku jadi tiga hari. Satu hari sesuai janji dan dua hari lainnya sebagai kompensasi penundaan akibat kunjungan ilmiahmu. Apa kau setuju?" tanyanya dingin dan seram. Aku hanya menggangguk, tambahan hari? Oke, tak masalah!


"Aku juga ingin makan cemilan stik kentang itu!" ia menunjuk setoples makanan berbentuk seperti batang lidi berwarna kuning. Aku ingin kau menyuapiku," Balok Es tersenyum licik. Sial, Balok Es ini sudah menempatkan kepalanya tepat di pangkuanku. Padahal tadi aku berencana lari ke kamar setelah merebut Cici. "Mengapa kau diam saja? Kau menolak?" ia mengarahkan tabung kecoa ke arahku.


"Tidak, T-Rex Tersayang. Mana mungkin Yaya menolak."


"Bagus, suapi aku dengan mulutmu, Yaya," ia tersenyum licik. WHAT? Suapi dengan mulut? Apa maksudnya?


"Apa maksudnya, Pak? Bukankah lebih baik jika Bapak disuapi dengan tangan?"


"Ada kuteks di kuku tanganmu. Saya tak mau makananku terpapar bahan kimia!" ia memang pandai membuat alasan. "Cepat lakukan!" perintahnya. Kurasa dia sedang menjahiliku.


Kubuka toples itu, kugigit satu batang cemilan itu dengan mulutku. Kuarahkan ke dalam mulut Balok Es yang berada di bawahku. Kepalaku menunduk agar Balok Es-yang ada di pangkuanku-bisa menggigitnya. Balok Es menerimanya langsung dengan mulutnya. Ia memotong makanan itu dengan giginya. Otomatis makanan stik kentang itu berkurang panjangnya. Apa ini modus Si Balok Es agar bisa menciumku? Wajahku otomatis semakin dekat dengannya. Aku harus membuat sisa stik kentang yang pendek ini masuk ke mulutnya. Bibir kami saling berdekatan satu sama lain hanya berjarak beberapa mili saja. Hembusan napasnya bisa kurasakan. Mataku menatap mata elangnya yang dingin itu.


"Ada apa?" tanyanya ke arah sumber suara itu. Ternyata itu Sekretaris June.


"Tuan, ada laporan dari perusahaan cabang," ucap Sekretaris June. Balok Es langsung saja pergi bersama Sekretaris June. Aku masih membekap mulutku. Cici langsung kuambil. Aku langsung berlari ke kamarku. Kulempar tubuhku di atas kasur. Wajahku kubenamkan pada bantal.


Apa yang terjadi tadi? Apa itu bisa disebut ciuman di bibir? Apa aku benar-benar sudah mencium Si Balok Es di bibir tadi? Tapi itu kan ketidaksengajaan! Berbagai pikiran tentang persentuhan dua bibir tadi terus berkecamuk di pikiranku.


***

__ADS_1


Aku tak bisa tidur tadi malam akibat persentuhan dua bibir itu. Apa tadi malam aku benar-benar mencium Balok Es? Mataku kurasa berkantung dan terlihat seperti mata panda. Sudahlah lupakan, setidaknya Si Balok Es tak ikut kunjungan ilmiah ini.


Aku sudah membawa tas gendong berisi makanan, pakaian, alat tulis, dan make up. Aku menghela napas, kue yang sudah susah payah kubuat tadi malam hilang begitu saja tanpa bekas. Kurasa Si Balok Es Gila itu yang melakukannya. Tak apa, yang terpenting aku bisa bebas dari bayang-bayangnya sejenak selama kunjungan ini. Kunjungan ilmiah ini adalah adalah satu program kerja yang menyenangkan. Kunjungan ilmiah ini berisi agenda mengunjungi UKM penelitian tingkat fakultas di universitas lain. Tentunya universitas yang dipilih tentu ada di luar kota. Jadi, bisa sekalian piknik.


"Naren!" aku langsung berlari ke arahnya setelah turun dari taksi online. Naren sudah ada di depan bus berwarna biru. Ia sudah memakai jas berwarna hijau tozka sama sepertiku. Ya, jas ini adalah seragam anggota UKM penelitian FE, semacam baju kebesaran.


"Tuan Putri!" ia menghampiriku. "Kukira kau terlambat!" ia merapikan poniku.


"Naren, ayo kita berfoto di depan bus!" aku mengeluarkan tongsis dari dalam tasku lalu memasangnya di smartphone-ku. Kuatur timer pada kamera depanku. Aku mengajak Naren untuk foto berdekatan saja. Tapi siapa sangka dia berpikiran lain. Saat timer itu mulai berjalan dia mengarahkan wajahnya ke arah pipiku. Kurasa dia ingin berpose sambil mencium pipiku....


"Apa kunjungan ini sebagai modus untuk pacaran!" terdengar suara dingin dan mengerikan dari arah depan. Suara itu membuatku dan Naren tak jadi berfoto. Tunggu, suara dingin ini sangat familiar. Saat kulihat ke arah depan ternyata itu...


"Pak Rexford!" ucap Naren. Itu Si Balok Es! Mengapa dia ada di sini sekarang? 😨


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2