
Ck! Siapa lagi pria ini, gumam Billy. Mata Billy terus mengamati Vino dan Qia. Tatapannya tajam nan dingin. Qia masih saja tak menyadari hal itu. Dia masih saja sibuk mengobrol dengan Vino. Ck! Ini baru di kampus. Jika di luar kampus, sudah kutarik Yaya daritadi. Sayangnya ini di dalam kampus, jika Yaya tak diganggu, aku tak bisa bertindak. Ck! Begini dilemanya punya istri yang berstatus mahasiswa satu kampus. Aku harus tetap menjaga citraku sebagai seorang dosen. Sabar, sabar! gumam Billy. Dia menghela napasnya.
"Hahaha!" terdengar lagi suara tawa Qia. Dia masih asyik bercerita dengan Vino.
"Kalo inget jaman dulu tuh lucu. Kamu dulu kan pernah ya ngasih surat cinta ke aku!" goda Vino dengan suara keras. "Hayo!!! Ngaku! Hahaha!"
"Apa? Surat cinta?" ucap Billy spontan. Billy menghela napas lagi.
"Ah! Kak Vino!" ucap Qia sambil menutup wajahnya dengan tangan kiri. "Aku kan jadi malu....itu kan..."
"Aku masih nyimpen suratnya, lho. Hahaha!" goda Vino lagi.
Astaga! Baru saja lepas dari satu mantan. Mantan yang lain muncul! Sungguh menyebalkan! gumam Billy. Tanpa sadar, kedua tangannya sudah mengepal erat.
"Apaan sih, Kak. Itu kan cuma surat buat seru-seruan aja waktu OSPEK. Itu bukan surat cinta, ya. Itu cuma surat dari fans, tahu! Kalo nggak disuruh bikin surat tanda terima kasih buat kakak-kakak panitia OSPEK,aku juga nggak akan bikin kok. Kakak tahu kenapa akh ngasih surat itu? Ada alasan spesial lho!" goda Qia balik.
"Apa? Kasih tahu aku!" tanya Vino balik.
"Itu karena...karena..." ucap Qia dengan nada yang membuat penasaran. "Karena... aku ...su ...ka...."
Yaya, kamu sungguh-sungguh menyukai pria ini? Jangan bilang kau menduakanku lagi! gumam Billy.
"Kamu suka aku? Jangan bercanda!" sela Vino.
"Idih! Kak Vin. Pede banget! Aku kan belum selesai bicara. Aku ngasih surat itu karena aku suka kasihan sama Kak Vin yang keliatan banget gitu jomblo dari lahir, hahaha! Kak Vira, pemanduku yang bilang gitu. Katanya kasih ke Kak Vin, ya, Dek. Kasihan dia jomblo dari lahir, hahaha!"
"Astaga!" Vino geleng-geleng kepala. "Ternyata di angkatanmu, reputasiku begitu, ya. Pantas waktu itu aku dapat surat banyak dari maba gugusmu. Ternyata kerjaannya Vira. Liat aja nanti waktu nge-date kukerjain balik dia. Nggak nyangka aku waktu belum jadian, dia berani bilang gitu di belakangku. Ah ya, aku ke atas dulu, ya! Mau liat dosen pembimbingku dah datang belum," Vino menenteng tasnya.
Astaga! Ternyata hanya bercanda. Sebaiknya, aku segera turun, gumam Billy. Dia segera menuruni tangga menuju lobi.
"Ayo keluar!" Billy tanpa ragu meraih tangan Qia dan segera menggandengnya keluar dari gedung itu. Keduanya segera berjalan menuju parkiran motor. Billy memandang Qia sejenak. "Kau selalu membuatku bingung dan terkejut!" ucap Billy. Dia lalu memasangkan helm ke kepala Qia.
"Hah?" Qia terkejut mendengar hal itu.
Aku salah apa sih? Perasaan aku nggak berbuat aneh-aneh tadi, gumam Qia.
"Hubby, ehm ... ada apa? Apa aku berbuat sa ... lah?" tanya Qia ragu-ragu.
"Ayo, cepat naik! Sudah, lupakan saja! Lebih baik kita pergi mencari obat untukmu, Yaya!" Billy menyalakan motor itu. Qia segera naik. Motor itu melaju meninggalkan area parkir.
"Hubby, kita mau ke dokter tulang, ya? Ehm...apa nanti aku bakal disuntik?" tanya Qia.
"Kau akan tahu nanti!" ucap Billy singkat. Motor itu melaju ke arah sebuah komplek bangunan yang megah dan bertingkat. Qia sangat familiar dengan bangunan itu. Motor itu berhenti tepat di parkiran belakang bangunan.
"Mall? Apa dokternya membuka praktek di mall?" Qia turun dengan ragu.
"Coba tebak. Kau seharusnya sudah tahu!" Jawab Billy singkat.
"Oh, kita janjian sama dokternya di mall,ya? Memangnya boleh praktek di mall?" tebak Qia. Billy diam saja. Dia hanya fokus berjalan sambil menggandeng tangan Qia memasuki mall itu.
"Nah, kita sudah sampai!" Billy menghentikan langkahnya di depan suatu toko.
"Ini kan toko baju dan make up. Apa dokternya punya usaha sampingan juga?" tanya Qia lagi.
"Hah! Astaga!" Billy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Yaya, aku membawamu kemari. Menurutmu obat apa yang kumaksud?"
"Ehm...." Qia berpikir sejenak. "Oh, kau mengajakku bertemu di dalam mall agar aku tak merasa takut waktu konsultasi! Benar kan, Hubby?" ucap Qia percaya diri.
__ADS_1
"Astaga! Apa kepekaanmu jadi hilang karena kecelakaan itu? Aku mengajakmu belanja, Yaya. Be-lan-ja. Agar kau senang! Itu obat yang kumaksud!" Billy mencubit kedua pipi Qia karena gemas.
"Oh, belanja. Tapi aku tak butuh apa pun, Hubby. Make up-ku masih kok. Tapi ... kalo lihat-lihat sebentar sepertinya boleh, hehehe. Aku cuma mau lihat-lihat kok ..." Qia segera berjalan memasuki toko pakaian dan make up itu.
Ah, karena sudah di sini. Lihat-lihat dulu bolehlah. Hihihi, Hubby, kamu gemesin deh waktu ngasih kejutan gini, gumam Qia.
"Makasih, Hubby. Sudah mengajakku lihat-lihat baju, hehehe! Sini kubantu bawain tasnya yang kecil!" Qia mengambil paper bag dari tangan Billy.
"Katamu tadi tak beli apa pun. Kenapa waktu kita keluar jadi banyak tentengan," goda Billy.
"Hubby, tadi aku baru ingat jika perlu beberapa barang. Lagipula kau mengajakku kemari untuk mencari obat. Karena itu tak baik jika aku menyia-nyiakan usahamu."
"Ehm...kau makin pandai bersilat lidah, Yaya. Sudah siang, ayo makan dulu!" Billy mengajak Qia masuk ke area food court.
Mata Qia memandang ke arah suatu toko. Nampak toko peralatan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Berbagai peralatan warna-warni tersusun rapi di sana.
Jadi pengen punya peliharaan. Buat temen di rumah kayaknya seru, gumam Qia.
"Hubby, aku pengen makan bakso aja. Bakso jumbo!" Qia menunjuk ke arah salah satu tempat makan.
"Baiklah, ayo!" Billy menggandeng Qia masuk ke sana. Keduanya memilih tempat duduk yang saling berhadapan. Tak lama setelah memesan pesanan keduanya datang. Semangkok bakso jumbo berukuran besar untuk porsi dua orang.
"Nah, ayo makan, Yaya!" Billy menyuapkan bakso kecil terlebih dahulu kepada Qia. Qia sudah menelannya dalam waktu singkat. Tangan Billy lalu menyuapkan bakso kecil ke mulutnya.
"Hubby, aku pengen punya anak bu ...."
ANAK?! gumam Billy.
"Uhuk! Uhuk!" Billy spontan langsung tersendak mendengar ucapan Qia. Dia langsung berusaha mengatasinya dengan meminum air yang tersaji di meja.
"Yaya, kita bahas ini di rumah saja, ya!"
"Apa maksudmu? Kau tak mengizinkanku?"
"Tidak, bukan begitu."
Yaya, ini bukan hal yang pantas dibahas di tempat publik seperti ini, gumam Billy.
"Kenapa? Aku kan cuma pengen punya anak bulu. Aku pengen punya kucing buat temen di rumah, Hubby."
"Anak bulu?" Billy tercengang. "Maksudmu kau ingin punya kucing?" Qia menggangguk-angguk dengan semangat.
Astaga! Dia membuatku tersendak karena hal ini. Sabar, Billy, sabar, gumam Billy. Lainkali kau harus mendengarkan ucapan Yaya sampai tuntas dulu. Kenapa juga tidak langsung bilang kucing saja. Sabar! Sabar! gumam Billy.
"Boleh kan? Aku cuma pengen punya satu aja kok. Boleh ya, boleh, ya?" pinta Qia.
"Ehm...terserah padamu. Ayo, yang penting makan dulu! Ini suapan bakso jumbo pertama!" Billy menyuapi Qia. Mata Qia melihat smartphone Billy. Dia lalu mengambilnya dengan tangan kirinya.
"Hubby, apa password kunci layar smartphone-mu?" tanya Qia sambil mengarahkan layar smartphone itu.
Astaga, Yaya, kau mau apa lagi sekarang? Sabar, Billy, sabar! gumam Billy.
"Password-nya tanggal lahirmu!" ucap Billy.
"Tanggal lahirku?" Qia terkejut. "Kamu ternyata so sweet ya!" Qia mengetik tanggal lahirnya untuk membuka password.
Apa dia curiga aku macam-macam? Biasanya dia tak pernah seperti ini, gumam Billy.
__ADS_1
"Kamu mau apa, Yaya? Mau tethering sinyal?" tanya Billy.
"Bukan. Kuotaku masih kok. Di sini kan ada wifi juga." Qia menatap Billy. "Nih, kalau mau gantian mainin HP-ku," Qia menyodorkan smartphone-nya.
Apa dia mencoba mengetesku? Perilakunya aneh sekali. Apa dia mencoba mengetes kepercayaanku padanya? gumam Billy.
"Aku percaya padamu. Sudahlah, aku percaya kau takkan macam-macam di belakangku," ucap Billy.
"Hubby, apa nama username dan password media sosialmu yang ini?" Qia menunjuk salah satu logo media sosial.
"Aku percaya padamu sepenuhnya, Yaya. Tapi jika kamu ingin mengecek media sosialku, aku takkan keberatan. Jika itu bisa membuatmu lebih percaya padaku." Billy mengetik password dan username akun miliknya di aplikasi note di smartphone Qia.
"Hubby, kok kamu jadi serius banget, sih. Aku kan cuma mau pinjem HP-mu buat bikin akun vote."
"Hah? Akun vote?" Billy terlihat bingung.
Apa ini metode bisnis baru? Apa aku tertinggal update berita ekonomi terbaru? gumam Billy.
"Kau ingin bisnis apa, Yaya? Akun untuk apa?" tanya Billy.
"Bisnis? Apa maksudmu? Aku mau bikin akun buat vote, Hubby," sahut Qia.
"Vote? Vote apa?" Billy semakin bingung.
"Vote boyband K-Pop idolaku di acara survival show. Aku harus dukung biar posisi mereka aman dengan bikin akun vote sebanyak mungkin. Nah, aku sudah buat akunnya. Pokoknya biasku nggak boleh tersingkir dari posisi tiga teratas. Hubby, jangan dihapus ya sampai survival show-nya selesai, hehehe." pinta Qia.
"Iya, Yaya." sahut Billy singkat.
Kenapa sejak tadi aku salah paham terus. Yaya, tingkahmu semakin sering membuatku bingung, gumam Billy. Dia meminum jus yang dipesannya tadi.
"Hubby, setelah ini beli peralatan bayi, yuk!" ujar Qia santai.
"Uhuk! Uhuk!" Billy kembali tersendak.
Astaga, Yaya, apa lagi ini?! gumam Billy.
"Hubby, kamu kenapa? Kamu sakit? Kok daritadi kayak batuk."
Aku tersendak karena tingkahmu yang makin nggak jelas, Yaya, gumam Billy.
"Aku mau beli peralatan bayi buat ngasih kado temen SMA-ku yang baru saja lahiran. Rumahnya lumayan deket dari rumahku."
"Maaf, kamu Rexford kan?" seorang wanita tiba-tiba menghampiri meja tempat makan Qia dan Billy.
_______________________________________________
Terima kasih kepada para reader yang setia membaca dan mendukung karya ini.
Maaf baru update lagi setelah hiatus lama sekali.
Author sudah wisuda 😊
Terima kasih bagi para reader yang sudah mendoakan kelancaran author dalam mengerjakan skripsi.
Mohon doanya juga semoga author bisa diberi kemudahan dan kelancaran dalam mencari pekerjaan di dunia nyata 😊
Mohon doa dan dukungannya juga agar novel ini bisa menang di Lomba You Are a Writers 5😁
__ADS_1