Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 115 - Janjiku....


__ADS_3

"Sudah selesai belum make up-nya? Ayo kita sarapan!" ucap Billy sambil mendekat ke arah Qia. Dia masuk ke dalam kamar mandi.


"Belum, sebentar lagi!" sahut Qia. Dia masih sibuk memakai foundation dan bedak pada wajahnya. Nampak alat make up tergeletak di atas meja kecil yang ada di kamar mandi itu. Qia sibuk menatap ke arah cermin.


Astaga, tanda di leherku jelas banget. Ini gara-gara permintaanku tadi malam. Harus disembunyikan pokoknya. Malu kalau sampe diliat orang, gumam Qia. Dia sibuk mengoleskan foundation pada bagian lehernya.


"Lama banget make up-nya," ucap Billy. "Kamu udah cantik, Yaya," Billy memeluk Qia dari arah belakang. "Tanpa make up-pun, Yaya yang paling cantik," Billy mencium pipi kanan Qia. "Jangan tebal-tebal pake make up-nya. Aku kalau mau kiss jadi nempel, nih," keluh Billy sambil membersihkan sisa bedak dari bibirnya.


"Aku biasanya pake tipis-tipis. Tapi liat nih!" Qia menunjuk ke arah lehernya. "Ini kan gara-gara kamu!" protes Qia. Dia melanjutkan mengoleskan foundation pada lehernya.


"Gara-gara aku? Hey, ingat tadi malam yang minta siapa. Aku cuma menuruti keinginanmu, Yaya. Oh, apa kamu malu buat keluar kamar? Ya udah, gimana kalo pagi ini kita di kamar kamar aja. Aku nggak keberatan kok, Sayang...." goda Billy.


"Iya, iya, ayo sarapan!" sela Qia. Dia segera menyelesaikan make up-nya. Lalu membereskan peralatan make up itu ke dalam pouch kecil.


Di dalam kamar seharian? Duh, aku bisa nebak apa yang bakalan terjadi. Jadi malu sendiri nih, gumam Qia.


"Ayo turun ke bawah!" ajak Qia sambil memakai jaket tebalnya.


"Siapa yang bilang harus turun ke bawah? Sarapannya sudah siap daritadi," Billy menunjuk ke arah meja di dalam kamar itu. Nampak dua porsi roti dan dua porsi sup dengan asap yang mengepul. "Ayo, makan!" ucap Billy sambil duduk di kursi.


"Ehm...." Qia segera menempatkan diri di kursi, tetapi dia lalu menggeser kursi itu jauh dari Billy. Dia segera memakan sup dan roti yang disediakan dengan cepat. Billy menatap tajam ke arah Qia.


"Kamu kenapa kok duduknya jauh kayak gitu? Sini! Emang aku salah apa, sih?" protes Billy.


"Nggak mau, aku sini aja. Nanti kalo duduk dekat kamu, aku malah nggak fokus sarapan. Kamu itu bikin aku pengen kiss terus, tahu!" Qia segera menutup mulutnya. Billy semakin menatap tajam ke arah Qia.

__ADS_1


"Heh? Apa kamu bilang tadi? Pengen kiss terus? Aku nggak menyangka kamu sebucin itu padaku," ejek Billy.


"Sudah ah, nanti aku tersendak lagi!" ucap Qia ketus. Dia segera menghabiskan sarapannya. "Kamu ngapain sih!" protes Qia saat Billy mencubit pipi kanannya.


"Kamu itu gemesin, Yaya," ejek Billy.


"Sudah cepetan sarapannya!" protes Qia.


****


"Wah, ini ya kereta gantungnya!" Qia menatap ke arah pintu masuk wahana kereta gantung itu. Nampak antrian pengunjung berbaris cukup panjang. Billy sedari tadi sengaja tidak menggandeng Qia.


"Hubby, jangan tinggalkan aku!" protes Qia. Dia segera memegang erat lengan kanan Billy.


"Tadi waktu sarapan nggak mau deket-deket sekarang balik nempel kayak perangko," ejek Billy.


Billy pun membeli dua buah tiket. Setelah itu tibalah waktu giliran Billy dan Qia masuk ke dalam kereta gantung. Kereta gantung itu berwarna hitam. Ada satu pintu untuk keluar dan masuk. Terdapat empat jendela kaca di keempat kaca kereta gantung itu. Billy masuk sambil menggenggam erat tangan Qia. Pintu kereta gantung itu ditutup oleh petugas. Kereta gantung itu mulai berjalan. Kereta gantung itu berjalan naik menuju ke atas bukit.


"Hubby, takut!" ucap Qia sambil memeluk erat Billy.


"Tenanglah, tak akan terjadi apa-apa. Bukankah kita pernah naik kereta gantung dulu ketika di wahana salju buatan? Tak ada bedanya dengan yang ini, Yaya."


"Beda! Waktu itu bukan kereta gantung tapi ayunan gantung! Kalau yang ini kereta gantung beneran!" sahut Qia.


Nampak pemandangan hamparan salju yang indah. Pohon-pohon cemara yang tinggi menjulang nampak berderet-deret di tepi jalur kereta gantung ini. Tiang-tiang penyangga kereta gantung yang tinggi menjulang juga terlihat jelas. Seringkali kereta gantung yang ditumpangi Qia dan Billy berpapasan dengan kereta gantung lain. Kereta gantung itu mengarah menuruni bukit pada di jalur yang berbeda.

__ADS_1


"Hubby, pemandangannya cantik sekali!" ucap Qia takjub. Kedua tangannya sampai menempel pada jendela kaca. "Wah! Sungguh menakjubkan!" celetuk Qia. Pipinya sampai menempel pada jendela kaca itu.


"Kau senang?" ucap Billy.


"Tentu saja! Dari dulu aku sangat ingin melihat salju!" sahut Qia dengan ceria. "Bukan hanya senang tapi amat sangat senang sekali!"


"Syukurlah, akhirnya aku bisa memenuhi salah satu janjiku padamu, Yaya," Billy memeluk Qia.


"Salah satu janji? Memang ada janji lainnya?" tanya Qia.


"Tentu, saja ada," sahut Billy.


"Apa? Katakan padaku, Hubby. Jangan membuatku penasaran!" desak Qia.


"Aku berjanji akan selalu membuatku bahagia dan aman di sampingku hingga maut memisahkan kita, Yaya,"ucap Billy lembut.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2