
Perjalanan sungguh melelahkan. Aku benar-benar berjalan kaki dari cafe itu menuju rumahku. Hari hampir tengah malam. Balok Es Gila teganya dirimu padaku! Gerbang rumahku sudah terlihat, aku segera masuk ke sana. Ternyata orang tuaku masih berada di luar kota untuk suatu urusan.
"Non, astaga, Non kenapa kok pulang jalan kaki?" sambut bibi pembantuku.
"Ceritanya panjang, Bi! Aku capek!" aku segera menaiki tangga menuju kamarku di lantai atas. BRUK!!! Aku langsung tertidur sambil memeluk boneka hamster pemberian Naren. "Aku akan memanggilmu, Momo," kuberi nama boneka itu Momo.
Kurasa hari sudah pagi. Saat aku hendak bangun, kurasakan tubuhku sudah tertutup selimut dan ada seuatu yang hangat memeluk tubuhku dari arah belakang. "AAAA!!!!" bagaimana makhluk ini bisa di sini? BRUK!!! BRUM!!! Tanpa pikir panjang kutendang dia.
"ADUH!!!" teriaknya kesakitan. Aku tak peduli. "Tikus Kecil, kau berani menendang suamimu?!" ia bangkit lalu berkacak pinggang. HUH!!! Aku hanya membuang muka lalu pergi ke kamar mandi. "Tunggu! Aku masih bicara denganmu!" dia tak kupedulikan. Segera saja aku mandi dan bersiap-siap berangkat ke kampus.
Saat aku turun untuk sarapan, ternyata Si Balok Es sudah ada di meja makan. Bi Ijem melayaninya dengan ramah. Balok Es sudah berdandan jadul seperti biasanya. Kacamata tebal, kemeja putih polos dan celana kain hitam sudah dipakainya. Aku tak menatapnya sama sekali, mataku hanya fokus untuk mengambil roti tawar dan mengisi tumbler-ku dengan susu putih.
"Saya berangkat duluan, Bi," kusalami Bi Ijem.
"Kamu berangkat bersama saya!" perintah Si Balok Es.
"Tak perlu!" jawabku ketus. "Saya bisa berangkat sendiri dengan Naren!" kuberi nada penekanan pada kata 'Naren'. "Bapak, jemput saja Nenek Sihir Bapak. Pergi sana bersamanya seperti tadi malam!" teriakku meninggi.
BRAK!!! Terdengar suara meja digebrak. Jantungku rasanya ingin copot tapi aku tetap berusaha sok cool. Balok Es itu nampak tertunduk marah. Terdengar sesuatu dilemparkan di atas meja. Nampak sebuah kunci mobil, dompetku dan sebuah kartu warna emas.
"Pakai mobil itu untuk berangkat! Isi smartphone-mu dengan e-money bayar dengan kartu itu. Pintarlah sedikit, Tikus Kecil!" Balok Es berlalu pergi.
"Saya tetap akan berangkat dengan Naren! Bapak bisa ambil kembali mobilnya!" teriakku sambil menyodorkan kunci mobil dan kartu emas itu. Balok Es tak berbalik dia hanya diam membelakangiku. Tangannya nampak mengepal menahan amarah.
"Terima atau jangan harap keluarga kekasihmu masih bisa bekerja hari ini!" ia melirikku sejenak. "Ayahmu sudah tahu tentang apa yang terjadi. Kau pikir siapa yang membuat semuanya masih baik-baik saja? Kuharap kau bisa menggunakan sedikit otakmu, Tikus Kecil!" Balok Es berlalu pergi.
Saat kuintip dari jendela, dia nampak mengendarai mobil sedan jadul warna hitam. Saat kukeluar dari rumah, telah terparkir mobil mungil warna ungu lavender. Segera kukendarai mobil itu menuju kampus. Apa yang dikatakan Balok Es terus terngiang di telingaku. Apa dia melindungi keluarga Naren dari ancaman ayahku? Dia benar-benar berusaha melindungiku? Segala pikiran berkecamuk di pikiranku.
Hari ini hari ulang tahun fakultas. Perlombaan menyanyi diadakan untuk memeriahkan pentas seni pada siang hari ini. Panggung yang megah berdiri di tengah-tengah Auditorium Fakultas Ekonomi. Para pejabat mulai dari Dekan (kepala fakultas), Wakil Dekan hingga para dosen nampak menghadiri acara ini. Para mahasiswa lain juga menyaksikannya dari kursi yang masih kosong atau dengan berdiri di sela-sela auditorium yang kosong.
"Aku nervous!" aku merasa gugup saat melihat banyaknya orang yang menonton.
"Gila! Penampilan ormawa lain keren-keren!" Rino juga mengintip penampilan dari peserta lain dari belakang panggung.
Mataku tertuju pada dua orang yang baru memasuki auditorium ini. Itu Si Balok Es! Dia datang bersama Bu Vanya. Balok Es nampak ada di depan sambil menggandeng tangan Bu Vanya. Keduanya duduk di kursi yang disediakan untuk para dosen. Balok Es itu duduk tepat di sebelah Bu Vanya. Dasar Balok Es Gila! Kau mau pamer Nenek Sihir lagi hari ini?!
"Jangan takut, Tuan Putri!" tangan hangat nampak menggenggam tanganku. "Anggap saja hanya ada kita berdua dan Rino di ruangan ini. Sentuhan dan ucapan Naren membuyarkan lamunanku. HUH!!! Balok Es Gila, lihat duet mautku ini! Akan kubalas pamermu hari ini dan kemarin!
__ADS_1
"Peserta selanjutnya adalah peserta beregu. Mari kita sambut peserta nomer 10 dengan anghota Naren, Rino dan Qiandra!" ucap master of ceremony. Kami bertiga pun keluar dari balik panggung. Rino sibuk menyetel gitar pengiring.
"Selamat siang!" ucap Naren. "Para pejabat dan para dosen yang saya hormati serta teman -temanku yang saya banggakan. Hari ini kami bertiga akan membawakan sebuah lagu yang sederhana yang berjudul "True Colors" yang dipopulerkan oleh Justin Timberlake dan Anna Kedricks. Saya akan berduet dengan Tuan Putri saya...." Naren menggenggam tanganku.
"Cie...cie...cie..." sorakan terdengar dari teman-teman mahasiswa. Naren, kamu so sweet tapi kamu bikin aku tambah nervous tahu! Aku hanya menunduk malu.
Suara gitar akustik nan merdu mulai terdengar. Naren mulai bernyanyi dengan suaranya yang indah. Dia terus menggenggam tanganku. Matanya terus menatap ke arahku. Jantungku rasanya dag dig dug, jantungku seakan ingin melompat keluar. Naren, ini di depan banyak orang. Pipiku kurasa mulai memerah. Pada saat memasuki reff....
"And that's way I love you...." Naren membelai pipiku dan dia mengecup dahiku di depan semua orang. Astaga, jantungku ingin melompat keluar, pipiku semakin memerah.
"Cie...cie...cie...so sweet!" nampak sorakan dari teman-teman mahasiswa. Aku sempat kehilangan fokus beberapa saat sampai Naren menuntunku untuk menyanyikan bagianku. Dia masih terus saja menatapku. Tanganku tetap di genggamnya. Aku merasa dunia ini hanya menjadi milikku dan Naren saja. Waktu seolah berhenti berputar, rasa nervous sudah tak kurasakan. Hanya rasa bahagia yang terasa. Tanpa terasa lagu sudah berhenti.
PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!! Gemuruh tepuk tangan membahana. Kurasa penampilan kami cukup bagus, tidak terlalu jelek. Saat aku selesai menunduk pada penonton sebagai ucapan terima kasih, mataku melihat Balok Es. Dia nampak tertunduk meninggalkan ruang auditorium. Hatiku rasanya puas. HUH!!! Rasakan pembalasan saya, Pak! Memang Bapak saja yang bisa pamer! Aku merasa bangga.
Peserta demi peserta telah tampil. Master of ceremony (MC) mulai membacakan hasil penilaian. "Pemenang pertama diraih oleh...." ucap MC itu. Mulai dari juara harapan I dan II, hingga juara ketiga, kedua dan pertama tetap tidak berhasil kami raih.
"Yah!" ucapku bersamaan dengan Naren dan Rino berulang kali.
"Sudahlah, mungkin bukan rejeki kita!" hibur Rino.
"Masih ada satu kategori lagi!" ucap MC. "Pemenang kategori duet terfavorit jatuh pada....Naren dan Qiandra!" seru MC mengagetkanku. HAH? Duet terfavorit? Aku tak percaya ini.
"Cie...cie...yang habis menang kategori duet terfavorit!" ejek Wati saat kami tiba di sekretariat UKM penelitian FE.
"Cie...yang tadi so sweet banget!" ejek anak-anak yang lain.
"Makanya jangan jadi jomblo terus, sana cari pacar biar bisa duet so sweet bareng!" balas Naren. Aku hanya menahan tawa. Segera kuposting foto kemenanganku ini di halaman media sosialku.
"Ya, rambutmu baru ikutan trend, ya?" tanya Wati. Trend? Trend apa? Aku baru ingat jika cat rambut aneh itu belum juga bisa hilang.
"Trend apa, Wat?" aku pura-pura tak tahu tapi sebenarnya memang tak tahu.
"Ini, ada perempuan namanya Kalya. Dia kabarnya istri Tuan Rexford, pengusaha tajir itu. Rambutnya dicat dua warna cetar. Ini baru jadi trend lho, Ya. Besok gue juga mau ah, potong rambut dan ngecat rambut gue kayak gini!" Wati memperlihatkan berita gosip dari internet.
Astaga, itu kan aku! Nampak sebuah artikel dengan judul 'Rambut Nyentrik Kalya, Istri Tuan Rexford, Tengah Jadi Trend'. Nampak juga fotoku yang dengan mesra merangkul lengan Balok Es di acara pesta. Ada artikel gosip lain dengan judul 'Tuan Rexford Menikah Diam-Diam, Siapa Kalya Sebenarnya?!' Astaga, Balok Es itu ternyata benar-benar terkenal. Untung saja dandanan menor itu menyembunyikan wajahku.
"Gaes, gawat! Gawat!" teriak Juna yang tergopoh-gopoh masuk. Juna adalah Kepala Departemen Media dan Jaringan, departemen yang kutempati.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Wati.
"Pak Rexford belum acc proposal kunjungan ilmiah kita! Dia tiba-tiba mengajukan cuti dua minggu!" teriak Juna.
WHAT?! Si Balok Es? Cuti dua minggu? Dia kenapa? Apa dia sakit? Tapi dia baik-baik saja tadi. Tunggu, jika dia belum memberi acc propiosal maka kunjungan ilmiah yang dinantikan anak-anak ormawa ini terancam batal. Jika nekat dilaksanakan maka akan dianggap progam kerja ilegal karena tidak mendapat persetujuan dosen pembina ormawa. Jika proposal belum di acc maka dana untuk program dari Bagian Kemahasiswaan FE juga tak bisa turun. Balok Es apa yang sebenarnya kau inginkan?
"Ya, udah kita bahas besok!" ucap Rino. "Hari sudah mau maghrib nih, bentar lagi sekretariat ditutup!" kami pun segera keluar dari sekretariat. Memang sekretariat hanya boleh digunakan sampai jam 18.00 atau menjelang maghrib.
"Beb, tadi kamu berangkat diantar siapa? Kok nggak minta jemput?" Naren menanyaiku.
"Ehm...aku udah dibeliin mobil...jadi," aku bingung cara menjelaskannya. Mobil itu dari Si Balok Es.
"Oh ya, udah nggak papa, Beb. Besok kalo kamu pengen dijemput bilang aja. Sekarang kamu belajar mandiri dulu aja, hahaha. Berangkat ke kampus sendiri!" ejek Naren.
Aku tak mempedulikannya, di pikiranku hanya satu. Aku harus segera pulang ke rumah Si Balok Es dan memastikan kondisinya. Sampai di rumah Balok Es, rumah depan masih sepi. Kurasa Tuan Adi Hutama belum boleh pulang dari rumah sakit. Saat aku pergi ke rumah Si Balok Es. Nampak para pelayan dan pejaga rumah bergerombol di satu sudut rumah depan bagian belakang.
"Ada apa Bi?" tanyaku pada Bibi Ava. Ia nampak ketakutan.
"Ehm...Nona...Tu...an Mu...da sedang marah. Be...li...au nampak sangat kesal. Kami takut, Nona. Beliau sangat jarang marah. Tapi jika marah, maka tak ada yang berani mengganggunya," Bibi Ava menunduk takut. Jarang marah? Yang benar saja! Setiap saat aku selalu jadi korban kemarahannya.
"Dimana dia sekarang?"
"Beliau sedang berenang tadi," jawab Bibi Ava.
Aku segera berjalan menuju kolam renang. Nampak kursi-kursi santai terjajar berderet-deret di pinggir kolam renang. Di salah satu kursi paling pojok, nampak Si Balok Es.
Astaga, apa itu benar-benar dia? Dia nampak sangat berbeda. Tubuhnya nampak atletis. Saat semakin kudekati dia, ternyata dia sedang tidur terlentang, bersandar pada kursi santai itu. Mata elangnya nampak terpejam. Dia bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek hitam. Mataku tak bisa berhenti memandangi otot perutnya yang ternyata sixpack. Otot lengannya juga terlihat kokoh nan kekar. Aku tepat berdiri di depan dia tertidur. Karena penasaran kucondongkan badanku tepat di atas tubuhnya. Wajahnya masih terlihat basah. Wajah yang nampak tenang dan mempesona saat tertidur seperti ini.
"Balok Es, ternyata kau tampan juga, ya!" tanpa sadar tanganku membelai dahi kirinya.
Tiba-tiba mata elangnya terbuka. Aku kaget! Seketika tubuhku terhuyung ke belakang ke arah kolam renang. "AAAA!!!!" teriakku ketakutan. Gawat, aku kan tak bisa berenang! Apa aku akan mati tenggelam?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍