
"Tunggu, sebelum kita berangkat ada sesuatu yang harus kulakukan." Billy mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Nampak sebuah ikat pinggang warna hitam. Ikat pinggang itu diikatkan ke arah pinggang Qia. Billy mengikatkan ikat pinggang itu pada dirinya dan pinggang Qia.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakulan hal konyol semacam ini!" protes Qia.
Aku seperti anak balita yang diajak naik motor saja. Kenapa sih harus diikat seperti ini? Ini terlalu berlebihan, gumam Qia.
"Ini demi keamananmu! Tanganmu yang bisa berpegangan hanya tangan kiri saja. Bagaimana jika nanti jatuh? Aku tak mau kau terluka lagi, Yaya."
"Tapi aku sudah dewasa! Aku bukan anak balita, Hubby!" protes Qia.
"Sudah, menurut saja. Daripada nanti kita terlambat!"
Billy segera memacu motor itu. Motor itu segera melaju membelah jalanan perkotaan yang mulai padat merayap. Tiba-tiba Billy memberhentikan motornya. Motor itu berhenti di dekat trotoar.
"Ada apa lagi? Aku sudah berpegangan sangat erat padamu!" ujar Qia ketus.
"Ini pakai!" Billy mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Nampak masker warna hijau. Sebuah masker diberikan kepada Qia.
"Baiklah," Qia segera memakai masker itu.
"Mencegah lebih baik daripada mengobati! Ini semua demi keselamatanmu, Yaya."
Billy segera memakai masker itu. Motor kembali dinyalakan. Billy dengan lincah mengendarai motor itu menyusup diantara kendaraan roda empat.
Dia ternyata lincah juga waktu bawa motor. Tapi, ini so sweet juga. Ini pertama kalinya aku dibonceng pake motor sama dia. Kayaknya kapan-kapan ajak kencan pake motor asyik juga. Bisa menikmati angin yang berembus kencang saat kendaraan melaju, gumam Qia. Dia menatap wajah Billy yang sebagian terpantul di kaca spion motor itu.
"Ehm," Qia mengeratkan pegangannya pada pinggang Billy. Tangan kirinya berpegangan hingga melingkar sampai ke bagian depan. Motor itu tepat berhenti di sebuah lampu merah.
"Gimana? Kedinginan nggak?" Billy memegang telapak tangan Qia dengan tangan kirinya.
"Nggak kok, Hubby. Aku baik-baik saja," sahut Qia. Kepala Qia menyandar di bahu kiri Billy.
__ADS_1
"Nampaknya kau lebih suka naik motor, ya?" tanya Billy.
"Suka! Apalagi kalo kamu yang jadi driver-nya. Aku jadi tenang, ketakutanku udah sedikit berkurang. Kemarin waktu pulang dari rumah sakit naik mobil aku dag dig dug, Hubby. Takut kalo ada tabrakan lagi ...."
"Tenang, itu takkan terjadi lagi. Aku janji akan melindungimu, Yaya," hibur Billy.
Lampu merah berganti menjadi lampu hijau. Motor itu kembali melaju. Tak lama sampailah di sebuah komplek bangunan yang sangat familiar bagi Billy dan Qia. Nampak Gedung Fakultas Ekonomi Universitas XXX. Billy segera memberhentikan motornya di parkiran khusus dosen. Dia melepas ikat pinggang yang memgikat dirinya dan Qia. Saat Qia turun dari motor, Billy membantu Qia melepaskan helm-nya.
Ini pertama kalinya aku ke kampus setelah resepsi itu. Semua orang sekarang tahu kalo aku dan dia sudah menikah. Duh, kok aku jadi takut, ya, gumam Qia.
"Kamu kenapa? Kok keliatan takut?" tanya Billy saat melepas masker yang ada di wajah Qia.
"Hubby, aku takut. Ini pertama kalinya aku ke kampus lagi. Ehm ... ini pertama kalinya orang-orang tahu kalo aku istrimu ...."
"Sudah, jangan takut. Kau tak berbuat salah apa pun, Yaya. Sudah, ayo kita masuk!" Billy memggandeng tangan kiri Qia.
Suasana kampus masih nampak sepi. Perkuliahan belum dimulai. Minggu ini adalah minggu untuk mengurus administrasi semester baru, seperti konsultasi dengan dosen pengampu akademik dan pertujuan kartu rencana studi. Billy menggandeng tangan Qia memasuki Gedung Fakultas Ekonomi. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan keduaya nampak fokus menatap mereka.
Duh, aku jadi dag dig dug, nih. Aku malah jadi bahan tontonan orang-orang. Tapi, mau gimana lagi, emang aku udah nikah. Tenang, Qia, tenang! Abaikan tatapn mereka! Abaikan! gumam Qia.
"Hubby, kantor dosen PA-ku kan ada di lantai bawah!"
"Dia sudah pindah ke lantai dua ...." sahut Billy. Billy nampak tertegun sejenak. Matanya fokus menatap ke arah depan.
"Naren!" ucap Qia. Nampak Naren duduk di kursi yang berada tepat di depan kantor dosen. Dia hanya seorang diri di sana.
Duh, kok bisa ketemu dia di sini, sih! Sumpah, ini canggung banget, gumam Qia.
Aku sempat lupa jika Si Narendra dan Qia adalah teman satu kelas dan satu angkatan, gumam Billy.
"Qia!" ujar Naren.
__ADS_1
Qia, mungkinkah ini hanya kebetulan? Atau ... ini memang pertanda. Pertanda jika mungkin masih ada kesempatan untukku. Tunggu! Apa yang terjadi dengan tangan kanan Qia? Apa Pak Billy melakuman kekerasan padanya? Kenapa tangannya dibalut gips? gumam Naren. Dia fokus menatap ke arah Qia.
Billy segera membuang pandang. Dia segera melepas genggaman tangannya dari tangan Qia. Tanpa sepatah kata pun dia hendak berlalu pergi.
"Hubby, tunggu!" panggil Qia. Dia menarik pergelangan tangan kanan Billy. Billy menatap denhan tatapan dingin ke arah Qia. "Belum salaman ...." Qia mencium telapak tangan kanan Billy.
"Ehm, jaga dirimu baik-baik, Yaya," ucap Billy. Dia berjalan masuk ke dalam kantor.
Qia segera duduk di kursi tunggu itu. Dia sengaja menjaga jarak dari Naren. Ada empat kursi besi tanpa sandaran. Qia memilih dudu di ujung, jauh dari Naren, menyisakan dua kursi kosong di bagian tengah.
"Ya ... kamu ...." Naren mencoba memulai pembicaraan.
"Tolong jauhi aku, Ren! Aku sudah menikah! Masa lalu adalah masa lalu! Jangan diungkit lagi!" ucap Qia dengan nada suara meninggi. Qia menatap Naren dengan tatapan tajam. Naren menghela napas.
"Iya, aku tahu itu ... " sahut Naren.
"Bagus, jika kamu tahu! Aku harap kamu bisa menjaga sikap ...."
"Aku ingin kita berdamai!" ujar Naren. Dia mengulurkan tangannya ke arah Qia. "Aku minta maaf atas segala kesalahanku di masa lalu. Tolong maafkan aku, Qia."
"Hah?" Qia tertegun. "Berdamai?"
________________________________________
Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍
Mohon maaf mungkin sampai bulan Oktober, novel ini hanya akan update setiap hari Minggu 😊
Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁
Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊
__ADS_1
Mohon doanya juga semoga bulan Agustus ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak banyak revisi 😊
Thank you 😍