
"AAAA!!!!" terdengar teriakan memengkakkan telinga. "TIKUS!!!" BRUK!!! Balok Es itu memelukku. Kami berdua jatuh ke ranjang kecil di belakangku. "Usir! Usir!" teriaknya ketakutan. Apa dia takut tikus? "USIR! CEPAT USIR!" teriak Balok Es ini. Dia menyembunyikan wajahnya di balik punggungku. Tubuhnya nampak gemetar ketakutan.
"Pak, tikus Pak! Tikus!" teriakku sambil bangkit berdiri.
"Mana?! Mana?!" Balok Es itu nampak panik, ia duduk di ranjang.
"Awas, Pak! teriakku kencang. "Tikusnya naik ke ranjang!" aku menunjuk ke arah tempat tidur.
"AAAA!!!" Balok Es itu langsung berdiri ketakutan di atas ranjang yang berada tepat di sudut kamar ini. "Mana?! Mana?!" ia bertambah panik. Ekspresinya sangat lucu, aku masih berusaha menahan tawa. "Mana tikusnya?" ia masih berdiri di atas ranjang sambil terus melihat ke sekeliling.
"AWAS, PAK! TIKUSNYA NAIK KE BADAN BAPAK!!!" teriakku kencang.
"AAAAA!!!" Balok Es itu panik. Ia terus berteriak-teriak sambil meraba-raba tubuhnya. "MANA? MANA?" Ekspresinya nampak sangat ketakutan.
"HAHAHA!!!" aku tertawa terbahak-bahak. Balok Es yang galak seperti T-Rex ternyata takut pada tikus. "HAHAHA!!!" perutku terasa sakit karena tertawa. Tubuhku sampai terbaring di lantai. "PAK!!!" tubuhku tiba-tiba terangkat ke atas. BRUK!!! Aku dibanting ke atas ranjang. "LEPASKAN!!!" Balok Es ini memelukku erat, tubuhnya yang lebih besar dariku membuatku tak bisa melepaskan diri. Sialnya lagi, ranjangku berada tepat di sebelah tembok. Otomatis aku terjebak.
"Tikus Kecil yang berani! Kau harus dihukum!" mata Balok Es ini berkilau licik. Dihukum? Hukuman apa yang akan dia berikan? Apa dia benar-benar akan melakukan hal itu? Tubuhku terasa kaku.
"PAK! HENTIKAN! PAK!" teriakku. "AAA!!! HENTIKAN GELI!!!" Balok Es ini terus menggelitiki perutku. Aku merasakan geli yang luar biasa. "PAK! HENTIKAN!" sial aku tak bisa lari. "AMPUN! AMPUN! GELI!" akhirnya gelitikan itu berhenti juga. "PAK!!!"
"DIAM!!!" ucap Balok Es itu dingin. Sial, aku terperangkap di pelukannya. Dia membuatku terpojok di sisi tembok, antara aku dan dirinya dibatasi boneka kelinciku yang berukuran sebadan manusia. Balok Es itu memeluk boneka kelinci itu, aku benar-benar tak bisa bergerak sekarang.
"Pak...." aku hendak protes kembali. Balok Es itu sudah tertidur pulas. Ya sudahlah, lain kali aku takkan menjahilinya lagi.
Hari sudah pagi, saat ini aku sudah berhadapan dengan Balok Es itu di meja makan. Ia benar-benar memenuhi ucapannya untuk menginap di rumahku. Dia sudah rapi, berdandan dengan tampilannya jadulnya yang khas. Celana kain hitam, kemeja biru muda polos dan kacamata tebal. Dia nampak sungguh berbeda dengan yang selama ini kulihat, aku tak mengerti mengapa dia harus berdandan jadul dan kuno seperti ini saat mengajar di kampus. Jika orang lain melihatnya mungkin akan mengira jika dia adalah ayahku.
"Jangan menatap terus!" ucapnya ketus. "Saya tak melakukan apa-apa padamu semalam! Jangan terlalu banyak berharap, Tikus Kecil!" ejeknya.
Huh! Aku hanya membuang muka. Siapa juga yang berharap? Aku tak ingin momen sarapanku terganggu. Saat aku sedang menelan roti tawar.
"Non, Mas Naren udah di depan rumah!" ucap Bi Inem. Roti di tengorokanku terasa tersangkut. Kulihat Si Balok Es itu.
"CEPAT KELUAR!" ucap Balok Es ketus. "Jangan sampai saya yang harus menemuinya!" ia makan sarapannya begitu saja. Aku segera berlari ke lantai atas untuk mengambil tote bag-ku.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu, ya, Bi," kusalami Bi Inem. Saat aku telah berbalik untuk keluar....
"Ehem...." Balok Es itu berdehem. Saat aku berbalik, dia melirikku. Baiklah, aku paham maksudnya.
"Saya berangkat dulu, ya, Pak," kusalami tangannya. Dia membuat punggung tangannya menempel wajahku. Kurasa aku benar-benar melakukan cium tangan. Lebih baik aku segera keluar.
"Naren!" sapaku ceria.
"Tuan Putri, selamat pagi," senyumnya sungguh manis seperti mentari pagi. Saat aku hendak melangkah....
"AAAA!!!" aku terhuyung jatuh karena menginjak tali sepatuku sendiri. Naren dengan sigap menangkapku. Mataku bertatapan dengan matanya, astaga dia terlihat sungguh tampan dari sini. Aku berasa seperti di adegan drama atau sinetron.
"Kau bisa diabetes jika menatapku terus, Tuan Putri!" godanya. "Biar aku ikat sepatumu!" Naren berjongkok, dia benar-benar mengikat kedua tali sepatuku. Siapa yang tak dag dig dug pada saat seperti ini. "Ayo, kita berangkat, Tuan Putri," Naren menggandeng tanganku. Saat naik ke motor sport-nya, dia memasangkan helm untukku. "Jangan lupa pegangan!" dia membuat tanganku berpegangan di pingganggnya. Naren, bagaimana jika kamu tahu soal pernikahanku? Tak bisa kubayangkan jika itu terjadi.
Kami sampai di kampus. Hari ini ada jadwal Ujian Akhir Semester (UAS) yang dimajukan. Di perkuliahan dosen bisa saja memajukan jadwal UAS di luar jadwal UAS yang telah ditetapkan fakultas. Aku memilih duduk di pojokan kanan baris kedua dari belakang ruangan.
Dulu kupikir kuliah itu cuma nongkrong-nongkrong dan bebas seperti di film-film. Ternyata tidak, kuliah itu seperti sekolah biasa hanya saja jadwal masuknya lebih fleksibel dan tidak memakai seragam. Akhir tahun seperti ini merupakan musim ujian. Dosen mulai membagikan soal dan lembar jawab. Rasanya seperti Ujian Nasional (UN). Dosen itu menyuruh mahasiswa duduk saling berjauhan. Naren duduk tepat di belakangku.
Kuharap dosennya sedang baik hati sehingga bisa open book. Ya, di bangku kuliah pada saat ujian ada kalanya dosen memperboleh mahasiswa untuk open book atau membuka buku materi pelajaran, tetapi buku cetak bukan e-book. Mempergunakan alat hitung seperti kalkulator juga diperbolehkan, yang tidak boleh itu menggunakan smartphone dan menyontek selama ujian. Hiks! Hari ini ujian Akuntansi Pajak, aku tak sempat belajar karena pernikahan dadakan itu.
"YES!!!" teriakan kegembiraan terdengar di ruangan ini.
Aku langsung melihat soal itu. Segera kukeluarkan buku materi kuliah dari tote bag-ku. yang tebalnya mungkin mencapai 5-10 cm. Saat kulihat soal UAS itu, rasanya aku ingin menangis. Soalnya esay berjumlah 10 soal hitungan dan harus diselesaikan dalam waktu 90 menit. HUA! Aku rindu soal pilihan ganda.
Di bangku kuliah sangat jarang ada dosen yang mengeluarkan soal pilihan ganda saat ujian. Gila! Soalnya sangat sulit. Meski sudah boleh open book tetap saja soal hitungan ini berbeda dengan contoh di buku. Rasanya otakku sudah terbakar. Sudahlah kerjakan sebisanya saja!
Suasana kelas hening, semuanya sedang fokus mengerjakan soal ujian. KRUK!!! Tiba-tiba perutku berbunyi dengan keras dan nyaring. Teman-temanku sontak saling berpandangan dan menahan tawa. Aku hanya menunduk berpura-pura serius mengerjakan. Semoga saja tak ketahuan jika perutku yang berbunyi. Mengerjakan soal ini membuatku lapar.
"Naren!!!" aku langsung menghampiri Naren saat kami telah keluar dari ruangan itu. "Soalnya sulit! Beda banget sama contoh di buku! Otakku rasanya mau meledak!" kukeluarkan segala keluhanku.
"Udah, jangan dipikirkan!" Naren merapikan poniku. "Lebih baik kita makan. Tuan Putri pasti lapar kan?" aku tersenyum ceria. Dia bisa tahu saja jika aku sedang lapar. Kami pergi ke kantin yang ada di tengah Fakultas Ekonomi. Kantin terlihat masih legang.
Di kantin ini ada stand-stand makanan dan minuman di pinggir-pinggir ruangan. Pada bagian tengah ruangan ada meja dan kursi untuk makan. Setiap meja berpasangan dengan dua sampai empat kursi. Aku dan Naren tentu saja memilih meja dengan dua kursi di bagian pinggir.
__ADS_1
"Mau pesan apa?" Naren melihat tumpukan daftar menu dari setiap stand yang disediakan di meja.
"Mie ayam dan Thai Tea!" ucapku bersemangat.
"Baiklah, aku juga!" Naren segera menghampiri stand penjual mie ayam itu. Setelah membayar dia menuju stand Thai Tea. Akhirnya, Original Thai Tea-ku datang. Segera kudinginkan otakku dengan meminumnya melalui sedotan. Rasanya luar biasa enak. Dua porsi mie ayam yang kami pesan tiba, tanganku segera mengambil sumpit.
"Kita makan di sini saja...." terdengar suara yang tak asing. Saat mataku melirik ke arah belakang. Ternyata itu Si Balok Es yang datang bersama seseorang. Balok Es itu menyadari kehadiranku. Dia melirikku sekilas.
"Uhuk! Uhuk!" aku tersendak Thai Tea.
"Kamu kenapa?" Naren khawatir. "Pelan-pelan minumnya," dahiku dibelai Naren.
"Billy, dahimu kenapa? Apa luka ini terasa sakit?" terdengar suara wanita. Itu adalah suara wanita yang sedang duduk berhadapan dengan Si Balok Es. Dia memakai setelan blazer dan rok warna biru dongker. Rambutnya dipotong pendek sebahu. Saat kuintip, tangan wanita itu hendak menyentuh plester luka di dahi Balok Es.
"Iya, rasanya sakit," Balok Es itu memegang tangan wanita itu dan menyetuhkannya di bagian plester luka itu.
"Astaga, dari mana kamu dapat luka ini, Billy?" ucap wanita itu khawatir. "Jika kamu butuh bantuan untuk mengganti perban. Aku selalu siap membantumu, Billy," tangan wanita itu membelai-belai luka di dahi Si Balok Es.
"Tentu saja, Yaya!" ucap Si Balok Es.
CRAK!!! Terdengar suara benda patah. Astaga, apa yang terjadi padaku? Tanpa sadar aku mematahkan dua batang sumpit kayu dengan kedua tanganku.
"Kamu kenapa, Ya?" tanya Naren.
"Billy, sakit!" ucap wanita itu tiba-tiba. "Mataku kemasukan debu!" wanita itu nampak memegangi matanya.
"Sini, aku tiupkan, Yaya!" Balok Es itu dengan lembut meniup-niup mata wanita itu. Siapa dia? Siapa wanita ini sebenarnya?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍