Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 114 - Makan Malam....


__ADS_3

"Tunggu, tapi sebaiknya kita mandi dulu, Yaya," ucap Billy.


"Ehm...baiklah," ucap Qia. "Ayo!" Qia sudah menarik tangan Billy.


"Aku akan mandi di kamar mandi yang ada di kamar June. Kau mandi saja di sini!" ucap Billy sambil berlalu pergi.


"Ya sudahlah, kuturuti saja," ucap Qia sambil memghela napas.


***


"Hubby, kok tumben, sih!" ucap Qia saat Billy menggandengnya ke dalam lift. Billy menggenggam pinggang Qia dengan erat.


"Tumben apa?" sahut Billy sambil memencet tombol lift.


"Tumben kita mandi terpisah. Biasanya kan jadi satu," ucap Qia sambil menatap Billy.


"Oh jadi, sekarang kau ketagihan mandi bersamaku, ya?" ucap Billy sambil mencubit pipi kanan Qia dengan lembut. Qia hanya diam saja. "Kau benar-benar sudah menjadi bucin dan tergila-gila padaku, ya?" bisik Billy.


Ih, kok dia jadi agresif gini, sih. Aku kan jadi malu, gumam Qia.


"Ah, sudah sampai, Hubby," ucap Qia sambil segera berlari keluar dari dalam lift.


Nampak suatu ruangan yang cukup luas. Ruangan itu didominasi warna putih. Lantainya nampak dilapisi semacam kayu warna coklat. Terdapat banyak meja yang terbuat dari logam di ruangan itu. Setiap meja di pasangkan dengan kursi yang juga terbuat dari logam. Di ruangan itu nampak jendela yang menampilkan pemandangan di luar ruangan. Nampak pemandangan hamparan pohon cemara yang tertutup salju. Pemandangan yang cantik dan memanjakan mata. Meja di ruangan itu sengaja di tata menghadap ke arah jendela.


"Kita duduk di sini saja," ucap Billy sambil memggandeng tangan Qia.


"Pemandangannya indah, Hubby. Aku jadi pengen maen di luar," celetuk Qia sambil memandang ke arah jendela.


"Simpan energimu untuk besok. Sekarang, ayo makan malam dulu!" ucap Billy. "Aku sudah meminta June memesankan makanan. Lihat, makanannya sudah siap, tepat saat kita datang."


Seorang pelayan mengantarkan dua buah mangkuk. Asap mengepul nampak keluar dari dalam mangkuk itu. Pelayan itu juga memberikan dua buah sumpit.


"Wah, apa ini mie ramen?" ucap Qia sambil mengamati hidangan yang sudah tersaji di atas meja itu. "Aromanya enak sekali!"


"Iya, ini yang dinamakan mie ramen. Ini sumpitnya! Ayo, makan selagi hangat," ucap Billy sambil memberikan sumpit kepada Qia. Qia mencoba memegang sumpit itu.

__ADS_1


Bagaimana cara memakainya, ya? Aku jarang makan pakai sumpit, gumam Qia. Dia melihat ke arah Billy. Kok dia luwes banget sih makan pake sumpitnya. Kayak gampang banget gitu, gumam Qia.


"Kamu nggak bisa makan pake sumpit?" tanya Billy. Qia menggeleng. "Ya sudah sini, aku suapin!" Billy mengambilkan mie dengan sumpit dari mangkuk Qia.


"AAA!" Qia sudah membuka mulutnya. Dia sudah sangat siap meneria suapan itu.


"Ah! Sedapnya!" Billy justru memasukkan suapan itu ke dalam mulutnya sendiri.


"Ihih! Nyebelin!" keluh Qia. "Kamu nyebelin!"


"Hahaha! Iya, iya, ini suapan untukmu," Billy mengarahkan sumpit di tangannya ke arah mangkok Qia.


"AAA!!!!" Qia sudah membuka mulutnya lagi. Tangan Billy sudah terangkat. Mie itu sudah sedikit terangkat di udara.


"Eh! Nyasar!" Billy kembali memasukkan suapan itu ke mulutnya sendiri.


"Ah! Nyebelin! Kamu jahat!" teriak Qia.


"Hahaha! Kamu lucu waktu marah, Yaya. Ini suapan untukmu. Ayo buka mulutmu, Sayang. Kali ini aku tak bercanda. Ayo, sini kusuapi," ucap Billy.


"Yakin nggak mau? Ya sudah, aku habiskan sendiri saja. Ehm, mie-nya padahal enak sekali lho," goda Billy. "Aku dengar suara perut nyanyi nih," ejek Billy.


"AA!" Qia membuka mulutnya. "Suapi yang benar! Kalo kamu jahil lagi nanti aku aduin ke Bunda Belvana!" ancam Qia.


"Ck! Sekarang kau berani mengancamku. Sudahlah, ayo makan selagi hangat," sahut Billy sambil mengarahkan suapan ke arah Qia. Qia menerima suapan itu dengan antusias. Billy terus memberikan suapan pada Qia hingga tak terasa dua mangkuk mie ramen sudah habis.


"Sepertinya kau yang lebih banyak makan, Yaya. Masih mau tambah? Jika kau masih ingin akan kupesankan lagi. Aku sudah kenyang," ucap Billy.


"Ehm...aku sudah kenyang, Hubby, hehehe," sahut Qia.


"Ya sudah, ayo kembali ke kamar," Billy menggandeng tangan Qia. Tak berapa lama keduanya sudah sampai di kamar. "Sudah, sekarang tidur saja. Besok kita akan bermain salju," ucap Billy sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Qia pun ikut berbaring di sebelah Billy. Billy menarik selimut tebal untuk menyelimuti tubuhnya dan Qia. "Selamat malam, Yaya," ucap Billy sambil mencium dahi Qia. Billy memeluk Qia dengan erat. Mata Billy sudah terpejam. Qia juga mencoba memejamkan matanya.


"Aku belum ngantuk, nih," Qia kembali terjaga. "Dia malah udah bobok," Qia menatap wajah Billy. "Kalo ganteng meskipun tidur tetep aja memesona, hihihi."


Kok aku jadi pengen itu ya. Ah, tapi gimana. Masak iya, aku bilang. Kan biasanya dia yang mulai. Kalau harus bilang aku malu. Ah, sudah lupakan, gumam Qia. Dia berbaring membelakangi Billy lalu memeluk guling. Tapi aku nggak bisa bobok, gumam Qia. Dia kembali menghadap ke arah Billy.

__ADS_1


"Hubby, Hubby," panggil Qia. Billy nampak tak terbangun. "Hubby, Hubby!" panggil Qia lebih keras. Kali ini jari telunjuknya memencet-mencet ujung hidung Billy dengan keras.


"Ada apa? Ada apa, Yaya?" tanya Billy sambil memgucek-ucek matanya.


Dia udah bangun, nih. Aku harus gimana, ya? Masak iya aku harus bilang kalau pengen itu. Gimana bilangnya? Aku harus bilang kayak gimana, gumam Qia.


"Ada apa? Kenapa kamu bangunin aku?" tanya Billy.


"Aku pengen...ehm...pengen...." ucap Qia terbata-bata.


Duh, aku harus ngomong kayak gimana. Aku jadi malu sendiri. Ah! Kok kayaknya aku polos banget, sih. Padahal umurku udah 20 tahunan, gumam Qia.


"Kamu pengen apa? Pengen makan mie lagi?" sahut Billy.


"Bukan, bukan itu. Aku pengen....ehm...." ucapan Qia kembali tertahan.


"Kamu kebelet ke kamar mandi? Ya sudah, ayo aku antar, Yaya," ucap Billy. Dia sudah menyibak selimutnya.


Ah! Masa bodohlah! Aku nggak tahu harus gimana bilangnya. Udahlah, kalau mau ya lakuin aja, gumam Qia. Dia langsung menghambur ke arah atas tubuh Billy.


"Ya...." ucapan Billy tertahan. Qia sudah memberikan kecupan ke arah bibir Billy. Kedua tangan Qia dengan cepat membuka kancing di pakaian Billy. "Aku paham sekarang, Yaya. Baiklah, jika kau menginginkannya," bisik Billy. Dia bergantian melicuti pakaian Qia.


Hihihi, untung kamu peka, Hubby, gumam Qia.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2