Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 54 - Apa yang Terjadi Padamu?


__ADS_3

(Brilliant Rexford Hutama's Point of View)


"Jadi, proyek kali ini akan memakai desain seperti ini...." terdengar suara staf sedang memulai presentasi untuk projek baru kali ini.


Aku terus melihat ke arah smartphone-ku. Nampak wallpaper dengan fotoku dan Si Tikus Kecil saat di hutan pinus. Ehm, mengapa ya dari tadi aku merasa tak tenang? Dia seharusnya masih ada di kampus saat ini.


Ck! Kenapa sih rasanya hatiku malah makin tak tenang dan rasanya ingin pulang. Tak boleh! Qia bukan gadis lembek yang mudah ditindas lagipula itu di lingkungan kampus. Kecil kemungkinan ada yang bertindak jahat padanya. Dia kan tak punya musuh. Atau jangan-jangan dia bermain api lagi?


Aku menghela napas. Bagaimana pun Si Naren itu masih satu kampus dengan Qia. Aku mematikan kembali layar di smartphone-ku. Kucoba menfokuskan diri lagi pada presentasi stafku. Aku ada di ujung meja, di sebelah kiri dan kananku adalah para stafku.


DRT! DRT! DRT! Smartphone-ku bergetar. Nampak ada pesan chat masuk. Pesan itu berasal dari kontak dengan nama 'Qia/Yaya'. Kubuka segera pesan itu. Sebuah voice note? Tak biasanya dia mengirim voice note. Untung saja aku memakai headset wireless di telinga kananku. Kudengarkan pesan itu.


"Ba...pak...to...long...Qia..." terdengar suara Si Tikus Kecil.


Astaga, apa yang terjadi dengannya? Mengapa suaranya terbata-bata dan seperti orang menangis? Aku harus segera mengecek keadaannya sekarang juga.


"Meeting kita akhiri sampai di sini!" ucapku dengan tegas. Aku segera berdiri dan keluar dari ruang meeting itu. "June, siapkan mobil! Kurasa istriku sedang dalam masalah!" perintahku pada June.


"Baik, Tuan!" June mulai menjalankan perintahku.


Tikus Kecil, apa yang terjadi padamu? Bukankah kau baik-baik saja tadi pagi. Kulihat smartphone-ku, untung saja aku memasang pelacak pada mobil dan smartphone yang kuberikan pada Si Tikus Kecil. Kedua benda itu menunjukkan satu koordinat yang sama, area parkir kampus FE Universitas XXX. Koordinat itu tak bergerak, semoga saja hal buruk tak terjadi padamu. Tak terasa aku sudah memasuki mobil.


"Ambil jalan tercepat menuju koordinat ini!" kutunjukkan smartphone-ku.


"Baik, Tuan!" sahut sopir pribadiku.


Mobil itu melaju dengan kencang. Sopir ini dapat diandalkan, jika jalan macet pasti dia akan memilih jalan lain. Dia memang sudah cukup berpengalaman. Pikiranku terus memikirkan Si Tikus Kecil. Qia, kuharap kau baik-baik saja. Kuharap aku tak terlambat.

__ADS_1


Kucoba menghubungi Qia lewat telepon online dan offline. Dia tak menjawab. Saat chat-nya kubalas, dia tak membacanya. Astaga, apa dia benar-benar mengalami hal buruk? Jangan-jangan dia terluka sehingga tak sadarkan diri sekarang.


"Percepat laju mobilnya!" perintahku.


"Baik, Tuan!" balas sopir itu. Mobil melaju semakin kencang.


Meski sudah melaju kencang tapi tetap saja perjalanan ini terasa lambat bagiku. Seandainya aku punya sayap pasti aku sudah terbang. Qia, bertahanlah. Bertahanlah, Tikus Kecil! Tadi pagi dia baru saja menunjukkan perasaannya padaku. Aku tak boleh mengecewakannya saat ini.


Jujur, kurasa aku mulai tak ingin melepaskannya. Aku ingin mengikatnya di sampingku seumur hidupku. Kemarin malam sebenarnya aku tahu dan dengar segala hal yang dia katakan, tapi aku pura-pura tidur.


Ehm, aku harus tetap menjaga imejku yang dingin ini. Jika aku terlalu lembut padanya bisa-bisa dia tak bisa kukendalikan lagi. Aku ingin membentuknya menjadi calon ibu yang ideal bagi anak-anakku kelak.


"Tuan, kita sudah sampai!" ucap June. Ucapannya membuyarkan lamunanku.


"Ikuti aku dari jauh! Bawa beberapa pengawal tapi awasi dari jauh!" perintahku sambil memakai masker, topi dan kacamata hitam.


Aku segera turun dari mobil. Terlihat mobil Si Tikus Kecil. Jujur, aku takut jika terjadi apa-apa padanya. Kudekati mobil itu, nampak kaca jendelanya sedikit terbuka.


Syukurlah, setidaknya Qia masih sadar.


TOK! TOK! TOK! Kuketuk kaca jendela mobil itu dengan tangan kiriku. Qia tak menggubrisnya, dia tetap menangis. TOK! TOK! TOK! Kuketuk kaca mobil itu dengan keras.


"TIKUS KECIL!" panggilku. "Ini aku! Hey, Tikus Kecil!" panggilku lagi.


Aku sengaja memanggil Qia seperti itu agar dia menyadari bahwa aku yang datang menemuinya, bukan orang lain. Dari celah kaca jendela mobil nampak Qia mulai tersadar. Dia bergerak menuju pintu mobil. Pintu mobil itu terbuka. Aku segera masuk ke dalam.


"Ba...pak!" ia langsung memelukku sambil terus menangis.

__ADS_1


"Astaga, apa yang terjadi padamu? Siapa yang melakukan hal ini padamu?" aku tak bisa menahan rasa geram.


Hanya aku yang boleh jahil kepada istriku. Tak ada orang lain yang boleh melakukannya. Tampilan Qia membuatku merasa murka. Rambutnya basah penuh dengan cairan warna pink, dari baunya kurasa itu es buah. Di rambut itu masih ada potongan-potongan buah serta biji selasih. Pasti seseorang sengaja menyiramnya dengan es buah.


"KATAKAN SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADAMU?!" tanyaku dengan nada meninggi.


Aku benar-benar tak terima dia diperlakukan seperti ini. Ini bukan kejahilan tapi sudah masuk ranah perundungan atau bully.


"KATAKAN! CEPAT!" aku mendesaknya lagi.


"Hiks...hiks...." dia tetap tak menjawab tapi hanya menangis.


"Ya sudah," aku menghela napas. "Tenangkan dirimu terlebih dahulu!" aku memeluknya dengan tangan kiriku. "June!" panggilku.


"Iya, Tuan," sahut June dari jendela mobil.


"Suruh seorang penjaga membawa mobil ini menuju hotel. Panggilkan tukang salon ke hotel itu. Beli juga pakaian ganti wanita," perintahku.


Entah apa yang terjadi sebenarnya, yang jelas Qia baru saja mengalami hal yang membuatnya terluka secara batin. Mobil ini mulai melaju, mobil dikemudikan oleh seorang pengawalku. Qia tetap memelukku dengan erat sambil menangis. Satu kursi depan dipakai oleh dua orang. Untung saja badan Qia kecil, jadi muat.


"Sudah, jangan menangis. Aku sudah ada di sini, Yaya!" ucapku dengan lembut. Tikus Kecil, nampaknya aku harus lebih ketat lagi dalam melindungimu...


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2