
Bapak, kok tega, sih!" protesku. "Bapak, mau pindah kemana?" protesku. Aku menatapnya tajam. "Bapak mau ninggalin saya sendirian? Bapak kok tega sih, Pak! Kalau Bapak pindah saya juga ikut!"
"Yang mau meninggalkanmu siapa?" sahut Balok Es. "Jika ada orang bicara dengarkan dulu!" ia menutup mulutku dengan tangannya.
"Habisnya! Bapak bikin deg-degan, tahu!" protesku.
"Makanya dengarkan dulu!" ia tak mau kalah.
"Ehm," sahutku.
"Saya tak pindah kemana pun. Kau pikir saya pindah ke luar kota dan meninggalkanmu sendirian?" tanyanya. Aku pun menggangguk.
"Ck! Kau berpikir terlalu jauh!" ucapnya sambil menyentil dahiku.
"Terus Bapak pindah kemana?" tanyaku lagi. Aku masih penasaran.
"Saya akan pindah dari Fakultas Ekonomi...." ucap Balok Es.
"Bapak udah nggak ngajar lagi?" aku semakin tak sabar. Dahiku disentil.
"Dengarkan dulu, Tikus Kecil. Ehm, sekarang kamu begitu takut ya saya hilang? Apa kau sudah mulai tergila-gila dan selalu ingin menempel padaku? Hah?" Balok Es menggodaku.
"Saya kan harus tahu! Kalau Bapak hilang nanti yang tanggung jawab sama saya siapa!" aku mengelak. Sebenarnya aku khawatir sih kalau Balok Es pergi jauh sekarang. Aku tak mau ditinggalkan lagi.
"Akan ada pemilihan pemimpin Universitas XXX. Saya salah satu kandidatnya kemungkinan besar."
"Bapak mau jadi rektor?" mataku menatapnya tajam. Balok Es berpengaruh juga rupanya.
"Ehm...mungkin. Rencananya masih belum matang. Kau tak perlu khawatir. Saya tetap tinggal di sisimu," ia melingkarkan tangan kirinya ke leherku. "Tapi..."
"Ada apa, Pak?" tanyaku lagi. Aku merasakan nada khawatir di ucapan Balok Es.
"Kita harus mengadakan resepsi sesegera mungkin. Saya masih ingin mengabdi di kampus. Otomatis kau tak hanya akan dikenal sebagai istri Tuan Rexford, tapi juga harus dikenal sebagai istri Pak Billy si dosen FE. Kau siap mengumumkan hubungan kita?" tanya Balok Es. Aku dulu merasa takut tapi sekarang aku sudah masa bodoh. Dulu aku takut dengan omongan orang dan Naren, tapi sekarang sudah tak ada lagi yang perlu ditakutkan.
"Siap, Pak. Saya siap. Sudah tak ada lagi alasan bagi saya untuk menutupi hubungan ini," sahutku lirih sambil tertunduk.
__ADS_1
"Ya sudah, kita bahas secepatnya setelah liburan ini selesai. Sekarang, ayo kita tidur," Balok Es tidur menghadapku. Tangan kirinya melingkar di leherku. Di tengah-tengah kami ada sebuah guling. Pak, saya tak suka memeluk dibatasi sesuatu seperti ini tahu! Kusingkirkan guling itu. "Hey, apa yang kau lakukan?" Balok Es terbangun.
"Saya kan mau Bapak jadi guling saya!" ujarku sambil memeluk tubuh Si Balok Es. Kepalaku tepat menyandar di dadanya. Aku suka aroma dari parfum di tubuhnya.
"Kau sekarang semakin agresif!" ucap Balok Es. Kurasa dia sudah tertidur kembali. Aku melihat ke arah wajahnya.
Wajah yang menenangkan. Aku betah memandangnya lama-lama. Aku ingin melakukan itu lagi. Dia bilang kan boleh melakukan itu sepuasku. Kuarahkan bibirku menuju bibir merah yang berasa memanggilku itu.
Pak, kenapa Qia baru tahu ya kalau bibir Bapak itu ternyata menggoda 😆. Aku sempat menghentikan diriku. Kok aku deg-degan ya. Padahal tadi barusan aku kan udah melakukan hal itu dengannya. Ehm, mungkin karena Balok Es yang melakukannya duluan. Hihihi, jika aku yang melakukannya duluan dan dia menerimanya. Rasanya beda tidak ya? Kuarahkan bibirku lagi ke arahnya. Sudahlah! Cepat lakukan! Kututup mataku. Pak, terima ini! 😆
Sumpah rasanya luar biasa. Jantungku berdetak kencang tapi rasanya senang, sih. Aku bertahan cukup lama merasakan sensasi itu. Hingga ada tangan yang kurasa menekan wajahku dari arah belakang. Mataku terbuka. Nampak wajah Balok Es dengan mata yang terbuka. Astaga, aku malu! Pasti tadi dia memergoki aksiku. Aku pun mengakhiri aksiku. Kugerakkan tubuhku membelakanginya sambil memeluk guling.
"Ck! Tadi berani sekarang malu-malu," tangan Balok Es meraih pinggangku. "Sudah, sekarang tidurlah," Balok Es mengecup rambutku.
Astaga, Pak! Kita jaraknya sangat dekat! Mengapa jantungku terus berdetak kencang ya. Apa ini efek aksiku tadi. Kucoba memejamkan mataku. Sial, kurasa aku tak bisa tidur.
***
Pagi akhirnya datang, sinar mentari mulai menyilaukan mata. Aku mulai membuka mataku. Saat kugerakkan badanku ke samping kanan untuk meregangkan ototku sambil menguap. Kurasa sikutku mengenai suatu benda.
"Hehehe," aku tertawa. "Maaf, Pak. Saya lupa!" kurasa ini jawaban yang bodoh. "Kan biasanya saya ehm...bobok sendirian...." Balok Es mencengkeram daguku.
"Oh begitu, kau mau memberi kode saya agar sekamar denganmu? Baiklah, mulai sekarang saya pastikan akan menemanimu, Tikus Kecil!" bisiknya di telingaku. "Saya pastikan kamu takkan cepat tidur setiap malam!" bisiknya lagi.
Apa maksudnya, Pak? Perkataan itu membuat pikiranku terbang melayang kemana-mana.
"Hey, apa yang kau lihat!" seru Balok Es.
Ternyata dia sudah beranjak dari tempat tidur. "Ayo, cepat mandi! Kita akan jalan-jalan dan check out dari sini!" perintah Si Balok Es. Aku pun mendekatinya.
"Sini,Pak!" ucapku sambil membantu melepas kancing piyama itu. "Saya bantu Bapak," kulepas penyangga lengan itu. Aku suka melihat ini, nampak dada bidang dan perut sixpack. Kupeluk tubuh Si Balok Es dari arah depan.
"Hey, saya mau mandi!" protes Si Balok Es.
"Bentar aja, Pak!" aku berbalik protes. Aku memeluknya semakin erat.
__ADS_1
"Kamu semakin agresif saja, Tikus Kecil! Sudah, saya mau mandi sekarang!" ucap Balok Es. Dia melepaskan pelukanku. Tangannya sudah membawa handuk dan pakaian ganti. Ide jahil terlintas di kepalaku.
"Pak, terus Qia mandinya gimana? Berarti nunggu Bapak dong!" ceketukku.
"Ehm, kamu nunggu saya mandi duluan. Saya cowok mandinya sebentar. Kamu cewek pasti mandinya lama," dia beranjak keluar.
Balok Es melangkah menuju kamar mandi di bangunan kecil itu. Aku mengendap-endap mengikutinya dari arah belakang. Tanganku sudah membawa handuk dan pakaian ganti. Kurasa Balok Es sengaja menyiapkan liburan ini. Ketika aku bangun sudah ada koper berisi pakaian perempuan dan semuanya masih baru. Pintu kamar mandi masih terbuka. Aku pun mendekat, nampak Balok Es sedang menggantungkan baju ganti dan handuknya di gantungan baju. Untung dia belum melepas celana panjangnya. Ini saat yang tepat.
"TIKUS! TIKUS!" teriakku kencang. "AWAS ADA TIKUS! AWAS TIKUS!" teriakku lebih kencang lagi.
"AAAA!!!!" terdengar teriakan. "Mana tikusnya?!" Balok Es lari terbirit-birit keluar dari kamar mandi. Aku segera masuk ke kamar mandi itu. Segera kututup dan kukunci pintu kamar mandi itu.
"Saya duluan ya, Pak!" teriakku dari dalam kamar mandi.
"Tikus Kecil! Beraninya kau!" teriak Si Balok Es dari arah luar.
Segera kugantung baju ganti dan handukku. Ekor mataku menatap ada benda bergerak-gerak di pojok ruangan. Astaga, itu....
"KECOAK!!!" teriakku kencang. "AAAA!!! KECOAK!!!" aku segera membuka pintu kamar mandi itu.
"Ada apa?" ternyata Balok Es masih ada di depan kamar mandi.
"ADA KECOAK, PAK!" teriakku ketakutan sambil memeluknya.
"HAHAHA!!!!" Balok Es menertawakanku dengan keras.
Sial, aku kena kena hukuman dari perbuatanku sendiri 😭.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍