
Astaga, itu kan menara yang sangat terkenal itu, gumam Qia. Kedua tangannya sampai menempel di kaca jendela pesawat itu.
Dari kaca jendela pesawat, nampak pesawat sudah mulai menyentuh landasan pacu. Qia masih terus menatap ke arah jendela. Pesawat itu bergerak semakin perlahan.
"Ayo, Yaya," ucap Billy sambil memggandeng tangan Qia. "Sudah sampai," Billy menuntun Qia berjalan. Keduanya turun dari pesawat.
"Wow!" ucap Qia. Matanya nampak takjub melihat pemandangan sekitar.
Nampak langit yang masih gelap. Tapi tetap saja keindahan bandara itu masih terlihat. Lampu-lampu seolah menyambut kedatangan Billy dan Qia. Billy menggandeng tangan Qia memasuki bandara itu. Nampak seorang yang sudah menunggu keduanya.
"Senang bertemu denganmu lagi, Pak June," sapa Qia.
"Saya juga senang bisa berjumpa dengan Anda lagi, Nona,"sahut Sekretaris June. "Mobil sudah siap, Tuan," lapor Sekretaris June.
"Ehm...." sahut Billy. Dia fokus menatap ke arah depan. Tangannya dengan setia menggandeng Qia.
Area pintu masuk bandara mulai terlihat. Nampak sebuah mobil sedan warna hitam berjalan ke arah pintu masuk. Mobil itu berhenti tepat di depan Billy.
"Silahkan, Tuan," Sekretaris June membukakan pintu.
"Ehm...." sahut Billy. Dia segera masuk ke dalam mobil itu. Qia juga turut masuk ke dalam mobil itu. Mobil itu mulai berjalan.
"Astaga, ini sudah di Perancis...." ucap Qia. Kedua tangannya terus menempel pada kaca mobil. "Ini pertama kalinya aku pergi ke Eropa! Wow!" matanya terus menatap ke arah pemandangan di luar jendela mobil. "Tunggu!" dia teringat sesuatu. "Hubby!" panggil Qia. "Kamu kok nggak bilang, sih? Aku kan belum packing....."
"Tak usah pikirkan hal itu, Yaya. Apa selama ini jika aku mengajakmu pergi kau pernah kekurangan sesuatu?" ucap Billy sambil menatap Qia.
"Ehm...tak pernah...." sahut Qia.
"Jadi, jangan panik dan nikmati saja!" ucap Billy sambil berbaring. Kepalanya menyandar di pangkuan Qia.
Dia jadi suka bobok di pangkuanku, gumam Qia. Tangan mungilnya mulai memberi pijatan di kepala Billy. Mata Qia masih memandang ke arah jendela luar mobil. Mobil itu terus berjalan, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan.
Sudah sampai di hotel, ya? gumam Qia. Tangannya secara reflek berhent memijat kepala Billy.
__ADS_1
"Sudah sampai di hotel, Tuan," ucap Sekretaris June sambil membukakan pintu.
"Ehm...." sahut Billy. Dia keluar dari dalam mobil diikuti oleh Qia. Tangannya langsung kembali menggandeng tangan Qia.
"Ini kunci pintu kamar Anda, Tuan," ucap Sekretaris June. Billy menerima kunci kamar itu.
Billy menuntun Qia memasuki hotel itu. Hotel itu hotel bintang lima. Bangunannya megah terdiri dari lebih dari sepuluh tingkat. Arsitektur mewah khas Benua Eropa sangat terasa di hotel itu.
"Wow!" ucap Qia kagum. "Lampunya bagus banget!"
Nampak sebuah lampu gantung kristal yang terdiri dari sepuluh tingkat tergantung di lobi hotel itu. Nuansa hitel itu didominasi warna kuning pudar. Ornamen-ornamennya sengaja dicat warna emas. TRING! Terdengar suara lift. Nampak sebuah pintu warna silver terbuka. Billy menuntun Qia masuk ke dalam pintu itu. Dia lalu memencet tombol di lift. Pintu lift tertutup.
"Eh!" ucap Qia spontan. Matanya menatap ke arah wajah Billy. Billy menggenggam erat pinggang Qia saat lift itu bergerak naik ke atas.
"Kamu takut naik lift kan?" ucap Billy.
Ih, bilang aja mau meluk aku. Tapi, aku suka dipegang kayak gini, hihihi, gumam Qia.
TRING! Pintu lift nampak terbuka kembali. Billy kembali menggandeng tangan Qia. Nampak sebuah kamar dengan pintu warna coklat. Billy mengeluarkan kunci yang diberikan oleh Sekretaris June. Kunci itu berupa kartu warna perak. Pintu di kamar itu bisa terbuka saat kartu itu didekatkan pada sensor yang terpasang di pintu. Sensor itu berbentuk bulat warnanya hitam dan dilapisi kaca. Pintu itu akhirnya terbuka. Nampak sebuah kamar yamg luas.
Nampak sebuah kamar berwarna bercat dinding warna putih. Lantai kamar itu dilapisi semacam kayu buatan berwarna coklat tua. Terdapat satu ranjang yang besar di kamar itu. Ranjang itu dilapisi sprei berwarna putih. Kepala ranjang mepet ke dinding. Sarung bantal dan selimut juga berwarna putih. Di atas ranjang itu ada taburan kelopak mawar merah. Tepat di tengah ranjang ada dua buah handuk putih yang dibentuk menjadi bentuk sepasang angsa. Kedua angsa itu saling menyatukan lehernya sehingga terlihat menjadi bentuk love. Di atas kepala ranjang nampak empat buah balon berwarna merah. Balon itu berbentuk love. Di setiap balon ada huruf warna hitam. Balon itu membentuk kata 'LOVE'.
Kamar itu juga dilengkapi dengan televisi layar datar warna hitam, sofa warna coklat, meja kaca, AC dan lemari. Tersedia juga kamar mandi yang dilengkapi shower dan bathtub. Sofa itu berada di dekat pintu kaca. Di depan sofa itu terdapat meja kaca. Ada vas putih yang berisi rangkaian bunga mawar merah. Sebuah kue berlapis coklat tersaji di atas meja kaca itu. Ada tulisan berwarna putih di kue itu. Tulisannya berbunyi 'Happy Honeymoon' . Pintu kaca itu bisa digeser sehingga penguni kamar bisa melihat pemandangan luar dari balkon.
"Eh, ada balkon!" ucap Qia.
Qia melangkah menuju balkon itu. Dia menggeser pintu kaca itu. Nampak sebuah balkon yang cukup luas. Balkon itu dibatasi dengan pagar berwarna coklat.
"AH! Menara Eiffel!!!" teriak Qia kegirangan. Dari balkon itu nampak pemandangan Menara Eiffel yang terlihat saat menengok ke arah utara. "Ini romantis banget! Ah!" Qia berjingkrak kegirangan. Dia kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Nampak Billy yang duduk di tepi ranjang. Qia langsung melompat ke arah Billy.
"Eh! Yaya!" teriak Billy. Billy ditindih oleh badan Qia. Mata Qia menatap ke arah wajah Billy. "Turun, Ya..ehm...." ucapan Billy terhenti. Qia langsung mendaratkan ciuman tepat di bibir Billy. "Ya...ehm...." saat Billy hendak bicara Qia mencium bibirnya lagi. "Hubby, aku suka kamar yang kau persiapkan...." ucap Qia. "Kau benar-benar menyiapkan honeymoon ini dengan baik!" puji Qia.
"Aku tak bilang ini honeymoon. Kubilang kan quality time kita...." ucap Billy.
__ADS_1
"Lalu itu apa?" Qia menunjuk ke arah dekorasi berbentuk angsa itu.
"Dekorasi kamar, Yaya. Pihak hotel yang menyiapkannya. Sudah, ayo turun," ucap Billy.
Ih, dia masih saja jaim. Tapi, sudahlah. Bukankah aksi lebih penting daripada sekedar ucapan, hihihi, gumam Qia.
"Hubby, ini quality time kita kan? Ayo, kita jalan-jalan ke Menara Eiffel! Ayo, kita ke sana!" ajak Qia.
"Kenapa jadi kau yang menentukan tujuan kita, Yaya. Kau masih punya hutang janji padaku, tahu!" sahut Billy.
"Janji? Janji apa?" Qia tertegun.
"Janji jika kau akan menurut kepadaku sebagai ganti aku sudah mengijinkanmu ikut kunjungan ilmiah waktu itu. Ingat janji tetaplah hutang yang harus dibayar, Yaya," ucap Billy sambil menatap ke arah Qia.
Astaga, ingatannya tajam sekali. Padahal kejadian itu sudah berlalu cukup lama. Sudahlah, menurut saja! gumam Qia.
"Baiklah, aku akan membayar hutangku. Aku akan menurut padamu, Hubby," sahut Qia.
"Yaya yang pintar!" ucap Billy sambil menepuk-nepuk bagian atas kepala Qia. "Sekarang, ayo turun!" perintah Billy.
"Tak mau! Aku tak mau turun sebelum kau memberi tahu kemana kita akan pergi!" ucap Qia.
"Musée Du Louvre!" sahut Billy.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍