Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 106 -Dokumentasi...


__ADS_3

Dia sekarang main serang saja, kurasa ini pertanda jika aku sudah benar-benar masuk ke dalam hatinya, gumam Billy. Dia pasrah menerima serangan dari bibir Qia.


Dulu aku takut buat kasih kiss tapi sekarang sepertinya aku sudah tak malu-malu. Aku merasa dia bukan lagi sekedar dosenku yang terpaksa kunikahi. Aku merasa sekarang dia benar-benar seorang pria yang membuatku nyaman dan merasa aman untuk berada di sisinya. Seorang pria yang meski terlihat dingin tapi sebenarnya hatinya lembut dan hangat, gumam Qia.


"Sudah," ucap Billy sambil memegang pipi Qia dengan kedua tangannya. Bibir Qia mengkerut. Tatapannya nampak kecewa.


Padahal aku belum puas buat kiss, gumam Qia.


"Huh!" ucap Qia. Bibirnya semakin mengerucut.


Dia jadi ketagihan buat kiss, ya? Ck! Padahal dulu kusentuh sedikit saja geli dan malu-malu kucing. Sekarang justru sudah tak tahu malu lagi jika ingin menyentuhku, gumam Billy.


"Kamu nggak mau foto-foto?" ucap Billy. "Bukan foto selfie tapi foto dengan photographer profesional," bisik Billy.


"Mau! Mau!" ucap Qia bersemangat. "Mana tukang fotonya?"


Kau memang narsis, Yaya. Dengar ada photographer saja, mood-mu langsung berubah drastis, gumam Billy.


"June!" panggil Billy. Nampak Sekretaris June muncul dengan seorang photographer. Photographer itu seorang pria yang memakai jas hitam rapi.


*Photographer-nya bukan bule. Wah, berarti bawa sendiri dong dari rumah. Ah, berarti honeymoon ini benar-benar sudah disiapkan. Hubby, kau memang pandai membuat kejutan untukku*, gumam Qia.


"Aku mau foto! Foto aku sekarang ya!" ucap Qia. Dia memasang pose mengangkat kedua tangannya dengan latar belakang Arc de Triomphe. CLAP! Lampu flash pada kamera itu menyala. Satu jepretan foto sudah terekam.


"Lagi! Lagi!" ucap Qia sambil mengganti gayanya. "Lagi! La...eh!" Billy tiba-tiba memeluknya dari arah belakang. Billy langsung memberi kecupan pada pipi Qia. CLAP! Cahaya flash pada kamera itu kembali menyala. Momen itu sudah terabadikan dengan kamera.


Ih, sukanya main serang aja. Ehm...ini kan di depan orang lain. Aku jadi malu, gumam Qia.


"Hubby...." panggil Qia lirih. "Le...paskan...." bisik Qia pada Billy.


"Untuk apa malu-malu kucing? Bukankah tadi kau sudah beraksi tanpa mempedulikan orang lain? Tenang, tak ada bedanya dengan yang tadi kau lakukan. Ini hanya dokumentasi berupa foto. Bunda yang memintanya. Kau tak usah pusing, Yaya. Aku yang akan mengambil alih," ucap Billy.


Mengambil alih? Astaga! Dia ingin pose yang seperti apa? gumam Qia.

__ADS_1


"Eh!" ucap Qia spontan. Tangan kanan Billy memegang dagunya. Billy memberikan ciuman di bibir Qia.


Astaga! Ini bukan cuma foto buat dokumentasi. Tapi kayaknya campur sama modus biar bisa kiss aku terus-terusan, gumam Qia. Dia hanya pasrah terhadap aksi yang dilakukan Billy. Berbagai gaya dilakukan oleh Qia di bawah arahan Billy. Gaya-gaya foto itu tent menunjukkan kedekatan dan kemesraan antara keduanya.


Aku menang banyak lagi kali ini. Kurasa ini liburan yang paling menyenangkan yang pernah kulakukan bersama Yaya, gumam Billy.


Duh, dia mau foto sampai kapan? Kayaknya fotonya udah banyak banget yang diambil. Sudahlah, nikmati saja. Kapan lagi bisa kayak gini, hehehe, gumam Qia.


***


"Ah, akhirnya bisa pulang!" ucap Qia sambil menutup pintu mobil.


Aku capek tapi juga seneng, hihihi. Seneng bisa puas foto-foto di Arc de Triomphe. Ini udah malam, pulang aja nggak papa deh. Datang ke Menara Eiffel-nya besok pagi aja. Kan deket banget dari hotel, hehehe. Sampe hotel aku mau rebahan pokoknya! gumam Qia sambil menatap ke arah kaca mobil. Nampak pemandangan di luar yang seolah-olah turut bergerak seiring laju mobil.


"Kau capek, Yaya?" tanya Billy.


"Tidak, aku nggak capek kok, Hubby," sahut Qia.


"Baguslah kalo begitu," ucap Billy. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku hoodie-nya. Nampak sebuah sapu tangan kain warna hitam di tangan kanan Billy.


"Kau mau apa?" ucap Qia. Billy tanpa basa-basi langsung mengikatkan sapu tangan hitam itu ke wajah Qia. "Kenapa mataku harus ditutup?"


"Aku ingin kau menemaniku pergi ke suatu tempat. Kau bilang kau belum capek kan? Sudah, tenanglah," ucap Billy.


"Apa ada kejutan untukku?" tanya Qia.


"Kau akan tahu nanti. Nikmati saja perjalanannya, anggap saja istirahat sejenak," ucap Billy.


Ah, kalo begini aku rela kok ditutup matanya. Dia mau kasih kejutan apa ya? Bikin dag dig dug aja, nih, gumam Qia. Mobil terasa berhenti.


"Ayo, Yaya," ucap Billy sambil menggandeng tangan Qia. "Awas, hati-hati saat keluar dari mobil!"


"Hubby," panggil Qia. "Kau mengajakku kemana sih?" tanya Qia.

__ADS_1


"Sabar, ini sudah sampai. Pokoknya jangan buka penutup matamu!" perintah Billy sambil menuntun Qia berjalan. Terdengar suara pintu dibuka.


Dia mau ngajak aku kemana, sih? Apa jangan-jangan pindah hotel ya? Kok kayak bunyi pintu lift, ya? gumam Qia.


"Hubby, kita baru naik lift, ya?" tanya Qia.


"Ehm...." jawab Billy singkat.


Aku tambah dag dig dug, nih, gumam Qia. TRING! Terdengar suara pintu lift terbuka kembali.


"Hati-hati jalannya, Yaya," ucap Billy.


"Apa sudah sampai?" tanya Qia lagi.


"Kau bisa lihat sendiri!" ucap Billy sambil membuka penutup mata Qia.


"Astaga! Dimana ini?" ucap Qia.


Nampak dua buah kursi yang berada di dekat jendela kaca yang besar. Ada sebuah meja dengan taplak kain warna putih di antara dua kursi itu. Qia memandang ke arah sekeliling. Nampak kursi-kursi lain. Setiap kursi nampaknya sengaja disusun berpasang-pasang.


"Ini dimana?" ucap Qia sambil mendekat ke arah jendela kaca yang lebar itu. Nampak sebuah besi melintang miring di kaca itu. Besi itu ukurannya sangat besar. "Pemandangannya indah sekali! Tunggu! Ada besi dan pemandangan kota yang indah. Apa ini di dalam Menara Eiffel?" ucap Qia sambil menatap Billy.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2