
"Aku sudah tahu rahasiamu," ucap Naren serius sambil menatapku. Jantungku rasanya ingin berhenti berdetak. Apa Naren sudah tahu tentang pernikahanku? Apa yang harus kulakukan?
"Ren, aku bisa jelaskan!" aku tak berani menatap mata Naren. Sungguh, aku takut hal ini akan terbongkar. "Aku...bi...sa...jelas...kan...rahasia...itu," tanganku mulai berkeringat dingin. Jantungku berdetak semakin kencang.
"Wajar, kalo kamu melakukan itu," ucap Naren lirih. HAH? Apa maksudnya? Naren tak marah? "Wajar jika perempuan takut tikus," ia membelai dahiku. Tikus? Jadi, maksudnya rahasia itu ketakutanku pada tikus? Aku menghela napas, setidaknya rahasia itu tak terbongkar sekarang. "Nggak papa, aku bakal sembunyiin rahasia ini dari teman yang lain," Naren tersenyum lembut. "Bahaya kalau mereka tahu, bisa-bisa kamu dijahili terus," Naren bangkit dan menggandeng tanganku. Kami memasuki Gedung PKM FE itu.
Gedung ini adalah tempat sekretariat bagi organisasi-organisasi mahasiswa (ormawa) di FE. Ada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), organisasi yang hampir mirip dengan OSIS di tingkat SMP dan SMA. Ada Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), organisasi yang mengawasi kinerja setiap organisasi mahasiswa. Ada juga Himpunan Mahasiswa (Hima), organisasi yang menaungi mahasiswa masing-masing program studi (prodi) dari seluruh angkatan. Ada juga organisasi lain seperti komunitas tari, komunitas pecinta alam, komunitas wirausaha, komunitas olahraga, organisasi keagamaan tingkat fakultas dan organisasi penelitian tingkat fakultas. Organisasi-organisasi itu biasanya dikenal dengan istilah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) . Aku termasuk salah satu anggota UKM penelitian FE.
Di setiap organisasi itu ada ketua, wakil ketua, sekertaris, bendahara, kepala departemen, wakil kepala departemen dan staf anggota departemen. Nah, aku termasuk salah satu staf Departemen Media dan Jaringan. Departemen ini adalah departemen yang mengurusi urusan informasi dan hubungan dengan pihak luar organisasi. Aku masuk ke organisasi ini karena mengikuti Naren tentunya. Dia adalah wakil kepala departemen ini, hehehe.
Ya, aku meski motivasiku masuk hanya untuk mengikuti Naren tapi setidaknya aku-yang nggak terlalu pintar ini- bisalah jadi agak sedikit lebih paham soal penelitian. Mataku melihat ke salah satu sudut ruangan. Ada lemari kaca yang berisi banyak piala. Organisasi penelitian memang terkenal sebagai salah satu mesin penyumbang prestasi paling banyak bagi fakultas. Biasanya piala didapatkan dari keikutsertaaan pada Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKTI) baik secara beregu maupun individu. Kapan ya aku bisa dapat piala hasil lomba sama Naren? Kan keren gitu buat di-upload di sosial media.
"Gaes, pembina pengganti kita sudah ditentukan!" ucap Wati, si wakil ketua. Jadi setiap organisasi ada dosen pembina yang bertugas mengarahkan organisasi yang dinaunginya. Dosen pembina sebelumnya masa tugasnya harus berakhir lebih awal karena pensiun.
"Siapa dosen pembina baru kita?" tanya Naren. Aku menanggapinya dengan santai sambil meminum Thai Tea-ku yang belum habis.
"Pak Billy, Brilliant Rexford Hutama!" ucap Wati. Sedotan Thai Tea itu seakan ikut kutelan.
"UHUK! UHUK! HUAK!!!" aku kembali tersendak. Gila! Dia lagi! Dia lagi! Mengapa dunia ini terasa amat sempit sekarang? Tak bisakah aku lepas dari bayang-bayangnya sebentar saja?
"Kamu kenapa, Qi?" tanya Wati, dia menepuk-nepuk punggungku.
"Mungkin Qia trauma, Wat," sahut Naren. "Kita pernah nggak boleh masuk di mata kuliahnya Pak T-Rex karena telat," Naren menghela napas. "Sabarlah, sudah takdir organisasi kita dapat dosen pembina yang terkenal killer."
"Sana cepetan urus tuh proposal kunjungan ilmiah!" perintah Wati. "Seminggu lagi lho acaranya, itu proker (program kerja) besar dari departemen loe kan?"
"Iya, iya, hari ini mulai aku urus deh," Naren menghela napas. "Kenapa harus berurusan lagi sama beliau? Semoga aja diberi kelancaran buat dapat acc (acc \= accept \= persetujuan) proposal." Naren menatapku, "Ayok, kita cari beliau di ruang dosen!" ia menggandeng tanganku.
Jadi, setiap organisasi kali organisasi ingin mengadakan program kerja harus ada pengajuan proposal dulu ke fakultas biar bisa dapat dana. Dana itu bisa turun jika proposal sudah mendapatkan acc dari dosen pembina. Setelah itu proposal baru bisa diajukan ke Bagian Kemahasiswaan tingkat fakultas untuk memcairkan dana. Aku tak bisa membayangkan apabila Naren dan aku berhadapan dengan Balok Es itu di satu meja yang sama. Apalagi tadi aku sudah menjahilinya.
Perjalanan ke ruang dosen jurusan terasa sangat lama. Aku merasa deg-degan di setiap langkahku. Baru kurasakan ungkapan bahwa 'dunia itu sempit' kali ini.
"Kamu kenapa, Ya? Kok tanganmu dingin, sih? Kamu sakit?" Naren menyentuh dahiku. Aku bukan sakit, tapi takut.
"Nggak kok, biasa AC di sekre tadi dingin banget. Tanganku jadi dingin," langkah kami terhenti. Di depan kami sudah ada pintu dengan tulisan 'Ruang Dosen Jurusan Akuntansi'. Jantungku semakin dag dig dug. Naren membuka pintu itu.
__ADS_1
"Cari siapa, Mas, Mbak?" tanya admin jurusan yang berjaga di dekat pintu masuk.
"Pak T-Rex eh maksudnya Pak Rexford...." Naren hampir keceplosan.
"Pak Rexford tadi sedang keluar. Mungkin ada urusan, tadi keluarnya bersama Bu Vanya," jawab admin itu ramah. Tanpa sadar tanganku mengepal mendengar nama itu lagi. "Mungkin besok bisa janjian dulu, Mas, Mbak."
"Ya sudah, terima kasih, Pak," Naren dan aku keluar dari ruangan. Kami duduk di kursi tunggu depan ruang dosen itu. "Nampaknya Pak T-Rex sama Bu Vanya punya hubungan dekat deh," ucap Naren.
"Terserah deh! Aku nggak peduli!" sahutku ketus.
"Kamu kenapa kok marah? Sabar, ya, aku tahu kamu kecewa karena kita belum dapat acc." Naren menepuk-nepuk bahuku.
DRET!!! DRET!!! DRET!!! Smartphone-ku tiba-tiba bergetar. Saat kulihat ternyata terdapat nama 'Balok Es' di layar. Langsung kutolak panggilan itu.
"Ayok, kita balik ke sekre aja!" Naren hanya menggangguk.
"Gimana udah dapet acc?" tanya Rino, si ketua. Aku dan Naren hanya menggeleng. "Ya udah, besok coba lagi. Oh ya, Ren, kamu sama Qia maju lomba nyanyi, ya!"
"Lomba nyanyi? Dalam rangka apa?" aku terkejut.
"Aku ngikut Qia aja, No," Naren menatap ke arahku.
"Kenapa harus aku sama Naren? Kan anak-anak yang lain banyak." protesku.
"Kalian itu pasangan yang serasi. Chemistry-nya udah ada, kan kalian pasangan beneran. Apalagi Si Naren udah terkenal jago nyanyi," Rino menyikut Naren. "Jadi, tinggal dipoles dikitlah buat latihan nyanyi. Ayolah ikut, kita tunjukkan kalau ormawa kita itu juga ahli di bidang seni. Nggak cuma ahli bikin proposal sama presentasi penelitian doang. Kita tunjukkan sama ormawa lain kalau kita juga keren di bidang seni!" ucapan Rino membuatku tak bisa berkutik.
"Ya, udah deh. Aku mau ikut!" terpaksa kusanggupi.
"Ya udah, latihan sekarang aja!" Rino mengambil gitar.
"Tentuin dulu, mau nyanyi lagu apa," ucap Naren.
DRET!!! DRET!!! DRET!!! Smartphone-ku kembali bergetar. Ternyata panggilan telepon dari Si Balok Es lagi. Panggilan itu kutolak kembali. DRET!!! DRET!!! DRET!!! Panggilan itu masih terjadi berulang kali. Kuubah smartphone ke dalam mode silent. Kutaruh smartphone-ku di lantai dengan layar menghadap ke bawah. Aku mulai fokus latihan bernyanyi dengan Naren diiringi Rino.
Tak terasa hari sudah senja. Kami pun berniat pulang. Naren terus melihat smartphone-nya. Dia nampak panik dan tak berani melihatku.
__ADS_1
"Ada apa, Ren?" tanyaku.
"Beb!" Naren menyentuh bahuku. Biasanya jika dia memanggil seperti ini ada suatu masalah. Matanya serius menatapku."Maaf, aku lupa besok weekend aku nggak bisa nemenin kamu nonton," mendengarnya membuatku kecewa dan marah.
"Kenapa? Kamu kan sudah janji!" protesku.
"Aku ada perlombaan game, Beb!" jawaban itu membuatku muak. Game lagi game lagi. Jadi, game lebih penting daripada aku? Kenapa tidak sekalian saja berpacaran dengan game?
"Ya sudah!" sahutku ketus. Aku sudah lelah untuk marah. "Kamu pergi ke sana aja! Nontonnya batal nggak papa!" jawabku menahan marah. "Sana pergi persiapan lomba game sama temenmu, aku bisa pulang naik ojol (ojek online)!" kuharap dia peka pada kodeku.
"Kamu memang pengertian, Beb. Maaf ya, Beb! Nanti kalo aku menang, aku beliin kamu hadiah, Tuan Putri," Naren membelai poniku dan berlalu pergi ke parkiran. Dasar cowok nggak peka! HUH!!! Aku ini ngasih kode nggak setuju tahu!
Kubuka smartphone-ku, astaga! Terdapat 500-an panggilan tak terjawab dan semuanya dari Si Balok Es. Terdapat juga 700-an pesan SMS, semuanya darinya juga. Saat kubuka pesan itu isinya sama. Pesan itu berbunyi : Pulang secepat mungkin ke rumah saya. Jika terlambat tanggung konsekuensinya!
Dia mengancamku? HUH! Aku tak takut! Segera kupesan taksi online dan berangkat menuju rumah Si Balok Es. DUAR!!! Terdengar lagi suara petir. Hujan mulai turun lagi, ya setidaknya aku sudah ada di dalam mobil. Sebentar lagi sampai, aku sudah tak sabar untuk tidur. Malam ini aku lebih baik meminta ditemani oleh bibi pembantu di rumah itu daripada tidur bersama Si Balok Es.
"Nona Qia!" sapa satpam yang dengan sigap memayungiku saat keluar dari taksi. Dia menemaniku sampai ke pintu rumah Si Balok Es.
"Balok Es eh...." aku keceplosan. "Apa Pak Rexford sudah pulang, Pak?"
"Belum, Nona. Tuan Muda sedang pergi...."
"Ya sudah, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya. Saya mau istirahat," aku masuk ke dalam rumah. "HAH!" kurebahan badanku di sofa ruang tamu. "Akhirnya sampai di rumah! Balok Es menyebalkan!" teriakku ketus. "Dia menyuruhku pulang! Tapi dia justru pergi dengan Nenek Sihir itu!"
"Siapa yang bilang Si Balok Es pergi?" terdengar suara dingin yang menyeramkan dari arah pintu. Astaga, itu Si Balok Es.....
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1