
"Kapan, sih?" ucapku tanpa sadar.
"Kapan apanya?" sahut Balok Es. "Kamu baru mikirin apa?" tanyanya lagi sambil menatapku.
"Resepsi kita. Kapan tepatnya diadakan?" ucapku jujur.
"Sebentar lagi, Yaya. Sabar, ya," Balok Es membelai kepalaku. "Tunggu tangan kananku sembuh dulu."
"Tapi, kapan tanggal pastinya?" kutatap mata Si Balok Es. "Qia harus mengabari seseorang!"
"Siapa? Siapa yang harus kamu kabari jauh-jauh hari, hah?" tanya Balok Es.
"Kak Chan," sahutku.
"Kak Chan? Siapa itu? Mantan kamu?" celetuk Balok Es. "Kamu mengundang mantan?" ucapnya lagi.
Ih, Dasar Balok Es! Kok, kamu mikir ke sana, sih? 😮
"Kak Chan itu panggilan buat Kak Chandra! Saudaranya Qia. Dia masih kerja sambil kuliah di luar negeri!" aku mencoba menjelaskan. "Kak Chan nggak bisa pulang dadakan harus dari jauh-jauh hari dikabari. Waktu kita nikah Kak Chan nggak hadir. Qia pengen waktu resepsi ada Kak Chan, " kuutarakan isi hatiku.
__ADS_1
"Oh, Kak Chan itu panggilan buat Chandra Febrian Santoso. Kakakmu, itu? Tenang, Yaya. Kakakmu pasti bisa hadir," sahut Balok Es. "Aku pernah dengar dari Bunda, kakakmu punya hobi travelling, ya? Kudengar dia suka travelling sejak masih di bangku kuliah terus ketagihan sampai akhirnya memilih merantau di luar negeri."
"Iya, Kak Chan memang punya impian keliling dunia. Dia punya impian buat kuliah di luar negeri. Qia juga pengen."
Aku terdiam karena teringat pada impian lamaku. Keliling dunia seperti Kak Chan. Aku juga ingin kuliah di luar negeri, setelah lulus kuliah S1. Tapi, sekarang aku menikah lebih cepat. Balok Es tak mengijinkanku pergi, kurasa aku harus melupakan impian itu.
"Sudahlah, lupakan...."
"Kamu kecewa, ya?" tanya Balok Es.
Bagaimana aku harus menjawabnya? Tentu saja, aku merasa kecewa karena impianku kemungkinan besar tak bisa terwujud, tapi aku tak mungkin mengatakan itu di hadapan Si Balok Es.
"Wajahmu sudah menunjukkan jika kamu kecewa," Balok Es membelai kepalaku. "Iya, kan. Kamu kecewa karena tidak kuijinkan kuliah ke luar negeri, kan?" tanya Balok Es lagi.
Aku tak berani menatap mata Balok Es. Aku mengutarakan kekecewaanku tepat di hadapannya. Bagaimana dia akan menanggapi hal ini.
"Kak Billy!" aku terkejut. Balok Es tak marah, dia justru mencium bibirku kembali. Serangan mendadak ini tentu membuatku amat terkejut.
"Kau memang tidak kuijinkan pergi kuliah ke luar negeri tapi kau tetap bisa keliling dunia bersamaku, Yaya. Aku akan mengajakmu keliling dunia setelah kau lulus kelak!" Balok Es menatapku sambil tersenyum. Tangan kirinya membelai rambutku.
__ADS_1
"Tapi, kan Kak Billy mau jadi rektor."
"Rektor di Universitas XXX jabatannya hanya 2 tahun. Setelah dua tahun itu, kamu pasti sudah lulus. Kita akan pergi keliling dunia. Anggap saja liburan panjang setelah kamu berjuang untuk wisuda kelak. Kebetulan travelling itu salah satu hobiku."
"Kutu buku kayak kamu punya hobbi travelling?" ucapku spontan.
Ah, masak sih kutu buku kayak Si Balok Es punya hobi travelling. Aku tidak percaya akan hal itu.
"Ck! Apa kamu berpikir aku adalah seorang kutu buku yang kaku?" Balok Es menatapku tajam.
"Sakit!" Balok Es mencubit pipiku dengan tangan kirinya.
"Sudah tidur! Nanti malam akan kutunjukkan seperti apa diriku yang sebenarnya!" celetuk Balok Es. Dia kembali memelukku erat seperti sebuah guling. Balok Es, maksudmu apa, sih? Kamu bikin pikiranku berimajinasi liar, tahu! 😕
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍