Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 30 - Aku Benci Padamu!


__ADS_3

"AAAA!!!!" teriakku reflek. Apa aku akan mati hari ini? Naren! Tolong aku! Mataku terpejam. Aku sudah pasrah pada takdirku. SRET!!! Kurasakan ada yang menarik tanganku. BRUK!!! Terasa sebuah tarikan yang kuat. Tarikan itu membuat tubuhku langsung terhuyung jatuh.


"DASAR CEROBOH!!!" suara dingin yang terasa familiar sekali. Saat kubuka mataku ternyata aku sudah jatuh menimpa tubuh Si Balok Es. Dia nampak marah di wajah dinginnya.


"Ba...pak...." ucapku terbata-bata. Jantungku masih saja berdetak kencang karena nyawaku yang hampir saja tercabut tadi.


"Apa yang terjadi?!" terdengar suara mendekat. Teman-temanku yang belum menyeberang mulai mendekat ke arahku.


"JIKA MENYEBERANG, LIHATLAH DULU!!!" ucap Balok Es sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya. "KAMU SUDAH BESAR!!! JANGAN CEROBOH!!!" dia terus saja memarahiku. "Sudah, yang lain cepat jalan kembali!" perintahnya cuek sambil berlalu pergi. Aku masih terduduk di tanah.


"Qia, kamu nggak papa? Ada yang sakit? Aku cariin obat dulu yuk!" ucap Wati. Aku hanya menggeleng.


Entah mengapa aku merasa sakit. Balok Es, tak bisakah kau lembut sedikit? Aku hampir kehilangan nyawaku. Aku tahu kau tak menyukaiku, tapi bisakah kau lembut sedikit saat aku sedang lemah seperti saat ini.


"Sudah, ayo kita berjalan kembali," ucapku lirih. Aku bangkit berdiri sambil berpegangan Wati. Sejujurnya, kakiku sedikit lecet karena jatuh tadi. Tapi lupakanlah, luka itu tak seberapa.


Setelah menyeberang jalan raya, nampak Gedung Olahraga Universitas XYZ. GOR yang megah, pilar-pilarnya berwarna kuning keemasan. Atapnya berwarna merah api. Bangunannya kurasa berbentuk segi delapan. Aku dan Wati sudah sampai tepat di depan air mancur sepuluh tingkat, landmark Universitas XYZ. Balok Es kurasa memandangiku sedari tadi, aku tak mempedulikannya. Terus kuhindari tatapannya.


"Qia!" terdengar suara memangilku. "Kamu kenapa? Katanya kamu kecelakaan tadi? Mana yang sakit? Sini biar aku periksa!" Naren menghampiriku. Dia menunjukkan raut wajah yang nampak sangat khawatir.


"Aku nggak papa, Ren," ucapku menenangkan Naren. Naren, aku tahu kau menyayangiku, tapi ini di depan orang banyak. Aku malu, jika kau menunjukkan kasih sayangmu secara berlebihan.


"Sudah, diam!" bentak Naren. Ia lalu berjongkok tepat di depanku.


"Naren, kamu mau ngapain?" aku terkejut. Naren, please, semua orang ngeliatin kita. Tolong berhenti!


"Kakimu pasti luka! Sini, aku obati!" Naren tetap bersikeras melihat kakiku. Dia menggulung rok hitam panjangku secara perlahan. "Tuh kan!" teriaknya keras. "Ini kulitmu lecet!" Naren menatap tajam ke arahku. Tepat saat itu semua orang termasuk Si Balok Es memandang ke arahku. Kurasa mereka memandang seperti memandang sebuah drama atau sinetron. Naren mengeluarkan sebuah kotak plastik bening kecil.


"Sini, aku obati!" Naren mengeluarkan plester luka dan sebuah semprotan. "Lukamu harus segera dirawat! Kalau tidak nanti infeksi, aku tak mau tubuh Tuan Putriku yang berharga terluka!" ucap Naren sambil menyemprotkan cairan. Kurasa itu semacam desinfektan. Pandangan semua orang semakin tajam ke arah kami. Jujur, aku malu tapi juga merasa senang. Hatiku berasa hangat. Ini perasaan yang menyenangkan. Luka lecetku ditutup dengan plester luka. "Nah, sudah selesai!" Naren lalu bangkit berdiri. "Lain kali menyeberanglah dengan hati-hati, Tuan Putri!" Naren membelai dan merapikan poniku. "Tak usah buru-buru, karena aku akan selalu menunggumu!" ia tersenyum ke arahku.


"AYO CEPAT BARIS!" terdengar suara memengkikkan telinga. Suara itu tentu suara teriakan Si Balok Es. Aku dan teman-teman pun berbaris berjajar sesuai perintahnya.


"Naren, kita foto di sini saja!" kuajak Naren berbaris di deretan depan agak tengah agar foto kami terlihat jelas. Barisan foto terdiri dari tiga deret. Aku sudah senang sekali, setidaknya aku memiki satu foto dengan Naren meski bersama banyak orang. Tenang, pasti foto ini diambil dengan kamera beresolusi tinggi. Nanti fotonya tinggal diperbesar dan di-crop saja. Aku sudah menggenggam lengan Naren erat-erat.

__ADS_1


"Kita di sini saja, Pak!" terdengar suara Si Balok Es. Dia nampak berjalan bersama Pak Ali, perwakilan pejabat dari Universitas XYZ. "Rino, kamu dan ketua UKM Penelitian FE Universitas XYZ di sebelah kami saja, di kiri dan kanan," Balok Es melirik ke arahku. "Kurasa titik center fotonya ada di sini," ia menunjuk sela-sela antara aku dan Naren.


"Benar, Pak!" sahut Pak Ali. "Ayo kita segera berfoto, hari semakin sore!" Balok Es dan Pak Ali segera menempatkan diri di barisan. Keduanya berada menempati sela-sela antara aku dan Naren. Otomatis, aku dan Naren jadi terpisah. "Ayo, para ketua ormawa, kemari!" panggil Pak Ali.


Rino dan ketua ormawa UKM Penelitian FE Universitas XYZ juga merangsek ke barisan itu. Keduanya membuat jarakku dan Naren jadi terpisah makin jauh. Sekarang di sebelah kiriku ada Wati, sebelah kananku ada Rino, Si Balok Es, Pak Ali dan ketua UKM Penelitian FE Universitas XYZ. Ya, Naren ada di kanan setelah ketua UKM Penelitian FE Universitas XYZ. Balok Es, tak bisakah kau tak menggangguku sejenak! Aku benci padamu!


Saat kamera flash kamera menyala, aku hanya memasang wajah dengan senyum palsu. Amarah memenuhi hatiku, aku benci padamu Balok Es. Aku benci!


"Terima kasih sudah mengunjungi UKM kami, sampai jumpa lagi!" kata-kata itu terus terlontar dari para anggota UKM Penelitian FE Universitas XYZ. Kata-kata itu terlontar saat mereka melepas kami menaiki bus yang terparkir di Halaman Rektorat Universitas XYZ. Aku hanya diam setelah berfoto tadi. Kakiku langsung menaiki bus dan duduk di tempat semula sambil menatap ke arah jendela.


"Apa semua sudah naik?" terdengar suara Si Balok Es. Dia duduk di sebelahku.


"Sudah, Pak. Kita bisa berangkat sekarang," sahut Rino.


"Ya, sudah berangkat saja. Jika ingin memutar musik sambil karaoke lagi, saya tak keberatan," ucap Balok Es.


"Siap, Pak!" jawab Rino.


Bus segera berangkat meninggalkan kompleks Universitas XYZ menuju tujuan selanjutnya, yaitu sebuah tempat wisata. Musik dangdut koplo dan campursari koplo mulai terdengar dengan keras dari speaker bus. Teman-temanku mulai karaokke lagi, suasana ramai dan meriah.


"Bukan urusan, Bapak! Saya hidup atau mati, itu tak ada kaitannya dengan Bapak!" balasku ketus sambi membuang muka. Aku hanya melirik ke arah jendela bus.


"Jaga ucapanmu, Tikus Kecil! Kau adalah tanggungjawabku! Urusanmu adalah urusanku juga!" bisik Balok Es.


"Mulai sekarang Bapak tak perlu mengurus urusan saya lagi! Jangan ganggu saya dan Naren! Saya benci Bapak!" bisikku agak keras.


"Kau! Beraninya...." Balok Es melirikku. Dia terlihat murka, aku tak peduli pada reaksinya.


"Kita sudah sampai!" ucap Pak Arjun.


Aku segera bersiap turun dari bus. Balok Es menghalangiku dengan kakinya yang panjang. Aku lihat ke arah belakang bus. Teman-temanku termasuk Rino dan Pak Arjun sudah melangkah menuju pintu bus. Bahkan banyak teman-temanku yang sudah ada di luar bus.


"Minggir, Pak! Jangan ganggu hidup saya! Saya benci Bapak!" ucapku agak keras.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu...AAA!!!" sebelum sempat Balok Es menyelesaikan kata-katanya, telapak kakinya kuinjak dengan kakiku sekuat tenaga. Akhirnya, aku bisa bebas dari cengkeramannya. Segera kulangkahkan kakiku keluar dari bus.


"Naren!" aku segera menghampiri Naren. Dia tentu saja tersenyum saat melihatku.


"Tuan Putriku, kali ini aku takkan melepaskan tanganmu!" ucapnya sambil menggenggam tanganku.


Aku menyadari jika Balok Es ada di dekat kami. Kurasa dia menatap dengan tatapan murka di wajah dinginnya itu. Aku tak peduli. Aku benci padamu, Balok Es!


Dalam kunjungan ilmiah atau study banding, selain mengunjungi organisasi di suatu universitas juga diagendakan mengunjungi suatu tempat wisata. Hal yang kusukai, mengunjungi tempat wisata. Aku bisa sejenak melepas penat dari beban hidupku, terutama dari cengkeraman Balok Es. Tempat wisata yang dipilih dalam kunjungan ilmiah kali ini adalah sebuah Agro Wisata Petik Buah. Ada berbagai macam pohon buah-buahan tropis yang ada di sini. Aku dan Naren sudah ada ada di tengah-tengah kebun buah. Kami terus bergandengan tangan dengan riang. Masa bodohlah orang lain bilang kami terlalu bucin. Mereka saja yang iri karena tak memiliki pasangan.


"Naren, kamu mau bawa mencoba buah apa?" tanyaku sambil tersenyum ke arahnya.


"Emm, aku sudah mencobanya," balas Naren.


"Hah?! Bukannya kamu belum makan buah apa pun?" aku heran.


"Meski ragaku belum makan tapi jiwaku sudah memakan senyummu yang manis. Tak ada buah yang bisa menandingi senyum manismu, Tuan Putriku!" Naren menggombaliku. Pipiku sedikit memerah mendengarnya.


"Dasar kau tukang gombal!" sahutku. Naren tiba-tiba berhenti di suatu pohon. Ternyata itu sebuah pohon jambu merah.


"Aku mau minta petugas memetik buah ini dulu untuk oleh-oleh ibuku, kamu jalan duluan aja! Di depan ada Wati dan Rino," Naren membelai poniku. "Jangan khawatir, aku pasti akan menyusulmu," aku pun menggangguk.


Di wisata petik buah ini pengunjung bisa mencoba buah sepuasnya saat di kebun buah tetapi jika buah di bawa pulang ke rumah harus membayar dan ditimbang terlebih dahulu di pintu keluar. Kulihat di depanku, ada Wati yang sedang memetik apel hijau. Tunggu, itukan buah kesukaan Papa. Lebih baik aku memetiknya. Kulangkahkan kakiku menuju pohon apel itu.


"Wati, aku ikut!" teriakku ceria sambil berlari ke arah pohon itu. CRAK!!! BRAK!!! Tiba-tiba saja ada sebuah batang pohon besar yang jatuh ke arahku. "AAA!!!" teriakku spontan. Apa kali ini nyawaku benar-benar akan melayang?


BRUK!!! Kurasakan tubuhku terjatuh di dorong oleh seseorang. Aku tak bisa melihat jelas apa yang terjadi. Kejadian itu begitu cepat. Kepalaku terasa sangat pening. Kurasa kepalaku membentur tanah dengan keras dan terluka. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sudah mendorongku?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2