
Kemana Balok Es membawaku pergi, ya? Nampak mobil ini melewati jalan berkelok. Di samping kiri dan kanan nampak bukit yang kurasa berupa tanah lempung. Warnanya kecoklatan gelap. Pepohonan yang masih asri nan hijau. Jalan aspal ini nampaknya sengaja dibuat membelah jalan di perbukitan ini. Kurasa ini masih di dataran tinggi. Langit terlihat sedikit mendung, kuharap hari ini tak hujan.
"Pak, kita mau kemana, sih?" aku penasaran.
"Kau akan tahu nanti!" sahut Balok Es sambil memandang ke arah kaca jendela.
Karena aku bosan kunyalakan kembali smartphone-ku. Aku sengaja mematikannya agar pikiranku bisa tenang. Saat data selulernya kembali kunyalakan nampak ada ratusan chat dan panggilan masuk. Saat kuperiksa kontaknya, seperti dugaanku itu dari Naren. Aku sudah tak tertarik lagi, lebih baik kuatur saja ke dalam mode offline.
Mobil akhirnya sampai ke sebuah area yang cukup ramai. Kurasa ini tempat parkir. Nampak ada mobil tersusun berderet-deret. Ada juga bus-bus wisata yang terparkir di sana. Motor juga ada dan tentu motor yang paling mendominasi di sini. Di seberang jalan itu nampak ada pepohonan pinus. Mobil ini berhenti setelah mendapatkan tempat parkir yang tepat.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai," ucap Pak Sopir. Nampak pengawal Si Balok Es membukakan pintu mobil ini.
"Pakai kacamata hitam dan topi ini!" perintah Balok Es. Dia menyerahkan kacamata hitam dan sebuah topi pink bundar yang besar padaku.
Balok Es sendiri memakai kaca mata hitam dan topi pet warna hitam. Setelah keluar dari mobil, Balok Es langsung menggadeng tanganku. Nampak Sekretaris June dan beberapa pengawal mengelilingi kami.
"Kawal dari jauh, jangan terlalu ketat!" perintah Si Balok Es.
Balok Es dan aku berjalan menuju seberang jalan itu. Setelah menyeberang nampak loket masuk karcis. Sekretaris June dengan sigap membeli karcis untuk kami. Pintu masuk itu sudah berupa jalan menanjak. Nampak tangga-tangga dari semen berhiaskan batu-batu warna putih menghiasi tangga ini.
Aku dan Balok Es segera menapaki anak-anak tangga itu. Balok Es memimpin berjalan di depan, aku mengikutinya di belakang. Di kiri dan kanan mulai nampak pohon pinus yang tinggi dan langsing. Tanah-tanah nampak diselimuti daun-daun pinus yang berbentuk seperti jarum. Daun-daun itu berwarna kecoklatan dan menutupi tanah. Jika dilihat secara sekilas mungkin mirip tumpukan arum manis dengan warna coklat karamel.
Hutam pinus ini berbukit-bukit, sekarang tak lagi nampak anak tangga tetapi jalan setapak. Jalan setapak yang terbuat dari semen dengan batu-batu putih lonjong disusun rapi. Diantara hutan pinus itu nampak ayunan dari kayu serta tempat duduk dari potongan kayu.
"Pak, ayo foto!" kugandeng Balok Es keluar dari jalan setapak. Kami berjalan diantara pepohonan pinus itu.
"AAA!!!" teriak Balok Es.
Ternyata dia terpeleset. Dengan sigap kutangkap tubuhnya. Wajah Balok Es yang bertutup kacamata hitam memandangku. Waktu seakan terhenti. Pak, bukankah jika di film atau novel yang terpleset itu saya dan yang menangkap itu Bapak, ya? Kenapa jadi terbalik sekarang! 😂
"Bapak ngeliatin apa?" ucapku untuk menyadarkan Si Balok Es. Kurasa dia terpesona padaku 😆. Balok Es segera bangkit dan berdiri kembali.
"Tanahnya licin sekali! Kamu hati-hati!" perintahnya padaku.
Pak, saya belum kepeleset, lho! 😂 Yang seharusnya bilang begitu kan saya! 😂 Aku hanya menggangguk.
"Pak, tolong foto saya!" kuserahkan smartphone-ku. Aku segera bergaya dengan candid di depan ayunan.
"Sudah!" sahut Si Balok Es.
"Lagi, Pak! Lagi!" pintaku sambil terus bergaya. Entah di depan ayunan, sedang duduk di bangku kayu atau bergaya di antara pepohonan pinus.
"Ck! Cukup!" protes Si Balok Es. "Kau pikir saya tukang foto!" ucapnya dengan nada marah.
__ADS_1
Sial, aku masih ingin berfoto padahal. Balok Es berjalan di depanku kurasa dia sedikit ehm, marah karena kusuruh terus menjepretku. Ide terlintas di pikiranku. Aku melangkah di depan Si Balok Es. Kuubah kameraku menjadi mode kamera depan.
"T-Rex Tersayang!" panggilku.
Secepat kilat kucium pipi kiri Si Balok Es lalu kuabadikan dengan kamera depanku. Hihihi, Balok Es nampak tertegun beberapa saat setelah aku menerimanya.
"Ck! Kau semakin agresif!" sahut Si Balok Es. "Ayo, kita jalan kembali!" dia kembali menggandeng tanganku.
Jalanan setapak menanjak menaiki bukit kemudian menurun menuju suatu tempat. Di depan nampak semacam panggung yang berada di bawah bukit. Nampak ada tempat duduk berjejer setengah melingkar mengitari panggung itu.
"Kenapa tak ada pertunjukkan?" ucapku.
Panggung itu kosong, hanya ada pengunjung yang sibuk berfoto. Background panggung itu berupa pemandangan alam yang terlihat dari atas sini.
"Pertunjukkannya setiap malam," jawab Si Balok Es.
"Apa kita akan melihatnya juga, Pak?" tanyaku dengan antusias.
"Tidak, saat siang kita sudah harus kembali ke kota," sahutnya.
"Yah, kenapa Pak? Ini kan libur nasional!" protesku.
"Kita sudah lama tak menjenguk kakek saya. Dia menanyakanmu," Balok Es memandangku. "Saya lelah, ayo kita duduk sejenak,"ia menggandengku duduk menuju kursi penonton yang dibuat dari potongan kayu itu. Aku duduk tepat di sebelahnya. "KECOAK!" teriak Balok Es.
Nampak kilatan flash mengenai mataku. Ternyata Balok Es sudah memegang smartphone dengan kamera depan aktif. Smartphone itu dipegang dengan tangan kirinya.
"Pose yang amat bagus!" ia tersenyum bahagia.
"Bapak jahat! Bilang lah Pak kalo mau foto sambil berpelukan! Nggak usah jahil begini!" protesku.
"Saya lebih suka ekspresi yang alami, Tikus Kecil!" Balok Es tersenyum licik.
Aku lelah berdebat dengannya. Dia sungguh terlihat muda dan menawan dalam balutan kaos biru dan celana jeans ini. Apalagi kaos ini lengannya pendek. Otot tangannya terlihat. Aku jadi enggan melepas pelukanku. KRUK!!! Terdengar suara perutku berbunyi.
"Kau lapar?" tanya Si Balok Es.
"Hehehe...i...ya, Pak...." jawabku. Padahal di penginapan tadi kami sudah sarapan sebelum check out.
"Ayo, kita cari makan!" Balok Es bangkit dan menggandeng tanganku lagi. "Warung makan ada di dekat pintu keluar!" aku dan Balok Es mulai berjalan menelusuri jalan setapak yang sama lagi. Setelah berjalan beberapa lama nampak ada beberapa warung makan.
"Pak, ayo makan bakso!" ucapku sambil menunjuk ke arah warung yang menjual bakso.
"Ehm," sahut Si Balok Es. Kami segera duduk berhadapan. "Pesan dua mangkok jadi satu piring ya, Bu!" ucap Si Balok Es.
__ADS_1
Pak, apa Bapak mulai jadi bucin? 😂 Mau makan bakso saja sepiring berdua! 😂 Pesanan pun datang. Nampak semangkok bakso yang penuh. Kuahnya hampir tumpah. Balok Es memegangi garpu.
"Iya, Pak. Saya akan menyuapi Bapak!" ucapku.
Kuambil sebuah garpu lalu menusukkannya ke bakso. Tanganku mengarahkan tusukan itu ke mulut Si Balok Es. Mulut Si Balok Es sudah terbuka. Hihihi, tak jadi, Pak! 😂 Suapan itu dengan cepat kumasukkan ke mulutku.
"Dasar Tikus Jahil!" protes Si Balok Es. Aku hanya tertawa saja. "Sudah, saya mau pesan mangkok sendiri saja!" dia hendak berdiri.
"Iya, Pak! Iya," ujarku sambil mencegahnya. "Ini, Brilliant Rexfod Hutama, ayo makan!" ucapku sambil mengarahkan bakso ke mulutnya. Ini pertama kalinya aku menyebut nama Si Balok Es ini dengan lengkap. Balok Es menerimanya, dia bahkan terus membuka mulutnya. Pak, yang lapar itu saya! 😦 Kenapa yang lahap makan justru Bapak? 😐
"Saya sudah kenyang!" Balok Es nampak puas.
Bagaimana tak puas? Dia menambah hingga tiga mangkok bakso! 😣 Sedangkan aku cuma baru makan satu piring saja tidak full 😭. Sudahlah, tapi aku senang bisa pergi wisata kemari.
"Ayo kita pulang!" ajak Balok Es. Aku pun menggangguk.
"Pak!" panggilku.
"Ehm," Balok Es tak memandangku, dia masih saja melihat pemandangan dari kaca jendela mobil yang tengah melaju.
"Fotonya tadi saya upload, ya!" ucapku. Balok Es memandangku sejenak.
"Terserah padamu. Jangan lupa tag akun saya!" dia melihat ke smartphone-ku. "Ck! Jangan upload jika kamu masih menyimpan yang lama!" ia berpaling.
Kurasa dia tak rela jika di akun sosial mediaku ini masih ada fotoku dan Naren. Segera saja kuhapus foto-foto itu. Oh ya, aku kan belum tahu akun sosial media Si Balok Es.
"Saya sudah menghilangkan yang lama, Pak. Sekarang fotonya mau saya upload. Saya upload yang kita berdua pakai kacamata, Pak!" kutunjukkan foto yang sedang dalam proses upload.
"Ehm, segera lah upload, sini saya tulis caption-nya!" Balok Es mengambil smartphone-ku. "Sudah selesai!" ia menyerahkan kembali smartphone-ku.
Kulihat caption pada unggahan itu. Astaga, kapan dia membuatnya? 😨 Bunyi caption itu : 'Liburan bersama @jantung_hatinya_qia'. Balok Es, kapan kau membuat akun ini? 😦
Tunggu, bukanlah ini bagus? 😆 Naren, aku ingin tahu apa reaksimu! 😤
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1