
Kurasa hari sudah pagi, aku membuka mataku sejenak. Terasa guling bernyawa yang masih kupeluk erat. Balok Es masih nampak belum membuka matanya. Pak, Bapak ternyata enak banget buat dipeluk ya. Mata Balok Es nampak mulai bergerak. Gawat! Cepat tidur lagi, Qia! Cepat! Aku pun menutup mataku kembali.
"Hey, ayo bangun," terdengar suara Balok Es. Aku tetap tak membuka mataku. "Yaya," panggil Si Balok Es. "Ayo, bangun! Hari sudah pagi," ucap Si Balok Es lagi. Bisa kurasakan kecupan lembut di hidungku. "Ayo, bangun!" ucap Si Balok Es. Kecupan itu membuatku geli, kurasa wajahku sedikit bergerak. "Kau sudah bangun kan? Ayo, cepat bangun!"
"Ehm," aku hanya membuka mata untuk menggeliat. "Lima menit lagi, Hubby!" aku kembali memeluk Si Balok Es dengan sangat erat. "Qia baru pengen meluk Hubby. Hubby enak buat dipeluk," aku memanggil dengan manja.
"Ck! Ayo, bangun!" Balok Es menyentil hidungku. Sentilan itu otomatis membuatku terbangun. "Jangan malas, Tikus Kecil!" Balok Es beranjak bangkit.
"Kak Billy," panggilku manja. Kurasa aku sedang ingin terus dibelai oleh Si Balok Es. Ehm, mungkin ini ya yang namanya move on itu. "Kak Billy, bawa Yaya dong. Bawa Dedek Qia mandi," ucapku sambil memeluk Balok Es dari arah belakang.
"Ck! Kau jadi manja sekali pagi ini," Balok Es membelai rambutku. "Nanti malam setelah pulang kerja. Kau boleh memeluk saya sepuasnya, berendam yang lama juga tak masalah atau jika kau ingin mencoba bermain di bawah selimut lebih awal juga saya siap menemani, Tikus Kecil!" mata Balok Es berkilau licik.
__ADS_1
"Ba...pak...." aku langsung melepas pelukanku.
Pak, kok Bapak makin agresif sih? Katanya mau melakukan itu habis resepsi kok mau dicepetin? Aku tertegun dengan perubahan pemikiran Balok Es yang begitu cepat.
"Hahaha," Balok Es tertawa. "Saya cuma bercanda. Mana mungkin saya berubah pikiran secepat itu. Sudah sekarang mandi, kamu mandi di kamar sebelah saja," Balok Es berdiri. "Mumpung waktunya masih ada waktu untuk pulang ke rumah untuk mengambil mobilmu dan peralatan kuliahmu. Saya juga perlu ke kampus hari ini soalnya. Sudah, cepat pindah ke kamar sebelah!" perintah Si Balok Es.
"Kak Billy, kamu boros," ucapku. "Masak menyewa dua kamar padahal yang satu nggak ditempati. Kalo mau buang uang mending buat ngajak Dedek Qia jalan-jalan gitu...."ucapku. "Ba...pak...." aku terkejut. Balok Es mencengkeram daguku, dia lalu menyerang bibirku dengan cukup ganas.
Pak, Bapak makin agresif tahu nggak sih. Kurasa aku harus melihat suasana saat ingin memprovokasi Si Balok Es, tapi ehm, aku mulai suka sih pada sikap agresifnya yang dingin dan mengejutkan itu.
Aku pun segera pindah ke kamar sebelah. Di sana sudah ada Sekretaris June. Dia segera meninggalkan kamar itu. Di kamar itu sudah ada kemeja warna pink dan rok hitam. Ini baju baru, terlihat dari kertas penanda merek yang masih menempel. Aku pun segera mandi dan berdandan. Setelah itu aku turun ke lobi.
__ADS_1
"Kita sarapan di mobil saja," Balok Es menyerahkan seplastik roti yang ukurannya cukup besar dan dua buah susu kotak. "Suapi saya!" perintahnya. Aku pun hendak melakukan perintahnya. "Ini pakai handsanitizer dulu!" Balok Es menyerahkan benda itu padaku. Aku pun segera menggunakan benda itu di tanganku. Roti itu kuambil sedikit lalu kusuapkan ke dalam mulut Si Balok Es. Pak, Bapak kok makin manja sih? Jariku seakan ingin ditelannya juga saat kutarik jari itu keluar. "Kau juga suapi dirimu!" perintah Si Balok Es. Aku pun segera memakan roti itu juga. "Nanti kita mulai jalankan rencana yang saya ceritakan tadi malam," ucap Balok Es sambil meminum susu kotak itu.
"Rencana?" aku tertegun. "Rencananya seperti apa, Pak?" tanyaku penasaran.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍