Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 84 - Undangan


__ADS_3

(Author's Point of View)


"Oh, ya, Billy, Qia...." panggil Bunda Belvana.


"Desain undangan buat resepsi kalian udah jadi!" Bunda Belvana nampak memegang sebuah kertas yang cukup tebal. "Kalian lihat-lihat dulu saja" tanya Bunda Belvana.


Ternyata waktu resepsi itu akan segera tiba. Cepat sekali ya, gumam Qia.


Tangan Billy nampak meraih undangan itu. Nampak undangan berwarna kuning keemasan. Halaman sampul depan ada foto Billy dan Qia ketika di kebun teh. Foto itu menampilkan foto keduanya, Billy nampak memeluk Qia dari arah belakang. Di sampul paling depan ada tulisan dengan tinta emas bertulisan 'Undangan Resepsi Pernikahan Billy dan Qiandra'.


Cukup bagus juga hasil desain undangannya, gumam Billy.


Tangan Billy membuka halaman selanjutnya. Nampak foto keduanya ketika memakai jas dan gaun berwarna emas itu. Foto itu dijadikan background bagian belakang dari halaman isi undangan itu. Di foto itu Billy memeluk Qia dari arah belakang juga. Isi undangan itu ditulis dengan tinta warna hitam.


Si Balok Es tampan juga ya kalo di foto kayak gini, gumam Qia sambil melirik ke arah undangan itu.


Tangan Qia membuka halaman belakang undangan itu.


"Astaga!" ucap Qia.


Di halaman belakang itu nampak foto Billy dan Qia saat masih di kebun teh. Foto itu memperlihatkan Billy yang sedang mencium Qia. Ada tulisan di halaman belakang undangan itu. Bunyinya: "I Lou You 1 Billi❀n".

__ADS_1


"Kenapa? Fotonya bagus kok!" ucap Billy.


Ih, Balok Es, kamu sengaja ya pasang foto kayak begini di undangan kita. Duh, aku jadi malu nih! gumam Qia.


"Ehm...Kak Billy...bisa nggak foto yang ini...." ucap Qia ragu-ragu.


"Billy sama Qia udah cocok sama desainnya, Bunda!" ucap Billy. "Segera cetak dan langsung kirim saja! Qia suka banget sama foto yang di halaman belakang! Dia nggak sabar biar foto ini dicetak ukuran besar!" ucap Billy sambil menatap Qia.


Ih, Balok Es, padahal bukan itu yang kumau, tahu! Duh, fotonya kok harus itu, sih! gumam Qia.


Fotonya sengaja kupasang itu, biar Naren bisa berpikir ulang kalo mau dekatin kamu lagi, Yaya, gumam Billy.


DRET! DRET! DRET! Terdengar suara getaran handphone.


Ternyata ada video call dari Kak Chan, gumam Qia. Dia segera dia jawab video call itu.


"Kakak!" teriaknya girang. Nampak seorang pria muda berambut gondrong sebahu. Hidungnya pesek tapi dia punya lesung pipi yang membuat senyumnya nampak memesona.


"Adek!" panggil Kak Chan.


"Kak, kamu kok video call, sih? Kamu nggak kuliah?" celetuk Qia.

__ADS_1


"Liat siapa ini!" nampak wajah seorang wanita yang sangat dikenali Qia.


"Mama!" teriaknya. "Kok bisa ada Mama, sih?" ia tertegun karena heran. "Kakak pulang, ya! Kakak pulang?!" teriaknya tak percaya.


"Eh, kok malah nangis, sih? Cup....cup...cup...." ucap Chan. "Iya,aku pulang. Masak resepsi adek sendiri aku nggak pulang. Kamu kok nangis, sih? Nggak suka ya aku pulang?" tanya Chan. "Ya, udah deh, aku pergi lagi aja!" goda Chan.


"Jangan-jangan! Ih, Kakak ini tangis bahagia tahu!" sahut Qia. "Kakak sekarang di rumah?"


"Iya, ini di rumah...." sahut Chan.


"Oke, aku otw ke sana!" teriak Qia, dia kembali masuk ke ruang makan. "Kak Billy, ayo pulang! Kakaknya Qia datang! Ayo, pulang! Pulang!" rengek Qia sambil menarik-narik bahu kiri Billy. "Hubby, ayo pulang Yaya pengen ketemu Kak Chan!" bujuk Qia lagi. Billy menghela napas.


Jika dia baru ada maunya baru memanggilku hubby, gumam Billy.


Jangan lupa like dan vote ya πŸ˜„ biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok πŸ˜„


Tinggal pencet tanda jempol πŸ‘ di pojok kiri bawah untuk like πŸ˜„


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2