Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 9 -Panggilan Mesra?


__ADS_3

"Pak, ternyata Anda manis juga...." ucapku tanpa sadar. SLAP!!! Astaga, mata elangnya langsung terbuka.


"Kamu bilang apa?" ia menatapku tajam. Biasakah aku menghilang ke dalam tanah saja? Mulut konyolku berkata hal yang memalukanku. "Kamu bilang saya manis?"


"Nggak! Saya nggak bilang apa pun! Bapak yang salah dengar! Kan Bapak sudah tua!" elakku dengan ketus.


"Kamu bilang saya tua? Berani kamu, ya!" ia nampak tak terima.


"Iya, Bapak kan dosen jadul, killer lagi! Galak!" kukeluarkan segala keluh kesahku. BRUK!!! Tiba-tiba Balok Es itu melompat ke arahku. Bendungan berupa bantal dan guling itu jebol. Tubuh Si Balok Es ada di atas tubuhku. Tubuh mungilku ditindihnya. "Bapak! Lepaskan saya!" teriakku berusaha melawan. Astaga, jika dia benar-benar jahat apa yang akan terjadi padaku?


"Tikus kecil yang berani!" ia memegangi daguku dengan tangan kanannya.


Tikus? Apa maksudnya? Astaga, apa yang ingin dilakukan Balok Es ini! Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mata elangnya menatapku tajam. Hidungku dan hidungnya bersentuhan, jarak wajah kami sangat, sangat dekat. Kututup mataku.


"Dasar penakut!" ia kembali berbaring di samping kananku. Aku masih ternganga heran atas apa yang terjadi.


"Bapak jahat!!" kupukul wajahnya dengan bantal. Ia menjengkelkan, apa dia tadi sengaja menggodaku?


"Sudah berhenti!" ia menghadang pukulan bantalku. "Saya lelah! Tidurlah atau...." DUAR!!! Suara kilat yang sangat besar tiba-tiba terdengar lagi.


"AAAA!!! PAK!!!" tubuhku reflek memeluk Balok Es lagi. DUAR!!! Suara petir diikuti kilatan cahaya putih terjadi lagi. "PAK!!! TAKUT!!!" teriakku.


"Bisa lepaskan saya?" suara dingin itu menyadarkanku kembali. Kulepaskan pelukan itu, lalu menjauh dari Si Balok Es.


"Ma...af, Pak...sa...ya ta...kut...."

__ADS_1


"Sudahlah, saya lelah. Kita akhiri sampai di sini!" Balok Es itu kembali menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ia kembali menutup matanya. Aku mencoba tidur, kupejamkan mataku tetap saja aku tak bisa tidur. Suara angin dan petir membuatku tak nyaman ditambah lagi ini bukan kamar dan rumahku. Aku terus bergerak ke kiri dan ke kanan mencoba membuat nyaman posisi tidurku. Aku ingin bermain smartphone-ku, tapi sialnya barang pentingku itu tertinggal di rumah sakit.


"Kamu jangan gerak-gerak terus! Ganggu orang tidur saja!" Balok Es itu terbangun.


"Saya nggak bisa tidur, Pak...." keluhku.


"Kamu nggak bosan daritadi manggil saya Bapak terus?" pertanyaan itu membuatku termangu.


"Memangnya kenapa? Bapak kan memang dosen saya."


"Jangan panggil Bapak, panggil saya dengan sebutan lain yang mesra...." mulutku menganga terbuka. Apa maksud Balok Es Gila ini? "Jangan salah paham! Ini demi akting di depan keluarga sesuai kesepakatan kita!"


"Kamu manggil Naren apa? Katakan!"


"Saya lihat kalian sangat mesra, kamu manggil Naren dengan panggilan sayang apa? Tinggal terapkan itu ke saya dan semua jadi beres!" ia berkata dengan ringan.


"Saya manggil Naren dengan nama saja. Saya nggak pernah manggil dia dengan sebutan sayang-sayangan, Pak. Bapak cemburu, ya?" aku ingin tahu reaksi Balok Es ini. Balok Es itu menatapku datar.


"Heh!" Balok Es ini tersenyum sinis. "Kamu terlalu overthinking, Tikus Kecil!"


"Dasar T-Rex!" teriakku kesal.


"Apa kamu bilang?" mata elang itu kurasa benar-benar murka saat ini. Duh, bahaya jika sampai Balok Es ini murka.


"Terlalu Cinta Rexford disingkat T-Rex, Pak." ide aneh nan gila tiba-tiba muncul di otakku. "Saya akan panggil Bapak, T-Rex yang artinya Terlalu Cinta Rexford. Bagaimana T-Rex-ku Sayang?"

__ADS_1


"Ehm...." Balok Es ini nampak berpikir. "Boleh juga, oke kamu panggil saya T-Rex mulai besok," ia menatapku.


Aku rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin orang ini bisa setuju semudah ini? Sungguh mengejutkan, padahal nama itu merupakan julukannya saat di kelas.


"Saya akan panggil kamu Yaya yang diambil kata Sayang." telingaku berkedut saat mendengarnya. "Ingat itu baik-baik, Yayaku Tercinta!" ucap Balok Es ini dengan suara datar. Lebih mirip suara yang menyeramkan daripada panggilan mesra.


"Iya, Pak...eh maksudku T-Rex Sayang," jawabku sambil menahan tawa.


Aku bisa memanggil Balok Es ini dengan sebutan T-Rex. Sungguh sesuatu yang menggelikan, apalagi jika dipraktekkan. Panggilan baru dengan status baru. Kulihat Balok Es itu, dia sudah tertidur pulas. Bendungan berupa guling dan bantal pemisah kususun kembali. Kututup mataku sesekali mulutku berkedut karena menahan tawa.


"Selamat malam, T-Rex Sayang!" ucapku pada Balok Es itu dengan berusaha menahan tawa. Aku akhirnya ikut terlelap di balik samping bendungan bantal dan guling pemisah itu.


Kurasa hari sudah pagi lagi. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Saat kesadaranku pulih ternyata....


"AAAAAA!!!!" teriakku sangat kencang. Aku sudah ada di pelukan Si Balok Es.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2