
Talenta Point of View
Tempat yang sama, jalan yang sama tapi cerita yang berbeda. Sudah lama tak kukunjungi mall ini. Mungkin dulu belum semegah ini. Beberapa tahun yang lalu masih belum selesai dibangun.
Adakah seseorang yang melakukan hal sepertiku di dunia ini? Mengenang kisah yang lampau, entah konyol atau bodoh. Aku juga tak tahu. Kakiku terus melangkah memgunjungi setiap tempat dimana ingatan itu berada. Sungguh suatu perasaan yang amat sangat megah, tapi berasa hampa dan fana. Aku suka rasa cinta ini, tapi logikaku mungkin menentang hal ini.
Perasaan megah ini muncul begitu saja. Seolah tanpa alasan. Diriku sendiri juga tak tahu pasti bagaimana perasaan ini bisa muncul. Rasa ini masih ada mesti puluhan bahkan mungkin ratusan purnama telah berlalu. Aku tak tahu apa ini yang disebut cinta? Seperti yang disebutkan di dalam lagu dan novel-novel romance itu?
__ADS_1
Masih tertulis jelas dalam ingatanku. Tentang bayang dirimu. Meski waktu dalam putarannya tak pernah bisa dihentikan,tapi ingatanku seolah terhenti pada semua kenangan itu. Aku tak tahu apa aku boleh menyebut ingatan ini sebagai sebuah kenangan. Bagaimana kabarmu? Apa kau masih mengingatku walau hanya sekejap saja? Jika dulu kuungkapkan mungkinkah cerita ini akan berubah?
Perasaan ini masih sama. Aku sendiri juga tak tahu mengapa rasa ini seolah tak lekang oleh waktu. Bisa dibilang kau adalah pria yang kuimpikan. Meski puluhan bahkan ratusan purnama telah berlalu, tapi aku masih sering mengingatmu. Bahkan mendoakanmu dalam setiap doaku. Aku tak bisa bertemu denganmu secara langsung. Jangankan bertemu, chat saja sudah tak pernah.
Aku hanya bisa memandangi fotomu dari media sosial. Menyimpan rasa yang tersembunyi sungguh menyiksa. Jika dulu kuungkapkan mungkinkah kisah ini berubah? Tapi, aku tak seberani itu dulu.
Aku tak tahu mengapa hatiku menuntunku ke tempat ini. Ini tempat kedua yang kukunjungi setelah rumah orang tuaku. Rexford, bagaimana kabarmu? Apakah kau masih seperti dulu? Kakiku terus melangkah,mencoba mengingat kembali setiap kenangan itu. Tempat ini adalah saksi, saksi saat aku memendam rasa tersembunyi itu. Jujur, rasanya saat itu ingin kuteriakkan apa yang ada di dalam hatiku. Hanya dua kata sederhana, 'aku menyukaimu'. Kata yang sederhana saat dibayangkan tapi amat sulit untuk diucapkan.
__ADS_1
Diiringi lagu berbahasa korea berjudul dari boyband idolaku yang kudengar lewat earphone nirkabel ini, kulangkahkan kakiku untuk terus menyusuri tempat ini. Lagu ini sangat mewakili apa yang kurasakan. Aku merasa percaya percaya, bahwa pertemuanku dengannya adalah sebuah kisah dari takdir yang indah. Hatiku tak mampu untuk berbohong, aku menyukai Rexford. Tapi, apa dayaku. Kisah hidupku tak seindah kisah dalam novel romance dengan happy ending itu. Rexford kurasa tak memiliki perasaan apa pun padaku.
Dulu tentu saja aku ingin mengejar, aku ingin menyatakan perasaanku. Tapi apa dayaku. Jika kunyatakan bagaimana jika Rexford justru menjauhiku? Bagaimana juga dengan diriku nanti? Aku tak menampik, jika aku termasuk orang yang dianggap pintar di kelasku. Bagaimana jika nanti aku malah hanya jadi bahan tertawaan saja? Aku takut. Diri ini pengecut. Tapi, jika dulu perasaan ini kunyatakan mungkinkah cerita ini akan berubah? Aku juga tak tahu jawabannya hingga kini.
Seperti lirik lagu berbahasa korea yang kudengar itu, aku hanya bisa memendam perasaan ini. Bahkan, hingga lulus pun, Rexford tak tahu hal ini. Aku ingin merelakan dan menghilangkan rasa ini. Tapi itu sulit, amat sulit.
"Iya, Yaya." terdengar suara yang sangat familiar di telingaku. Itu suara yang masih tersimpan jelas di memori dan hatiku. Aku langsung mengenali suara itu. Entah mengapa langkahku terus menuntunku ke arah sumber suara itu.
__ADS_1
Nampak di salah satu stand makanan, dua orang sedang duduk berhadapan. Mereka sedang makan bersama. Mungkinkah itu dia? Bagaimana jika hanya salah orang? Mungkinkah aku mengalami halusinasi? Sudahlah, lebih baik kupastikan saja. Kakiku terus melangkah menuju sumber suara itu.
"Maaf, kamu Rexford kan?" tanyaku memberanikan diri.