Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 86 - Hari Ini....


__ADS_3

Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Sejak sebelum mentari terbit persiapan sudah dimulai. Ini adalah weekend yang sudah lama dipersiapkan. Meski dengan bantuan Wedding Organizer tetap saja sibuk saat hari H. Terutama bagi orang yang akan menjadi pusat perhatian dalam acara ini.


Begini ya rasanya jadi pengantin, gumam Qia.


Qia terus melihat wajahnya yang sedang dirias di cermin. Make up flawless dan natural menjadi pilihannya. Rambutnya tertata rapi terurai ke belakang. Rambut hitam yang indah itu dibuat bergelombang.


Kok aku deg-degan, ya. Padahal kan ini resepsi aja,tapi tetap aja, kok aku deg-degan sih. Riasannya bagus, aku jadi merasa berbeda, gumam Qia.


"Sudah selesai, Nona," ucap Make Up Artist itu. Dia baru saja menyelesaikan proses finishing make up di wajah Qia. Qia pun berdiri dan melihat dirinya di cermin.


Gaunnya pasti mahal, nih. Mau diliat berapa kali pun tetap aja rasanya kayak mimpi. Aku beneran ya pake gaun mewah kayak gini, gumam Qia.


Qia terus mengagumi gaun itu. Gaun Qia menjuntai panjang hingga ke lantai. Gaun itu berwarna putih seperti mutiara. Taburan kristal swarovsky menghiasi bagian bawah bawah gaun itu. Pada bagian dada nampak motif bunga mawar berhiaskan taburan berlian warna putih. Rambut Qia juga dihias dengan bando berbahan logam yang dibuat dari emas putih. Bando itu berhiaskan motif bunga-bunga mawar lengkap dengan daunnya. Bando itu juga dihiasi dengan berlian warna putih. Telinganya juga memakai anting dari emas putih yang terdapat berlian yang juga berwarna putih.


Aku suka sih gaunnya, ini gaun yang mewah. Jadi takut, nanti kalo hiasannya copot gimana, ya? Gila ini tuh lebih mewah daripada gaun yang buat foto waktu itu. Tapi,kalo kayak gini bukannya sengaja nunjukin kalo sebenarnya Kak Billy itu orang kaya raya? gumam Qia.


"Sudah selesai, Yaya?" terdengar suara dari arah belakang. Qia pun menghadap ke arah sumber suara itu.


Yaya, kamu terlihat seperti bidadari hari ini, gumam Billy.


Kak Billy, ini beneran kamu, ya? Kok kelihatan beda banget ya, gumam Qia. Dia tanpa sadar melangkahkan kaki mendekati Billy. Matanya terus menatap Billy. Billy tampil dengan balutan jas serba putih.


Kak Billy, kok kamu ganteng banget, sih? gumam Qia.

__ADS_1


"Kamu mau apa?" tanya Billy saat Qia mencengkeran kedua bahunya.


Yaya, kamu mau apa sih? Kok kayak orang lingkung begini, gumam Billy.


"Kak Billy, kamu ganteng," ucap Qia spontan. "Qia jadi pengen minta kiss," ucapnya sambil mendekatkan wajah ke bibir Billy.


Yaya, kamu kok jadi agresif banget sih sekarang, gumam Billy.


"Jangan...." ucap Billy. Dia meletakkan telapak tangan kanannya tepat di depan bibir Qia.


"Qia pengen kiss sekarang!" Qia menyingkirkan tangan kanan Billy. Dia sudah berjinjit untuk meraih wajah Billy.


"Yaya, nanti make up-mu rusak!" cegah Billy lagi. "Nanti saja ya, acara sudah mau mulai!"


Terdengar suara pintu terbuka. Billy langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu itu.


"Nyebelin!" teriak Qia spontan. Dia kecewa karena keinginannya gagal terwujud saat targer sudah amat dekat.


"June!" ucap Billy sambil menatap ke arah pintu itu.


"Maaf, Tuan, Nona, acara hampir di mulai. Tuan dan Nona sudah ditunggu!" ucap Sekretaris June.


"Ayo, Yaya, kita ke sana sekarang!" Billy keluar begitu saja.

__ADS_1


Jarak dari ruang rias menuju ruang resepsi terasa cukup jauh. Ruang auditorium ini memang luas, bisa menampung sekitar 5.000 tamu. Auditorium Universitas XXX bernuansa putih. Dindingnya dicat warna putih awan. Lantainya berlapis marmer warna putih bercampur abu-abu. Ruang rias Qia terletak di sebelah sayap barat auditorium. Ruang ini adalah ruang yang disulap menjadi ruang rias. Billy dan Qia nampak berjalan menuju pintu masuk ruang resepsi.


"Ayo, Yaya," Billy hendak menggandeng tangan Qia. Qia justru tak mempedulikannya, dia berjalan lebih cepat sambil memegangi buket mawar putih dengan kedua tangannya.


Ck! Tikus Kecil, kau ini kenapa sih? Aku salah apa sampai mukamu cemberut seperti itu? Ck! Tak bisakah kau tak membuat ulah di hari penting ini? gumam Billy.


Huh, Balok Es, kau menyebalkan. Aku hanya ingin meminta kiss darimu, tapi kau menolaknya. Dasar menyebalkan! gumam Qia.


"Yaya, berhenti!" panggil Billy. Dia menarik bahu kanan Qia. "Jangan cemberut, kamu marah sama aku? Aku salah apa? Jangan cemberut di acara penting ini!" Billy memandang Qia. "Kamu marah kan?"


"Nggak, aku nggak papa kok," sahut Qia sambil membuang pandang.


"Sudahlah!" ucap Billy. Dia mencium dahi Qia. Qia terperanjat dengan aksi tiba-tiba ini. Mata Qia memandang ke arah wajah Billy. "Nanti setelah acara ini kamu boleh minta kiss sepuasmu. Aku bukan menolak, Yaya, tapi hanya tak mau make up-mu rusak. Jadi, jangan cemberut lagi ya," Billy memberi ciuman lagi di dahi Qia.


Kak Billy, kalo gini aku nggak marah lagi, hehehe, gumam Qia. Eh, tapi kok marahku konyol sekali ya. Sudahlah, lupakan hal itu lagi. Duh, tapi aku jadi deg-degan lagi, nih, gumam Qia.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2