Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 90 - Kado Spesial....


__ADS_3

Narendra! Apa yang sebenarnya ingin kau perbuat, hah? Jika kau berani macam-macam aku takkan mengampunimu! gumam Billy.


Naren, kamu mau ngapain di sini? gumam Qia. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari panggung tempat Naren berada.


"Mau nyanyi lagu apa, Kak Narendra?" tanya MC itu.


"Sebuah lagu spesial untuk kedua mempelai," sahut Naren dengan ceria. "Ini adalah kado spesial dari saya."


"Wah, kado spesial!" celetuk MC itu. "Pak Billy," panggil MC itu. "Mahasiswa Anda ingin memberi kado spesial di acara resepsi pernikahan Anda!" ucap MC itu.


Kado spesial? Aksinya di atas panggung bisa jadi pembawa masalah! gumam Billy. Dia tetap menatap Naren dengan penuh kewaspadaan dan amarah.


Ren, kamu mau apa sih, sebenarnya? gumam Qia.


"Lagunya judulnya apa, Kak?" tanya MC itu pada Naren.

__ADS_1


"Lagu ini ciptaan saya sendiri, Pupus Sudah" sahut Naren ceria.


Aku akan menyanyikan lagu berjudul Pertemuan Asa yang kuciptakan sendiri. Qia, kuharap kamu paham pada apa yang ingin kusampaikan, gumam Naren.


"Wah, Pertemuan!" sahut MC itu antusias. "Pak Billy, sepertinya mahasiswa Anda ingin menyanyikan lagu yang berisi harapan agar hubungan Anda dan istri tercinta menjadi abadi sehingga tak lekang oleh waktu," ucap MC lagi.


Lagu Pertemuan Asa? Gawat! gumam Billy.


"Kalau begitu mari kita beri kesempatan sejenak Saudara Narendra untuk bersiap!" ucap MC itu. "Nah, sepertinya Saudara Narendra sudah siap! Mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Saudara Narendra!" ucap MC itu.


Suara keyboard pengiring yang sendu mulai terdengar, mengubah suasana resepsi dalam sekejap. Suasana resepsi yang awalnya ceria dan meriah berubah menjadi pilu dan sendu. Naren menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan. Lagu ini seakan mewakili perasaan dari hati Naren yang paling dalam. Lagu yang membawa kesan pilu, membuat hati setiap orang yang mendengarnya turut larut dalam perasaan sedih. Apalagi di bagian reff, perpaduan suara keyboard yang sendu dan pukulan drum yang menghentak seakan memukul nurani hati terdalam setiap orang yang mendengar nyanyian Naren. Yang paling merasa terpukul tentu saja orang yang ada di atas pelaminan.


"Yaya," ucap Billy sambil memegang tubuh Qia.


Ren, jadi ini sebenarnya perasaan yang kamu rasakan? Aku masih ada di hatimu, seolah meski raga kita tak menyatu tapi kau selalu memimpikanku dalam alam mimpimu? Di hatimu aku abadi seperti sebuah intan? Aku selalu abadi di hatimu? Ren, kenapa takdir seperti ini? Kenapa sekarang seolah aku nampak jahat? Padahal dulu, kita pernah bertemu dan berjanji untuk setia. Kenapa sekarang aku terlihat seperti seseorang yang membuatmu terluka? Naren, seandainya waktu bisa diputar ulang. Bisakah kita bersatu pada akhirnya nanti? Ren, aku tak memungkiri jika kamu pernah mengisi hatiku. Kenapa harus sekarang, Ren? Kenapa seolah kamu membangkitkan lagi rasa yang sudah berusaha kupendam bahkan kubuang jauh-jauh? Kenapa, Ren? Kenapa? Aku juga sakit, Ren. Sakit! Aku merasa sakit sama sepertimu! gumam Qia. Dia tak mampu lagi menahan air matanya.

__ADS_1


Suasana resepsi itu menjadi hening namun pilu. Mata para hadirin tetap saja tak bisa dibohongi. Mereka menyaksikan bahwa Qia menitikkan air mata di atas pelaminan. Meski pun tidak menangis histeris tapi tetap saja terlihat. Apalagi, Qia terus memandang ke arah Naren. Tubuh Qia juga ditopang oleh Billy. Hal ini menyiratkan bahwa pernah ada sesuatu antara Qia dan Naren.


"Pasti Narendra ini mantannya Qiandra!" celotehan mulai terdengar.


"Kasihan banget ya, Narendra," terdengar celotehan lain. Meski dikatakan dalam volume suara yang kecil tapi jika banyak orang yang mengatakan hal serupa pasti akan terdengar oleh telinga orang-orang yang ada di pelaminan.


"Duh, gimana nih, Jeng? Kok acaranya malah jadi begini?" ucap Nyonya Lia pada Nyonya Belvana. "Kok malah seolah-olah Billy yang merebut Qiandra dari Narendra? Kita harus gimana, Jeng?" ucap Nyonya Lia lagi.


Pak Billy, bagaimana Bapak akan mengatasi hal ini? Sekarang, semua orang sudah tahu jika Bapak yang merebut Qia dari saya, Pak, gumam Naren.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2