Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 52 - Panggilan....


__ADS_3

Kubuka mataku kembali. Astaga, apa yang terjadi semalam? Kenapa posisi tidurku bisa seperti ini sih? 😱.


Aku berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Sepertinya tak ada sesuatu yang terjadi. Kuteliti pakaianku, masih utuh seperti sedia kala. Sungguh, aku benar-benar bingung kenapa waktu terbangun tadi bisa-bisa kepalaku sejajar dengan posisi kepala Si Balok Es. Bahkan bibirku dan bibirnya saling menempel amat dekat. Aku mengingat perkataan tadi malam, tetap saja hatiku merasa hangat dan senang.


Kudekati wajah Si Balok Es. Mata Si Balok Es masih belum terbuka. Kudekatkan lagi kepalaku ke wajah Si Balok Es. Hidungku sengaja kutempelkan ke hidungnya. Entah, aku sedang dimabuk cinta atau apa namanya tapi aku benar-benar ingin mengatakan kalimat ini.


"Pak Billy," panggiku manja, dia tak tak terbangun. Yes, ini kesempatan bagus sekali. "Ehm...Pak Billy, Qia Loves You 1 Billion!" ucapku sambil tersenyum.


Mata elang itu terbuka 😱. Sial! Sial! Sial! Aku tertangkap basah. Jantungku langsung berdetak kencang seolah ingin lari dari tempatnya. Segera kutarik kepalaku dari wajah Si Balok Es. Aku segera bangkit secepat mungkin untuk berdiri.


"Kamu kenapa?" Balok Es menahan tangan kananku dengan tangan kirinya. "Kenapa kamu ketakutan?" tanya Balok Es. Sial, kenapa dia malah melingkarkan tangan kirinya ke pinggangku sih sekarang. "Apa kamu mengatakan sesuatu tadi?" Balok Es menyandarkan kepalanya di bahu kananku. "Kamu bisa mengulanginya jika saya tak dengar."


"Nggak ada, Pak. Nggak ada!" aku berusaha mengelak sambil bergerak melepaskan diri.


"Benarkah?" Balok Es mengusap-usapkan pipi nya ke pipi kananku. "Telinga saya seperti predator zaman dahulu. Sama tajamnya seperti telinga seekor T-Rex. Jadi, jangan membohongi saya, Tikus Kecil!" bisik Balok Es. Apa aku tertangkap basah? Tidak, aku tak mau mengakuinya.


"Sini, Pak!" aku melepas penyangga lengan kanan itu lalu mulai melepas kancing piyama Balok Es.


"Apa yang kau lakukan?" Balok Es nampak tak suka.


"Mau membantu Bapak mandi. Ada yang salah, Pak?" aku tertegun.


"Saya bisa mandi sendiri. Kau mandi sendiri saja. Mandi bersamamu itu bisa sangat lama!" ucap Balok Es.


"Iya, Pak. Iya," aku bergegas menuju kamar mandi.


Aku pun segera mandi dan berpakaian. Balok Es menolak bantuanku untuk memandikannya. Mengapa aku merasa kecewa, ya? Ini aneh, seharusnya kan aku senang. Sudahlah, lebih baik aku menyelesaikan mandiku dan berdandan. Aku memiliki suatu ide.


Kumasak nasi goreng untuk menu sarapan pagi ini. Nasi goreng itu kususun dalam sebuah piring putih dari porselen. Piring itu bentuknya kotak memanjang. Nasi goreng itu membentuk tulisan : I L Y 1 BILLI❀N. Aku ingin tahu apa reaksi Si Balok Es. Aku sudah duduk di meja makan sambil makan sisa nasi goreng yang belum terbentuk.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Balok Es duduk di dekatku. "Oh, kau ingin masak sarapan pagi ya?" tanya Balok Es. Aku hanya diam saja sambil pura-pura melihat layar smartphone. "Ck! Mana ada orang yang membuat kejutan tapi cuek setelah yang ingin dikejutkan datang," protes Si Balok Es. Hihihi, kukira dia takkan protes. Kurasa dia paham apa maksudku.


"Ehm, maaf, Pak. Saya baru bales chat dari Mama tadi," sahutku. Aku ingin segera tahu apa reaksi Si Balok Es. Dia mulai makan nasi goreng di atas piring itu. "Gimana, Pak?"


"Gimana apanya? Rasanya lumayan enak. Kamu cukup pandai memasak," puji Balok Es.


"Ck! Bapak!" protesku. "Bukan itu yang saya maksud!" aku memperjelas apa yang ingin kudengarkan.


"Oh, maksudmu cara penyajian masakanmu?" Balok Es masih sibuk makan. "Cukup artistik, menggugah selera makan."


"Bukan itu, Pak!" aku mulai gemas padanya. Padahal jelas-jelas tadi malam dia yang mengatakan kata-kata ini. "Bapak! Bapak, paham nggak sih arti kalimat yang saya tulis di nasi goreng?"


"Oh, itu. Tenang, saya paham kok!" sahutnya santai.


"Apa, Pak? Saya ingin dengar!" aku benar-benar ingin mendengar kalimat itu dari mulutnya.


"Kamu minta uang satu milyar kan? Tenang nanti saya transfer!" Balok Es tersenyum.


Kutarik dasi biru di leher Si Balok Es lalu kuberi kecupan maut pada mulutnya yang sangat jaim itu. Rasakan ini, ini hukuman karena membuatku kesal pagi ini. Sebagai hukuman tambahan aku juga mencium kedua pipi dan dahi Si Balok Es. HUH! Biar saja lipstick-ku menempel di wajah dan bibirnya.


"Tuan...." terdengar panggilan dari seseorang. Itu Sekretaris June. Dia nampak tertegun melihat pemandangan di depannya. "Saya permisi!" ia segera berlalu pergi. Hihihi, rasakan Balok Es, aku membuat karyawanmu salah tingkah sepagi ini saat melihatmu.


"Ck! Kau semakin agresif untuk mendapatkan keinginanmu, Tikus Kecil!" protes Si Balok Es. Aku membelakanginya sambil membereskan peralatan memasak. Aku takkan bicara padanya sampai dia paham maksudku.


"Hey, Tikus Kecil. Tikus Kecil!" panggil Si Balok Es. Aku pura-pura tak mendengarnya. "Ck! Kau benar-benar agresif, ya," protes Si Balok Es lagi."I L Y too...." ucapnya lirih. Aku berbalik lalu memandang ke arahnya. Ini yang kuinginkan.


"Ulangi lagi, Pak!" aku duduk di dekat Si Balok Es yang sedang minum. "Bapak, bilang apa?"


"Saya sudah lupa. Memang saya tadi bilang apa, Tikus Kecil?" Balok Es kurasa hendak mengelak. Sudahlah, setidaknya dia paham apa maksudku.

__ADS_1


"Bapak! Bapak, bisa nggak sih nggak manggil saya Tikus Kecil terus?" protesku.


"Kamu juga manggil saya Bapak terus kok!" sahut Balok Es.


"Terus saya harus manggil apa? T-Rex Tersayang?" tanyaku.


"Ck! Kamu sudah berani menempelkan cap bibirmu sepagi ini. Tapi kamu masih nggak paham dengan permintaan saya?" Balok Es justru bertanya balik.


Ih, bicara dengan dia memang butuh kesabaran ekstra.


"Sudahlah, saya masih harus menyiapkan file sebelum berangkat ke kantor," Balok Es berlalu pergi.


"T-Rex Tersayang, tunggu!" teriakku. Dia tak berbalik, jadi bukan itu. "Pak Billy!" panggilku. Dia hanya berhenti sebentar. Ck! Dia ingin apa sih sebenarnya? "Hubby, kau menyebalkan!" entah darimana ide ini. Tapi, ide itu ada saja di kepalaku.


"Jangan pernah sebut saya menyebalkan, Yaya," Balok Es mencubit pipi kananku dengan lembut. Pak, Bapak bisa nggak sih nggak pakai kode-kodean dulu gitu.


"Pak...eh maksudku...Hubby, semoga harimu lancar ya," aku tersenyum. Anggap saja ini permintaan maafku sudah menyebutnya menyebalkan.


"Iya, Yaya juga kuliah yang benar, ya," Balok Es mengusap-usap kepalaku. "Jadilah tikus yang baik, jangan nakal lagi, ya!" Balok Es memuji dengan wajah dingin nan datar.


Pak, bisa nggak sih nggak sebut saya tikus waktu baru romantis kayak gini. Dia mencium dahiku, dari dulu lah, Pak, hangat. Kalo gini kan saya jadi mikir-mikir lagi kalo mau jadi nakal.


Aku pun mulai menyetir mobilku menuju kampus. Anggap saja ini adalah awal baru hubunganku dan Si Balok Es. Tak terasa aku sudah mulai memasuki parkiran kampus. Ini dia saatnya, saat yang yang paling menegangkan maupun mendebarkan. Waktunya kembali menghadapi dunia lagi, menghadapi teman-temanku dan yang pasti menghadapi, Naren....


Jangan lupa like dan vote ya πŸ˜„ biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok πŸ˜„


Tinggal pencet tanda jempol πŸ‘ di pojok kiri bawah untuk like πŸ˜„

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2