
"Bisa tolong lepaskan saya?!" terdengar suara yang dingin. Kubuka mataku perlahan. Astaga! Di hadapanmu nampak wajah Si Balok Es. Tunggu, mengapa aku malah memeluk Balok Es ini? Aku merasa semua mata teman-teman tertuju padaku. Apa yang harus kulakukan?
"Em...ma...af, Pak..." ucapku terbata-bata sambil melepaskan pelukanku. Aku malu, teman-teman kan tidak tahu jika aku dan Balok Es sudah menikah. Mereka pasti akan berpikir macam-macam saat ini.
"Saya memakluminya tapi jangan sampai ini terulang lagi! Saya bukan orang yang bisa dipeluk sesukanmu! Ingat posisimu sebagai mahasiswi!" Balok Es itu terlihat kesal, wajahnya cemberut. "Sudah, ayo lanjutkan perjalanan!" perintahnya. Teman-teman segera berlalu pergi. Saat aku hendak melangkah pergi.....
"Apa kau sangat berhasrat untuk memelukku, Tikus Kecil?" bisiknya lirih di telingaku. "Bersabarlah, kau bisa memelukku sepuasmu saat kita di rumah," bisiknya lagi. Balok Es Sialan! Wajahnya sekarang berubah menjadi tersenyum licik. Bukan kemauanku untuk memelukmu tahu!
Universitas XYZ merupakan universitas yang memiliki Fakultas Ekonomi di dalamnya. Bus kami tak bisa langsung parkir di dekat Fakultas Ekonomi Universitas XYZ. Bus ini diparkir di dekat Rektorat Fakultas XYZ. Untuk sampai ke Fakultas Ekonomi harus ditempuh dengan berjalan kaki.
"Naren!" nampak Naren sedang menungguku. Kau memang pangeranku.
"Ayo, aku sudah menunggumu, Tuan Putri!" ia tersenyum padaku. Dia menggandeng tanganku dengan lembut. Lupakan Si Balok Es sejenak. Aku berjalan bersama Naren agak menjauh dari rombongan yang lain. Biar saja ada yang bilang kami sedang bucin (budak cinta). Bagiku jangan sia-siakan waktumu dengan orang tercinta selagi bisa. Orang lain saja yang iri karena tak punya pasangan.
"Naren, ayo kita berfoto!" ucapku. Ada salah satu karya seni tiga dimensi berupa huruf bertuliskan Universitas XYZ yang tersusun secara vertikal. Karya seni itu dipajang di tepi jalan dekat trotoar. Warnanya dicat kuning keemasan.
"Boleh, biar aku yang pegang kameranya," Naren memegang kamera itu. Tubuhnya cukup tinggi, jadi tak perlu memakai tongsis. Kami sudah berfoto saling berdekatan. Hanya berdekatan saja, tak melakukan apa pun.
__ADS_1
"Naren, jangan lupa atur timer-nya," kuatur timer kamera depan pada smartphone-ku. "Atur berapa detik?"
"Lima detik saja cukup!" Naren memegang tanganku. Bilang saja kau ingin memegang tanganku kan. "Jangan lupa, atur pencahayaannya agar bagus!" dia masih memegangi tangan kananku lalu mengarahkan mengatur pencahayaan.
"Sudah, ayo foto! Nanti kita tertinggal rombongan lho!" aku mengingatkannya.
"Jangan khawatir, Tuan Putri!" bisiknya di telingaku. "Mereka pasti akan menungguku. Aku kan orang penting." bisiknya lagi dengan percaya diri.
"Dasar sombong!" protesku. Naren memang salah satu bagian penting dalam acara kunjungan kali ini. Dia yang akan mewakili universitasku untuk melakukan diseminasi karya. Karya ilmiah yang pernah dibuat Naren akan dipresentasikan.
"Jangan lupa, beri efek lucu," ia masih saja memegang tanganku. Lalu mengarahkannya untuk menyalakan efek animasi lucu. Astaga, wajah kami sangat dekat. Mengapa jantungku jadi berdebar ya?
"Kau sangat cantik hari ini, Tuan Putri," bisiknya di telingaku. "Kau membuat dunia terasa indah, Sayangku," ucapnya sambil membelai pipiku.
Naren, kau tahu kan wajah kita sangat dekat saat ini. Aku tak tahu bagaimana ini dimulai tapi entah bagaimana wajah Naren jadi semakin dekat. Dekat dan dekat ke arah wajahku. Ia bahkan merendahkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan kepalaku. Apa dia ingin menciumku? Sudah terlambat untuk lari, jadi terima saja. Wajah kami semakin dekat. Dekat dan dekat...astaga, jantungku berdebar kencang. Refleks, kututup mataku. Oke, aku siap...saat aku sudah sangat siap tiba-tiba....
"Ehm!" terdengar suara orang berdehem. Sial! Siapa pengganggu itu? Saat aku ingin membentak pengganggu itu. Apa jangan-jangan itu Si Balok Es? Ternyata, sesuai dugaanku. Itu Si Balok Es. "Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat jalan!" bentaknya. Wajahnya terlihat menyeramkan. Balok Es, darimana kau muncul? Bukankah seharusnya kau ada di barisan depan rombongan.
__ADS_1
Aku setengah berlari menyusul rombongan. Kurasa Naren sengaja tak menggandengku. Dia takut dimarahi Si Balok Es itu. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami sampai di Fakultas Ekonomi Universitas XYZ.
Kunjungan ilmiah sebenarnya hanya nama lain untuk Study Banding saja.
Fakultas Ekonomi Universitas XYZ cukup luas. Ada tiga gedung bertingkat tiga sampai empat. Saat di pintu masuk Fakultas Ekonomi, rombongan kami sudah disambut anggota UKM Penelitian tingkat fakultas ini. Mereka memakai jas kebesaran warna coklat tua mirip seperti batang kayu. Rombongan kami disambut dengan cukup baik. Para anggota UKM Penelitian ini berbaris berjejer di pintu masuk untuk menyalami rombongan kami. Saat sampai di depan Gedung I Fakultas Ekonomi, kami diarahkan ke Auditorium.
"Silahkan, Kak,presensi dulu!" sapa anggota UKM yang menjaga presensi. Ada orang yang menjaga presensi di pintu masuk. Satu mengarahkan peserta untuk menandatangi presensi, satu orang lagi menyerahkan kotak snack.
Aku segera masuk untuk mengambil tempat duduk di kursi paling depan. Aku ingin mengabadikan presentasi karya pangeranku tercinta. Aku sudah ada di kursi deretan depan bagian agak tengah. View-nya tepat di depan panggungku. Segera kulambaikan tanganku untuk memanggil Naren agar duduk di sebelahku.
"Kita duduk di sini saja, Rino," Balok Es tiba-tiba muncul dan duduk tepat di sebelah kananku. Tak apa masih ada kursi kosong di sebelah kiriku. "Wati, kamu duduk di sini saja! Di situ, di sebelah Qia masih kosong!" ucap Balok Es sambil tersenyum licik ke arahku. Balok Es menyebalkan, mengapa kau terus menggangguku? Apa yang harus kulakukan agar lepas dari cengkeramanmu sebentar saja?😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍