Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 50 - Inisiatif Sendiri Kan?


__ADS_3

Tunggu, Balok Es benar-benar sedang mandi. Berarti dia... aku geli membayangkannya.


"Kenapa, Tikus Kecil?" tanya Balok Es. Kurasa dia memegang pinggangku dengan tangan kirinya.


"Ma...af...Pak...." ucapku sambil berusaha keluar dari bak mandi ini. Tubuhku sudah berusaha kujulurkan untuk keluar dari dalam bak mandi.


"Kau ini kenapa? Bukan kah kau memang ingin menemani saya mandi makanya masuk kemari kan?" Balok Es semakin kuat menahan pinggangku. "Kenapa sekarang mau keluar?" bisik Balok Es di telingaku.


Sial! 😭 Aku masuk perangkapku sendiri.


"Biarkan saya keluar, Pak!" ucapku sambil tetap berusaha kabur dari bak mandi itu. "HP saya kena air, Pak. HP saya masih di kantong celana tadi!" ucapku.


Aku tak berbohong. Sungguh, smartphone-ku tercinta benar-benar masih ada di dalam saku celanaku.


"Nanti bisa diservis. Tukang servis kan ada banyak. Tak perlu khawatir!" Balok Es semakin kuat menarik pinggangku.


"Pak, tapi ini kena air! Bisa kongslet dan rusak total nanti kalo nggak cepat dikeringin," ujarku lagi.


Aku berusaha membuat alasan lain lagi. Yang penting aku harus segera kabur dari sini.


"Nanti beli yang baru. Saya belikan lagi," Balok Es semakin menarik tubuhku. Sekarang tubuhku menyandar di tubuhnya. "Sudah sekarang temani saya mandi, ya," Balok Es mencium kepalaku.


Pak, Bapak kok jadi agresif gini, sih! 😭


"Tapi, Pak. Ini kan HP mahal. Sayang, kalo beli lagi. Bapak kan baru ngasih ini beberapa minggu yang lalu," ujarku.


Aku tetap berusaha keluar dari dalam bak mandi dengan mencari alasan terus-menerus.


"Gampang! Nanti tinggal beli model yang paling baru! Tenang saja!" bisik Balok Es. Dia semakin agresif. Sekarang dia mencium pipi kananku.


"Tapi, Pak. Data di dalamnya kan nggak bisa diganti. Data kan nggak ada yang jual," ucapku lagi.


Pasti ini alasan yang tak bisa didebat Balok Es. Aku yakin itu.


"HP kamu kan punya data cadangan di penyimpanan awan. Nanti tinggal di download lagi," Balok Es justru menyandar ke bahu kananku sekarang.


"Tapi, Pak...." aku masih berusaha protes.


"Kamu tinggal tarik HP-nya keluar dari saku celanamu dengan tanganmu kan? Tak perlu keluar dari sini," Balok Es semakin kuat menahan tubuhku.


"Tapi, Pak...." aku berusaha memikirkan alasan lain. "Ehm...tapi, Pak. Saya belum bawa baju ganti....ya baju ganti...."


"Kamu bisa pakai bathrobe (baju handuk). Tuh di sana ada lebih dari satu!" sahut Balok Es. Dia sulit sekali didebat! 😭 Aku merasakan ada yang bergerak-gerak di saku celanaku. "Nah, HP-mu sudah saya selamatkan!" ucapmya. nampak smartphone-ku sudah ada di tangan kiri Balok Es. "Nah, sudah aman sekarang," dia meletakkan HP itu di pinggir bak mandi.


"Bapak!" protesku. "Bapak, kok jahil terus sama saya!"


"Siapa yang jahil? Kan kamu sendiri yang berinisiatif jadi istri yang baik dan datang kemari untuk menemani saya mandi. Saya tak jahil padamu, Tikus Kecil," Balok Es tersenyum licik.


Apa yang harus kulakukan sekarang? 😭


"Ayo, sekarang lepas bajumu. Kamu mau mandi dengan saya kan. Cepat, lepas!" perintahnya.

__ADS_1


"Ampun, Pak! Ampun, Pak!" Balok Es menusuk-nusuk pinggangku.


Tentu saja, aku merasa geli. Aku ingin kabur, tapi kedua kakiku sudah tertindih kaki Si Balok Es yang panjang itu.


"Geli, Pak! Geli!" teriakku.


"Kamu lepas sendiri atau...." Balok Es semakin mendekat ke telingaku. "Atau mungkin saya yang harus membantumu melepaskannya...." bisik Balok Es.


Pak, Bapak kok jadi ganas sih sekarang? 😭.


"Iya, Pak. Saya lepas sendiri!" sahutku secepatnya.


Aku pun melepas pakaianku. Untung saja, air bercampur busa dalam bak mandi ini setinggi leher. Jantungku berdebar kencang sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ada di dalam satu bak mandi dengan seorang pria. Balok Es bisa melakukan apa pun padaku.


"Pak, Bapak, ampuni Qia. Qia masih kecil, Pak," pintaku.


Entah mengapa mulutku berkata hal ini. Aku takut! 😭


"Apa kamu pikir nyawamu bisa melayang hanya karena mandi bersama saya? Ck! Imajinasimu terlalu tinggi," sahut Balok Es. "Sudah, bantu gosok badan saya!" perintah Balok Es.


"Go...sok?" ucapku tertegun. Jantungku semakin berdetak kencang akibat hal ini. "Ba...pak!" teriakku kencang. Aku merasakan tangan Balok Es ada di bawah leherku. Tangan kirinya terasa bergerak maju mundur menggosok terus-menerus.


"Kamu perlu diberi contoh kan? Mengapa berteriak?" ucap Balok Es. Wajahnya tetap saja datar tanpa ekspresi.


"Iya, Pak. Iya," sahutku. Sebaiknya kuturuti permintaannya. "Bagian mana yang harus saya gosok?"


"Kamu bisa mulai dari bagian dada saya!" bisik Balok Es.


Lebih baik aku disuruh memandikan kadal kemarin daripada melakukan ini 😢. Aku pun membalik badanku dan mengarahkan tanganku ke arah dada Si Balok Es. Apa aku harus benar-benar melakukan ini? 😭


"Apa kamu pikir saya ini makhluk berbahaya? Saya ini manusia sama seperti dirimu," Balok Es menatapku dengan tajam. "Sudah, cepat gosok!" perintahnya lagi. Aku benar-benar masih geli dan takut. Bagaimana aku harus menghindari hal ini. Aku punya ide.


"Hua! Hua!" aku mulai berakting menangis. "Billy jahat! Billy jahat! Bunda Belvana, tolong Qia! Billy jahat!" teriakku.


Aku terus-menerus berakting menangis hingga air mataku benar-benar keluar. Waktu masih SMA kan aku pernah ikut sanggar kesenian khusus akting.


"Billy jahat!" teriakku semakin kencang.


"Pura-pura saja terus. Nanti saya tinggal keluar dari sini dan menyuruh orang meretas seluruh akun sosial media milikmu," sahut Balok Es.


Sial! 😭 Mengapa usahaku terus-menerus gagal? Kok dia sekarang sulit dikelabui sih? Malah semakin pandai mengancam.


"Iya, Pak. Ampun...." ucapku sambil menghentikan tangisku.


Jika sosial mediaku diretas oleh Balok Es, tamat sudah hidupku. Aku tak tahu apa yang bisa dia lakukan dengan sosial media milikku.


"HAHAHAHA!" Balok Es tertawa terbahak-bahak. "Lucu sekali! Hahahaha! Sekali ancam langsung patuh! Astaga!" dia terus menerus tertawa. "Kamu memang polos sekali, ya! Kamu pikir saya bisa langsung memblokir sosial mediamu saat ini juga? Kamu lucu sekali," Balok Es terus menertawakanku.


Benar juga, pasti Balok Es butuh waktu. Dia pasti butuh waktu melangkah keluar dari sini dan menyuruh orang untuk melakukannya. Mengapa aku sebodoh itu, ya? 😔


"AU! Sakit! Sakit!" teriak Balok Es. Untuk membalasnya kucubit saja pahanya dengan kedua tanganku. "Sakit! Sakit! Hentikan, Tikus Kecil!"

__ADS_1


"Tak mau! Bapak jahat! Jahat!" protesku.


"Hentikan, atau saya blokir akses wifi-mu di rumah ini dan...saya tak jadi membelikanmu HP baru!" ancam Balok Es.


Itu sama saja tak memberiku makan. Jika wifi diputus aku tak bisa lagi akses sosial media dan streaming film sepuasku. Jika tak jadi dibelikan HP baru, separuh jiwaku rasanya hilang 😢. Bisa apa aku tanpa HP? Bisa ketinggalan banyak informasi dong 😢.


HP lamaku kan sudah diambil oleh Si Balok Es setelah dia memberiku HP yang baru. Minta pada orang tuaku mungkin bisa tapi bagaimana aku harus menjelaskan kejadian ini. Ini kan penyebab kerusakan HP yang aneh.


"Iya, Pak. Ampun, ampuni Qia, Pak...." aku tertunduk.


"Anak pintar!" Balok Es mengusap-usap kepalaku ringan. "Sekarang gosok badan saya, cepat!" perintahnya. Aku pun hanya bisa pasrah dan menurut.


Kuberanikan diriku menyentuh badan Si Balok Es. Badannya hangat, kulitnya ternyata lembut dan halus. Aku mulai menggosok dari bagian tangan kiri.


"Kemajuan!" ucap Balok Es.


"Kemajuan apa?" aku heran.


"Kamu sudah berani untuk menyentuh badan saya. Kalau begitu...." Balok Es menatapku licik.


"Jangan!" teriak kencang. Aku langsung menaruh kedua tanganku di area depan tubuhku. Aku belum ingin badanku disentuh oleh Balok Es sejauh itu.


"Apa yang kau pikirkan?" Balok Es menyentil dahiku. "Saya hanya ingin kamu menggosok punggung dan kaki saya," ucap Balok Es.


"Ehm...saya kira...ehm...Bapak....mau...ehm...menggosok badan...saya...juga... "


"Pikiranmu terlalu terbang melayang jauh, Tikus Kecil!" Balok Es menghadap ke arah belakang. "Sudah, cepat gosok! Karena cedera ini, mandi saya jadi tak maksimal."


"Iya, Pak," sahutku.


Aku pun mulai menggosok area punggung itu. Jika aku diam dan tak berpikir yang aneh-aneh ternyata aku berani juga ya menyentuh tubuh Si Balok Es.


"Sudah, berhenti menggosoknya. Kamu cepat keluar dari sini!" perintah Balok Es.


"Tapi,bagian kaki belum, Pak," protesku. Astaga, mengapa aku justru mengatakan itu sih.


"Kita sudah berendam di dalam air cukup lama. Saya juga mau keluar sebentar lagi. Kamu mau keluar dari bak duluan tidak? Atau...kamu mau keluar dari sini bersama saya?"


"Tidak, Pak. Tidak, Pak. Iya, iya, saya keluar duluan. Saya keluar duluan," sahutku. Aku segera keluar dari dalam bak.


Saat Si Balok Es masih menghadap ke arah belakang. Segera kupakai bathrobe itu dan lari menuju kamarku. Kututup pintu kamarku, kusandarkan diriku ke pintu itu.


Jantungku masih berdebar kencang. Astaga, Balok Es jadi semakin agrsif sekarang ini. Sudahlah, lebih baik aku segera menyisir rambut dan berpakaian. Kurebahkan tubuhku di ranjang. Untung saja kamarku dan kamar Si Balok Es masih terpisah. Kupejamkan mataku sambil tertidur terlentang. Mengapa aku merasa ada yang memeluk tubuhku ya? Saat kubuka mataku....


"Bapak! Bapak ngapain di sini?" teriakku. Nampak Balok Es tidur sambil memeluk tubuhku seperti guling. Mengapa kejahilannya tak berhenti sih 😢.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2