
"Kamu Rexford kan?" ujar wanita itu.
Wah,siapa tante-tante ini? Dia mantannya Hubby-ku ya? Dia main di belakangku nih? Tapi kok nggak mungkin. Hubby kan sibuk merawatku mana mungkin dia berani selingkuh. Kalo itu terjadi aku laporin ke mama mertua sama kakek, biar Hubby digetok dua generasi. Instingku sebagai cewek itu nggak mungkin salah. Tante-tante ini punya rasa tertarik pada Hubby-ku. Ini karma kah? Aku kan pernah main api di belakang eh tidak bahkan di depan muka suamiku sendiri. Duh, kalo aku dihukum ngadepin kayak gini apa sanggup. Hubby, maaf deh dulu kalo aku suka kurang ajar. Suka selingkuh di depan matamu. Sekarang aku berusaha tobat kok. Batin Qia
"Tante siapa?" tanya Qia langsung to the point.
Seorang wanita itu pasti langsung risih jika dipanggil Tante. Pokoknya aku harus tenang. Tidak boleh curiga duluan. Eleganlah gitu. Batin Qia.
"Iya, Dia Rexford, suami saya. Ada hal apa Tante mencarinya?" Mata Qia menatap mata wanita itu.
"Kamu .... " Billy mulai bersuara. "Kamu Tata ya, temen kuliahku dulu?" Senyum tersungging di wajah Billy. Dia berdiri dan menatap wajah wanita itu.
__ADS_1
"Astaga!" Wanita itu setengah berteriak.
Tak kusangka bisa bertemu Tata setelah lost contact bertahun-tahun, gumam Billy.
"Bagaimana kabarmu? Lama tidak berjumpa," Billy menyalami Talenta dengan ramah.
"Baik, aku kira kamu sudah tidak ingat," Talenta duduk di kursi yang masih kosong.
Hah? Menghabiskan waktu bersama? Berarti mereka satu kampus? Jangan-jangan wanita ini crushnya Hubby waktu jaman kuliah? Ah, masa bodoh. Yang dewasa dikit dong, Qia. Jangan baperan. Kamu tuh udah nikah. Mau ada mantan suamimu pun juga tetap kamu yang menang. Restu keluarga itu tahta paling tinggi dalam sebuah hubungan, gumam Qia.
Qia berusaha menahan diri untuk tidak menarik Billy pergi dari sana. Dia membuang napas dan menarik napas panjang terus-menerus. Qia ingin ikut bergabung dalam obrolan itu tapi setelah mendengar dia jadi agak minder.
__ADS_1
Astaga, wanita itu ternyata cewek pintar. Dia dapat beasiswa keluar negeri. Dia juga udah lulus S3. Aku kok jadi merasa butiran debu ya. Ah, sudahlah. Dia kan lahir duluan, aku belakangan. Kalo aku mau besok juga bisa S2 atau S3 keluar negeri, gumam Qia.
"HAH?!" teriak Qia."Aku satu tim KKN sama Naren?!" teriak Qia lagi. Dia sedang memgecek pembagian tim KKN untuk semester depan melalui snartphone-nya
"Hubby!" teriak Qia. "Aku satu tim KKN sama Naren, mantan aku. Gimana nih?" Qia panik.
"Hah? Sama Narendra? Kok bisa?" Billy merebut smartphone dari tangan Qia. "Dunia berasa kecil sekali," ucap Billy.
"Ehm, Rexford ... aku duluan ya. Sampai jumpa lagi," Talenta berusaha menjauh. Matanya tak bisa dibohongi. Jauh di hati kecilnya berasa teriris oleh kenyataan.
Aku bisa menyimpan rasa suka walau seribu tahun. Tapi aku tak tahu jika seberat ini jika harus menghadapi pahitnya kenyataan. Munafik jika aku bilang ucapan semoga bahagia. Apa dayaku, hati ini tak bisa dibohongi. Tapi tak masalah, setidaknya aku tahu kabar Rexford sekarang. Aku masih muda, sepertinya tak masalah jika memperjuangkan impian yang tertunda. Gadis ingusan seperti itu tak pantas jika memiliki Rexford, gumam Talenta. Dia diam-diam memotret Billy dari kejauhan.
__ADS_1