Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 100 - Ingat Itu....


__ADS_3

Pesawat itu mulai take off. Qia masih saja menatap ke arah jendela. Nampak pemandangan landasan pacu yang berlapis aspal. Pesawat itu mulai terbang semakin tinggi. Pemandangan berupa bangunan-bangunan kecil yang ada di sekitar bandara itu amat memanjakan mata.


Pesawat itu terbang semakin tinggi di angkasa. Cuaca sedang cerah. Langit yang berwarna biru muda seakan menyapa pesawat itu. Awan-awan seputih kapas menambah elok pemandangan yang nampak dari jendela.


"Pemandangan yang indah. Aku tak bosan melihatnya. Sudah lama aku tak naik pesawat," ucap Qia lirih.


Yaya betah banget ngeliat ke arah jendela. Apa dia lupa jika ada aku di sampingnya? gumam Billy.


"Eh!" ucap Qia spontan. "Hubby!" panggil Qia. Saat dia terdadar, Billy sudah memeluknya dari arah belakang. Kepalanya menyandar dengan manja di bahu kiri Qia. "Ada apa?" tanya Qia sambil menatap ke arah Billy.


"Kenapa kau diam saja? Bicaralah! Aku lebih suka jika tikus kecilku banyak bicara tak sepi," ucap Billy.


Hubby, kau ingin bersikap romantis atau gimana sih? Bisa tidak sih jangan menyebutku tikus kecil di momen seperti ini, gumam Qia.


"Aku sedang menikmati pemandangan, Hubby. Rasanya seperti mimpi bisa naik pesawat jet pribadi," ucap Qia sambil tersenyum. "Aku merasa beruntung bisa menikahimu," Qia mencium pipi kanan Billy.


"Ehm...." sahut Billy.


"Oh ya, Hubby. Apa kau jadi mengajukan diri sebagai orang nomer 1 di Univ XXX?" tanya Qia sambil menatap Billy.


"Maksudmu jadi rektor?" tanya Billy balik.


"Iya. Itu yang kumaksud," sahut Qia.


Tentu," sahut Billy.


"Kapan kau mulai prosesnya? Ada yang bisa kubantu?" tanya Qia lagi.


"Jangan membahas pekerjaan saat quality time kita, Yaya," ucap Billy.


"Quality time? Jadi, kau mengajakku honeymoon, ya?" tanya Qia lagi.


"Siapa yang bilang aku mengajakmu honey moon? Aku tak pernah bilang seperti itu. Aku ada urusan di luar kota. Agar kau tak keluyuran dan tidak merepotkan orang lain, maka kubawa saja sekalian," sahut Billy.


Ih, dasar jaim. Padahal tadi jelas bilang quality time. Tapi malah malu mengakuinya. Sudahlah, lupakan, gumam Qia.


"Maaf, Tuan, Nyonya, sudah masuk jam makan siang," ucap seorang wanita berseragam hitam.


Pasti wanita ini pramugari, gumam Qia.

__ADS_1


"Bawakan saja steak. Dua porsi jadikan dalam satu piring," perintah Billy.


Wanita itu menyiapkan meja lipat. Meja lipat itu menempel di dinding pesawat. Jika tak digunakan meja lipat itu seperti sebuah lemari kecil berwarna hitam.


"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar," ucap wanita itu. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa peralatan makan dan steak. Nampak dua potong daging steak yang menggugah selera. "Silahkan, Tuan," ucap wanita itu.


"Ehm...terima kasih," sahut Billy.


"Sini, aku suapi," Qia mulai memotong steak dengan pisau. Lalu menusuk potongan itu dengan garpu. Potongan itu disuapkan kepada Billy.


"Jadi, ingat tragedi tebel menor," ucap Billy sambil mengunyah daging steak itu.


Ih, kok dia ingat, sih? Jadi malu, gumam Qia.


"Hubby, aku kan tak sengaja waktu itu," ucap Qia lirih.


"Jika aku ingat itu rasanya ingin tertawa sekarang," ucap Billy. "Jadi merasa nostalgia. Itu masa-masa aneh saat awal pernikahan kita," Billy gantian menyuapi Qia. Qia menerima suapan itu. Tangannya bergantian menyuapi Billy.


"Hubby," panggil Qia. "Ehm...kau tak menyesal menikahiku?"


"Apa maksudmu, Yaya? Jangan bicara yang aneh-aneh!" Billy menyeka bekas saus di bibir Qia dengan tisu.


"Aku kekanak-kanakan dan kadang ehm...bahkan malah seringkali tingkahku membuatmu kesulitan...."


"Ehm...baiklah," sahut Qia. Dia merebahkan punggungnya di kursi. Matanya sudah terpejam.


"Apa yang kau lakukan, Yaya?" ucap Billy.


"Tadi katanya suruh tidur. Ya sudah, aku tidur," jawab Qia.


"Bukan di sini. Ayo, ikut aku!" Billy melepas sabuk pengamannya. Dia menggandeng Qia berjalan ke arah belakang pesawat itu.


Ada sebuah pintu di bagian belakang pesawat itu. Ketika pintu itu dibuka, nampak sebuah tangga yang dilapisi karpet warna merah. Billy menuntun Qia menaiki tangga itu.


Astaga, ternyata pesawat ini ada lantai duanya, gumam Qia.


Nampak sebuah pintu lagi. Billy membuka pintu berwarna coklat kayu kemerahan itu.


"Wow!" ucap Qia.

__ADS_1


Nampak sebuah kamar yang cukup luas. Sebuah tempat tidur besar dengan sprei warna putih terdapat di tengah ruangan. Lantai ruangan itu dilapisi karpet beludru warna merah. Dunding kamar itu berwarna putih. Kamar itu dilengkapi dengan AC serta televisi layar datar warna hitam. Billy langsung merebahkan dirinya di atas ranjang itu. Qia duduk di tepi ranjang. Billy menatapnya.


"Eh!" Billy langsung menarik tangan Qia. Qia jatuh tepat di pelukan Billy.


"Jangan jaim! Jika mau tidur, ya naik ke atas sini!" ucap Billy. Dia sudah memeluk erat tubuh Qia.


"Hihihi," Qia tertawa.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Billy.


"Jadi ingat waktu pertama kali kita bobok bareng, Hubby. Kau kutendang saat kita bangun pagi...hahaha...." ucap Qia.


"Heh! Kau tega ya saat itu. Teganya menendang suamimu sendiri hingga jatuh dari tempat tidur!"


"Ehm...habisnya...waktu itu kan Qia kaget. Masak tahu-tahu kamu memelukku. Baru ketemu terus nikah. Eh, tahu-tahu waktu bobok udah main peluk aja. Kan aku jadi kaget waktu bangun."


"Kalo sekarang kayaknya kamu malah nempel terus padaku kayak koala di pohon eucalyptus. Aku selalu jadi guling waktu kamu tidur."


"Habisnya kamu enak dipeluk, sih," Qia memeluk Billy. "Rasanya hangat, bikin tidur jadi nyenyak. Hubby, memangnya perjalanannya berapa jam? Sampe bisa ditinggal tidur...."


"Nanti juga sampai. Sudah, sekarang tidur saja," ucap Billy. Dia mulai menepuk-nepuk lembut punggung Qia.


"Aku suka di puk-puk. Kamu memang pengertian," ucap Qia sambil memejamkan matanya.


Astaga, dia mengajakku ke luar negeri rupanya. Perjalanannya lama banget sampai bisa buat mandi, makan sama tidur. Tidurnya juga lama banget. Mungkin udah belasan jam naik pesawat ini, gumam Qia sambil menatap ke arah jendela. Dia kembali menyandarkan punggungnya di kursi itu. Matanya sudah terpejam lagi.


"Hey, jangan tidur, Yaya. Bentar lagi sampai, tahu!" Billy membangunkan Qia.


"Ehm...."sahut Qia. Dia mengucek-kucek matanya lalu melihat lagi ke arah jendela. Nampak pemandangan yang amat menarik perhatiannya.


Astaga, itu kan menara yang sangat terkenal itu, gumam Qia. Kedua tangannya sampai menempel di kaca jendela pesawat itu.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍


__ADS_2