
"Kak!" panggilku. "Kita mau kemana, sih?" tanyaku lagi sambil menggenggam erat tangan kiri Si Balok Es dengan kuat.
"Sabar, kamu akan tahu, Yaya!" Balok Es masih menuntunku. Dia berjalan di depanku. Tangan kirinya menggandeng tanganku.
Mataku ditutup dengan sapu tangan warna hitam sejak berangkat dari rumah dengan mobil tadi. Balok Es benar-benar menepati janjinya padaku untuk mengganti kencan yang batal waktu itu. Aku tak tahu dia mengajakku kemana tapi dia memyuruhku memakai jaket tebal, sarung tangan, celana panjang yang tebal serta sepatu boots.
Apa dia ingin mengajakku menonton film yang romantis di bioskop? Ruangan bioskop kan dingin, jadi butuh pakaian yang tebal. Ehm, tubuhku tak tahan pada hawa dingin ruang bioskop.
"Silahkan masuk, Tuan!" terdengar suara seorang pria asing.
Kurasa itu petugas penyobek karcis yang ada di pintu masuk bioskop. Fix, Balok Es pasti mengajakku menonton film.
"Kak, kita mau nonton film apa, sih? Kok mata Qia harus ditutup segala?" tanyaku sambil terus berjalan perlahan.
"Ini film yang kemarin kamu inginkan!" sahut Balok Es. Dia terus menuntunku berjalan. Tubuhku mulai merasakan hawa dingin.
"Kak!" panggilku. "Kita sudah sampai, ya?" tanyaku lagi.
"Ehm, kamu boleh membuka penutup matamu, Yaya!" jawab Balok Es.
Aku pun melakukan perintahnya. Kubuka ikatan penutup mata itu. Pasti Balok Es memilih kursi paling depan jadi aku tak perlu naik tangga. Saat mataku terbuka....
"WOW!" aku berdecak kagum.
Aku berada di sebuah tempat yang penuh salju. Ini kan wahana dunia salju yang baru saja di buka itu. Sejauh mata memandang nampak salju yang memutih. Terdapat rumah-rumah bergaya Jepang. Kurasa wahana dunia salju ini memgambil konsep daerah salju di daerah Gunung Fujiyama, Jepang. Aku pernah melihatnya di internet. Sejauh mata memandang hanya ada salju. Kulangkahkan kakiku, rasanya dingin.
"Kak...." aku menoleh untuk memanggil Balok Es.
PLOK!!! Wajahku tiba-tiba terkena lemparan sesuatu. Kulit wajahku terasa dingin.
"Jahat!" teriakku spontan sambil membersihkan sisa salju itu.
"Hahaha!" nampak Balok Es tertawa lebar. Dia ternyata sudah menjaga jarak cukup jauh dariku.
PLOK!!! Tangan kiri Balok Es kembali melemparkan bola salju padaku. Kali ini lemparannya tepat mengenai bahuku. PLOK!!! PLOK!! Balok Es terus saja melemparkan bola salju.
__ADS_1
"Rasakan ini!" teriakku sambil melemparkan bola salju ke arah Balok Es. Kukerahkan kekuatan penuh tangan kananku.
"Tak kena! Tak kena!" ejek Balok Es.
Sial, Balok Es kok mudah menghindar sih? 😣 PLOK! Lemparan salju dari tangan kirinya mengenai wajahku lagi.
"Rasakan ini!!" teriakku. WING! Aku melemparkan bola salju ke arahnya. Dia dengan mudah menghindarinya.
"Tak kena!" sahut Balok Es.
PLOK!!! Akhirnya, bola saljuku berhasil mengenai wajah Balok Es.
"Hahaha!" aku tertawa. Balok Es melepas kacamatannya. Aku hendak melemparkan bola salju lagi ke arahnya.
"Kamu mau perang terus? Nggak mau naik itu?" tatapan Balok Es menunjuk ke arah suatu wahana semacam perosotan.
Nampak pengunjung lain bermain di wahana itu. Mereka berseluncur ke bawah dengan naik sebuah alas duduk dari karet yang berbentuk angka 8. Alas itu untuk dinaiki dua orang. Ada juga yang berbentuk seperti donat dan hanya bisa dinaiki satu orang.
"Mau! Ayo naik itu!" aku menggandeng tangan Balok Es.
"Nama Snow Tube, Yaya!" ucap Balok Es.
"Naik sendiri atau berdua, Kak?" tanya petugas pria dengan seragam biru dongker itu.
"Berdua!" sahut Balok Es.
Petugas itu pun mengambilkan semacam alas duduk dari karet berbentuk angka 8 berwarna hitam.
"Kamu di depan, saya di belakang!" perintah Balok Es.
Aku pun duduk di bagian depan. Tanganku berpegangan pada pegangan di samping alas duduk ini. Alas duduk ini pun mulai meluncur di perosotan berwarna putih ini.
"AAA!!!" teriakku karena takut.
Meski perosotan ini tak tinggi tapi tetap saja membuat jantungku berdetak sangat kencang. Jantungku rasanya ingin meloncat keluar. Akhirnya, aku dan Balok Es tiba di ujung perosotan. Tepat, di bawah tumpukan salju.
__ADS_1
"Ayo, naik lagi!" ajak Balok Es.
"Lagi?" aku tertegun.
Aku tak mau! 😣 Mataku berputar untuk mencari ide menolak secara halus. Untung ada wahana lain.
"Kak!" panggilku. "Qia ingin naik itu!" aku menunjuk ke arah wahana yang kumaksud.
"Ya sudah, ayo kesana!" tangan kiri Balok Es menggandengku. Aku mengeluarkan smartphone dari saku jaketku. "Ck! Apa benda kotak itu tak bisa disimpan dulu?" celetuk Balok Es.
"Ini kan untuk mengabadikan momen kita! Masak kita nggak punya foto pernah ke sini!" sahutku.
"Ya sudah, tapi jangan membuka chat! Hanya untuk memfoto atau merekam video saja!" ucap Balok Es tegas. Aku pun menggangguk-angguk.
Wahana yang ingin kami naiki adalah wahana kereta gantung. Kereta gantung ini berukuran kecil. Ada dua tiang penopang di kedua ujungnya. Kedua tiang itu terhubung oleh kawat. Kursi-kursi tergantung di kawat itu. Kursi untuk tempat duduk pengunjung terus berputar di kedua tiang itu melalui kawat-kawat besi. Kurasa wahana ini lebih tepat disebut wahana kursi gantung salju.
"Silahkan, Kak!" seorang petugas pria berseragam biru dongker memberhentikan salah satu kursi.
Aku dan Balok Es pun naik ke kursi itu. Kursi ini terbuat dari besi yang dicat abu-abu. Alas duduknya berwarna biru tua. Ada semacam besi penghalang untuk menahan tubuh pengunjung saat kursi ini mulai naik. Kursi ini pun mulai naik ke atas. Kurasa tempat ini sengaja dibentuk miring sesuai dengan bentuk wahana yang ada. Meski naik ke arah atas tapi karena kursi ini naik dalam kecepatan rendah, aku jadi merasa santai dan tak takut. Pemandangan dari atas sini cukup indah. Nampak tumpukan salju yang menghampar. Para pengunjung yang semakin ramai nampak terlihat kecil.
"Ayo, kita berfoto!" ucap Balok Es.
Aku pun memyalakan kamera depanku. Di layar smartphone nampak wajahku dan wajah Si Balok Es saling berdekatan. Kuatur timer sebanyak tiga detik. Satu....dua....timer itu berjalan.
Balok Es tiba-tiba saja mengubah posenya. Dia tiba-tiba saja mencium bibirku. Daguku ditahan dengan tangan kirinya. Otomatis yang terjepret di foto adalah adegan itu.
Jantungku berdegup kencang akibat serangan mendadak ini. Apalagi Balok Es langsung memasang muka datar nan dingin seperti biasanya.
Pak, kok Bapak agresif banget, sih! Ini di depan publik, lho, Pak! 😳
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍